Mengenal Sosok Imam Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani

Mengenal Sosok Imam Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani

Ma’had Aly – Siapa yang tak mengenal ahli hadis bergelar Hujjah al Islam, beliau tak lain ialah Imam al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani, lahir di Mesir pada 12 Sya’ban 773 H, dan wafat pada 28 Dzulhijjah 852 H. Nama beliau adalah Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar al-Kannani al-Asqalani al-Mishri. 

Beliau banyak mendapat gelar karena kepandaiannya. Bahkan, jika ingin disebutkan semua gelarnya satu per satu tidak akan cukup. Namun, berikut akan disebutkan dan sedikit dijelaskan beberapa gelar yang didapat beliau semasa hidupnya, di antaranya adalah Amiirul Mu’minin (sebagai pakar dalam bidang hadis), Qaadhi al-Qudhaat (seorang hakim yang sangat bijak, yang sangat disegani oleh rakyat dan penguasa), Syaikhul Islam (julukan yang berasal dari muridnya al-‘Allamah al-Buqa’i), Al-Mufid (yang memberikan faedah), Al-Fadhil (yang memiliki keutamaan), Ats-Tsiqah (yang terpercaya), AlHafidz al-Mutlaq (hafidz secara mutlak, pemberian dari gurunya Al-‘Allamah al-‘Iraqi), At-Taufiq (penjaga tahqiq, pemberian dari gurunya Burhanuddin Ibrahim al-Anbasi).

Sejak al-Asqalani balita, ibunda beliau sudah wafat. Karenanya, beliau mendapat perawatan dengan penuh kasih sayang dan perlindungan dari ayahnya. Namun, 4 tahun setelah lahir al-Asqalani, sang ayah wafat menyusul ibunya, yaitu pada tahun 777 H.  Ayahnya adalah seorang pakar bahasa Arab, qira’at, pakar fikih dan adab. Sepeninggal ayahnya, beliau dirawat oleh kakaknya, Abu Bakar Muhammad bin Ali bin Ahmad al-Kharubi atau Zakiyyuddin al-Kharubi dan al-‘Alamah Syams bin Qahthan. 

Saat menginjak usia 5 tahun, al-Asqalani mulai belajar menghafal Al-Qur’an di Al-Maktab (semacam sekolah khusus untuk belajar Al-Qur’an dan menghafalnya) kepada Syamsuddin bin al-Alaf dan Syamsuddin al-Athrusy. Akan tetapi dalam bimbingan kedua guru ini, al-Asqalani belum menuntaskan hafalannya, hingga akhirnya ia dibimbing oleh seorang faqih pensyarah kitab Mukhtashar At-Tibrizi yang bernama Shadruddin Muhammad bin Muhammad bin Abdurrazaq As-Safthi Al-Muqri’, di bawah bimbingannya, al-Asqalani berhasil mengkhatamkan hafalan Al-Qur’annya di usia 9 tahun. 

Sejak usia 12 tahun, al-Asqalani sudah diberi kesempatan untuk menjadi imam pada shalat tarawih di Masjidil Haram. Saat beliau diajak oleh Zakiyyuddin al-Kharubi berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji pada 785 H, di mana pada masa itu sudah menjadi kebiasaan jika ada anak-anak yang berhasil mengkhatamkan hafalan Al-Qur’annya, maka dijadikan imam di Masjidil Haram sebagai  hadiahnya. Kemudian pada 756 H, beliau beserta pengasuhnya, Zakiyyuddin al-Kharubi, kembali ke Mesir. Satu tahun setelahnya, Zakiyyuddin al-Kharubi wafat (pada tahun 787 H).

Sejak usia muda, al-Asqalani bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, hingga beliau mampu menghafal beberapa kitab induk, salah satunya adalah Umdah al-Ahkam karya Abdulghani al-Maqsidi. Awalnya, beliau diberi kesenangan untuk meneliti kitab-kitab tarikh, hingga beliau menghafal banyak nama perawi dan seluk beluk yang berkaitan dengan kisahnya. Kemudian pada tahun 792 H, kesenangannya beralih ke bidang Arab, hingga beliau menjadi pakar dalam syair Arab. Lalu, pada tahun 793 H beliau mulai senang mempelajari hadis, lalu tahun 796 H, beliau mulai bersungguh-sungguh untuk mempelajari dan memperdalam ilmu hadis. 

Pada saat itu, al-Asqalani belum merasa puas dengan apa yang beliau pelajari, hingga akhirnya beliau bertemu dengan al-Hafidz al-’Iraqi, seorang syekh besar yang terkenal sebagai ahli fikih dan orang yang sangat memahami madzhab Syafi’i. Al-Asqalani mengikuti sang guru al-‘Iraqi selama 10 tahun. Setelah sang guru wafat, al-Asqalani belajar kepada guru kedua, yaitu Nuruddin al-Haitsami dan Imam Muhibbuddin Muhammad bin Yahya bin al-Wahdawaih yang selalu menyarankan beliau agar tidak membatasi dirinya dalam hadis saja, tetapi juga ke bidang fikih dan yang lainnya, berkat saran dari sang guru, beliau mempelajari ilmu bidang fikih. 

Guru-guru fiqih al-Asqalani diantaranya adalah Syekh Abu Hafs Sirajuddin ‘Umar bin Ruslan bin Nushair bin Shalih al-Kinani al-Asqalani al-Bulqini al-Mishri (wafat 805 H). Syekh ‘Umar bin Ali bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah al-Anshari al-Andalusi al-Mishri (wafat 804 H), dan masih banyak guru fiqih beliau. Guru ilmu hadis beliau di antaranya adalah Zainuddin Abdurrahim bin al-Husain bin bin Abdurrahman bin Abu Bakar bin Ibrahim al-Mahrani al-Iraqi (wafat 806 H), Nuruddin Abu al-Hasan Ali bin Abu Bakar bin Sulaiman bin Abu Bakar bin Umar bin Shalih al-Haitsami (wafat 807 H).

Dalam perjalanannya, al-Asqalani mempelajari banyak cabang ilmu lain selain hadis dan fikih. Guru-guru al-Asqalani mencapai 640 orang, dan al-Asqalani sangat memperhatikan guru-gurunya dengan cara menyebut nama mereka dalam banyak karya ilmiahnya. Beliau menyebutnya dalam dua kitab, yaitu Al-Mu’jam al-Mu’assis li al-Mu’jam al-Mufahris dan al-Mu’jam al-Mufahris.

Layaknya seorang yang alim, luas ilmu, dan kapasitas keilmuannya yang diakui oleh ulama besar pada masanya, maka beliau mendapat perhatian dari para penuntut ilmu di penjuru dunia. Murid Imam al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani sangat banyak dan datang dari berbagai penjuru dunia, bahkan beberapa tokoh ulama dari berbagai madzhab adalah muridnya, di antaranya adalah al-Hafidz as-Sakhawi, beliau adalah murid utama Imam al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani. Namanya adalah Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Bakar bin ‘Utsman as-Sakhawi asy-Syafi’i. Dia adalah seorang sejarawan, hujjah, ‘allamah (orang yang sangat berilmu) tentang hadis dan rijalnya, tafsir, dan fikih. Burhanuddin Al-Biqa’i, penulis Nazhm Ad-Durar fi Tanasub Al-Ayi wa As-Satru. Dari Nur Al-Adami, Imam al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani belajar tentang ilmu fikih dan bahasa Arab, juga belajar khusus pada Ibn al-Mulaqqin serta membaca sebagian besar karyanya dalam kitab Al-Minhaj. al-Asqalani belajar tentang ilmu fikih, bahasa Arab, al-Hisab dan kitab al-Hawi pada al-‘Allamah Syams bin Qahthan.

Imam al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani mulai menulis pada saat beliau menginjak usia 23 tahun, dan terus berlanjut hingga akhir hayatnya. Semenjak beliau hidup hingga kini, karya-karya beliau banyak diterima dan tersebar luas di kalangan umat Islam. Menurut penjelasan dari murid utama beliau, al-Hafidz as-Sakhawi, karya beliau mencapai lebih dari 270 kitab. Kebanyakan kitab beliau membahas tentang hadis secara riwayat dan dirayat.

Diantara karya-karya Imam al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani adalah Bulughul Maram, Fathul Bari, Nukbatul Fikr (membahas tentang musthalah hadits), Tahdzib at-Tahdzib, Ad-Durar al-Kaminah, Mukhtashar at-Taghrib wa at-Tarhib, Al-Kafi asy-Syafi fi Takhrij Ahadits al-Kasysyaf, dan at-Tamyiz fi Tahkrij Ahadits al-Hidayah.

Imam al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani telah melewati masa hidupnya dengan penuh khidmat pada ilmu dan berjihad menyebarkannya dengan berbagai cara. Kemudian, pada 25 Jumadil Akhir 852 H, beliau mengundurkan diri dari jabatannya sebagai qadhi. Kemudian pada bulan Dzulqa’dah 852 H beliau jatuh sakit, namun beliau selalu menyembunyikan sakitnya dan tetap beraktivitas seperti biasanya, namun penyakitnya tersebut bertambah parah hingga pada 28 Dzulhijjah 852 H, Imam al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani wafat.

 

Referensi

Al-Asqalani, Ibn Hajar. 1994. An-Nukat ‘Ala Kitab Ibn as-Shalah, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.

___________________. 2002. Bulugh al-Maram min Abdillah al-Ahkam. Terj. M Arifin Kurnia. Sunt. Irwan Kurniawan. Bandung: Penerbit Marja. 2018.

___________________. 2001. Bulughul Maram min Adillatil Ahkam. Terj. Khalifaturrahman dan Haer Haeruddin. Sunt. Arif Anggoro, Yayid Ichsan, Badri Habibi. Jakarta: Gema Insani, 2013.

Farid, Ahmad. 2005. Min A’lam as-Salaf. Terj. Ahmad Syaikhu. Biografi 60 Ulama Ahlussunnah. Jakarta: Darul Haq. 2012.

Isma’il Shan’ani, Muhammad bin. 1989. Subul as-Salam fi Syarh Bulugh al-Maram, Beirut: Dar Maktabah al-Hayah.

Muhammad As-Sakhawi, Syamsuddin Muhammad bin Abdurrahman bin. 1999. Al-Jaudhir wa ad-Durar fi Tarjamah Syaikh al-Islam Ibn Hajar, Beirut: Dar Ibn Hazm.

Leave a Reply