Mbah Dalhar Watucongol: Sosok Kiai yang Menjadi Sumber Rujukan Ulama Nusantara
MAHADALYJAKARTA.COM – Mbah Dalhar Watucongol mempunyai nama asli KH. Nahrowi Dalhar. Ketika lahir, ayah nya memberi nama Nahrowi, sedangkan nama Dalhar merupakan pemberian dari Syekh As-Sayid Muhammad Bashol Al-Hasani. Rupanya dibelakang waktu kiai Dalhar Nahrowi lebih masyhur dengan nama pemberian sang guru yaitu Mbah Dalhar. Mbah Dalhar lahir di komplek Pesantren Darussalam, Watucongol, Mutilan, pada hari Rabu tanggal 10 Syawal 1286 Hijriah atau 12 Januari 1869 Masehi.
Nasab kiai Dalhar tersambung sampai Sunan Amangkurat Mas atau Amangkurat III. Ayah Kiai Dalhar bernama Abdurrahman bin Abdurrauf bin Hasan Tuqo. Pada saat itu Kiai Abdurrauf dikenal sebagai salah satu panglima perang diponegoro. Dari silsilah Kiai Hasan Tuqo, tersambung pada Raja Amangkurat III atau Amangkurat Mas. Sebagai keturunan raja, Kiai Hasan Tuqo mempunyai nama ningrat yaitu Raden Bagus Kemuning. Kemudian beliau keluar dari wilayah keraton karena lebih senang mempelajari ilmu agama daripada hidup dalam kebangsawanan. Beliau hidup menyepi didaerah Godean, Yogyakarta. Nama desa Tetuko sampai sekarang masih masyhur sebagai petilasan Kiai Hasan Tuqo.
Kiai Abdurrauf merupakan salah satu putra Kiai Hasan Tuqo yang mengikuti jejaknya yaitu senang belajar ilmu agama. Namun ketika Pangeran Diponegoro membutuhkan kemampuan Abdurrauf untuk memerangi penjajah Belanda, Beliau mau membantu sang Pangeran. Pangeran Diponegoro juga sempat habis-habisan mempertahankan wilayah Magelang, Karena Magelang bagi militer Belanda nilainya amat strategis untuk penguasaan teritori lintas kedu. Oleh karena itu, Pangeran Diponegoro membutuhkan figur-figur yang dapat membantu beliau melawan Belanda dan dapat menguatkan ruhul jihad masyarakat.
Melihat dari kelebihan yang dimiliki serta beratnya perjuangan Abdurrauf pada waktu itu beliau diserahi tugas untuk mempertahankan serta menjaga wilayah Muntilan. Kiai Abdurrauf tinggal di dukuh Tempur, Desa Gunung Pring, Kecamatan Muntilan. Dikawasan ini, Kiai Abdurrauf membangun pesantren sehingga masyhurlah namanya menjadi Kiai Abdurrauf. Dukuh santren di Desa Gunung Pring menjadi saksi perjuangan dakwah dan militer Kiai Abdurrauf.
Setelah itu pesantren dilanjutkan oleh putranya yang bernama Abdurrahman. Akan tetapi letak pesantrennya bergeser kesebelah utara ditempat yang dikenal Dukuh Santren (masih dalam desa Gunung Pring). Ketika Mbah Dalhar sudah dewasa Beliau juga meneruskan perjuangan ayahnya (Kiai Abdurrauf) namun letak pesantrennya itu di geser lagi kearah sebelah barat ditempat yang bernama Watu Congol.
Rihlah ilmiyyah Kiai Dalhar
Kiai Dalhar mewarisi semangat dakwah dan perjuangan dari ayah dan kakeknya. Sejak kecil, beliau haus akan ilmu agama, dengan cara mengaji dan belajar di Pesantren. Pada umur 13 tahun, Mbah Dalhar (Dalhar kecil) mulai mondok. Ia belajar dengan Kiai Mad Ushul di kawasan Dukuh Mbawang, Desa Ngadirejo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Di pesantren ini, beliau belajar ilmu tauhid selama 2 tahun.
Setelah itu, Dalhar kecil melanjutkan mengaji dikawasan kebumen. Ayahnya menitipkan Kiai Dalhar di Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu, dibawah pimpinan Syekh As-Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani Al-Hasani atau lebih masyhur dengan nama Syekh Abdul Kahfi Ats-Tsani. Ketika mengaji di Pondok Pesantren Sumolangu, Kiai Dalhar mengabdi di ndalem Syekh selama delapan tahun. Karena ini merupakan permintaan Kiai Abdurrahman kepada Syekh Abdul Kahfi Ats-Tsani.
Pada tahun 1314 H atau 1896, putranya yang bernama Sayid Abdurrahman Al-Jilani Al-Hasani berniat untuk belajar di Makkah. Syekh Abdul Kahfi Ats-Tsani memerintah Kiai Dalhar untuk menemani putranya. Di Makkah, dua pemuda ini mengabdi ilmu kepada Syekh Sayyid Muhammad Babashol Al-Hasani, yang merupakan kerabat dekat dari Syekh Ibrahim Al-Hasani. Syekh Sayyid Muhammad Babashol Al-Hasani, pada saat itu menjadi mufti syafi’iyyah di Makkah. Ketika di Rubath (asrama tempat para santri tinggal) kawasan Misfah, Mbah Dalhar dan Syekh Muhammad Al-Jilani Al-Hasani bermukim selama mengaji di Makkah.
Pada tahun pertama Mbah Dalhar mengaji di Makkah, terjadi peristiwa penyerangan tanah Hijaz oleh Sekutu. Syekh Sayyid Al-Jilani Al-Hasani mendapat tugas untuk mempertahankan tanah Hijaz, setelah mengaji 3 bulan. Sedangkan Mbah Dalhar diuntungkan belajar di Makkah selama 25 tahun.
Ketika berada di Hijaz inilah Kiai Dalhar memperoleh ijazah Mursyid Thoriqoh Syadzaliyyah dari Syekh Muhtarom Al-Makki dan ijazah Aurod Dalailul Khoirat dari Syekh Sayyid Muhammad Amin Al-Madani. Dari dua amaliyah tersebut, Kiai Dalhar lebih masyhur sebagai mursyid, sufi, ulama alim. Mbah Dalhar adalah seorang ulama yang senang riyadhoh, sehingga menurut riwayat shahih bahwa beliau adalah orang yang akrab sekali dengan Nabi Khidir As.
Kiai Dalhar menurunkan ijazah Mursyid Thoriqoh Syadzaliyyah hanya kepada 3 muridnya, yakni Kiai Iskandar Salatiga, Kiai Dhimyati Banten, dan Kiai Ahmad Abdul Haq. Selama belajar di Makkah, Mbah Dalhar tidak pernah buang air kecil atau air besar. Ketika merasa perlu untuk qodhil hajat, beliau lebih memilih untuk keluar dari tanah suci, sebagai bentuk ta’dzim sekaligus sikap istiqomah Kiai Dalhar.
Selain sebagai waliyullah, Mbah Dalhar juga senang mengamalkan dzikir jahr’ala thariqatis syadzaliyyah dan dzikir sir. Ketika Mbah Dalhar melakukan tagharruq dengan dzikir sir, beliau tidak bisa digaggu siapapun selama 3 hari 3 malam. Sahrallayal (meninggalkan tidur malam) merupakan salah satu riyadhoh Mbah Dalhar yang sampai sekarang masih menjadi adat bagi putra putri beliau yang berada di Watucongol.
Karomah Mbah Dalhar diantaranya yaitu: ketika mengisi pengajian suara beliau dapat didengar oleh orang yang ikut dalam pengajian tersebut sampai jarak sekitar 300 meter meskipun tidak menggunakan pengeras suara. Mengetahui makam-makam waliyullah yang sempat terlupakan oleh santri dan masyarakat dimana beliau bertempat tinggal. Mbah Dalhar bertemu Nabi Khidir, karna beliau merupakan murid Nabi Khidir dan seorang waliyullah.
Mbah Dalhar dikenal mempunyai beberapa karya tulis, di antaranya: Kitab Tanwir Al-Ma’ani, Manaqib Syekh As-Sayyid Abil Hasan ‘Ali bin Abdillah bin Abdil Jabbar As-Syadzili Al-Hasani, Imam Thariqah As-Syadziliyyah. Kiai Dalhar juga merupakan guru beberapa kiai yang kemudian membangun pesantren-pesantren ternama. Di antara murid Mbah Dalhar, yakni Kiai Mahrus (Lirboyo), Kiai Dimyathi (Banten), Kiai Marzuki Giriloyo serta Gus Miek.
Gus Miek merupakan murid yang dikenal dekat dengan Mbah Dalhar. Gus Miek bisa membina hubungan dengan Mbah Jogoroso, Kiai Ashari, Gus Mad (putra Kiai Dalhar), Kiai Mansyur dan Kiai Arwani. Kemudian mata rantainya berlanjut, dari Kiai Ashari, Gus Miek membina hubungan dengan Kiai Abdurrahman bin Hasyim (Mbah Benu) dan Kiai Hamid Kajoran. Lalu dari Kiai Hamid Kejoran, Gus Miek berinteraksi Mbah Junaidi, Mbah Mangli dan Mbah Mranggen.
Mbah Dalhar mencatatkan sejarah dalam jaringan ulama Nusantara, sebagai rujukan keilmuan, perjuangan serta sufisme dalam tradisi pesantren. Sebelum wafat beliau mengalami sakit kurang lebih 3 tahun, Mbah Dalhar wafat pada 23 Ramadhan, bertepatan dengan tanggal 8 April 1959. Jasad Mbah Dalhar di makamkan di Gunungpring, Watucongol, Magelang.
Referensi:
Abdul Majid Masturi Irham, Terjemah Kitab Tanwir Al-Ma’ali Fii Manaqib Syekh Ali Abu Al-Hadi Asy Syadzili, (Mojokerto: Kalam dan Ulama Nusantara 2022)
Arifin Yanwar, Karomah Para Wali Allah, (Wonosobo: DIVA Press, 2017)
Niam Husnun, Niam Menalar Fenomena Agama dan Kemanusiaan, (Boyolali: Anggota IKPI, 2020)
Tri Wibowo BS, Jejak-Jejak Aulia Allah, (Jakarta: Prenadia Group, 2015)
Lanang, Gus Miek, (Yogyakarta: Araska, 2020)
Kontributor: Dwi Rahayu Ningsih, Semester III
Editor: Dalimah NH