CIKAL BAKAL PERANG SHIFFIN

CIKAL BAKAL PERANG SHIFFIN

Ma’had Aly – Perang Shiffin merupakan peperangan antara pasukan Ali bin Abi Thalib dan pasukan Muawiyyah bin Abu Sufyan terjadi pada tahun 37 H. Peperangan ini juga merupakan  penutup masa kekhalifahan Khulafaurrasyidin dan dimulainya kekhalifahan Dinasti Umayyah, dengan diakhiri tahkim antara kedua pasukan di mana Ali bin Abi Thalib dilengserkan dari kekhalifahan dan Muawiyyah diangkat menjadi khalifah yang baru. Setelah peristiwa ini umat Islam banyak yang terpecah belah, dari pasukan Ali bin Abi Thalib misalnya. Pasukan Ali bin Abi Thalib terpecah menjadi tiga golongan yaitu Syiah, Murji’ah dan Khawarij.  Hal ini terjadi dikarenakan ketidakpuasan dengan keputusan yang diambil dalam proses tahkim tersebut maka dari itu pasukan Ali terpecah menjadi tiga golongan. Lantas apa yang menyebabkan peperangan ini terjadi? Mengapa sesama saudara muslim berperang? 

Perang Shiffin merupakan bentuk protes Muawiyyah kepada khalifah Ali bin Abi Thalib mengenai peristiwa pembunuhan khalifah Utsman di mana khalifah Ali tidak menjatuhi hukuman kepada pembunuh khalifah Utsman. Muawiyyah menganggap yang bertanggung jawab atas terbunuhnya khalifah Utsman adalah Muhammad bin Abu Bakar, karena dialah yang telah membawa massa memasuki rumah utsman dan terjadilah pembunuhan  walaupun bukan dia yang membunuh khalifah Utsman. Akan tetapi khalifah Ali masih tidak menjatuhi hukaman terhadap Muhammad bin Abu Bakar.

Sebelum membahas lebih lanjut kita sedikit mundur ke belakang menuju masa kekhalifahan Utsman bin Affan. Pada masa kekhalifahan Utsman terjadi nepotisme, yaitu mengangkat anggota keluarganya menjadi para pejabat, hal ini membuat sebagian umat muslim  kurang terima, seperti Marwan bin Hakam yang merupakan sepupu dari khalifah. Marwan bin Hakam telah diusir oleh Nabi dari Madinah akan tetapi pada masa khalifah Utsman dia menjadi sekretariat dan  penasihat khalifah di Madinah, hal ini menyebabkan sebagian umat muslim tidak menerimanya. Selain itu khalifah juga mengganti gubernur Mesir yang pada waktu itu dijabat Amr bin Ash dan digantikan oleh Abdullah bin Abi Sarah yang merupakan penulis wahyu yang khianat pada masa Nabi sehingga ia diusir di Madinah. Tatkala peristiwa Fathu Makkah Nabi memerintahkan membunuh Abdullah bin Abi Sarah, tetapi ia mendapat perlindungan dari Utsman bin Affan karena ia saudara sesusuannya dan Nabi mengiyakan.

Masyarakat Mesir tidak setuju dengan kepemimpinan Abdullah bin Abi Sarah maka dari itu para penduduk Mesir mengadakan demo besar-besaran ke Madinah untuk meminta khalifah Utsman menurunkan Abdullah bin Abi Sarah. Sesampainya di Madinah Masyarakat muslim meminta agar Abdullah diturunkan dan digantikan, khalifah Utsman meminta siapa yang akan menggantikan Abdullah jika ia diturunkan, mereka mengusulkan Muhammad bin Abu Bakar dan khalifah menyetujuinya. Masalah dalam hal ini selesai, masyarakat Mesir kembali ke daerahnya dengan damai karena mendapat pemimpin yang baru. Akan tetapi, ketika di tengah perjalanan ada seorang pengendara kuda menyerobot mendahului rombongan Muhammad bin Abu Bakar dan pada saat itu panglima pasukan menghentikan pengendara kuda tersebut dan menggeledah seluruh pakaiannya kemudian menemukan surat. Surat tersebut berisi perintah pembunuhan terhadap rombongan tersebut. Masyarakat mesir akhirnya kembali lagi untuk meminta klarifikasi dari khalifah atas surat perintah tersebut, pada saat itu Madinah ricuh. 

Masyarakat menganggap kerusuhan ini terjadi karena ulahnya Marwan bin Hakam, maka dari itu masyarakat meminta kepada khalifah Utsman menyerahkan Marwan untuk diadili pada waktu itu. Akan tetapi, Khalifah bersikeras tidak mau menyerahkan sepupunya tersebut karena Utsman khawatir Marwan akan dibunuh. Ali bin Abi Thalib juga membujuk Khalifah Utsman untuk menyerahkan Marwan akan tetapi khalifah tetap tidak mau menyerahkannya. Yang diinginkan massa hanyalah Marwan, mereka mengatakan jika Marwan diserahkan kepada mereka maka urusan ini selesai. Namun tidak ada juga jawaban dari khalifah, sehingga rumah khalifah dikepung oleh massa. Setelah beberapa hari mengepung rumah khalifah namun tetap khalifah tidak menyerahkan Marwan bin Hakam. Kesabaran massa sudah tidak terkendalikan sehingga mereka menerobos masuk ke rumah khalifah. Na’ilah istri khalifah berusaha mencegah massa membunuh suaminya hingga terpotong jari-jarinya akibat sabetan pedang, massa yang begitu banyak tidak bisa dihentikan pada akhirnya tusukan pedang menghujam tubuh khalifah Utsman. Disebabkan banyaknya orang di sana jadi tidak diketahui siapa sebenarnya pembunuh khalifah Utsman bin Affan. Namun dalam riwayat lain bahwasannya khalifah di bunuh karena di pukul dan di sembelih yang dilakukan oleh Muhammad bin Abu Bakar dan kedua temannya. Dalam riwayat ini Muhammad bin Abu Bakar memegang jenggot khalifah Utsman dan menariknya akan tetapi, setelah mendengar ucapan khalifah Utsman, ia mengurungkan niatnya tanpa diduga kedua temannya datang dan memukul khalifah Utsman hingga meninggal. Setelah peristiwa ini Marwan bin Hakam bersama anaknya pergi melarikan diri.

Setelah Ali bin Abi Thalib dibaiat menjadi khalifah, kemudian ia mendatangi istri Utsman bin affan menanyakan perihal siapa pembunuh Utsman. Namun, Istri Utsman tidak mengetahui siapa pembunuhnya yang ia ketahui para pembunuh Utsman bisa masuk ke kamar Utsman karena dibantu oleh Muhammad bin Abu Bakar dan Muhammad bin Abu Bakar sendiri mengakuinya. Ibnu Asakir meriwayatkan dari kinanah mantan budak Shafiyyah serta yang lain bahwasannya pembunuh Utsman adalah orang mesir berkulit sawo matang yang disebut dengan Himar.

Semua yang terjadi seperti yang sudah dijelaskan di atas sebenarnya bukan Utsman yang salah akan tetapi semua ini terjadi karena adu domba. Gerakan adu domba ini dipimpin oleh Ibnu Saba, seorang yahudi Yaman, dilahirkan dari seorang ibu Negro,dan karena alasan ini ia dikenal sebagai Ibnu Sauda. Pada tahun ke-8 dari pemerintahan Utsman orang ini datang ke Basrah, di mana Abdullah bin Amr sebagai Gubernur di sana, dan ia memeluk islam. Seperti kelakuan di baliknya menunjukkan, ini hanyalah topeng yang dipakainya untuk menyembunyikan rancangannya yang gelap. Di permukaan ia membatasi propagandanya untuk menciptakan ketidak puasan terhadap Gubernur yang dipilih oleh khalifah. Ketika Gubernur Basrah mengetahui mengetahui hal ini, kemudian dia diusir dari Basrah. Meninggalkan Basrah dia mengunjungi macam-macam pusat kekaisaran—Kufah, Syiria, dan Mesir—dan, meskipun diusir dari setiap tempat, dia berhasil dalam menyuntikkan racun jahatnya ke mana-mana. Di Basrah dan Kufah, memancar tetesan orang-orang yang jatuh dalam jebakannya dan mempercayai propaganda jahatnya. Hanya Syiria saja yang terjaga dari pengaruh jahatnya atas kehati-hatian Muawiyah. Tiba di Mesir, dia memperagakan dirinya dengan warnanya yang sejati, secara terang-terangan mengutuk khalifah sebagai tiran. Ali, dia mulai mengajarkan adalah raja yang tepat, sebagai pewaris yang paling berhak dari Nabi. Ajaran pembangkangan ini yang disiarkan dari markas besarnya di Mesir ke tempat-tempat lain, khususnya Basrah dan Kufah, dengan agen-agennya, dan dengan memberi warna agama ini untuk kampanyenya, dia berhasil dalam menemukan banyak orang tertipu. Oleh karena inilah peristiwa di atas terjadi.

Sebelum terjadinya perang Shiffin, terjadi juga peperangan antara Ali dan Ummul Mukminin Aisyah RA. Perang ini dinamakan perang Jamal. Perang ini terjadi kesalahpahaman antara keduanya. Awalnya ketika terjadi peristiwa pembunuhan Utsman, Siti Aisyah yang waktu itu sedang berhaji ke mekkah kaget mendengar kabar tersebut. mendengar Ali diangkat menjadi khalifah kemudian Siti Aisyah mengutus pasukan yang cukup banyak untuk menemui Ali bermaksud untuk bekerja sama dengan khalifah Ali mengusut siapa pembunuh Utsman.

Ketika pasukan tersebut sampai ke kediaman Ali, beliau mengira akan ada penyerangan dikarenakan jumlah pasukan yang begitu banyak. Kesalahpahaman tersebut membuat beliau menyiapkan pasukan dan mengirim utusan untuk menanyakan apa maksud kedatangan pasukan tersebut. pasukan Aisyah menjelaskan kedatangan mereka untuk mengajak kerja sama pengutusan kasus pembunuhan Utsman.

Setelah mendengar penjelasan tersebut, Ali dan pasukannya merasa senang dan menyambutnya dengan baik. Pada malam harinya, mereka tidur dengan damai, di bawah tenda-tenda di padang pasir kota madinah. Akan tetapi, dalam kegelapan malam itu ada sekelompok orang menyelundup ke kedua belah pihak pasukan, kelompok ini adalah pengikut dari pembunuh Utsman. Mereka menyerang kedua pasukan agar keduanya berperang. Dalam kegelapan malam yang gelap gulita, yang terdengar hanyalah suara pertempuran dan hantaman pedang. Pasukan Ali mengira pasukan Aisyah menyerang, begitu pula sebaliknya pasukan Aisyah mengira pasukan Ali menyerang. Oleh karena inilah kedua pasukan pada akhirnya saling berperang. Dan kemenangan diraih oleh pasukan Ali bin Abi Thalib.

Setelah perang Jamal dan Ali dibaiat oleh mayoritas kaum Anshar dan Muhajirin. Ali memindahkan kursi kekhalifahannya dari Madinah ke Kufah, ia juga mengirim gubernur-gubernur baru yang menerima pemikirannya, untuk mengambil alih fungsi administratif provinsi-provinsi yang memberontak. Akan tetapi salah satu gubernur itu ada yang menolak berbaiat yaitu Muawiyah bin Abu Sufyan Gubernur Syam.

Ketika Ali mengutus Jarir bin Abdullah untuk menyerahkan surat kepada Muawiyah untuk berbaiat, Muawiyah tidak serta merta menerimanya. Ia justru mengumpulkan Amr bin Ash dan tokoh-tokoh negeri Syam untuk bermusyawarah. Setelah bermusyawarah, mereka memutuskan untuk menolak berbaiat kepada Ali hingga para pembunuh Utsman ditumpas atau Ali menyerahkan pembunuh tersebut. jika ia tidak memenuhi permintaan ini maka mereka akan memerangi Ali dan menolak berbaiat kepadanya hingga mereka berhasil menghabisi seluruh pembunuh Utsman tanpa sisa.

Setelah itu jarir pulang menemui Ali dan menceritakan keputusan Muawiyah dan penduduk Syam. Amirul Mukminin Ali merespon ancaman tersebut dengan berangkat dari kufah bertujuan untuk menduduki Syam. Ia mempersiapkan pasukan di Nukhailah dan menunjuk Abu Mas’ud Uqbah bin Amru sebagai Amir sementara di Kufah. 

Ketika berita keberangkatan pasukan Ali sampai kepada Muawiyah, ia segera bermusyawarah dengan Amr bin Ash yang juga menganjurkan Muawiyah untuk keluar bersama pasukannya. Kemudian ia menulis pesan kepada seluruh pasukan di Syam, dalam waktu singkat mereka sudah berkumpul dan mengangkat panji-panji bagi amir masing-masing. Pasukan Syam telah bersiap-siap berangkat. Mereka bergerak menuju Eufrat dari arah Shiffin. Sementara di pihak lain, Ali bersama pasukannya bergerak dari Nukhlailah menuju tanah Syam.

Kedua kubu saling berhadapan pada Juli 657 di tempat bernama Shiffin, di hulu sungai Eufrat. Sesampainya di Shiffin kedua pasukan sempat saling berebut sumber air, hingga menimbulkan konfrontasi kecil. Kemudian kedua pihak sepakat berdamai dalam urusan air ini. Sehingga mereka saling berdesak-desakan di sumber air itu, mereka tidak saling berbicara dan mengganggu. Ali berdiam selama dua hari tanpa mengirim sepucuk surat pun kepada Muawiyah dan Muawiyah pun juga melakukan hal yang sama. Kemudian Ali mengirim seorang utusan kepada Muawiyah, namun kesepakatan belum juga tercapai. Muawiyah tetap bersikeras menuntut darah pembunuh Utsman. Setelah terjadi kebuntuan dalam negosiasi maka pertempuran antara keduanya pun tidak dapat dihindarkan. Pada awalnya Ali mengajak Muawiyah untuk bertempur satu lawan satu, supaya konflik di antara mereka segera usai. Sehingga siapa yang hidup ia adalah yang menang dan menjadi khalifah. Namun, Muawiyah menolak ajakan itu, hanya Amr yang mau. Ketika Ali dan Amr berhadap-hadapan dan menyentak lembing serta pedang masing-masing, hampir saja Amr tewas oleh pedang Ali. Pedang Ali telah mengenai pinggangnya, hampir menembus perutnya mengenai tali celananya dan putus, hingga auratnya terlihat. Ali tidak mau melanjutkan pertempuran itu dan berbalik menuju tempat lain dan membiarkan Amr menutupi auratnya. Setelah itu, pertempuran besar baru dimulai. Pada awalnya, Muawiyah mendominasi pertempuran , tetapi akhirnya pasukan Muawiyah dipaksa mundur karena mendapat serangan keras dari pasukan Ali. Bahkan, beberapa orang serdadu Ali telah sampai di depan kemah Muawiyah.

Dalam pertempuran terakhir pada 28 Juli 657 M, pasukan Ali di bawah pimpinan Malik al-Asytar hampir menang ketika Amr ibn al Ash dengan licik melancarkan siasatnya. Ia memerintahkan pasukan Muawiyah untuk melekatkan salinan al-Quran di ujung tombak dan mengangkatnya, sebuah tanda yang diartikan pasukan Ali sebagai seruan untuk mengakhiri perang dan mengikuti keputusan Alquran.

Ketika tombak-tombak pasukan Muawiyah diangkat, tentara Ali tidak menyerang lagi, padahal mereka hampir menang. Ali sendiri menganggap itu hanya tipu daya musuh saja. Ia berseru, “Wahai hamba Allah, teruskan merebut hakmu, teruskan memerangi musuhmu, Muawiyah. Amr bin Ash, Ibnu bin Mu’ith, Habib bin Maslimah, Ibnu Abi Sarah, dan Dhahhak bin Qais. Mereka itu bukanlah ahli agama, bukanlah ahli Alquran. Aku lebih mengetahui keadaan mereka. Aku berteman dengan mereka sejak kecil dan sampai dewasa. Pada waktu kecil mereka hanyalah anak-anak nakal dan pada waktu besarnya mereka laki-laki yang jahat semata. Mereka mengangkat Alquran hanyalah rencana mereka. Mereka mengangkat Alquran tidak lain hanyalah tipuan, percayalah pada apa yang kukatakan.”

Orang banyak itu menjawab, “Tidak sampai hati kami akan meneruskan peperangan kalau kami telah diseru kepada kitab Allah.” Pada awalnya Ali hendak meneruskan peperangan, tetapi suara pengikutnya pecah. Sebagian dari mereka sudah tidak mau berperang lagi, sehingga Ali terpaksa menghentikan perang dengan hati yang amat kesal. Perang pun akhirnya berakhir, dan konflik antar keduanya dilanjutkan ke jalur perundingan.

Apa yang tepatnya terjadi dalam perundingan bersejarah ini sulit dipastikan. Berbagai versi muncul dalam berbagai sumber yang berbeda. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa kedua pihak sepakat untuk melengserkan kedua pemimpin mereka, sehingga melapangkan jalan bagi calon baru. Akan  tetapi setelah Abu Musa yang lebih tua berdiri dan menegaskan bahwa ia memecat Ali dari jabatan kekhalifahannya dan memilih Abdullah bin Umar, Amr mengkhianatinya dan menetapkan Muawiyah sebagai khalifah.

Namun, kajian kritis yang dilakukan sejarawan-sejarawan modern, memperlihatkan bahwa riwayat itu mencerminkan pandangan kelompok Irak (kebanyakan riwayatnya menjadi rujukan) yang berkembang pada masa Dinasti Abbasiyah, musuh Dinasti Umayyah. Kemungkinan yang telah terjadi adalah bahwa kedua juru runding memecat kedua pemimpin mereka, sehingga Ali menjadi pihak yang kalah, karena Muawiyah tidak memiliki jabatan kekhalifahan yang harus diletakkan. Ia tidak lain hanyalah seorang gubernur sebuah provinsi. Hasil arbitrase itu telah menempatkan dirinya setara dengan Ali, yang posisinya menjadi tidak lebih dari pemimpin yang diragukan otoritasnya. Berdasarkan keputusan para arbiter, Ali dilengserkan dari jabatan kekhalifahan yang sebenarnya, sementara Muawiyah dilengserkan dari jabatan kekhalifahan fiktif yang ia klaim dan belum berani ia kemukakan di depan publik. Terdapat kerugian lain yang diderita Ali karena menerima tawaran arbitrase, yaitu turunnya simpati sejumlah besar pendukungnya. Pendukung yang membelot itu akhirnya membentuk sebuah sekte baru, bernama Khawarij. Kelompok ini pada perkembangannya akan memusuhi Ali dan akhirnya menyebabkan khalifah terbunuh dalam perjalanannya ke Masjid Kufah, pada 24 Januari 661 M.

REFERENSI

As-Suyuthi, Imam. 2015. Tarikh Khulafa’. Terj. Samson Rahman. Jakarta: Pustaka al-Kautsar.

Bauer, Susan Wise. 2016. Sejarah Dunia Abad Pertengahan: Dari Pertobatan Konstantinus Sampai Perang Salib Pertama. Terj. Aloysius Prasetya. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Hamka. 2016. Sejarah Umat Islam. Jakarta: Gema Insani.

Hasan, Hasan Ibrahim. 1989. Sejarah Kebudayaan Islam. Yogyakarta: Kota Kembang.

Hitti, Phillip K. 2006. History of The Arabs. Terj. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.

Katsir, Ibnu. 2004. Al-Bidayah Wan Nihayah Masa Khulafaur Rasyidin. Jakarta: Darul Haq.

Lapidus, Ira M. 2000. Sejarah Sosial Ummat Islam Bagian I dan II. Terj. Ghufron A. Mas’adi. Jakarta: RajaGrafindo Persada

Maulana Muhammad Ali. 2007. The Early Caliphate (Khulafa-ur-Rasyidin). Terj. Imam Musa. Jakarta: Darul Kutub Islamiyah

Syamruddin Nasution. 2013. Sejarah Peradaban Islam. Pekanbaru: Yayasan Pusaka Riau

Tasaro Gk. 2016. MUHAMMAD: Generasi Penggema Hujan. Yogyakarta: PT Benteng Pustaka

Kontributor : Hasanuddin, Semseter III

Leave a Reply