Kiai Ahmad Qusyairi Banyuwangi, Sang Pendapat Cahaya 1001 Malam

Kiai Ahmad Qusyairi Banyuwangi, Sang Pendapat Cahaya 1001 Malam

Negara Indonesia mengakui beberapa agama di dalamnya, salah satunya yaitu agama Islam. Kita mengetahui dan sejarah sudah mencatat bahwa datangnya Islam ke Indonesia sudah sangat lama. Ada beberapa teori yang membahas tentang kedatangan agama ini, di antaranya abad ke-7M, abad 11 M dan ada juga yang mengatakan abad 13M.

Pernyataan di atas bukanlah inti dari pembahasan ini. Itu hanyalah bukti bahwa Islam sudah tertanam di Indonesia begitu lama. Sehingga tidaklah heran jika lahir beberapa tokoh agama yang masyhur tiap daerahnya. Seperti Abdur Rauf al-Singkil, Nawawi al-Bantani, Nurrudin al-Raniri dan masih banyak lagi. Semuanya memang ulama besar, baik di daerahnya maupun di Indonesia secara keseluruhan.

Tidak luput juga di Pulau Jawa, lebih tepatnya Jawa Timur. Daerah ini memang terkenal dengan nuansa Islam. Sehingga banyak terlahir tokoh-tokoh agama Islam di sana, dari waktu ke waktu. Hal yang menunjang argumen di atas adalah banyaknya pondok pesantren salaf.

Salah satu cerminan pondok pesantren salaf yaitu pondok dari Kiai Khalil di Bangkalan. Selain figur dari Kiai Khalil yang kharismatik dan terkenal dengan kewaliannya, pondok ini terkenal (pada masanya) karena melahirkan banyak ulama besar baik di Jawa Timur, maupun di pulau Jawa pada umumnya. Di antaranya yaitu Kiai Ahmad Qusyairi (Banyuwangi/Pasuruan), Kiai Mahrus Ali dan kiai-kiai besar lainnya.

Pada artikel ini, penulis memfokuskan pembahasan pada sosok Kiai Ahmad Qusyairi. Karena selain beliau terkenal kewaliannya, beliau juga mempunyai kisah sosial-spiritual yang menarik untuk diungkapkan di sini.

Nama lengkapnya adalah Ahmad Qusyairi, atau lebih lengkap lagi Ahmad Qusyairi bin Shiddiq bin Abdullah bin Sholeh bin Asy’ari bin Adzo’ri bin Yusuf bin Abdur Rahman (dikenal dengan sebutan Mbah Sambuh atau Raden Muhammad Syihabuddin Sambu Digdodiningrat).

Seiring berjalannya waktu, nama Ahmad Qusyairi beliau rubah menjadi Ahmad saja. Karena pada saat beliau ke Mekkah sering kali ditanya apakah beliau dari suatu tempat atau suku di sana. Kemudian sekembalinya ke Indonesia, nama Ahmad saja beliau rubah lagi. Karena beliau juga mempunyai adik seayah yang seorang kiai juga dengan nama yang sama. Sehingga kata ‘Qusyairi’ yang awalnya dibuang diambil lagi untuk menghindari kerancuan masyarakat mengenai nama Ahmad yang sama.

Kiai Ahmad Qusyairi lahir di dukuh Sumbergirang, Lasem, Rembang, Jawa Tengah, pada 11 Sya’ban 1311 H atau 17 Februari 1894 M. Ayahanda beliau, KH. Muhammad Shiddiq dikaruniai 23 anak dari tiga orang istri, yaitu Nyai Maimunah binti Wiryodikromo, Nyai Siti Maryam dan Nyai Siti Mardhiyah. Dari Nyai Maimunah beliau dianugerahi tujuh anak termasuk Kiai Ahmad Qusyairi. Dengan Nyai Maryam dikaruniai sembilan anak dan dengan Nyai Mardhiyah dikaruniai tujuh anak.

Sejak dari kecil Kiai Ahmad Qusyairi sudah dididik oleh ayahandanya dengan ilmu-ilmu agama. Selain itu, beliau dikirim ke beberapa pondok pesantren untuk melanjutkan belajar ilmu agama. Di antaranya di Langitan (Tuban), di Kajen (Pati) ketika itu diasuh oleh Kiai Khazin, di Semarang yang diasuh oleh Kiai Umar serta di Madura pada Kiai Kholil.

Terdapat cerita menarik ketika Kiai Ahmad Qusyairi menuntut ilmu di pesantren milik Kiai Khalil Bangkalan. Saat itu penulis melakukan kunjungan (sowan) ke Kiai Hasan Abdillah salah satu dari putranya. Beliau menceritakan sedikit banyak tentang Kiai Ahmad Qusyairi waktu mondok di Madura. Perlu dicatat bahwa Kiai Khalil Bangkalan terkenal dengan seorang waliyullah. Bahkan ada yang mengatakan Kiai Khalail adalah seorang wali kutub (Rajanya wali) yang sampai sekarang nama beliau masih masyhur di Indonesia. Bahkan Kiai Ahmad Qusyairi mengatakan bahwa tidak ada satupun amal darinya kecuali berkat barokah dari wali saleh yang ilmunya seluas samudera dan daratan. Sehingga masuk akal barakah kewalian dari Kiai Khalil meluber kepada Kiai Ahmad Qusyairi.

Bisa menjadi penunjang bukti kewalian beliau yaitu suatu waktu (bulan Ramadhan) Ahmad Qusyairi muda beserta santri yang lain diperintah oleh Kiai Khalil untuk mencari lailatul qadr. Pada saat itu pula para santri hendak mencarinya, ada yang pergi dengan membaca al-Qur’an, ada yang shalat, baca dzikir dan berbagai kegiatan lainnya. Tak luput juga Ahmad Qusyairi muda, beliau juga mondar-mandir, ke sana kemari untuk menemukan lailatul qadr. Beliau merasa tidak menemukan apapun yang mencerminkan lailatul qadr, karena beliau menyangka bahwa lailatul qadr adalah suatu benda yang kasat mata. Merasa lelah dengan usahanya, Ahmad Qusyairi muda kembali ke pondok lantas tertidur. Sewaktu pengasuh dari pondok berkeliling untuk memeriksa santrinya, terlintas cahaya turun dari langit dan jatuh pada seorang santri yang tertidur pulas. Dikarenakan lampu pada saat itu belum ada di sana, Kiai Khalilpun tidak mengetahui siapakah santri tersebut. Yang pada akhirnya Kiai Khalil memutuskan untuk menyimpul sarung santri tersebut.

Subuh datang, santri dan Kiai Khalil shalat berjamaah. Seusai menjalankan rangkaian rutinitas setelah shalat berjamaah lantas Kiai Khalil bertanya kepada santri mengenai sarung yang disimpul olehnya. Kemudian keadaan menjadi hening, santri merasa segan, takut kepada Kiai Khalil. Karena Kiai Khalil terkenal dengan watak yang keras sehingga tidak ada santri yang mengaku. Sampai Kiai Khalil mengulangi pertanyaannya, Ahmad Qusyairi muda mengangkat tangannya dengan rasa takut hendak didawuhi.

Namun siapa sangka, Kiai Khalil mengatakan kepada santri lainnya untuk menuntut ilmu kepada Ahmad Qusyairi muda. Ketika itu beliau merasa bingung dengan pernyataan dari Kiai Khalil karena beliau merasa belum mampu untuk mengajar. Akan tetapi, amanah itu tetap beliau emban dan atas kuasa Allah Ahmad Qusyairi muda mampu untuk mengajar di sana.

Singkat cerita beliau hendak boyong dari pondok dan berpamitan kepada Kiai Khalil. Kiai Khalil tidak memberikan suatu apapun kecuali doa. Doa yang Kiai Khalil berikan kepadanya adalah semoga segala hajadnya dikabulkan. Terdapat versi lain, yaitu Kiai Khalil mendoakan supaya Ahmad Qusyairi muda selalu dicukupi oleh Allah.

Dalam buku Pecinta Sejati Sunnah Nabi karya Hamid Ahmad bahwa Kiai Ahmad menikah dengan Ning Fatimah dalam usia antara 18-20 tahun. Setahun kemudian beliau pergi ke Mekkah hendak menghafalkan al-Qur’an. Alasan beliau menghafalkan al-Qur’an dikarenanakan rasa malu kepada istrinya yang telah dulu hafal al-Qur’an. Dalam waktu tiga bulan saja beliau telah menghatamkan al-Qur’an. Hafal semuanya, kemudian pulang ke Indonesia. Setelah itu beliau beberapa kali pergi ke Mekkah.

Pada kepergiannya yang terakhir kali ketika terjadi Perang Dunia I (PD I 1914-1918) mengakibatkan tidak bisa kembali ke Indonesia. Dengan hal itu beliau memanfaatkan untuk menimba ilmu dari berbagai ulama besar, khususnya yang mengajar di halaqah-halaqah Masjidil Haram. Setelah menimba ilmu di halaqah-halaqah demikian, Kiai Ahmad mendapat lisensi untuk menjadi pengajar pada halaqah tersebut, khususnya mengajar di bidang fiqh empat madzhab.

Setelah Perang Dunia usai dan telah cukup menimba ilmu disana beliau pulang ke Indonesia. Di Indonesia beliau membantu mertuanya untuk mengajar para santri di pondok Salafiyah. Selain mengajar di pondok, beliau juga mengjar di majelis-majelis pengajian di desa-desa hingga berbagai kota.

Menurut KH. Ali Ahmad Sahal selaku penceramah pada haul ke-46 Kiai Ahmad Qusyairi selain mengajar, keistimewaan beliau adalah pernah diangkat menjadi Adipati Pasuruan. Pengangkatan ini  sekitar tahun 1945 sejumlah ulama berkumpul di Masjid Jami’ Al-Anwar mengadakan pemilihan adipati. Hasilnya mereka sepakat untuk memilih Kiai Ahmad sebagai calon Adipati Pasuruan. Alasan pertama dikarenakan masyarakat ingin pro kepada rakyat tidak menjadi antek dari penjajah. Alasan kedua Kiai Ahmad paling pantas untuk menjabat kedudukan ini karena selain alim beliau juga ahli dalam bidang ini serta mampu mengusai bahasa asing yang pada saat itu termasuk langka orang menguasainya.

Akan tetepi beliau menolaknya, beliau hanya ingin menjadi orang biasa. Sampai-sampai beliau hijrah ke Jember. Beliau di Jember tidak tinggal di kota melainkan di desa kecil yang bernama Jatian. Alasannya karena di kejar-kejar Belanda terkait pencalonan beliau menjadi Adipati Pasuruan.

Kemudian Kiai Ahmad berhijra lagi ke timur lebih tepatnya di Desa Glenmore Banyuwangi. Selain menetap disana beliau juga berdakwah. Dakwah kali ini berbeda dengan dakwah yang sebelum-sebelumnya, di daerah ini masyaraktnya berwatak keras dan lebih para lagi kebanyakan masyarakat masih banyak melakukan maksiat yang biasa disebut molimo (maling, mendem, madat, madon, dan mateni). Sehingga dakwah kali ini terasa lebih berat, akan tetapi dengan ketabahan dan kesabaran beliau dalam mengajar masyarakat, masyarakat pun mulai berubah dengan memegang teguh nilai-nilai Islam serta mencintai ulama.

Pada tahun 1971 M beliau menunaikan ibadah haji terakhir kali. Waktu itu jamaah haji tinggal cukup lama di tanah suci, yaitu tiga bulan. Sehinnga banyak orang khawatir Kiai Ahmad minggal dunia disana, maklum sudah sangat tua. Tidak terdengar kabar bahwa beliau wafat, empat bulan kemudian beliau kembali ke Indonesia.

Pada haul yang ke-36 Kiai Ahmad Qusyai, K.H Hamid Ahmad selaku penceramah menceritakan bahwa beberapa waktu setelah pulang dari haji, ada orang kaya meminjami beliau mobil. Si pemiliknya berniat tidak akan mengendarai mobil itu sebelum dipakai oleh Kiai Ahmad. Kiai Ahmad lalu memakinya untuk pergi ke Lasem. Bisa dikatakan, itu adalah safari silaturrahmi karena dalam perjalanan itu beliau singgah hampir di  setiap kota yang dilalui.

Sesampainya di Lasem beliau berkeliling ke rumah sanak famili yang banyak sekali. Tak ketinggalan beliau juga bersilaturahmi ke KH. Ma’sum, yang terhitung masih paman beliau. Kiai Ma’sum lebih tua empat tahun dari Kiai Ahmad. Pada saat itu Kiai Ma’sum sedang menderita sakit keras. Terjadilah percakapan yang hangat di anatara beliau berdua. Di dalam percakapan tersebut mereka berebut untuk bisa menghadap Allah terlebih dahulu.

Tidak lama setelah itu, keduanya menghadap Allah dalam waktu yang berdekatan. Kiai Ma’sum mendapat giliran terlebih dahulu. Beliau wafat pada bulan Ramadhan 1392 H atau  1972 M. Sekitar 40 hari setelah itu, giliran Kiai Ahmad yang menghembuskan nafas terakhir, yakni pada hari Selasa tanggal 22 Syawal 1392 H atau 28 November 1972 M. Beliau wafat di Pasuruan di rumah Kiai Hamid alias rumah yang ditempati Kiai Ahmad sewaktu masih tinggal di Pasuruan dulu. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Kiai Ahmad Qusyairi merupakan salah satu ulama Nusantara yang produktif, dibuktikan dengan beberapa karya beliau yang fenomenal. Karya tersebut di antaranya, Tanwirul hija nazhmu safinatin naja, Ar-Risalatul Lasimiyah fi Adabil Akli wasy Syarb  ( Risalah Lasem tentang Tatakrama Makan dan Minum ) dalam bentuk nazham, Izharul Bisyaroh (membahas tentang hadrah), dan Al-wasilatul Hariyyah (kumpulan salawat Nabi).

 

Oleh : Muh. Jirjis Fahmy Zamzamy, Semester IV

Leave a Reply