Peran Pendidikan Karakter bagi Penerus Bangsa

Peran Pendidikan Karakter bagi Penerus Bangsa

Pendidikan di Indonesia sudah berkembang pesat seiring dengan kemajuan dan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Keadaan seperti  inilah yang membuat penduduk Indonesia sadar akan pentingnya pendidikan, walaupun masih banyak di pelosok-pelosok yang pendidikannya kurang  memadai, baik sarana maupun prasarananya.

Pada hakikatnya, pendidikan sangat penting bagi kehidupan manusia. Apalagi di zaman modern ini, pendidikan dan teknologi mempunyai peranan besar terhadap pendidikan seseorang. Dengan pendidikan, manusia mampu mendorong upaya dalam dirinya demi kelangsungan hidupnya menjadi lebih baik di masa yang akan datang. Manusia tanpa pendidikan, maka tidak ada bedanya dengan manusia pada zaman purba yang pada saat itu tentunya belum mengenal pendidikan secara luas.

Pendidikan di sini adalah suatu proses penanaman sesuatu ke dalam diri manusia yang mengacu pada metode dan sistem untuk menanamkan apa yang disebut sebagai pendidikan secara bertahap. Adapun di dalam Islam, seorang pendidik merupakan bagian yang sangat penting bagi peserta didiknya. Seorang pendidik harus memiliki kemampuan dalam memahami karakter peserta didiknya, merancang pelaksanaan, mengevaluasi pembelajaran, serta menguasai strategi dan teknik-teknik pembelajaran. Semua itu berdasarkan suatu komitmen terhadap prinsip-prinsip keadilan, kejujuran, dan amanah dengan ajaran Islam.

Pendidikan karakter menjadi bahan yang banyak diperbincangkan oleh pakar-pakar pendidikan. Dengan fakta yang menunjukan bahwa karakter bangsa di era globalisasi ini merosot sangat tajam, hal inilah yang melatar belakangi munculnya pendidikan berkarakter yang dianggap sebagai suatu media yang paling jitu dalam mengembangkan potensi anak didik baik berupa keterampilan maupun wawasan.

Di Indonesia saat ini, metode pembelajaran bagi siswa menggunakan sistem pendidikan berkarakter, sehingga membuat para pendidik tak hanya memberikan ilmu pengetahuan saja tapi bagaimana memahami karakter atau perilaku siswa tersebut. Komitmen nasional tentang perlunya pendidikan karakter, secara imperatif tertuang dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam Pasal 3 dinyatakan bahwa:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Pengertian karakter sendiri merupakan pedoman agar bisa menjadi bangsa yang maju. Namun di era globlalisasi ini tengah terjadi krisis multidimensional dalam segala aspek kehidupan di tengah-tengah masyarakat kita. Terjadinya kezaliman, kebodohan, ketidakadilan di segala bidang, kemerosotan moral, meningkatnya tindak kriminal dan berbagai penyakit sosial lainnya seolah menjadi bagian dari kehidupan kita, seperti penggunaan obat terlarang, pelecehan seksual, sikap agresif, tawuran, bullying, kemerosotan toleransi umat beragama dan lain-lain.

Dengan pengembangan pemikiran, penataan perilaku, dan pengetahuan emosional yang baik, serta peran dan hubungan manusia dengan dunianya, diharapkan manusia dapat memanfaatkan kekayaan yang ada di dunia ini dengan sebaik-baiknya, baik dari Sumber Daya Alam (SDA) maupun Sumber Daya Manusia (SDM) itu sendiri agar menjadi manusia yang lebih baik lagi.

 

Referensi :

Muhammad Fathurrohman. 2012. Meretas Pendidikan Berkualitas dalam pendidikan Islam. Yogyakarta: Teras.

file:///Z:/Buku_Pendidikan_Karakter_di_Pesantren.pdf. Diakses pada hari Jum’at, 28 September 2018 pukul 14.15

file:///Z:/20-IBNU-HABIBI.pdf. Diakses pada 28 September 2018 pukul 14.30

Dr. H. MuwahidShulhan. 2013. Manajemen Pendidikan Islam. Yogyakarta: TERAS

Inas Nuur Kosmeini. 2015. Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak dalam Sirah Nabawiyah pada Kitab Ar-Rohiq Al-Makhtum Karya Shafiyyurahman Al-Mubarakfuri. Purwokerto.

Oleh :  Milasari, Semester III

Leave a Reply