Mengenal Sosok Aryo Panangsang, Cucu Raden Patah

Mengenal Sosok Aryo Panangsang, Cucu Raden Patah

Ma’had Aly – Aryo Panangsang atau Aryo Jipang adalah bupati Jipang Panolan yang memerintah pada pertengahan abad ke-16. Menurut Serat Kanda, ayah dari Aryo Panangsang adalah Raden Kikin atau sering disebut Pangeran Sekar, putra Raden Patah. Ibu Raden Kikin adalah putri Raja Jipang sehingga ia bisa mewarisi kedudukan kakeknya. Selain itu Raden Patah mempunyai dua putra yaitu Pati Unus dan Sultan Trenggana. 

Dalam buku Babad Tanah JawiMulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647” dituliskan bahwa pada tahun 1521 putra kedua Raden Patah yaitu Pati Unus gugur dalam perang laut di Selat Malaka melawan pasukan Portugis. Di samping itu kedua adiknya yaitu Raden Kikin dan Sultan Trenggana berebut takhta. Namun Raden Kikin ini mati terbunuh oleh pasukan suruhan Raden Mukmin, anak dari Sultan Trenggono. Sepeninggal ayahnya yaitu Raden Kikin, Aryo Panangsang berguru pada Sunan Kudus yang bersimpati atas kemalangan Aryo Panangsang. Dan ia bersumpah akan balas dendam serta merebut tahta sah Kerajaan Demak yang seharusnya didapat Aryo Panangsang. Selain itu Aryo Panangsang juga menggantikan ayahnya menjadi adipati Jipang, namun karena saat itu umurnya masih anak-anak sehingga pemerintahannya diwakili oleh Patih Matahun.

Menjadi seorang adipati tidak membuat Aryo lupa akan ambisinya. Sambil menjalankan tampuk pemerintahan ia juga menyusun strategi untuk mewujudkan keinginan orang tuanya untuk menduduki tahta di Demak Bintoro. Moedjianto dalam bukunya menyebutkan pada saat itu sekitar tahun 1546 M Demak sedang mengalami transisi pemerintahan karena meninggalnya Sultan Trenggono. Dan penggantinya adalah putranya yaitu Sunan Prawoto. Aryo Panangsang menilai bahwa ini adalah kesempatan emas, sehingga Aryo meminta dukungan dari Sunan Kudus. Akhirnya pada tahun 1549 Aryo Panangsang membalas kematian ayahnya dengan mengirimkan utusan bernama Rungkud dengan Keris Kyai Setan Kober. Rangkud sendiri tewas karena saling membunuh dengan korbannya. Dendam pun terbalaskan, dan dengan terbunuhnya Sunan Prawoto maka tahta Kerajaan Demak jatuh ke tangan Aryo Panangsang. Sehingga pusat kekuasaan berpindah ke Jipang Panolan dan Kerajaan Demak mendapat sebutan Demak Jipang.

Hari-hari pertama pemerintahan Aryo Panangsang langsung mendapat protes keras dari Jepara yang diwakili oleh Pangeran Hadiri dan Ratu Kalinyamat. Mereka yakin bahwa pergantian kekuasaan Demak tidak sah karena terjadi pembunuhan terhadap Sunan Prawoto oleh utusan Aryo Panangsang. Mereka berniat ingin melaporkan kepada Sunan Kudus akan kejadian itu. Namun apa yang didapat justru sebaliknya. Sunan Kudus mengatakan bahwa kematian Sunan Prawoto karena karma, sehingga membuat Ratu Kalinyamat kecewa. Akhirnya Ratu Kalinyamat pulang bersama suaminya. Di tengah jalan mereka diserbu oleh pasukan Aryo Panangsang. Ratu Kalinyamat berhasil lolos, sedang suaminya terbunuh. Hal ini menyebabkan adipati-adipati di bawah Demak memusuhi Aryo Panangsang. Salah satunya yaitu  Adipati Pajang yang tak lain adalah Joko Tingkir (Hadiwijaya).

Hadiwijaya merasa segan untuk membunuh Aryo Panangsang secara langsung karena ia merasa dirinya hanya sebagai mantu keluarga Demak. Sehingga ia mengadakan sayembara, bahwa barang siapa yang bisa membunuh Aryo Panangsang maka akan memperoleh hadiah berupa tanah Pati dan Mataram. Kedua kakak angkat Hadiwijaya, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi mendaftarkan diri. Demikian juga dengan putra kandung Ki Ageng Pemanahan, yaitu Sutawijaya ia juga turut serta mendaftarkan diri. Sehingga mereka bertigalah yang berangkat berperang melawan Aryo Panangsang.

M.C. Ricklefs dalam bukunya yang berjudul Sejarah Indonesia Modern bahwa perang antara pasukan Pajang dengan Jipang terjadi di Bengawan Sore (Solo). Sutawijaya menantang duel Aryo Panangsang namun ia menolaknya, karena yang ia cari adalah Ki Ageng Pemanahan yang sudah banyak mengakali dirinya. Serangan Sutawijaya hanya ditangkis oleh Aryo Panangsang. Di tengah percobaan Sutawijaya, tombaknya berhasil merobek perut Aryo Panangsang, karena terkena tombak Kyai Plered milik Sutawijaya. Meskipun demikian Aryo Panangsang tetap bertahan. Ususnya yang terburai dililitkan pada gagang keris miliknya yang terselip di pinggang. 

Sutawijaya saat itu sudah hampir kalah. Ia akan dibunuh oleh Aryo Panangsang dengan menggunakan kerisnya. Namun Aryo lupa bahwa ususnya disampirkan di kerisnya sehingga sewaktu dia mencabut keris dari wadahnya, ususnya terpotong. Merasakan sakit yang amat sangat, ketika itulah Aryo Panangsang gugur.

Referensi:

Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647 (terj.), Yogyakarta: Narasi, 2007.

H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud, Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di Jawa (terj), Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2001.

M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern (terj.), Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1991.

Moedjianto, Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram, Yogyakarta: Kanisius, 1987.

Oleh: Maulana Yusuf, Semester V

Leave a Reply