Penyebar Islam di Desa Sidamulya

Penyebar Islam di Desa Sidamulya

Desa Sidamulya merupakan sebuah desa yang dahulunya sebuah hutan dan rawa-rawa yang belum dijamah oleh manusia. Tahun 1936, mulai datanglah penduduk koloni dari beberapa daerah di antaranya dari daerah kabupaten Banyumas dan Kebumen, Yogyakarta, Kulon Progo, Sleman, Ciamis dan Tasikmalaya.

Penduduk yang pindah ke desa itu kurang lebih mencapai 35 keluarga, 85 jiwa, dan di desa tersebut terbagi menjadi 3 dusun yakni dusun Rejasari, Bakung, dan Cibeureum. Di masing-masing dusun tersebut terdapat tokoh yang mumpuni dalam hal keagamaan. Dari dari dusun Rejasari yaitu si Mbah Toyib, dusun Bakung yakni si Mbah Hasbi, dan dusun Cibeureum yakni si Mbah Kiai Hamami. Namun satu-satunya tokoh yang dianggap mampu untuk membimbing dan mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan hanya si Mbah Kiai Hamami. Beliau adalah tokoh yang sangat disegani oleh masyarakat sekitar.

Beliau mengajarkan ilmu keagamaan kepada masyarakat dibantu oleh ulama lainnya. Awal pendekatannya kepada masyarakat yaitu dengan metode ceramah keagamaan, lambat laun masyarakat mulai memahami ilmu agama dan dapat membangun masjid yang sederhana beratap daun alang-alang. Namun karena kegigihan perjuangan beliau makin tersebarlah pengetahuan agama di masyarakat setempat. Terhitung hingga tahun 1949, jumlah penduduk bertambah menjadi 100 keluarga yang mayoritas beragama Islam. Beliau bersama masyarakat membuka hutan dan rawa untuk dijadikan sawah dan ladang sebagai mata pencaharian guna menopang kebutuhan hidup dengan cara bertanam padi, singkong, dan lain-lain. Perjuangannya yang tak pernah surut menjadikan bertambahnya jamaah majelis ilmu yang dikembangkan oleh si Mbah Kiai Hamami sehingga dapat mencetak generasi penerus beliau. Dengan mengamanatkan putra-putrinya ke pesantren di luar daerah menjadi satu kiat menjadikan generasi penerus yang alim ilmu agama.

Pada tahun 1990 beliau juga membangun masjid lain yang sederhana di daerah Cibeureum, yaitu masjid Al-Falah. Ketika si Mbah Kiai Hamami sudah berumur senja beliau mewasiatkan kepada adiknya, si Mbah Kiai Ismail untuk melanjutkan perjuangannya dalam mensyiarkan ilmu agama serta mengajarkan pada masyarakat tentang kehidupan beragama

Oleh : Nining Nuryaningsih, Semester V

Leave a Reply