Perang Hunain: Peristiwa di Akhir Kehidupan Rasulullah saw

Perang Hunain: Peristiwa di Akhir Kehidupan Rasulullah saw

Ma’had Aly – Penaklukan Mekkah seperti sebuah tamparan keras yang dirasakan oleh bangsa Arab. Berbagai kabilah di sekitar Mekkah, terhenyak keheranan seakan tak percaya terhadap apa yang terjadi. Ini suatu hal yang tak bisa dihalangi. Dan pada akhirnya, yang menolak tunduk tinggal beberapa kabilah yang memang masih mempunyai yang kuat, yang dipelopori oleh beberapa suku Hawazin dan Tsaqif. Ada beberapa suku lain yang berhimpun bersama mereka, seperti Nasr, Jusyam, Sa’d bin Bakr dan beberapa orang dari bani Hilal, yang berasal dari Qais dan Ailan. Mereka semua berhimpun dibawah pimpinan Malik bin ‘Auf an-Nashri, dan juga mengambil keputusan untuk memerangi orang-orang Muslim.

Perang Hunain ini sendiri terjadi pada bulan Syawal tahun ke-8 Hijriah. Terjadinya perang Hunain ini juga, disebabkan karena para pemimpin suku Hawazin dan Tsaqif merasa tidak senang melihat kemenangan yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya dan kaum Muslimin yang telah berhasil menaklukkan kota Mekkah dan bangsa Quraisy.

Mereka menghimpun suatu kekuatan besar di Authas (tempat antara Makkah dan Tha’if). Dengan mengerahkan seluruh harta kekayaan, wanita dan anak-anak mereka. Hal ini mereka lakukan agar mereka tidak lari meninggalkan medan pertempuran demi mempertahankan keluarga serta harta mereka.

Syekh Sa’id Ramadhan al-Buthy menuturkan dalam kitab karangannya “Fiqh Sirah an-Nabawiyah” bahwa tepat pada tanggal 6 syawwal 8 H, Rasulullah pergi bersama 12.000 kaum Muslimin, 10.000 dari penduduk Madinah, dan 2.000 dari penduduk Makkah. Beliau meminjam 100 baju besi dan perlengkapannya dari Shafwan bin Umayyah. Lalu, Rasulullah mengutus Abdullah bin Hadrad al-Aslami pergi menyelusup ke dalam barisan kaum musyrikin untuk  mencari informasi mengenai mereka. Sedangkan Malik bin Auf mengirim beberapa mata-mata untuk mencari informasi tentang kaum Muslimin. Tetapi mereka menjadi cerai berai setelah mata-mata itu kembali.

Lalu Malik berkata, “Celaka kalian, ada apa dengan kalian?” Mereka menjawab, ”Kami berpapasan dengan sekumpulan laki-laki yang berpakaian putih dengan menunggangi kuda yang gagah. Demi Allah, lebih baik kami menarik diri dari pada kami mendapat musibah.”

Sementara itu, pada malam rabu 10 Syawwal pasukan Islam tiba di Hunain. Namun pasukan Malik bin Auf lebih dahulu tiba di sana. Dia memencarkan pasukan dan menempatkan mereka disetiap jalan masuk, di sela-sela bukit dan di celukan yang tersembunyi. Dia memerintahkan untuk menyerang pasukan Muslimin ketika sudah mulai tampak, lalu semua pasukan melancarkan serangan secara serentak. Serangan yang secara tiba-tiba itu membuat kuda-kuda kaum Muslimin berlarian dan orang-orang pun mundur tunggang langgang.

Muslim meriwayatkan dari Abbas ra, ia berkata, “Aku ikut besama Rasulullah saw. dalam perang Hunain. Aku bersama Abu Sufyan ibnu Harits bin Abdul Muthalib selalu berada di atas baghal putihnya. Ketika kaum Muslimin bertemu  dengan kaum kafir, kaum Muslimin lari terbirit-birit.”

Rasulullah saw. berbelok ke arah kanan sambil berseru, “Kemarilah wahai semua orang, aku adalah Rasul Allah. Aku adalah Muhammad bin Abdullah.” Namun mereka tidak peduli lagi, yang ada di benak mereka hanyalah lari menyelamatkan diri. sehingga yang menyisa di tempat beliau hanya beberapa orang dari Muhajirin dan sanak keluarga beliau.

Pada saat itulah tampak betapa hebat keberanian Rasulullah yang tiada tandingannya. Beliau siap-siap memacu baghalnya ke arah orang-orang kafir sambil bersabda, ”Akulah sang Nabi, dan ini bukan dusta, akulah keturunan Abdul Muthalib.” Hanya saja Abu Sufyan bin al-Harits segera memegang tali kekang baghal beliau dan al-Abbas memegang pelananya, berusaha untuk menahannya agar baghal beliau tidak lari. Beliau turun dari baghal lalu berdoa,”Ya Allah turunkanlah pertolongan-Mu.”

Di dalam peperangan ini, Rasulullah mengumumkan, “Siapa yang telah membunuh seorang musuh dengan memberikan bukti yang kuat maka dia berhak mengambil barang yang melekat di tubuh musuh yang terbunuh itu.” Namun Rasulullah saw. juga melarang untuk  tidak membunuh anak-anak, wanita dan juga hamba sahaya. Kedua pasukan saling melancarkan serangan. Beliau memandang ke arah kancah peperangan yang semakin seru dan gencar, sambil bersabda, “Di sinilah peperangan berkobar.” Lalu beliau mengambil segenggam pasir dan menyebarkannya ke  arah musuh. Tak seorangpun diantara mereka yang tidak terkena semburan pasir, mata mereka yang terkena semburan pasir mengakibatkan mereka sulit untuk melihat.

Tidak beberapa lama setelah beliau menyebar genggaman pasir, musuh mengalami kegagalan secara telak. Tidak kurang dari tujuh puluh orang dari Tsaqif mati terbunuh. Sehingga Malik bin ‘Auf bersama sebagian pendukungnya lari sampai ke Thaif dan sebagiannya lagi lari ke Nakhlah dan sebagian lagi ke Authas. Oleh karena itu, Nabi mengirim sekumpulan orang yang dipimpin Abu Amir al-Asy’ari untuk melakukan pengejaran. Kedua belah pihak terlibat dalam baku hantam peperangan selama beberapa saat di Authas, dan pada akhirnya orang-orang musyrik dapat dikalahkan, meskipun dalam peperangan itu Abu Amir al-Asy’ari gugur. Sementara sebagian pasukan Muslimin yang lain melakukan pengejaran ke Nakhlah, Duraid bin ash-Shimah dapat ditangkap dan dibunuh di sana oleh Rabi’ah bin Rufai’. Sedangkan orang-orang musyrik yang lari ke Thaif, dikejar langsung oleh Nabi sendiri.Kekalahan kaum musyrikin membuat orang-orang Muslim mendapatkan harta yang banyak, senjata dan juga menawan para wanita.

Harta rampasan yang  diperoleh pasukan Muslimin berupa, 24.000 unta, 40.000 domba, 4000 uqiyah perak, dan juga mendapat tawanan sebanyak 6000 orang. Rasulullah memerintahkan agar semua tawanan dan harta  rampasan itu  dikumpulkan, lalu disimpan di Ji’ranah. Beliau menunjuk Mas’ud bin Amr al-Ghifari sebagai penanggung jawabnya. Harta rampasan ini tidak di bagi kecuali setelah perang Thaif.

Beberapa ‘ibrah dari kejadian perang Hunain ini adalah:

  1. Perang Hunain memberikan pelajaran penting tentang aqidah Islamiyah dan hukum sebab akibat yang menyempurnakan pelajaran serupa di Perang Badar.
  2. Peperangan Hunain ini juga menegaskan kepada kaum Muslimin bahwa jumlah yang banyak juga tidak dapat memberikan manfaat apabila mereka tidak bersabar dan bertaqwa.
  3. Jumlah yang banyak secara fisik itu tidak menjamin untuk selalu mendapatkan kemenangan, melainkan semua itu datangnya atas pertolongan Allah Swt.
  4. Dengan dua ratus orang tersebut, kemenangan datang kembali kepada kaum Muslimin dan ketenanganpun datang ke dalam hati mereka.

 

Referensi

Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy. 1999. Fikih Sirah Nabawiyah. Terj. Aunur Rafiq Shaleh Tamhid. Sunt. Abu Firhat. Jakarta: Robbani Press.

Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri. 1997. Sirah Nabawiyah. Terj. Kathur Suhardi. Jakarta: Pustaka al-Kautsar.

Ibnu Hisyam. 2017. Sirah Nabawiyah. Terj. Samson Rahman. Sunt. Tim Akbar. Jakarta: Akbar Media.

 

Oleh : Alviatun Khoiriyah, Semester IV

Leave a Reply