Sejarah

Buya Hamka: Ulama dan Sejarawan Tanah Air

@MAHADALYJAKARTA – Abdul Malik Karim Amrullah yang popular dengan sebutan Hamka yang di lahirkan di Nagari Sungai Batang (Molek), Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Pada tanggal 17 Februari 1980 M atau 13 Muharram 1326 H, Hamka di berikan sebutan buya, suatu panggilan untuk orang Minangkabau yang berasal dari kata Abi, Abuya dalam bahasa arab, yang berarti ayahku. Beliau adalah seorang ulama dan sastrawan Indonesia sebelum memasuki dunia polItik, menekuni berbagai profesi diantaranya sebagai wartawan, penulis, dan pengajar. Karir politiknya dimulai melalui Masyumi, beliau adalah ketua Majelis Ulama Indonesia yang pertama sampai pada akhirnya Masyumi dibubarkan karena dikaitkan dengan pemberontakan PRRI.

Beliau adalah putra sulung dari tujuh bersaudara, ayahnya bernama Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yang terkenal dengan sebutan H. Rasul, merupakan pelopor Islam (tajdid) di Minangkabau. Sekaligus pendiri Sumatera Thawalib di Padang Panjang, dan ibunya Siti Shafiyah Tanjung binti H. Zakaria yang berasal dari keluarga seniman yang sai dari Minangkabau.

Perceraian orang tuanya membuat Hamka harus berpisah dengan ibunya pada saat usia baru menginjak enam tahun, dan mulai bersekolah pada usia tujuh tahun di Padang Panjang. Tetapi hanya sampai pada kelas dua saja. Dan ketika berusia sepuluh tahun beliau belajar bahasa Arab di Padang Panjang, yang didirikan ayahnya. Mula pada tahun 1916 sampai 1923 ketika itu Buya Hamka berusia lima belas tahun, Beliau belajar agama di Pendidikan Diniyah School di Padang Panjang dan di Parabek.

Setelah itu pada tahun 1915 Hamka mendaftar di SMK Sultan Muhammad sebagai tempat beliau belajar al-qur’an dan tidur di masjid yang berdekatan dengan rumah keluarga, dan beliau juga belajar agama kepada para ulama-ulama diantaranya, Syekh Ibrahim Musa Parabek, Syekh Ahmad Rasyid, Sultan Mansur, Engku Mudo Abdul Hamid, Sutan Marajo dan Zainuddin Labay el- Yunusy. Para Penuntut ilmu agama Islam pada saat itu ramai di bawa pimpinan ayahnya sendiri.

Walaupun pernah duduk di kelas VII, akan tetapi beliau tidak mempunyai ijazah. Pada usia enam belas tahun ia merantau ke Jawa untuk menimba ilmu tentang gerakan Islam modern kepada HOS Tjokroaminoto, Ki Bagus Hadikusuma, RM Soerjopranato, dan KH. Fakhrudin, ini menjadikan beliau ahli pidato yang andal .

Di Yogyakarta beliau sempat memperoleh pengalaman yang sangat berarti, yaitu dengan melakukan diskusi bersama teman-teman yang memiliki wawasan luas, diantaranya Muhammad Nasir. Disinilah beliau, mulai berkenalan dengan ide Pembaharuan Sarekat Islam dan Muhammadiyah yang di pimpin oleh A.R. Sutan Mansur. Selepas dari tanah Jawa, ia kemudian kembali ke Padang untuk membesarkan Muhammadiyah. Beliau sangat aktif gerakan Islam melalui Organisasi Muhammadiyah.

Beliau mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai tahun 1927, beliau berangkat menunaikan haji sambil menjadi koresponden pada hari “Pelita Andalas” di kota Medan. Dengan bahasa arab yang di pelajarinya beliau mempelajari sejarah Islam dan sastra secara otodidak seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat.

Dengan ilmu agama yang cukup tinggi beliau mengajar menjadi guru agam pada tahun 1927-1958 di perkebunan Tebing Tinggi dan Padang Panjang serta menjadi dosen di Universitas Jakarta dan Universitas Muhammadiyah Padang Panjang. Beliau juga terpilih menjadi rektor di Perguruan Tinggi Islam Jakarta dan Profesor Universitas Mustopa Jakarta pada tahun 1951 – 1960. Kemudian di angkat oleh Kementerian Agama menjadi Pegawai Tinggi Agama .

Sepulangnya dari kota Mekah, ia kemudian dinikahkan dengan Siti Rahmah binti Endah Sutan, pada tanggal 5 April 1929 dan di karuniai sebelas anak. Setelah wafat istri pertama, ia kemudian menikah lagi dengan perempuan asal Cirebon yang bernama Hj. Siti Khodijah .

Buya Hamka merupakan penulis yang produktif, orentasi pemikirannya meliputi berbagai disiplin ilmu seperti teologi, tasawuf, filsafat, pendidikan Islam, sejarah Islam, fikih, sastra dan tafsir. Sebagai penulis, beliau berhasil menulis puluhan buku yang tidak kurang dari 103 buku. Berikut adalah buku-buku hasil karya Buya Hamka sebagai berikut :

1. Tasawuf Modern pada tahun 1983

2. Lembaga Budi, di tulis pada tahun 1993

3. Falsafah Hidup (1950)

4. Tafsir Al-Azhar juz 1-30 di tulis pada tahun 1962.

5. Kenang-kenangan Hidup, terdapat empat jilid.

6. Margaretta Gautheir, diterjemahkan dari karangan Alec Andre Dumas Jr.

7. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

8. Di bawah Lembah Kehidupan.

9. Di Bawah Lindungan Ka’bah

10. Studi Islam pada tahun 1976

11. Sejarah Umat Islam jilid I-IV (1975)

12. Kedudukan Perempuan Dalam Islam pada tahun 1973

13. Islam dan Adat Minangkabau pada tahun 1964.

Buya Hamka pernah di tahan selama 2 tahun 4 bulan tanpa proses pengadilan, karena di anggap melanggar UU Subversif melalui perpres No.11, pada tanggal 23 Januari 1984 M atau bertepatan pada tanggal 12 Ramadhan 1383 H. Ia di tuding terlibat dalam upaya pembunuhan presiden Soekarno dan Menteri Agama saat itu. Namanya di hancurkan, perekonomiannya di miskinkan, karirnya di matikan, dan buku-bukunya di larang beredar saat itu. Tetapi beliau, seorang ulama besar Indonesia tidak pernah menyimpan dendam sama sekali .

Baca Juga:

Buya Hamka; Tafsir Al-Azhar yang Terselesaikan di dalam Penjara

Selama masa tahanannya beliau berhasil menyelesaikan Tafsir Al- Azhar 30 juz yang tadinya hanya di muat satu setengah juz dari juz 18 sampai juz 19 yang di tulis dalam majalah Gema Islam sejak Januari 1962 sampai Januari 1964 M. Penahanan selama dua tahun ini membawa berkah bagi Hamka karena beliau berhasil menyelesaikan penulisan tafsirnya “Jika saya masih di luar sana, pekerjaan ini tidak akan pernah selesai sampai mati.” Ujar beliau.

Buya Hamka meninggal dunia pada Jum’at 29 Juni 1981 pukul 10.30 WIB pada usia 37 tahun jenazahnya di semayamkan di rumahnya di Jalan Raden Fatah III. Jenazah Hamka di bawa ke Masjid Agung Al-Azhar, terletak di Kebayoran Baru. Dimana masjid tersebut adalah tempat penangkapan Buya Hamka, dan di shalatkan sekali lagi, sebelum di makamkan di Taman Pemakaman Umum Tanah Kasir, Jakarta Selatan. Di pimpin oleh Menteri Agama Alamsyah Ratu Parwiranegara.

Referensi:

M.Quraish Shihab, Study Kritis Tafsir al-Manar (Bandung: Pustaka Hidayah, 1994)

Salman Iskandar, 99 Tokoh Muslim Indonesia (Bandung, 2008)

Ali Hasan al-Arid, Sejarah dan Metodologi Tafsir, (Jakarta: Rajawali Pers, 1992)

Hamka, Antara Fakta dan Khayalan Tuanku, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974)

Rudsji Hamka, Pribadi dan Martabad Buya Hamka, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983)

Kontributor: Bendri Laka Wati, Semester II

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *