Profil Sang Amirul Mukminin: Umar bin Khattab dengan Segala Keunggulannya

Profil Sang Amirul Mukminin: Umar bin Khattab dengan Segala Keunggulannya

“Sekiranya di belakangku ada pencipta Hadis, maka Umarlah orangnya” (Rasulullah Saw.)”

Sekiranya ada tokoh yang layak membanggakan diri karena keutamaan-keutamaannya yang luar biasa, karena jasa-jasa serta kemenangan-kemenangannya yang tiada terkira, maka tokoh itu tak lain dari seorang Umar bin Khattab. Masuk Islamnya mendapat sambutan yang istimewa dari Rasulullah dan para sahabatnya. Ia menyaksikan betapa Islam mulai berpengaruh dan mempunyai suara lantang di hari ia memeluk Islam. Dilihatnya pula, betapa kaum muslimin yang pada mulanya sembunyi-sembunyi, setelah seorang Umar berada di pihak mereka, mereka pun menjawab kekejaman itu dengan tantangan, bahkan sempat menggemparkan kota Makkah dengan suara takbir yang bergemuruh. Diterimanya dari Rasulullah gelar Al-Faruq (pemisah). Setelah keislamannya, Allah memisahkan antara yang hak dan yang batil. Apabila ia menyampaikan kritik kepada Rasulullah Saw., maka tidak saja beliau menyetujui pendapatnya, bahkan kerap kali turun wahyu mengenai hal itu hingga menjadi ayat-ayat Alquran yang kita baca. Ia menjadi khalifah setelah Abu Bakar dan merupakan rajanya orang-orang beriman, di masanya terbukalah pintu-pintu gerbang dunia untuk menyambut agama Allah Swt. sementara panji-panjinya memenuhi seluruh penjuru angkasa.

Namanya adalah Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdil Uzza bin Rabah bin Qirath bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Luay. Amirul Mukminin, Abu Hafs Al-Quraisy, Al-Adawi, Al-Faruq. Ibunya bernama Hantimah binti Hasyim bin Al-Mughirah. Ia merupakan anggota suku Adi, dimana suku Adi merupakan suku yang terpandang mulia dan mempunyai martabat tinggi di kalangan Arab. Suku ini masih termasuk dalam rumpun kaum Quraisy. Imam Nawawi berkata bahwa Umar lahir tiga belas tahun setelah tahun Gajah. Ia termasuk ke dalam sepuluh sahabat nabi yang dijanjikan untuk masuk surga. Ia adalah salah satu khulafaur rasyidin sekaligus salah satu mertua Rasulullah Saw.

Umar memiliki postur tubuh yang tegap dan kuat, wataknya keras, berani, dan berdisiplin tinggi. Pada masa remajanya, dia dikenal sebagai pegulat perkasa dan sering menampilkan kemampuannya itu dalam pesta tahunan pasar Ukaz di Makkah. Ia memiliki kecerdasan yang luar biasa, mampu memprakirakan hal-hal yang akan terjadi pada masa mendatang. Tutur bahasanya halus dan bicaranya fasih. Kelebihan-kelebihan yang dimilikinya mengantarkannya terpilih menjadi wakil kabilahnya. Ia selau diberi kepercayaan sebagai utusan mewakili kabilah Kuraisy dalam melakukan perundingan-perundingan dengan suku-suku lain. Keunggulannya berdiplomasi membuatnya populer di kalangan berbagai suku Arab.

Nabi Saw. mengakui keunggulan-keunggulan yang dimiliki Umar, pemuda yang gagah berani, tidak mengenal takut dan gentar, serta mempunyai ketabahan dan kemauan keras. Oleh karena itu, untuk kepentingan perjuangan Islam, Nabi Saw. berdoa kepada Allah Swt. agar salah seorang dari Amr ibn Hisyam atau Umar bin Khattab digerakkan hatinya untuk masuk Islam. Doa Nabi tersebut diperkenankan Allah Swt. dengan Islamnya Umar sekitar tahun 616 M. Umar mendapat hidayah melalui perantara adiknya (Fatimah binti Khattab) dan iparnya (Sa’id bin Zaid).

Masuk Islamnya Umar segera diikuti oleh putra sulungnya (Abdullah) dan isterinya (Zainab binti Ma’zun). Selain itu, keislaman Umar juga membuka jalan bagi tokoh-tokoh Arab lainnya masuk Islam. Sejak saat itulah, berbondong-bondonglah orang masuk Islam, sehingga dalam waktu singkat pengikut Islam bertambah dengan pesatnya. Umar telah membawa cahaya terang dalam permulaan perjuangan Islam. Dakwah Islam yang semula dijalankan secara rahasia dan sembunyi-sembunyi menjadi disiarkan secara terang-terangan. Umar menjadi pembela dan pelindung umat Islam.

Setelah masuk Islam, Umar menjadi salah seorang sahabat Nabi Saw. yang terdekat. Begitu dekatnya, sampai nabi bersabda, “Andaikata masih ada nabi sesudahku, maka Umarlah orangnya.” Ia juga diberikan gelar oleh Nabi Saw. dengan Al-Faruq, yang artinya pembeda/pemisah. Maksudnya, Allah telah memisahkan dalam dirinya antara yang hak dan yang batil. Hanya Umar yang begitu berani mengemukakan pikiran-pikiran dan pendapatnya di hadapan Nabi Saw., bahkan ia juga tidak segan menyampaikan kritik untuk kebaikan dan kemaslahatan umat Islam. Salah satu contohnya ada dalam riwayat Imam Bukhari dari Umar bin Khattab bahwa pada suatu ketika ia bersama Nabi Saw. berada di dekat Ka’bah, Nabi Saw. lalu menunjukkan kepadanya makam Ibrahim. Seketika Umar bertanya apakah disitu boleh dilakukan salat? Nabi Saw. menjawab bahwa hal itu belum diperintahkan. Lalu hari itu juga turun wahyu dalam QS. Al-Baqarah ayat 125 yang membolehkan salat di makam Ibrahim itu. Di sesi yang lain Umar mengusulkan kepada Nabi Saw. agar memerintahkan isteri-isterinya menggunakan hijab (tirai), maksudnya agar berbicara dengan tamu-tamunya dari belakang hijab, sebab menurut Umar yang berbicara dengan mereka bukan semuanya orang baik-baik ada melainkan juga orang jahat. Tidak lama kemudian turunlah ayat tentang hijab dalam QS. Al-Ahzab ayat 58 yang membenarkan pendapat Umar.

Umar juga banyak menengahi perselisihan yang terjadi di kalangan isteri-isteri Nabi Saw. Pandangan yang jauh ke depan, keluwesan, dan keadilannya membuat orang senang menerima pendapatnya. Hal ini juga ketika Rasulullah Saw. wafat dan timbul perselisihan antara kaum Ansar dan Muhajirin di Saqifah mengenai pengganti Rasulullah Saw. Umar dengan tangkasnya melerai perselisihan. Ketegasan dan keberanian Umar merupakan kekuatan besar dalam upaya pengembangan Islam, sehingga selanjutnya bukan hanya Nabi Saw. yang menaruh simpati dan kepercayaan besar kepadanya, melainkan para sahabat juga, terutama Abu Bakar. Pada masa pemerintahannya, Umar selau diangkat sebagai penasihat sekaligus hakim dalam menangani permasalahan-permasalahan hukum yang timbul ketika itu. Umar juga merupakan orang pertama yang mencetuskan ide tentang perlunya dilakukan pengumpulan ayat-ayat Alquran. Kemampuan-kemampuan Umar inilah yang meyakinkan Abu Bakar untuk kemudian memilih dan mengangkat Umar menjadi khalifah penggantinya.

Tercatat dalam sejarah, pada tahun 13 H/634 M Umar bin Khattab dibaiat menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar. Dialah khalifah pertama dan satu-satunya yang mendapat gelar Amirul Mukminin (Panglima Orang-orang yang Beriman). Sebagai khalifah, Umar dikenal sangat adil dalam menjalankan pemerintahannya. Ia tidak membedakan antara tuan dan budak, miskin dan kaya, serta penguasa dan rakyat jelata. Yang salah akan dihukum dan yang benar dibelanya. Umar adalah sosok yang meskipun telah menjadi seorang khalifah namun tetap dekat dengan rakyatnya. Diceritakan bahwa setiap malam ia pergi mengamati keadaan rakyatnya. Ia khawatir kalau-kalau diantara mereka ada yang mengalami kesulitan misalnya sakit atau kelaparan. Bila ditemukan, ia tidak segan memberikan bantuan langsung, bahkan sering dijumpai Umar mengangkat sendiri bahan makanan untuk orang-orang yang memerlukannya. Umar juga sangat takut mengambil harta kaum muslimin tanpa alasan yang kuat. Di bidang pemerintahan, langkah pertama yang dilakukannya sebagai khalifah adalah meneruskan kebijaksanaan yang telah ditempuh Abu Bakar dalam perluasan wilayah Islam ke luar Semenanjung Arabia. Di bidang administrasi pemerintahan, Umar berjasa membentuk Majelis Permusyawaratan Anggota Dewan dan memisahkan lembaga pengadilan, ia juga membagi wilayah Islam ke dalam 8 propinsi yang membawahi beberapa distrik dan subdistrik. Untuk kepentingan pertahanan, keamanan, dan ketertiban masyarakat maka didirikanlah lembaga kepolisian, korps militer dengan tentara terdaftar. Untuk melakukan pembenahan peradilan Islam, ia sendirilah yang mula-mula meletakkan prinsip-prinsip peradilan dengan menyusun sebuah risalah yang kemudian dikirimkan kepada Abu Musa Al-Asy’ari. Risalah itu disebut Dustur Umar atau Risalah Al-Qada. Dalam upaya meningkatkan mekanisme pemerintahan di daerah, Umar melengkapi gubernurnya dengan beberapa staf. Kebijaksanaan lain yang dilakukan Umar adalah mendaftar seluruh kekayaan pejabat yang akan dilantik, ini ditempuh untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan wewenang dan tindakan korupsi.

Di kalangan fukaha (ahli fikih) ia dikenal sebagai sahabat yang berani melakukan ijtihad. Meskipun demikian ia tetap menjunjung tinggi prinsip-prinsip musyawarah. Ijtihadnya mencakup berbagai masalah kehidupan, baik dalam bidang ibadah maupun bidang-bidang kemasyarakatan lainnya. Dalam bidang peribadatan contohnya antara lain pendapatnya mengenai empat takbir dalam shalat jenazah, penyelenggaraan salat tarawih berjamaah, penambahan kalimat as-salatu khairum min an-naum (salat lebih baik daripada tidur) dalam azan subuh. Dalam bidang kesejahteraan umat, diantara gagasannya adalah pemberian gaji bagi para imam dan muazin (tukang azan), pengadaan lampu penerangan dalam masjid-masjid, pengorganisasian khotbah-khotbah, pendirian baitulmal, penghapusan pembagian tanah rampasan perang (fay’, pembangunan terusan dan kota-kota seperti Basra, Kufah, Fustat, dan Mosul, serta pembangunan sekolah-sekolah. Dalam bidang hukum ijtihadnya adalah mengenai pembagian harta warisan, perumusan prinsip qiyas, talak tiga, pendirian pengadilan-pengadilan, pengangkatan para hakim, pemakaian cambuk dalam melaksanakan hukuman badan, penetapan 80 kali dera bagi pemabuk, pemungutan zakat atas kuda yang diperdagangkan, dan larangan penyebutan nama-nama perempuan dalam syair. Penentuan kalender hijriah juga merupakan hasil ijtihad Umar. Dalam hal periwayatan hadis, ia berhasil meriwayatkan hadis sebanyak 527 hadis.

Setelah kurang lebih selama 10 tahun 6 bulan 4 hari menggenggam amanat sebagai khalifah, tepatnya pada bulan Zulhijah tahun 23 H dalam usia 63 tahun, Umar bin Khattab menghembuskan napas terakhirnya dengan penuh kedamaian menuju keindahan. Seorang Majusi, budak milik Al-Mughirah bin Syu’bah yang bernama Abu Lu’lu’ah menikamnya menggunakan pisau belati tatkala Umar bersiap sedang-siap melaksanakan salat subuh.

Umar adalah profil seorang pemimpin yang sukses, mujtahid (ahli ijtihad) yang ulung, seorang yang saleh, dimana kesalehannya memancarkan kedinamisan serta karya pembangunan, ia adalah seorang mahaguru yang mengoreksi dan membetulkan pengertian hidup dan melimpahkan padanya cahaya serta menghiasinya dengan kebesaran, dan ia tampil menjadi pemuka dari orang-orang yang bertaqwa. Itu semua karena rasa tanggung jawabnya yang begitu besar. Sungguh Umar benar-benar takut kepada Allah Swt. dan senantiasa mengagungkannya setinggi langit, kedua bibirnya tak henti-henti mengucapkan ucapan getir, “Apa jawabanmu pada Rabb-mu nanti?”. Rasa tanggung jawab terhadap agama yang dipeluknya ini tidaklah terbatas pada pernyataan saja, tidak hanya di lisan saja, tapi berkelanjutan diwujudkan dengan segala tindak-tanduknya. Rasa tanggung jawabnya bahkan semakin hebat dan menakjubkan setelah ia memegang tampuk kepemimpinan. Cukup banyak bukti-bukti yang menunjukkan keunggulan pribadinya, baik kepahlawanan jiwanya maupun kemuliaan budi pekertinya. Sifat-sifat kepahlawanannya akan dapat disaksikan oleh apa yang belum pernah dilihat oleh mata, belum didengar oleh telinga, bahkan belum terlintas dalam angan-angan manusia. Semoga Allah Swt. meridainya. Amin.

Referensi:

Al-Mughirah, Sami bin Abdullah. 2014. Jejak Khulafaur Rasyidin 2 Umar bin Khatab. Jakarta: Rumah Alhamira.

As-Suyuthi, Imam. 2014. Tarikh Khulafa: Sejarah Para Khalifah. Terj. Nurdin, Muhammad Ali. Sunt. Afkal, Dahyal. Jakarta: Qisthi Press.

Ath-Thabari, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir. 2011. Shahih Tarikh Ath-Thabari 3. Tahqiq, takhrij, ta’liq. Al-Barzanji, Muhammad bin Thahir. Terj. Dhiaul-Haq, Abu Ziad Muhammad. Jakarta: Pustaka Azzam.

Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. 1997. Ensiklopedi Islam 5. Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve.

Khalid, Khalid Muhammad. 2006. Mengenal Pola Kepemimpinan Umat dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah. Bandung: CV Penerbit Diponegoro.

Laskar Lawang Songo ’12. 2012. Cermin Ceritone Poro Sokabat Nabi. Jawa Timur: Lirboyo Press.

Kontributor: Mamluatul Hidayah, Semester III

Leave a Reply