Abu Nawas, Pujangga Jenaka Masa Khalifah Harun Ar-Rasyid

Ma’had Aly – Seorang amirul mukminin yang berhasil memimpin Daulah Bani Abbasiyah hingga mencapai masa keemasan, dialah Ar-Rasyid Abu Ja’far bin Al-Mahdi bin Al-Manshur Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Al-Abbas atau lebih dikenal dengan Harun Ar-Rasyid. Ia merupakan khalifah ke-5 Daulah Abbasiyah yang terkenal dermawan, saleh, taat dalam beribadah dan berjihad. Ia adalah sosok khalifah yang berwawasan luas, mencintai ilmu dan orang-orang yang memiliki ilmu, sehingga ia sangat dekat dengan para ulama dan penyair. 

Menurut al-Hafidz Ibnu Katsir dalam kitabnya Al-Bidayah wa Al-Nihayah, beliau berkata mengenai sosok sang khalifah, yang artinya: “Perjalanan hidup beliau sangat bagus, ia adalah seorang raja yang paling banyak berjihad dan menunaikan ibadah haji. Setiap hari beliau bersedekah dengan hartanya sendiri sebanyak 1000 dirham. Jika pergi haji, beliau menghajikan 100 ulama dan anak-anak mereka, dan apabila beliau tidak pergi haji, maka beliau menghajikan 300 orang. Beliau begitu mencintai para ulama dan pujangga, cincin beliau bertuliskan kalimat Laa ilaaha illallah, beliau mengerjakan shalat setiap harinya seratus rakaat sampai meninggal dunia, hal ini tidak pernah beliau tinggalkan kecuali jika sedang sakit.”

Pada masa pemerintahannya, banyak ulama yang masyhur di antaranya, Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya dalam bidang syariat, Imam Sibawaih dalam bidang pembukaan gramatika (nahwu), Ibnu Muqaffa dalam bidang prosa, tidak ketinggalan sang pujangga atau penyair ulung yaitu Abu Nawas, dan masih banyak tokoh lainnya dalam berbagai bidang yang juga terkenal, berkembang dan maju

Mengenai sang penyair, siapa yang tidak kenal dengan Abu Nawas? Sosok yang humoris, lucu, cerdas, sedikit nakal, unik dan nyentrik dalam khazanah kesusastraan Arab. Ia adalah penyair Arab yang memiliki nama asli Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami. Lahir di desa Sauq al-Ahwaz, Kurdistan, sebelah Barat Laut Baghdad, pada tahun 140 H (757 M). Ayahnya, Hani al-Hakam merupakan anggota militer pada masa khalifah Marwan II (Khalifah Daulah Umayyah yang terakhir), dan berbangsa Arab. Sedangkan ibunya, berbangsa Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol. Ia sudah ditinggalkan ayahnya sejak kecil, sehingga ibunya yang merawatnya seorang diri. Hanya saja ketika ia berusia enam tahun, sang ibu membawanya ke Bashrah (Irak), dan diserahkan kepada pamannya untuk belajar pelbagai ilmu disana termasuk dalam bidang syair. Hingga pada akhirnya ia bertemu dengan seorang ahli sastra atau pujangga kenamaan, yaitu Abu Usamah atau Walibah bin al-Habab. Syair-syair Abu Nawas pun semakin terasah, gaya bahasanya menjadi lebih halus. Walibah pun kagum padanya, dan ia dibawa ke Kufah untuk berkumpul dengan ahli syair lainnya guna memperdalam sastra tersebut. Genap satu tahun, ia memohon izin pada Walibah untuk pergi ke Baghdad, disana ia mempelajari Al-Qur’an kepada Abu Ya’qub al-Hadhramy. Setelah itu, ia kembali ke Bashrah dan bertemu dengan Khalaf al-Akhmar (ahli syair). Sama halnya dengan guru yang sebelumnya, ia dikagumi karena kecerdasannya dalam menggubah sastra, kemudian Abu Nawas disuruh oleh Akhmar untuk tinggal di pedalaman Arab (Badui) untuk mempelajari dan memperhalus bahasa Arabnya. Ia pergi ke Baghdad dan dari sinilah namanya terkenal.

Ketenaran Abu Nawas sendiri bermula dari kisah Khalifah Harun Ar-Rasyid yang tengah melakukan perjalanan, di tengah perjalanan beliau melihat seorang perempuan yang tengah mandi dan punggung serta rambut dari perempuan tersebut terlihat oleh sang khalifah. Sebagai orang yang shaleh, beliau tahu benar itu adalah perbuatan zina sekalipun tidak sengaja melihatnya, beliau terpikir akan hal itu hingga semalaman tidak bisa tidur. Karena tidak bisa tidur, akhirnya beliau mengundang banyak penyair dan berharap dengan syair yang mereka bawakan bisa membuatnya tertidur. Semua penyair itu gagal kecuali satu saja, yaitu Abu Nawas. Sebenarnya syair yang dibawakannya sengaja tidak berseni, justru dengan itu Abu Nawas berpikir agar bisa membuat tidur sang khalifah. Sekalipun sebelum beranjak tidur, Harun Ar-Rasyid sempat marah karena syairnya tidak bermutu, Abu Nawas pun membalas kemarahan tersebut dengan mengungkap apa yang terjadi pada khalifah sehingga membuatnya tidak bisa tidur, sontak sang khalifah kaget, karena memang tidak pernah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi hingga membuatnya seperti demikian. Dan saat itulah Abu Nawas diakui kecerdasan sekaligus kewaliannya. Hingga pada akhirnya ia mengabdikan diri di Baghdad, gubahan sastra pun berubah dan menyesuaikan dengan keadaan yang terjadi dalam kerajaan, dan tidak jarang syairnya yang nyentrik menyinggung sang khalifah hingga menjebloskannya ke penjara. Bahkan ia juga pernah menghebohkan seisi kerajaan karena saat di pasar ia mengaku tidak menyukai perkara yang haq dan menyukai perkara fitnah serta menganggap dirinya lebih kaya dari pada Allah swt., ia pun menjelaskan bahwa yang haq disini berupa mati dan neraka, jika dipikir memang benar adanya, tiada manusia yang menyukai dua perkara itu sedangkan perkara fitnah adalah anak dan istri, mengenai dirinya lebih kaya dari Allah swt karena Allah swt tidak memiliki keduanya (anak dan istri).

Mengenai sikap dan sifat Abu Nawas yang diakui sebagai pujangga sastra, ternyata terdapat isu miring mengenai dirinya. Ia dianggap sebagai sastrawan yang kontroversial, syair-syair yang digubahnya tercipta dari hasil maksiat, ia bermain wanita, minum khamr bahkan syairnya banyak yang bersangkutan dengan khamr hingga syairnya disebut khamriyyat, ia juga dianggap sebagai seorang zindiq. Sampai-sampai Abu Amr Asy-Syaibani berkata, yang artinya: “Seandainya Abu Nawas tidak mengotori syairnya dengan kotoran-kotoran itu, niscaya syairnya akan kami jadikan hujjah dalam buku-buku kami.”  Kalaupun benar adanya demikian, dari sinilah ia bertaubat dan menemukan nilai-nilai keagamaan. Sehingga, gubahan sastranya pun berubah menjadi religius. 

Mengenai isu di atas, ternyata presiden RI (Republik Indonesia) ke-empat yaitu KH. Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab dikenal Gus Dur tidak menyetujui isu tersebut. Gus Dur menganggap Abu Nawas sebagai ulama besar, dan beliau berpendapat bahwa “Abu Nawas adalah sufi yang punya sense of humor  yang tiada bandingannya.”

Menurut pengakuan sahabatnya yaitu Abu Khalikan, syair yang terakhir ia tulis ketika ia sedang sakit dan disimpan di bawah bantal, Abu Khalikan mengetahui itu dari mimpinya yang bertemu dengan Abu Nawas. Seperti ini syairnya: “Jika yang memohon kepada-Mu hanya orang baik saja, lalu kepada siapakah orang jahat akan memohon?, Aku tidak mempunyai wasilah kepada-Mu kecuali sebuah pengharapan, juga bagusnya pintu maaf-Mu, kemudian akupun seorang Muslim.” Jika diteliti, syair itu seperti permohonan yang memaksa kepada Allah swt agar mengampuni kesalahan-kesalahannya. Begitu juga dengan qashidah al-I’tiraf, berisikan permintaan ampun yang terlihat seperti memaksa.

Referensi

Imam As-Suyuthi. 2018. Tarikh Khulafa. Terj. Samson Rahman. Jakarta: Pustaka al-Kautsar

Maman Imanulhaq Faqieh. 2010. Fatwa dan Canda Gusdur. Jakarta: Kompas

Saiful Hadi El-Sutha. Tt. Mutiara Hikmah 2. Jakarta: Erlangga

Ahmad Ibnu Nizar. 2011. Izinkan Kalbumu Berbisik Lagi: The Wisdom of Abu Nawas. Yogyakarta: Pustaka Pesantren

Ahmad Ibnu Nizar.2011. Celupkan Hatimu ke Samudra Rindu-Nya. Yogyakarta: Pustaka Pesantren

Ulinuha Rosyadi. 2012. Biografi Tokoh Sastra. Jakarta: PT. Balai Pustaka (Persero)

Oleh: Rin Rin Hasanah, Semester IV

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *