Potret Nyai Siti Walidah: Pelopor Pendidikan Perempuan

Potret Nyai Siti Walidah: Pelopor Pendidikan Perempuan

Pada dasarnya seorang perempuan memiliki kesempatan yang sama dengan seorang laki-laki dalam memperoleh pendidikan dan memiliki kebebasan dalam menyampaikan pendapat. Pada masa ini para kaum perempuan sudah memiliki kesetaraan dengan kaum laki-laki, berbeda dengan zaman dahulu yang mana kaum perempuan diperlakukan sangat berbeda dengan laki-laki, para perempuan tidak diberikan hak untuk mengemukakan pendapat, untuk mengenyam pendidikan, dan yang perlu kita ingat bahwa salah satu faktor yang menjadikan perempuan bisa mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki ialah tidak lain karena adanya seorang tokoh yang memperjuangkan hak-hak tersebut, salah satunya ialah sosok R.A. Kartini yang menjadi pelopor emansipasi wanita pada masa itu. Selain itu juga terdapat salah satu ulama perempuan yang menjadi pelopor pendidikan perempuan, seperti kita ketahui bahwa pendidikan juga berperan penting dalam kehidupan masyarakat, maka kehadiran tokoh yang memperjuangkan pendidikan perempuan juga perlu kita ingat jasanya, beliau adalah Nyai Siti Walidah.

Nyai Siti Walidah lahir di Kauman, Yogyakarta, pada 3 Januari 1872. Beliau merupakan putri dari seorang ulama dan anggota kesultanan Yogyakarta bernama Kiai Haji Muhammad Fadli bin Kiai Penghulu Haji Ibrahim bin Kiai Muhammad Hassan Pangkol bin Kiai Muhammad Ali Ngraden Pangkol. Ibunya dikenal dengan sebutan Nyai Mas. Nyai Siti Walidah semasa kecilnya tidak pernah mengenyam pendidikan formal di sekolah umum, sekolah umum yang diprakarsai oleh Belanda. Demikianlah sebab generasi yang hidup semasa Nyai Siti Walidah tidak sempat mengenyam pendidikan formal. Meskipun demikian, tidak membuat Nyai Siti Walidah tumbuh menjadi seorang perempuan yang tidak berpendidikan, karena kegiatan setiap hari beliau diisi dengan belajar mengaji al-Qur’an dan kitab-kitab agama beraksara Arab-Jawa, dan selain dalam bidang keilmuan, beliau juga diajarkan dalam bidang keterampilan, seperti membatik, menyulam dan menjahit. Tidak hanya sampai disitu, dalam lingkungan keluarga Nyai Siti Walidah juga menekankan pelaksanaan ajaran Islam dengan penuh ketaatan dan disiplin tinggi, sehingga tidak mengherankan jika Nyai Siti Walidah menjadi seorang wanita tangguh yang berjasa bagi pendidikan umat, terutama bagi kaum wanita. Cerita mengenai Nyai Siti Walidah tidak hanya sampai disitu, ketika memasuki masa remaja, yaitu saat usia 9 tahun, Nyai Siti Walidah menjalani hidup dengan pingitan, hal ini berlangsung hingga Nyai Siti Walidah menikah dengan KH. Ahmad Dahlan.

Nyai Siti Walidah menikah dengan KH. Ahmad Dahlah seorang pendiri Organisasi Muhammadiyah pada bulan Dzulhijjah tahun 1889, dari pernikahan tersebut Nyai Siti Walidah dikaruniai enam orang anak, diantaranya ialah:

  1. Johanah 
  2. Siraj 
  3. Siti Busyro 
  4. Siti Aisyah 
  5. Irfan 
  6. Siti Yuharon

Setelah menikah dengan KH. Ahmad Dahlan, Nyai Siti Walidah aktif dalam membantu suaminya memajukan Organisasi Muhammadiyah dan merupakan salah satu tokoh di balik kesuksesan dakwah KH. Ahmad Dahlan. Selain itu, Nyai Siti Walidah juga dikenal sebagai sosok yang memiliki perhatian besar terhadap kaum perempuan, salah satunya ialah dalam bidang pendidikan perempuan. Oleh karena itu, Nyai Siti Walidah mendirikan sebuah organisasi yang memberikan perhatian khusus kepada kaum perempuan yang saat itu diberi nama “Sopo Tresno”.

Sopo Tresno didirikan oleh Nyai Siti Walidah pada 1914, Sopo Tresno merupakan suatu organisasi yang menjadi wadah bagi para perempuan untuk turut serta dalam memperdalam ilmu pengetahuan. Kemudian, semakin besarnya perkumpulan Sopo Tresno maka diputuskan untuk menggantinya dengan nama Aisyiyah pada 22 April 1917 M dan isilah populer pada masa itu untuk menyebut gerakan Aisyiyah adalah “Muhammadiyah Bahagia Istri”. salah satu alasan nama Sopo Tresno diganti menjadi Aisyiyah ini ialah karena terinspirasi dari nama salah satu istri Rasulullah saw. yaitu, Aisyah yang merupakan sosok perempuan yang memiliki pribadi terpuji, kuat, cerdas dan mandiri, dan hal ini dimaksudkan agar para kaum perempuan memiliki kepribadian layaknya sosok seorang Aisyah. 

Pada awal berdirinya, Aisyiyah tidak diketuai oleh Nyai Siti Walidah yang merupakan pionir dari organisasi ini, melainkan diketuai oleh salah seorang murid Nyai Siti Walidah dan KH. Ahmad Dahlan yang bernama Siti Bariyah. Tujuan didirikannya Aisyiyah adalah memajukan perempuan muslim melalui pendidikan, langkah pertama yang dilakukan beliau dalam upaya memajukan pendidikan adalah mendirikan Taman Kanak-kanak (TK) karena anak-anak merupakan kader masa depan yang benar-benar harus mendapatkan perhatian terutama dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Aisyiyah resmi menjadi bagian dari Muhammadiyah secara organisasi pada tahun 1922. Pada saat itu juga didirikanlah sekolah khusus perempuan di bawah naungan Aisyiyah. Selain dalam bidang pendidikan perempuan, Nyai Siti Walidah juga memiliki semangat yang tinggi dalam memperjuangkan Emansipasi wanita, sehingga beliau tidak menyetujui dengan adanya konsep patriarki yaitu seorang laki-laki memegang kekuasaan tertinggi dan perannya mendominasi dalam berbagai aspek, seperti kepemimpinan, moral, sosial maupun dalam lingkup keluarga, maka hal tersebut dapat disimpulkan bahwa Nyai Siti Walidah menginginkan dan memperjuangkan agar tercipta sebuah kesetaraan hak antara perempuan dengan laki-laki.

Kemudian pada tahun 1921-1926 M. Siti Walidah menjadi ketua Aisyiyah, tentu saja pada masa kepemimpinannya Nyai Siti Walidah menjalankan kepemimpinannya di Organisasi Aisyiyah dengan penuh semangat dan perjuangan, sehingga mampu membawa para perempuan menjadi seseorang yang lebih aktif terutama dalam bidang pendidikan,serta berkontribusi terhadap kemajuan kaum perempuan. 

Kemudian, pada tahun 1927 M. Siti Walidah menjadi penasihat Aisyiyah. Pada tahun 1928 M. diadakan kongres perempuan pertama yang diadakan di Kota Yogyakarta, kongres ini bertujuan untuk memperjuangkan hak perempuan dalam bidang pendidikan dan pernikahan. 

Pada 31 Mei 1946 M. beliau meninggal dunia dan dimakamkan di Kauman, Jogjakarta dan pada 1971 M. beliau ditetapkan sebagai pahlawan nasional, penobatan ini diberikan kepada beliau bukan karena beliau merupakan istri dari KH. Ahmad Dahlan yang merupakan pendiri organisasi Muhammadiyah, penetapan ini diberikan kepada beliau karena peran luar biasa beliau dalam memperjuangkan kaum wanita melalui Organisasi Aisyiyah.

Jadi, dari uraian mengenai sejarah berdirinya Aisyiyah dan kiprah dakwah Nyai Siti Walidah dapat disimpulkan bahwa perempuan pada masa sekarang ini sudah mengalami kemajuan dan memiliki hak yang setara dengan seorang laki-laki, baik dalam hal berpendapat maupun memperoleh pendidikan dan hal itu tidak lain salah satunya karena perjuangan Nyai Siti Walidah yang gigih dalam memperjuangkan hak perempuan yang perlu kita ingat jasa-jasanya. 

Referensi:

Nashir, Haedar. 2016. Muhammadiyah Gerakan Pembaharuan. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.

Mu’arif dan Hajar Nur Setyowati. 2020. Covering Aisyiyah. Yogyakarta: IRCiSoD.

Mustofa, Imron. 2018. KH. Ahmad Dahlan Si Penyantun. Yogyakarta: Diva Press.

Komandoko, Gamal. 2007. Kisah 124 Pahlawan dan Pejuang Nusantara. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.

Falah, Mahmud. 2019.TK Aisyiyah Bustanul Athfal Dulu, Kini dan Esok. Tasikmalaya: Edu Publisher.

Kontributor: Mia Dwi Afitri, Semester VII

Leave a Reply