Aipon Asso, Umar Bin Khattab-nya Tanah Papua

Aipon Asso, Umar Bin Khattab-nya Tanah Papua

Walesi adalah sebuah perkampungan yang terletak di lereng Gunung Jayawijaya. Berjarak sekitar 8 KM dari Ibukota kabupaten Jayawijaya, Wamena. Kisah Islam di Walesi di mulai oleh salah satu masyarakat suku di sana yang bernama Merasugun Asso. Sebagaimana lazimnya masyarakat suku pedalaman di sana, menjual kayu bakar adalah profesi sehari-hari masyarakat Walesi untuk menyambung hidup. Hampir setiap hari Merasugun Asso membawa beberapa ikat kayu bakar ke pasar untuk di jual. Uniknya Merasugun Asso tidak mau ditukar dengan uang melainkan ia hanya mau ditukar dengan nasi dan beberapa lauk saja. Sebagai masyarakat pedalaman yang masih sangat kental akan budaya, Merasugun Asso hanya mengenakan koteka (semacam pakaian laki-laki papua terbuat dari buah labu yang dikeringkan, berfungsi untuk menutupi aurat kelaki-lakiannya). 

Suatu hari, ketika Merasugun Asso sedang dalam perjalanan menuju pasar untuk menjual kayu bakar, ia dicegat oleh seseorang yang bermaksud untuk membeli kayu bakarnya. Tentu saja, kejadian ini menjadikannya sangat bahagia, karena tidak perlu bersusah payah ke Wamena untuk mencari pembeli. Orang yang membeli kayu bakar tersebut bernama Haji Abu Yamin (anggota DPR II Wamena, kala itu tahun 1975). Namun, karena waktu salat dzuhur telah tiba, Haji Abu Yamin ijin kepada Merasugun, agar kiranya bersedia menunggu sejenak sebab hendak melaksanakan salat. 

Selanjutnya, Haji Abu Yamin mengambil air wudhu dan mendirikan sholatnya. Ternyata, Merasugun Asso memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan oleh Haji Abu Yamin, mulai dari berwudhu sampai melaksanakan salat, takbiratul ihram, rukuk, sujud, sampai selesai beliau diperhatikan oleh Merasugun Asso, dan Mergusso Asso sangat takjub melihat pemandangan ini, karena baru kali ini ia melihat betapa khusyu nya beliau melaksanakan ritual-ritual ibadah. 

Hari-hari berikutnya, Haji Abu Yamin telah menjadi langganan kayu bakar milik Merasugun Asso, sehingga kebutuhan kayu bakar Haji Abu Yamin tidak bisa dipisahkan dari peran seorang Merasugun Asso yang setia membawakannya langsung ke rumahnya. Saking seringnya Merasugun Asso datang ke rumah Haji Abu Yamin, membuat ia semakin sering melihat gerakan-gerakan salat. Pada akhirnya, ketertarikan diikuti dengan rasa penasaran yang tinggi, membuat Merasugun Asso menyatakan keinginannya untuk melakukan hal serupa. Haji Abu Yamin kemudian memberikan kopia, sarung, dan pakaian kepada Merasugun Asso. Selanjutnya, pada tanggal 2 Juni 1975 Merasugun Asso menyatakan syahadat dibimbing oleh Haji Abu Yamin. Setelah ia memeluk Islam, kemudian disusul oleh Firdaus Asso, Muhammad Ali Asso, dan Firdaus Yeleget. Perkembangan Islam di Walesi, selanjutnya akan lebih banyak menonjolkan ketokohan dan peran seorang yang bernama Aipon Asso, kepala suku besar di Walesi, yang masuk Islam karena terinspirasi dari kebaikan yang diperlihatkan Merasugun Asso dan kawan-kawan. “Saya tertarik masuk Islam karena Islam itu baik”. Begitu kata Aipon Asso. 

Aipon Asso lahir di Walesi, sekitar tahun 1939 M. Sosok Aipon Asso adalah orang yang sangat disegani di daerah Wamena, selain karena ketokohannya sebagai seorang pemimpin yang pemberani, ahli dalam perang, dia juga mewarisi kekayaan melimpah dari para sesepuhnya. Ia juga menjabat sebagai kepala suku di Walesi. Aipon Asso memiliki tujuh orang istri yang berasal dari marga Yalipele dan Wetapo. Ketujuh istrinya berturut-turut adalah Yahuklaik Yalipele, Sapaleke Yalipele, Wasakaluk Yalipele, Heyeken Yalipele, Yona Wetapo, Wamsalekma Yalipele, Awulal Yalipele. Dari ketujuh istrinya, Aipon Asso dikaruniai 3 orang anak yakni Adam Asso dan Neleisa Asso dari istri pertamanya Yahuklaik Yalipele, dan Lina Asso dari istri keduanya Sapeleke Yalipele. 

Dibalik ketegasan dan karakter pemberaninya, Aipon Asso termasuk orang yang ramah dalam bergaul dan bersahaja dalam setiap aktifitasnya. “Aipon Asso itu sering nongkrong bersama kami sambil main gitar dan bernyanyi bersama di sela waktunya, sembari bergaul dengan ramah dan penuh dengan rasa humor yang tinggi, beliau seringkali menyusupkan petuah-petuah bijak dalam candaanya. Tapi bagi kami, hal itu sangatlah bermanfaat untuk mengarahkan kami menjadi lebih baik”. Begitu yang disampaikan Imron Asso, putra asli Walesi sekaligus keponakan Aipon Asso ketika menuturkan tentang keramahan Aipon Asso. 

Sebagaimana telah dikisahkan sebelumnya, bahwa Islam di Walesi diprakarsai oleh Merasugun Asso dan tiga kawannya, selanjutnya diikuti oleh kepala suku besar Walesi Aipon Asso. Akan tetapi, pernyataan Keislaman Aipon Asso ternyata juga memiliki cerita-cerita tersendiri tentang kapan dan bagaimana sehingga kepala suku akhirnya memutuskan untuk bersyahadat. 

Dikisahan bahwa, sebelum menyatakan diri secara resmi menganut Islam, Aipon Asso adalah orang terdepan yang sangat menentang adanya Islam di Walesi. Sebagai seorang kepala suku, tentu saja Aipon Asso berkewajiban untuk menjunjung tinggi hak-hak adat di Walesi. Setidaknya, ada dua hal yang mendasari mengapa Aipon Asso sangat tidak setuju jika Islam berkembang di Walesi. Pertama, adanya kekhawatiran yang sangat besar dalam diri Aipon Asso terkait keberlangsungan hidup Babi di Walesi. Karena, setiap acara yang dilaksanakan di Walesi pasti menggunakan Babi. Hal ini yang membuat Aipon Asso menolak keras Islam masuk ke wilayahnya, karena jika Islam berkembang, maka Babi akan dimusnahkan, sebab dalam Islam Babi itu diharamkan. Alasan kedua, adanya kekhawatiran jika nantinya, masyarakat Walesi menganut Islam, maka akan menghilangkan agama-agama nenek moyang sebelumnya seperti GKI, Katholik, dan Pantai Kosta. Dua alasan itulah yang membuat Aipon Asso sang kepala suku merasa wajib memerangi Islam karena eksistensi dan perkembangan Islam di Walesi akan sangat mengganggu hak-hak adat rakyatnya.  

“Jika mencintai sesuatu, cintailah sekadarnya saja karena boleh jadi itu tidak baik bagimu dan jika membenci sesuatu, bencilah sekadarnya saja karena boleh jadi itu lebih baik bagimu” (Q.S Al-Baqarah/2: 216). Pesan-pesan bijak yang di sadur dari Al-Qur’an itu ternyata kena telak terhadap Aipon Asso. Tuhan mengirimkan hidayah kepada beliau melalui sosok Merasugun Asso. Kebaikan perangai dan keramahan sikap yang ditunjukan oleh Merasugun Asso, membuat kebencian yang mendarah daging dalam diri Aipon Asso berbalik menjadi kecintaan yang sangat luar biasa. Pikiran-pikiran tentang kekhawatirannya terhadap Islam termasuk wajah Islam yang kejam sama sekali tidak dilihatnya dalam diri Merasugun Asso dan kawan-kawan. Justru yang tampak adalah kebaikan. Merasugun Asso dan kawan-kawan, sangat gemar menolong warga Walesi dalam setiap aktivitas dan hajatnya. Keramahan yang ditunjukkan membuat hati Aipon Asso menjadi luluh, kemudian timbul ketertarikan dalam dirinya untuk mempelajari Islam lebih lanjut. 

Perubahan sikap Aipon Asso terhadap Islam yang berubah 360 derajat dari benci menjadi cinta, membuat beberapa pihak menjadi khawatir dan berusaha menghalangi maksud Aipon Asso untuk mempelajari Islam. Puncaknya adalah ketika terjadi pemberontakan OPM (Organisasi Papua Merdeka) pada tahun 1977. Ketika itu, terdapat lemparan issue bahwa paukan OPM akan menyerang dan membunuh pendidik Desa Walesi yang bermaksud untuk mempelajari apalagi sampai menganut Islam. Bagi pihak-pihak tertentu, Islam dianggap hanya akan mendatangkan kerusakan. Kabar tentang akan adanya penyerangan oleh OPM ke Walesi membuat Aipon Asso merasa terusik. Baginya, hal tersebut sama saja dengan menantang dirinya. Sebagai seorang Kepala Suku Besar, meskipun belum Muslim, sudah menjadi tugasnyalah untuk membela kehormatan sukunya dari segala jenis ancaman dan intervensi. Justru ancaman itu membuat Aipon Asso kemudian mengumpulkan pasukannya untuk melakukan inisiatif penyerangan lebih dahulu sebelum mereka para pemberontak itu benar-benar datang. Aipon Asso dan pasukannya menyerbu kelompok OPM di sebuah bukit yang berjarak kurang lebih 20 km dari Walesi. Pertempuran hebatpun tidak lagi bisa dihindarkan. Aipon Asso yang merasa harga dirinya diganggu oleh para pemberontak yang hendak menghalang-halangi kebebasan memeluk agama warganya, menjadi sangat kuat. Motivasi mempertahankan harga diri serta naluri keberislaman yang semakin membuncah, karena ancaman-ancaman itu, mengantarkan Aipon Asso dan pasukannya kepada semangat juang yang berlipat-lipat. Setelah melalui peperangan selama berminggu-minggu, Aipon Asso dan pasukannya berhasil memenangkan peperangan, dan pulang ke Walesi dengan kepala tegak. 

Sesampainya di Walesi, Aipon Asso semakin mantap untuk mempelajari Islam. Bahkan, bercermin dari peristiwa yang terjadi sebelumnya, serta rasa empati yang sangat tinggi terhadap pola kehidupan Islami, membuat Aipon Asso memutuskan untuk menganut agama Islam. Aipon Asso bersyahadat pada hari Kamis, 26 Mei 1978 melalui bimbingan seorang penyuluh agama Islam di Wamena bernama Drs. Syekh Matdoan. Keputusan yang diambil oleh Aipon Asso sang Kepala Suku menginspirasi rakyatnya untuk mengikuti jejak pimpinannya untuk menganut agama Islam. Sekitar +600 orang warganya yang berdomisili di lereng bukit dan hutan-hutan turun gunung untuk menyatakan syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh Sang Kepala Suku. 

Hal pertama yang dilakukan oleh Aipon Asso setelah bersyahadat bersama rakyatnya adalah mengumpulkan masyarakat Walesi untuk membicarakan kebijakan keberlanjutan hajat hidup warga setelah perang. Pertemuan yang dilakukan bersama seluruh warga selanjutnya mengambil keputusan untuk mengajak seluruh masyarakat untuk menanam ubi bersama-sama di tanah adat. Kenapa berkebun?, ternyata hal tersebut sudah dipikirkan secara matang oleh Aipon Asso dalam menanamkan nilai-nilai dasar Islam kepada warganya. Sebab dengan berkebun, membuat masyarakat Walesi menjadi mandiri, dan kemandirian itu manurut Aipon Asso adalah pintu gerbang menuju kesejahteraan masyarakat. 

Kabar tentang citra dan wibawa Aipon Asso dan masyarakatnya serta keberislaman yang dilakukan setelah sebelumnya melalui perang, menjadi berita utama setiap pembicaraan tidak hanya di Walesi dan Wamena, tetapi juga di Papua. Ketokohan Aipon Asso dengan cepat menyebar ke seantero Papua. Puncaknya terjadi tahun 1989, ketika Aipon Asso bersama dengan Sofyan Wanggai dipanggil untuk menunaikan ibadah Haji oleh Menteri Agama. Tentu saja, bagi Aipon Asso, hal ini adalah bagian daripada proses penyempurnaan agamanya.   Sepulangnya dari menunaikan ibadah Haji, Aipon Asso kembali melakukan terobosan aktual terkait pola dakwah ala H. Aipon Asso, dengan lagi-lagi mengumpulkan warganya di sebuah lapangan yang luas, dan menceritakan kisah perjalanan spiritualnya selama di Tanah Suci. Hal ini tentu saja semakin membuat warga menjadi sangat antusias dalam berislam. Pertemuan yang dilakukan itu, tidak hanya melibatkan warga Walesi saja, tetapi Aipon Asso juga mengundang para kepala suku tentangganya. Pada kesempatan itu, lagi-lagi ajakan berkebun diserukan, tapi kali ini juga melibatkan suku-suku tetangganya untuk membangun kemandirian bersama sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kesejahteraan hidup. 

Itulah sedikit kisah biografi Aipon Asso, yang tadinya sangat membanci Islam tapi ketika masuk Islam beliau adalah garda terdepan dalam memperjuangkan Islam. Seperti halnya Umar bin Khattab, jadi bisa disebut Aipon Asso adalah Umar bin Khattabnya Tanah Papua. 

Referensi  

As‟ad, Muhammad dkk. Buah Pena Sang Ulama. Indobis: Jakarta, 2011.  

Athwa, Ali. Islam Atau Kristenkah Agama Orang Irian?. Pustaka Dai, 2004. 

Douglas, Mary Douglas, dan Edward Evans-Pritchard. Modern Masters Series. New York; Viking Press, 1980.  

Endraswara, Suwardi. Kajian Budaya Religi dan Ritual. Universitas Gadjahmada Press, tth.,. 

M. Wanggai, Toni Victor. Rekonstruksi Sejarah Umat Islam di Tanah Papua. Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI: Jakarta, 2009 

Santing, Waspada (ed). Ulama Perintis; Biografi Mini Ulama Sulsel. Pustaka Az Zikra: Makassar, 2010.  

S. Widjojo. Muridan (ed). Papua Road Map (Negotiating the Past, improving the Present and Securing the Future). Serpico: Bekasi, 2009 

Qordhowi, Yusuf. Kebudayaan Mam Eksklusif atau Inklusif. Era Intermedia, Solo, 2001. 

Yonathan Lekitoo, Handro. Potret Manusia Pohon (Komunitas Adat Terpencil Suku Korowao di Daerah Selatan Papua dan Tantangannya Memasuki Peradaban Baru). Balai Pustaka: Jakarta, 2012.

Kontributor: Hasanudin, Semester V

Leave a Reply