Semarak Kemeriahan Malam Puncak Hari Santri Nasional

Semarak Kemeriahan Malam Puncak Hari Santri Nasional

Ma’had Aly – Dalam rangka memperingati dan memeriahkan hari santri yang ke-7, Kemenag RI mengadakan malam puncak Hari Santri dengan mengadakan Sholawat Kebangsaan yang diikiuti oleh ribuan santri dan para tamu undangan. Kali ini Kemenag RI mengusung tema “Berdaya Menjaga Martabat kemanusiaan” Sabtu, 22/10/22 di JIExpo Convention Centreand Theater, Kemayoran, Jakarta utara.

Acara tersebut dimulai dengan senandung selawat yang dipimpin oleh Gus Azmi Iskandar bersama Tim Hadrah Syubbanul Muslimin. Dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia dan pembacaan ayat suci Al-qur’an yang dilantukan oleh Fathma Mutia. Kemudian pembacaan doa bersama yang dipimpin oleh KH. Waryono Abdul Ghofur.

Turut hadir dalam acara itu santri Asshiddiqiyah Jakarta dan berbagai tokoh-tokoh besar Indonesia seperti Ustadzah Mumpuni Handayayekti, KH. Anwar Zahid, KH Yaqut Cholil Qoumas selaku Menteri Agama RI, H. Erick Tohir selaku Menteri  BUMN RI, H. Sandiaga Uno selaku Menteri Pariwisata, KH. Azwar Anas selaku Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi, Grup Pantun Lebah Begatong, serta beberapa tamu undangan yang lainnya.

Untuk memeriahkan acara, diputarkan juga theme song lagu hari santri yang membangkitkan semangat para santri yang hadir.

“Beratus tahun yang lalu, para ulama dan santri berjuang memerdekakan Indonesia. Kita, sebagai santri harus mempertahankan kemerdekaan ini dengan tidak menjadi konsumtif, harus berkreasi.” Ujar Pak Erik Thohir selaku menteri BUMN.

“Hari santri ini merupakan penghargaan yang diberikan pemerintah bukan untuk kita, akan tetapi penghargaan yang diberikan oleh negara kepada santri pendahulu kita, santri yang ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan bangsa kita. Maka kita janganlah bangga dan bermalas-malasan. Jadilah santri yang produktif. Santri bisa jadi apa saja asal mau berjuang.” Tutur Menteri Agama Republik Indonesia, H. Yaqut Cholil Qoumas.

Hakikat hari santri itu ditujukan, untuk menghargai jasa para ulama terdahulu dalam mempertahankan negara ini dari gangguan dan mempertahankan kemerdekaan, papar Gus Yaqut untuk mengingatkan para santri makna dari peringatan Hari Santri Nasional.

Suasana malam semakin meriah ketika Ustadzah Mumpuni, seorang pendakwah alumni AKSI Indosiar menjelaskan, “Kita sebagai santri harus bangga karena telah memiliki landasan dan pondasi yang kuat, tujuannya adalah supaya kita tidak tergerus oleh degradasi moral. Disebutkan dalam kitab Nurul Burhaniy karangan Syekh Abdul Qodir Jailani bahwa, santri itu harus menjadi Irsyadun Naas yaitu pemimpin di hari yang akan datang. Dengan dilandasi oleh ilmu ulama dan siyasatul mulki. Keduanya harus balance/seimbang. Kemudian ditambah dengan hikmatul hukuma, seperti puasa, tirakat, dan salat sunnah.

Di akhir acara KH. Anwar Zahid menerangkan bahwa, kata santri jika di tulis dengan huruf hijaiyah yang terdiri dari س، ن، ت، ر، ي yang masing-masing memiliki arti tersendiri. Selain itu, menurutnya ilmu itu terbagi menjadi 3 yaitu: ilmu ad-din, menjadikan ketaqwaan dan dapat menghidupkan hati; ilmu profesi, menjadikan cerdasnya otak; dan yang terakhir adalah ilmu kreasi yang dapat memproduktifkan otak, ungkap ustadz kelahiran Bojonegoro dalam ceramah tersebut.

Turut hadir dalam acara itu santri Asshiddiqiyah Jakarta dan berbagai tokoh-tokoh besar Indonesia seperti Ustadzah MumpuniHandayayekti, Lebah Begatong dan KH Anwar Zahid. KH Yaqut Cholil Qoumas selaku Menteri Agama RI, KH Erick Tohir selaku Menteri  BUMN RI, KH Sandiaga Uno selaku Menteri pariwisata, KH Azwar Anas selaku Menteri pemberdayaan aparatur negara dan reformasi.

Pewarta: Ana Fitriani dan Leni Ajeng

Leave a Reply