Khaizuran: Penggagas Perempuan Pertama Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Khaizuran: Penggagas Perempuan Pertama Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Seorang ibu merupakan madrasah pertama untuk anak-anaknya. Yaitu tempat dimana seorang anak mendapatkan asuhan serta pendidikan untuk pertama kalinya bahkan mungkin sejak masih di dalam kandungan. Seorang penyair dari Arab, Hafiz Ibrahim menyebutkan: 

الْأمُّ مَدْرَسَةٌ إذَا أعْدَدْتَهَا أعْدَدْتَ شَعْبًا طَيِّبَ الأعْعرَاقِ 

“Ibu merupakan madrasah (sekolah) pertama bagi anaknya. Jika engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya.”  

Dari syair di atas, dapat dikatakan bahwasannya seorang ibu lah yang nanti akan menjadi contoh bagi anak-anaknya dalam bersikap, berperilaku, dan pembentukan karakter bagi anak itu sendiri. Jika seorang ibu memiliki karakter yang baik, maka akan baik pula karakter anaknya kelak. Sebab, secara tidak langsung, seorang ibu pasti menjadi panutan serta suri tauladan bagi anak-anaknya. 

Kutipan: Sebagai perempuan yang haus akan ilmu, Khaizuran selalu mendampingi kedua putranya menuntut ilmu. Ia menemani mereka di Madinah dan rela menderita. 

Ibu menjadi madrasah untuk mencetak generasi menjadi pemimpin-pemimpin di setiap masa. Peran seperti itulah yang tergambar dari kisah hidup Jurasyiyah binti ‘Atha, yang dijuluki dengan Khaizuran. Ia merupakan penduduk Yaman. Pada awalnya, Khaizuran merupakan seorang budak milik al-Mahdi, yaitu khalifah ketiga Bani Abbasiyah. Karena hidup sebagai budak kerajaan, ia pun mengenal baik khalifah dan keluarganya. Tak hanya itu, ia juga paham betul mengenai sistem kepemerintahan dan politiknya saat itu.

Meskipun hanya seorang budak, namun Khaizuran mendapat kesempatan untuk menuntut ilmu serta belajar langsung di perpustakaan pribadi milik al-Mahdi. Ia juga mendatangi majelis-majelis ilmu di Baghdad untuk memantapkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Di sela-sela waktunya, ia juga rajin menghafal Alquran. Kecerdasan serta semangatnya dalam menuntut ilmu, membuat khalifah al-Mahdi menjadikan budak itu sebagai penasihatnya. Kedekatan keduanya menimbulkan kecemburuan pada istri al-Mahdi. Dari sinilah akhirnya Sang Khalifah dengan kerendahan hatinya memilih untuk mengangkat Khaizuran sebagai Ibu Negara, yakni dengan menikahinya. Pernikahan keduanya dikaruniai dua orang putra yakni Musa dan Harun yang kelak menjadi seorang khalifah. Serta satu orang putri yang meninggal saat masih kecil bernama Yacuta. Yacuta merupakan anak kesayangan sang ayah, Khalifah al-Mahdi. Hal tersebut dibuktikan dengan dibangunkannya sebuah istana pribadi di dalam kompleks istana. Yacuta meninggal diusia yang masih sangat muda yaitu enam belas tahun. Hal tersebut tentunya meninggalkan kesedihan mendalam pada diri al-Mahdi sampai-sampai ia mengumumkan hari berkabung dan menerima ucapan belasungkawa dari warga istana dan rakyat dalam sebuah pertemuan  publik seolah-olah putrinya tersebut merupakan pahlawan besar. 

Sebagai perempuan yang haus akan ilmu, Khaizuran selalu mendampingi kedua putranya dalam menuntut ilmu. Khaizuran menemani mereka ke Madinah dan rela jauh dari keluarga dan mau menempuh perjalanan jauh untuk ikut belajar. Khaizuran dikenal sebagai  orang yang sangat ambisius. Ia mendidik putra-putranya dengan sungguh-sungguh agar nantinya layak untuk memangku jabatan khalifah. Dibalik sikapnya yang ambisius, ia juga dikenal sebagai orang yang legowo (lapang dada). Hal ini dibuktikan saat Khaizuran tidak merasa keberatan ketika ada sosok lain yang dipandang lebih mampu menjadi seorang khalifah. Dengan kemauan keras serta keuletannya, ia berhasil dalam mendidik putra-putranya sehingga mereka mampu menjadi seorang khalifah.  

Khaizuran juga merupakan sosok perempuan pertama yang berada di balik perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Merujuk pada kitab Wafa’ul Wafa Bi Akhbar Darul Musthafa oleh Nuruddin Ali, diceritakan bahwasannya Khaizuran datang ke Madinah untuk menyeru penduduk di sana agar mereka mengadakan perayaan Maulid Nabi dengan bertempat di Masjid Nabawi. Selain Madinah, ia juga datang ke Makkah dengan tujuan yang sama yakni menyeru penduduk di sana untuk mengadakan Maulid Nabi dengan bertempat di rumah masing-masing.

Khaizuran merupakan perempuan yang memiliki pengaruh cukup besar selama masa pemerintahan tiga khalifah Dinasti Abbasiyah yaitu masa Khalifah al-Mahdi bin Mansur al-abbas yang merupakan suaminya sendiri, serta dua orang anaknya yakni Khalifah al-Hadi dan Khalifah al-Rasyid. Karena pengaruhnya yang besar itulah dengan mudah ia mampu menggerakkan penduduk muslim Arab untuk mengadakan Maulid Nabi dengan tujuan agar ajaran-ajaran serta kepemimpinan Nabi Muhammad dapat terus menginspirasi. Khaizuran juga memiliki peran cukup besar dalam menjaga situs-situs sejarah peninggalan Nabi Muhammad SAW. yaitu dengan memprakarsai penghormatan terhadap kelahiran Rasulullah SAW. Selain itu, Khaizuran juga merupakan penggagas ide penulisan kalimat-kalimat dengan huruf emas pada kain sutra yang berada di makam Rasulullah SAW. Ia juga mengembangkan sebuah tempat yang disebut-sebut sebagai lokasi ketika Rasulullah SAW. dilahirkan yaitu dengan membangun sebuah masjid yang pada akhirnya dihancurkan oleh Syekh Abbas Ottoman untuk dijadikan sebuah perpustakaan “Maktabah Makkah al-Mukarramah” yang berarti perpustakaan Makkah al-Mukarramah.

Kisah di atas tentunya sangat menginspirasi untuk lebih mencintai Nabi Muhammad SAW. terlebih kita yang merupakan umatnya. Salah satunya yaitu sebisa mungkin meneladani kepribadian beliau yang sangat mulia dan terpuji. Kita juga harus memperbanyak membaca sholawat kepada beliau dengan harapan kelak mendapat syafa’atnya di hari akhir. Aamiin aamiin ya rabbal ‘alamiin.

Referensi: 

Hafidz Muftisany. 2021. Kisah Pahlawan Muslimah Dunia. Depok: CV Intera

Anita Sutrisnawati. 2019. Misi di Planet Biru. Yogyakarta: CV Budi Utama

Aidh al-Qarni. 2004. Menjadi Wanita Paling Bahagia. Jakarta: Qisthi Press

Ahmad Rofi’ Usmani. 2009. Muhammad Sang Kekasih. Bandung: Mizan Pustaka

Ahmad Rofi’ Usmani. 2015. Jejak – Jejak Islam. Yogyakarta: Bentang Pustaka

Syahruddin El-Fikri. 2010. Situs – Situs Dalam Alquran. Jakarta: Republika  

Kontributor: Larasati Nurul Islami, Semester IV 

Leave a Reply