Sejarah Radikalisme dalam Islam

Sejarah Radikalisme dalam Islam

Ma’had Aly – Radikalisme adalah masalah klasik. Hampir seluruh peradaban pernah ditimpa bencana radikalisme. Dalam Islam sendiri, ia adalah masalah yang benihnya sudah muncul bahkan sejak zaman Nabi Muhammad saw. masih hidup.

Dalam suatu waktu diceritakan bahwa Nabi Muhammad pernah membagikan harta rampasan perang atau ghanimah. Tiba-tiba seorang laki-laki datang menginterupsi beliau dan berkata, “Berlakulah adil, wahai Muhammad!” Sontak Nabi berkata, “Demi Allah, jika aku tidak adil maka siapa lagi yang akan adil?” Kemudian sahabat Umar ra. berkata, “Izinkan saya untuk memenggal lehernya, wahai Rasul.” Lalu Nabi mencegah sahabat Umar dan bersabda:

Akan keluar dari orang ini suatu kaum yang kalian akan minder jika membandingkan shalat kalian dengan shalat mereka, dan kalian merasa minder jika membandingkan puasa kalian dengan puasa mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah yang menembus hewan yang dipanah”. (HR.Bukhari)

Ini adalah isyarat kelompok Khawarij, kelompok yang ghuluw (berlebih-lebihan) dalam beribadah. Sampai-sampai sahabat yang ibadahnya luar biasa masih dikatakan oleh Rasulullah merasa minder jika dibandingkan dengan puasa dan shalat orang Khawarij.

Puncaknya adalah ketika konflik antara sahabat Ali ra., dan Muawiyah. Ketika itu sahabat Ali menerima tawaran arbitrase (tahkim) dari kelompok Muawiyah. Sebagaimana telah banyak diketahui, beberapa orang mulanya mendukung sahabat Ali ra lalu berbalik melawannya, di samping itu juga Muawiyah menyeru untuk berhukum dengan hukum Allah. Laa hukma illa lillah kata mereka sambil mengutip surat Al-Maidah ayat 44 mereka menyerang kelompok yang tidak sepaham dengan mereka. Mereka mengkafirkan siapa saja yang melakukan dosa besar. Ini dilakukan agar perlawanan mereka terhadap sahabat Nabi mendapat legitimasi syariat. Sehingga mereka menganggap pembunuhan terhadap Sayyidina Ali ra., legal menurut syariat sebab beliau dianggap melakukan dosa besar dengan menerima tahkim, kemudian kelompok ini dikenal dengan kelompok Khawarij.

Khawarij mungkin kini sudah tiada, namun ia meninggalkan pola dasar (prototype) bagi gerakan-gerakan ekstrem di masa selanjutnya. Karena bagaimanapun Khawarij merupakan gerakan yang tidak pernah disahkan oleh para ulama. Kemudian pada abad ke-18, di semenanjung Arabia terdapat sebuah kelompok yang dijuluki sebagai Wahabi. Mereka adalah pengikut gerakan purifikasi (pemurnian) ajaran Agama Islam.

Muhammad bin Abdul Wahhab selaku pendiri Wahabi, adalah seorang yang gelisah atas keadaan muslim di zamannya. Ia merasa ritual ibadah sudah banyak keluar dari jalan (manhaj) ulama salaf dan mengakibatkan agama Islam semakin terpuruk. Pada beberapa titik, gerakan ini seringkali disebut dengan salafi. Mereka sangat anti terhadap gerakan-gerakan tasawuf dan tarekat. Tak segan mereka melemparkan tuduhan bid’ah, syirik bahkan kufur.

Lebih parah, ia meniru pola gerakan Khawarij yang sangat ekstrem dan mudah mengkafirkan. Kelompok ini menjalankan laku pemahaman yang sangat literal terhadap teks-teks fundamen Islam (al-Qur’an dan Hadist). Literalisme ini dilakukan agar agama Islam terbebas dari nalar-nalar rumit penuh teori dan ritual-ritual yang tidak berdasar. Bagi mereka semua ini dilakukan agar bisa berhukum kepada sunah Nabi secara murni. Maka bisa ditebak, pada akhirnya mereka sangat mudah mengkafirkan dan mensyirikan kelompok yang tidak sepaham dengan mereka.

Selanjutnya kelompok ini bekerja sama dengan penguasa di tempat mereka tinggal, ’Uyainah. Penguasa tersebut bernama Utsman bin Muammar. Adapun aksi radikal yang pertama kali dilakukan adalah penghancuran makam Zaid bin al-Khattab ra, saudara sayyidina Umar bin Khattab dan termasuk salah satu sahabat Nabi. Kemudian kepala suku dari kabilah ini mencium bau bahaya dari  gerakan Wahabi ini, maka mereka memutuskan untuk berhenti bekerja sama dengan mereka.

Kemudian setelah itu wahabi berkolaborasi dengan keluarga Ibn Saud dalam menjalankan aksinya. Al-Wahab mendapat dukungan militer dari keluarga Ibn Saud yang ingin memanfaatkan ideologi puritan wahabi untuk menguasai semenanjung Arab. Pada 1746 M, Wahabi memproklamirkan jihad terhadap kelompok-kelompok lain. Kemudian faham Wahabi dan Khawarij yang puritan dan ekstremis menjadi pola bagi gerakan-gerakan radikal berikutnya.

Namun patut ditekankan lagi bahwa tidak semua Wahabi itu ekstrem pada kelompok lain, diantara mereka ada yang hanya ekstrem dalam masalah ibadah mereka sendiri. Kemudian pada masa kontemporer, radikalisme agama Islam muncul sebagai reaksi atas penjajahan bangsa barat.

Kelompok seperti ini semakin menemukan momennya ketika penjajahan barat (Isti’mar al-gharbi) juga semakin menjadi-jadi. Salah satu puncaknya adalah ketika Inggris mendirikan negara Israel di tanah Palestina. Salah satu organisasi masyarakat yang berasal dari Mesir, Ikhwanul Muslimin mengirimkan pasukan untuk berjihad di Palestina. Kontan, Ikhwanul Muslimin yang sebelumnya hanya organisai kecil menjadi sangat populer dan mendapat banyak anggota di Mesir bahkan banyak di negara Arab.

Kemudian dari organisasi tersebut, banyak aktivis pergerakan yang mana buku-buku mereka sering menjadi penyebab beberapa aksi terorisme dan adapun tokoh yang menjadi pemimpin beberapa jihad yaitu al-Qaeda atau ISIS, seperti Sayyid Qutb ataupun Abdullah Azzam yang banyak mempengaruhi tokoh-tokoh radikal pada dekade 80 hingga 90an.

Bahkan sebelum pendudukan Yarussalem oleh Inggris melalui Deklarasi Balfour, Ikhwanul Muslimin hanya organisasi kecil dan Hasan Al-Bana (pendirinya) hanya mubaligh biasa. Ikhwanul Muslimin menemukan momentumnya ketika penjajahan barat mulai memasuki wilayah paling sensitif di dunia Islam. Kemudian disusul organisasi HT (Hizbut Tahrir) dan al-Qaeda kemudian faham tersebut terwariskan pada organisasi ekstrem yaitu ISIS.

 

Referensi

 Abdurrahman Wahid, dkk, Ilusi Negara Islam, Jakarta: The Wahid Institute, 2009.

 Azyumardi Azra,  Transformasi Politik Islam, Jakarta: Prenada Media, 2016.

Oleh: Muhammad Yasin Padilah, Semester VI

Leave a Reply