Peran Ulama Sungkai Tengah dan Dakwahnya di Lampung Timur

Peran Ulama Sungkai Tengah dan Dakwahnya di Lampung Timur

Bapak Ahmad Sahuri atau biasa disapa dengan pak Huri adalah sosok ulama  yang dilahirkan di Banyuwangi pada tahun 1958. Beliau dari kecil hidup di lingkungan orang-orang yang mumpuni dengan ilmu agamanya. Beliau mempunyai seorang Istri bernama Srikotun dan mempunyai lima anak yaitu Umi, Mustofa, Anis, Muhroji dan Tamam.

Beliau adalah seorang santri Lampung yang mondok di Pesantren Darussalamah, atau sering disebut dengan pondok Ngede di Praja Dewa, Pajepara, Sukadana, Lampung Timur yang diasuh K.H. Shodiq. Selain menjadi pengasuh pondok pesantren, beliau juga sebagai Mursyid Thariqah Lampung. Orang-orang dari desa atau kota manapun yang ingin mengikuti thariqah dibaiat oleh Abah Shodiq yang bertempat di Masjid yang berada di sekitar pesantren. Orang terdahulu mengatakan pondok ini juga cukup terkenal, karena pondok Ngede atau Darussalamah adalah pondok pertama di Lampung, dan kebanyakan para alumninya pun ketika keluar dari pesantren menjadi tokoh di tempat mereka tinggal. Seperti halnya bapak Sahuri ini, beliau termasuk salah satu alumni pondok Ngede yang berhasil mengembangkan ilmunya di Kotabumi, tepatnya di desa Batu Balak dan desa Negeri Campang Jaya, Kecamatan Sungkai Tengah.

Setelah keluar dari pesantren, bapak Sahuri memilih untuk berdakwah di Lampung. Dakwah pertama beliau mendirikan sebuah pendidikan Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) di desa Batu Balak yang diberi nama Al-Hidayah. Dalam membangun pendidikan ini, beliau dibantu oleh penduduk setempat dan juga sahabat-sahabat yang ada di pesantren mereka ikut andil dalam pembangunan. Dalam pembangunan ini, ada juga penduduk yang menghina dan mencemooh beliau, namun tak hiraukanmya. Setelah yayasan tersebut sudah terbentuk, banyak anak desa Batu Balak dan Campang Jaya yang didaftarkan di yayasan itu, bahkan tetangga desa pun ada yang mendaftar.

Setelah mengajar di desa Batu Balak, beliau mendirikan pendidikan pribadi di desa Campang Jaya. Beliau mendirikan mushala yang diberi nama Riyadul Muttaqin. Di mushala itu beliau mengajari anak-anak mengaji dan belajar fashalatan. Selain anak-anak juga beberapa orang tua yang ikut belajar. Beliau berjuang selama kurang lebih tiga puluh tahun.

Selain menjadi seorang guru, beliau adalah seorang pendakwah, ketua istighasah dan ketua thariqah di desa Batu Balak dan desa Campang Jaya. Dalam dakwahnya, beliau dikenal dengan orang yang tegas dan disiplin. Beliau selalu menghadiri pengajian mingguan setiap hari Jum’at sekali yang bertempat di masjid atau di langgar (mushala). Setiap Jum’at Kliwon, rutinan itu diadakan bergantian di desa-desa tetangga. Yang paling diingat dari dakwah beliau adalah ketika beliau menceritakan tentang berhala Latta dan Uzza, kisah Raja Fir’aun yang kejam dan bagaimana dakwah Rasulullah saw. dalam menyebarkan agama Islam dan pendidikan.

Selama hidup beliau dikenal sebagai seorang guru yang sangat tegas dan suaranya yang lantang saat mengajar. Ciri khas dari beliau yaitu, ketika menilai lembar jawaban atau tugas dengan coretan pena merah yang tulisannya hampir memenuhi satu halaman.

Pekerjaan beliau sehari-hari adalah tani dan guru ngaji. Setiap hari beliau selalu tadarus al-Quran di mushala yang dibangunnya, yaitu mushala Riyadul Muttaqin. Beliau melakukan tadarus itu sehabis subuh himgga pukul setengah enam. Beliau mulai berhenti dari kegiatan-kegiatan tersebut ketika mengidap penyakit paru-paru yang membuatnya merasa harus berhenti dari dakwahnya, karena beliau merasa sudah tidak mampu lagi. Kian hari penyakinya semakin parah, dan akhirnya beliau meninggal pada hari Kamis, tanggal 28 Oktober 2017 dan dimakamkan di pemakaman umum tepatnya di desa Kawatranggeng.

Sumber : Bp. Asyrofi

Oleh : Azizatul Afifah, Semester V

Leave a Reply