Syekh Siti Jenar Dalam Perspektif Wali Sanga

Syekh Siti Jenar Dalam Perspektif Wali Sanga

Syekh Siti Jenar memang pernah ada dalam sejarah, namun keberadaannya sebagai fakta sejarah memang sudah samar, malah gelap, karena sosok yang sebenarnya telah tertutup kabut dongeng dan mitos, sehingga menyulitkan penulis sejarah manapun yang ingin sampai total history. Justru kebanyakan penulis sejarah membiarkan kesimpangsiuran hingga masalah Siti Jenar tetap menjadi misteri. Maka, keberadaan Siti Jenar di dalam sejarah antara fakta dan fiksi, mirip tokoh Syi’ah Zindiq, Abdullah bin Saba’ pada era Ali bin Abi Thalib, setelah diteliti secara mendalam ternyata bukan fiktif.

Syekh Siti Jenar memiliki nama kecil San Ali, atau menurut Kitab Walisana, Kasan Wali Ansar. Siti Jenar digelari oleh Dr. H. Kremer sebagai Hallaj Jawa, sehingga bisa jadi istilah abangan adalah suatu penisbatan yang ditunjukkan kepada Syekh Lemah Abang, karena hingga saat ini dia selalu menjadi kiblat kaum abangan Indonesia terutama Jawa dan menjadi magnet rohani yang dianggap sebagai wali paling nyentrik yang kecerdasan intelektual dan spiritualnya diatas rata-rata yang dimiliki oleh manusia. Namun sebagian pihak menganggapnya sesat dan murtad karena mengembangkan ajaran manunggaling kawulo lan Gusti dan ajaran cara hidup sufi yang dianggap menyimpang dan bid’ah oleh Walisanga, terutama Sunan Giri dan Sunan Bonang.

Ajaran Siti Jenar merupakan  pemikiran antara mistik Kejawen, Animisme, Hindu dan Budha dan pemikiran Pantheisme yang diambil dari filsafat Persia dan Platoisme, kemudian dikembangkan dalam Islam oleh Abu Yazid Al-Bustami (260 H/874 M), Husain bin Manshur al-Hallaj (309 H/922 M) dan Muhyiddin Ibnu Arabi (638 H/1240 M). Sementara Abu Yazid Al-Bisthami merintis doktrin ittihad dan al-Hallaj merintis doktrin al-Hulul. Meskipun keduanya membawa ajaran bercorak pantheisme, namun perbedaannya sangat jelas. Dalam doktrin ittihad disebutkan bahwa manusia melebur hingga bersatu dengan Tuhan, sementara dalam hulul tubuh manusia tidak melebur tetapi meresap menjadi satu tubuh dengan Tuhan. Sedangkan Ibnu Arabi, menurut Ibnu Taimiah membawa pemikiran tasawuf filsafat yang bercorak Atheis menggulirkan pemikiran wahdatul wujud yang implikasinya lebih besar pada pemikiran tasawuf pantheisme, yang minimal melahirkan dua kesesatan; pertama, menolak perbedaan antara Khaliq dengan makhluk, yang kemudian melahirkan pemikiran wahdatul wujud. Kedua, dengan penolakan adanya perbedaan antara Khaliq dengan makhluk menimbulkan anggapan bahwa hukum syariat gugur dan tidak berlaku pada manusia. Sehingga Ibnu Arabi ditolak oleh para ulama negeri Islam pada zamannya. Dan menurut para peneliti, asal mula pemikiran wahdatul wujud lahir dari pengaruh agama di India, kemudian menyusup ke dalam Islam melalui tasawuf filsafat, sehingga pengertian wahdatul wujud bukan dari ajaran Islam.

Asal Usul Syekh Siti Jenar

Syekh Siti Jenar adalah sebuah gelar, siti berarti tanah dan jenar berarti kuning serta abang berarti merah. Siti Jenar merupakan nama Jawa, karena nama aslinya yaitu Abdul Jalil atau San Ali Anshar. Sebenarnya asal usul Syekh Siti Jenar hingga sekarang belum jelas, belum ada sumber yang dianggap valid, apakah dia berasal dari Persia atau Jawa atau Malaka. Di dalam beberapa publikasi, nama Syekh Siti Jenar kadang-kadang disebut Syekh Siti Brit atau Syekh Lemah Abang. Dalam bahasa Jawa, jenar berarti kuning, sedang brit berasal dari abrit yang artinya merah, sama dengan abang yang juga berarti merah. Sementara Solichin Salam mengutip dari Oemar Amin Hoesin, mantan Attase Pers kedutaan R.I. bahwa Siti Jenar mungkin ucapan salah dari kata Sidi Jinnar dari bahasa Persia yang artinya sidi adalah tuan dan jinnar yang kekuatannya seperti api.  

Menurut Munir Mulkhan, Syekh Siti Jenar berasal dari Cirebon. Ayahnya seorang raja pendeta bernama resi Bungsu. Nama aslinya adalah Ali Hasan, alias Syekh Abdul Jalil. Suatu ketika ayahnya marah lalu anaknya disihir menjadi cacing dan dibuang ke sungai. Pada waktu Sunan Bonang sedang mengajarkan “ilmu luhur” kepada murid-muridnya, termasuk Sunan Kalijaga, perahu yang ditumpanginya bocor, lalu ditambal dengan tanah. Ternyata di dalam tanah yang dipakai untuk menambal perahu itu terdapat cacing jelmaan Syekh Siti Jenar. Karena Sunan Bonang tau ada seseorang yang nguping (mendengar), maka cacing itu dirubah menjadi manusia kembali seperti wujudnya semula dan diberi nama Siti Jenar. Pendapat Abdul Rahman Haji Abdullah agak mendekati kebenaran, bahwa Siti Jenar berasal dari Pasai, Aceh yang hidup pada masa Maharaja Bakoy Ahmad Parmala, seorang Mangkubumi atau Perdana Menteri Kerajaan Pasai yang berpaham Syiah. Dia mempunyai penasehat yang bernama Abdul Jalil yang telah diutus ke Jawa untuk mengembangkan paham pantheisme. Kemudian Abdul Jalil lebih dikenal di Jawa dengan Siti Jenar yang dihukum mati oleh Walisanga.

Sumber Ajaran Siti Jenar

Dengan alasan sosok Syekh Siti Jenar masih kontroversi, apakah berasal dari Arab (Persia), India atau keturunan orang Persia yang lahir di Malaka, apakah keturunan resi Bungsu dari Cirebon yang menganut agama Hindu, ataukah seorang tokoh fiktif, maka diskusi ajarannya pun membias dan subjektif. Justru yang jelas adalah syekh Siti Jenar hanya dipakai sebagai kedok untuk mengajarkan dan menyebarkan kesesatan dan kebid’ahan dalam agama atas nama Siti Jenar, sehingga pihak-pihak yang anti Islam dengan mudah menyebarkan racun pemikiran mereka dibalik sosok Siti Jenar. 

Berdasarkan laporan historiografi lokal, ajaran Siti Jenar jauh menyimpang dari ajaran yang diyakini Walisanga yang mengajak kepada monotheisme dan mengamalkan syariat, berbeda dengan Siti Jenar yang mengajarkan pantheisme atau manunggaling kawulo lan Gusti, yang bersumbu pada sasahidan memiliki inti kalimat dua hal; La ilaaha illa Ana, dan ana al-Haq, Yang dihukumi oleh Walisanga sebagai ajaran bid’ah, agama sesat, berperilaku sombong, dan mengikuti hawa nafsu. Bahkan menganut paham Bathiniyah yang menolak syariat, menolak shalat tarek sebagai bentuk ketaatan syari’at dan cukup dengan Shalat Daim sebagai shalat yang tertanam dalam jiwa. Kesesatan Syekh Siti Jenar yang dianggap Walisanga paling berbahaya adalah tentang ajaran ketuhanan, yang menyatakan bahwa berbagai nama yang digunakan untuk menyebut Dzat Allah hanyalah hasil rekaan manusia yang bisa menjadi bentuk kepalsuan agama. Bahkan menurut Siti Jenar, Rumah Allah bukan masjid, melainkan dalam batin manusia itu sendiri. Cara melafalkan Syahadat Syekh Siti Jenar juga nyleneh, seperti yang dituturkan Muhammad Sholikhin dalam bukunya, Sufisme Siti Jenar “Ashaduananingsun, la illaha rupaningsun, illallah Pangeraningsun, Satuhuni ora ana Pangeran anging Ingsun, kang badan nyawa kabeh” (Ashadu keberadaanku, la ilaha bentuk wajahku, illallah Tuhanku, sesungguhnya tidak ada Tuhan Selain Aku, yaitu badan nyawa dan seluruhnya).

Dan syekh Siti Jenar berpandangan, alam kehidupan manusia di dunia ini sebagai kematian, keberadaan dirinya di dunia fana ini adalah sebagai bangkai yang bergentayangan. Di dunia ini sudah ada surga dan neraka, bukan di akhirat. Justru setelah melewati kematian, baru menusia berada di kehidupan sejati, yang tanpa surga dan neraka, menemui kebebasan hakiki, dan bentuk kemanunggalan dengan Allah. Sebagai konsekuensinya, kehidupan manusia di dunia ini tidak bisa dikenai hukum yang bersifat keduniawian, misalnya hukum negara atau hukum syariat seperti peribadatan sebagaimana ditentukan oleh syariat. Sehingga inti ajaran menurut Syekh Siti Jenar, di dunia ini adalah tempat kematian manusia, sehingga hukum syariat tidak berlaku disini. Syariat akan berlaku setelah manusia menjalani kehidupan pasca kematian.

Fakta Spiritual Siti Jenar

Keanehan juga tampak saat syekh Siti Jenar dalam proses mencari ilmu, berulang kali ia meminta berguru kepada Sunan Giri, tetapi ditolak dengan berbagai macam alasan. Karena keinginannya dalam berguru sangat besar, ia berusaha secara ilegal mengerahkan seluruh kesaktian yang dimilikinya agar bisa menyelundup ke tengah perguruannya Sunan Giri. Saat Sunan Giri sedang mewirid (memberikan wejangan secara rahasia) kepada murid yang kebanyakan para wali muda, Siti Jenar mengubah dirinya menjadi Dhandang seto (burung gagak putih) dan hinggap di atas dahan tempat Sunan Giri sedang mewirid. Sunan Giri mengetahui keberadaan Siti Jenar, beliau menunda wiridnya, dan mencari tempat lain yang Siti Jenar tidak tahu. Tetapi Siti Jenar tidak putus asa, kemanapun Sunan Giri berusaha menghindari dan menyembunyikan ajarannya, ia selalu mengikutinya. 

Menurut penuturan Walisana, Siti Jenar mengubah dirinya menjadi cacing kalung dan menyusup ke dalam tanah di bawah Sunan Giri mewirid Ngelmu Rasa. Sunan Giri yang arif, kesal karena berpindah-pindah dan menangguhkan wiridnya, maka diteruskannya wirid yang kali ini Siti Jenar ikut mendengarnya, setelah berhasil mencuri ngelmu, ia bertambah alim dan keramat seperti wali-wali lainnya, dan mendirikan perguruan secara terbuka untuk menandingi para wali. Selanjutnya, setelah mendengarkan wirid dari Sunan Giri, Syekh Siti Jenar menjadi semakin alim dan keramat seperti wali lain. Pertanyaannya, berapa lama waktu belajar Siti Jenar sehingga menjadi alim. Wirid apa yang diajarkan oleh Sunan Giri hingga membuat Syekh Siti Jenar dalam sekejap menjadi alim dan keramat hingga akhirnya mengalahkan Sunan Giri sendiri? Setelah menjadi orang alim, Syekh Siti Jenar sebagaimana yang dikabarkan oleh suluk walisana bahwa Syekh Siti Jenar mendirikan perguruan dan ternyata muridnya sangat banyak sehingga perguruan para wali sepi dan masjid-masjid kosong. Kisah Syekh Siti Jenar mengubah dirinya menjadi burung gagak putih atau cacing juga sangat beragam. Yang perlu mendapat sorotan, adakah seseorang yang mampu merubah dirinya menjadi binatang semacam itu? Kalau memang Syekh Siti Jenar mampu mengubah dirinya menjadi seekor burung atau cacing, berarti dia telah memiliki ilmu sihir yang sangat tinggi untuk apa belajar ilmu kepada Sunan Giri yang mengajarkan Islam murni, sementara Islam yang murni sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah sangat dibenci oleh Syekh Siti Jenar. Ilmu sihir dengan ilmu Islam sangat bertentangan, sehingga tidak bisa dipelajari secara bersamaan. Justru menurut ijma ulama, mempelajari sihir dapat merusak keimanan seseorang.

Hal ini menunjukkan bahwa kisah Syekh Siti Jenar hanya rekayasa belaka, karena alur ceritanya sangat bertabrakan satu dengan yang lainnya. Tidak akan mungkin orang yang memiliki ilmu sihir yang sangat tinggi mau belajar Islam yang murni, begitu pula sebaliknya, orang yang belajar Islam yang murni tidak akan mau belajar sihir.

Kesaktian Syekh Siti Jenar 

Sebagian pengagum Syekh Siti Jenar bersikap berlebihan hingga mereka mengklaim Siti Jenar lebih unggul dari para wali yang lainnya. Menurut cerita lokal, karena keramat dan saktinya, Syekh Siti Jenar mampu mengalahkan wali yang delapan kecuali Sunan Kalijaga. Disebutkan bahwa Syekh Lemah Abang atau Siti Jenar masuk bumi ketika dikejar Sunan Kalijaga untuk menangkapnya. Di bawah tanah yang gelap gulita, sempit dan sesak Syekh Lemah Abang mampu menciptakan lampu sehingga menjadi terang benderang dan lapang selapang alam semesta dengan langit yang sangat cerah. Untuk menandinginya Sunan Kalijaga menciptakan mendung, hujan topan, dan badai yang sangat dahsyat, sehingga alam di bawah bumi bagaikan bongkah, kembali gelap gulita, sesak dan sempit seperti sedia kala, malah lebih sempit dari yang semestinya, sehingga kesaktian Sunan Kalijaga melebihi Syekh Siti Jenar.

Dihukum Mati Karena Berbuat Makar

Setelah Sunan Giri sebagai ketua Walisanga mendengar tentang ajaran Siti Jenar yang menyimpang, setelah ada laporan resmi yang masuk, beliau mengundang Syekh Siti Jenar untuk bermusyawarah masalah ngelmu. Kemudian dikirimlah dua utusan untuk menyampaikan undangan tersebut kepada Syekh Siti Jenar, keduanya mendapat tanggapan sinis dan sikap penentangan Syekh Siti Jenar terhadap wali-wali yang lain.

Sebagaimana yang dituturkan oleh Babad Tanah Cirebon, Siti Jenar bertanya kepada dua utusan tersebut, bagaimanakah sebutan bagi dirinya dalam undangan Sunan Giri. Ketika utusan menyatakan bahwa yang diundang adalah Syekh Lemah Abang, maka ia pun menjawab bahwa Syekh Lemah Abang tidak ada disini, yang ada adalah Allah, yang ada adalah Pangeran Sejati (Allah), yaitu Jati ning Pangeran Mulya, mana mungkin bisa mengundang Allah.  Ketika mendengar laporan dari utusannya, Sunan Giri masih dapat disebarkan oleh para wali yang lain. Selanjutnya, kembali memerintahkan kedua utusan tersebut untuk mengundang Pangeran Sejati itu, utusan sampai di hadapan Siti Jenar dan menyampaikan undangan bagi Pangeran Sejati. Dipanggil dengan sebutan itu, Siti Jenar menyarankan agar dua utusan kembali ke Giri karena disitu tidak ada Pangeran Sejati, yang ada Syekh Lemah Abang.  Utusan kembali dengan tangan hampa untuk kedua kalinya. Sesampai di Giri, utusan kembali diperintahkan untuk mengundang kedatangan Pangeran Sejati alias Syekh Tanah Abang. Dengan panggilan diri seperti itu, barulah Syekh Siti Jenar mau memenuhi undangan Sunan Giri atas nama Walisanga.

 Setelah Walisanga berkumpul semua, forum terpecah menjadi dua kubu, yaitu walisana (delapan wali) dengan Syekh Siti Jenar seorang diri. Kedua pihak berhadapan sebagai lawan perdebatan yang sengit. Setelah nyata dan yakin bahwa Syekh Siti Jenar tersesat dan murtad, maka para wali berusaha menasehatinya. Meskipun para wali telah berusaha menasehati Siti Jenar, namun dia tidak mau bergeming dari pendiriannya. Akhirnya, sidang Walisanga sepakat untuk menetapkan hukuman mati bagi Siti Jenar berdasarkan pertimbangan hukum Islam. 

Referensi:

Zainal Abididn bin Syamsuddin, 2018. Fakta Baru Walisanga, (Jakarta: Pustaka Imam Bonjol) hal. 353

Hardjawidjaja, Walisana, hal. 58

Widji Saksono, 1995. Mengislamkan Tanah Jawa, Mizan, hal. 46

Zoetmulder, Manunggaling Kawulo Gusti, hal. 352

Abdul Rahman Haji Abdullah (Pemikiran Umat Islam Nusantara), hal. 84

Ibnun Taimiyah, al-Furqan Baina Auliya ar-Rahman adalah Auliya asy-Syaithan, hal. 212

Kontributor: Muhammad Mas’ud, Semester III

Leave a Reply