Sufi, Tasawuf dan Sejarahnya

Sufi, Tasawuf dan Sejarahnya

  1. Definisi Sufi dan Tasawuf

Secara etimologi, kata sufi diambil dari kata shuuf (bulu domba kasar), karena memakai baju dari bulu domba kasar adalah kebiasaan nabi-nabi dan shiddiqin. Pakaian dari bulu domba juga merupakan tanda orang-orang zuhud yang rajin beribadah. Kata sufi diambil dari akar kata shuuf (bulu domba kasar), kabarnya Nabi SAW pernah bersabda, “Hendaknya kalian memakai baju bulu agar kalian mendapatkan manisnya iman dalam hati kalian. Orang-orang yang zuhud dan selalu riadhah pada abad pertama hijriyah sering disebut sufi, juga karena kebiasaan mereka yang memakai pakian dari bulu domba kasar. Sedangkan kata tasawuf sendiri dianggap sebagai masdarnya (dengan wazan tafa’ul). Adapun arti tasawuf adalah “memakai pakaian dari bulu domba”. Pendapat ini dikuatkan dengan atsar, diriwayatkan dari Ibnu Abbas ia berkata:

لَقَدْ سَلَكَ فَجَّ الرَّوْحَاءَ سَبْعُونَ نَبِيًّا حُجَّاجًا عَلَيْهِمْ ثِيَابُ الصُّوفِ (رواه الحاكم في المستدرك).

Tujuh puluh nabi menempuh perjalanan jauh dalam keadaan berhaji dan mengenakan pakaian dari bulu domba. (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak).

Ada pula yang berpendapat bahwa kata tasawuf berasal dari kata ahl al-shuffah, yakni sekelompok sahabat sangat miskin yang hijrah ke Madinah, mereka tidak memiliki tempat tinggal, oleh karena itu, Rasulullah menempatkan mereka di beranda masjid. Selanjutnya, dibangunkan sebuah tempat untuk bernaung mereka. Tempat itulah yang disebut suffah, penghuninya disebut ahl al-shuffah yang nantinya terkenal sebagai zahid atau seorang yang zuhud, sederhana dan melepas diri dari ikatan duniawi, dan kebanyakan adalah tokoh sufi yang merupakan alumni dari ahl al-shuffah ini. Di antara mereka adalah Abu Dzar al-Ghifari, Miqdad, Abu Hurairah, Salman Al-Farisi, dan Bilal. Kemudian lahirlah istilah tasawuf yang merupakan praktik seorang yang berperilaku seperti para ahl al-shuffah.

Ketika berbicara makna tasawuf secara terminologi maka tasawuf berarti disampaikan Abu Bakar Al-Kittani (w. 322 H/936 M) yaitu, “Tasawuf berarti shafa’ (jernih) dan musyahadah (menyaksikan).” Dengan demikian tasawuf berarti “menjernihkan hati dan mengikhlaskan atau memurnikan ibadah semata hanya untuk Allah.” Jika seorang hamba telah ikhlas demi Allah, mengikuti perintah­-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta telah menjernihkan hatinya, maka ia telah mendapatkan kedudukan musyhadah. Maka sisi pertama adalah sarana (washilah) yang membawa pada kesucian (shafa’) dan diakhiri dengan tujuan (ghayah) berupa musyahadah, artinya ketika kesucian telah ada pada diri seseorang maka ia telah memiliki persiapan sempurna untuk menerima musyahadah, musyahadah sediri merupakan derajat ma’rifat tertinggi di bawah derajat kenabian, maka kesimpulannya adalah tasawuf merupakan jalan menuju musyahadah.

Dari definisi di atas tidak akan dapat menjelaskan tasawuf yang sebenarnya, dalam kenyataannya tujuan tasawuf memang tidak akan dapat dipahami dan dijelaskan melalui pendekatan apapun, diperlukan suatu pengalaman rohani untuk dapat merasakannya. Imam al-Ghazali sendiri mengatakan bahwa sesuatu yang bersifat dzauqiyah (perasaan) tidak akan dapat dijelaskan dengan lisan maupun tulisan hingga seorang harus mengalami sendiri untuk merasakannya.

  1. Sejarah Awal Sufi dan Tasawuf

Dalam Muqaddimah Ibnu Khaldun, disebutkan bahwa istilah sufi dan tasawuf belum dikenal secara luas di kalangan masyarakat pada abad pertama Hijriyah, istilah sufi dan tasawuf mulai dikenal secara luas mulai abad kedua Hijriyah. Tasawuf sebagai pengamalan zuhud sudah dikenal secara luas pada abad pertama dan menjelang berakhirnya abad kedua Hijriyah. Sedangkan kata tasawuf dan sufi baru muncul menjelang berakhirnya abad kedua Hijriyah, dan tersebar luas hingga menjadi salah satu cabang ilmu keislaman yang mempunyai kaidah-kaidah dan dasar-dasar seperti cabang-cabang ilmu lainnya. Hal ini diketahui dari riwayat al-Hafidz Abu Nu’aim al-Ashfahani (948-1038 M) dan Imam Ja’far Ibn Muhammad al-Shadiq (699-765) pernah mengatakan, “Barang siapa menjalani kehidupan Rasulullah SAW secara lahir, maka ia seorang sunni, dan barang siapa menjalani kehidupan Rasulullah SAW secara batin, maka ia seorang sufi.

Abdurrahman al-Sulamy  (w. 412 H) dalam kitabnya Thabaqat Al-Sufiyah telah membagi generasi Sufi menjadi lima periode hingga kepada peridodenya. Kitab Thabaqat Al-Sufiyah tersebut sangat berperan dalam menyatukan visi besar kaum sufi, mengingat ucapan-ucapan para tokoh sufi juga dikutip di sana, bahkan dengan sejumlah landasan Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Sebelumnya, ulama dan sufi besar ini menulis buku yang cukup bagus pula, Tarikh Al-Sufiyah. Beberapa ulama sufi sebelumnya memiliki karya serupa, namun tidak sekomprehensif karya al-Sulamy, terdapat beberapa kitab sejarah dan biografi para sufi. Antara lain:

  1. Thabaqah al-Nusak karya Abu Sa’id Ibn al-Araby (w. 341 H) yang sering dibuat refrensi utama oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’.
  2. Akhbar al-Sufiyah wa al-Zuhad, karya Muhammad Ibn Dawud Ibn Sulaiman, yang populer dengan Abu Bakr al-Naisaburi (w. 342 H.)
  3. Tarikh al-Sufiyah karya Ahmad Ibn Muhammad Ibn Zakariya al-Naswy al-Zahid (w. 396 H).

Al-Sulamy dalam kitab Thabaqat al-Sufiyah-nya, merinci sejumlah nama besar sufi dari seluruh periode itu, dengan lima generasi. Adapun generasi ini menurutnya merupakan generasi terbaik, yang berhasil meletakkan dasar-dasar utama sufi, dan masuk dalam kategori yang Rasulullah SAW sendiri sabdakan:

خَيْرُ أُمَّتِي قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ …(رواه البخاري)

Sebaik-baik umatku adalah generasi abadku, kemudian generasi berikutnya, lalu generasi berikutnya…” (HR. Bukhari)

Kemudian, jika dilihat dari generasi para sufi, maka ada lima generasi yang Al-Sulamy cantumkan dalam kitabnya dengan jumlah keseluruhan 100 tokoh Sufi, masing-masing generasi terdiri dari 20 tokoh:

Generasi pertama:

Al-Fudhail Ibn ‘Iyadh, Dzun Nun al-Mishry, Ibrahim Ibn Adham, Bisyr al-Hafy, Sary al-Saqathy, Al-Harits al-Muhasiby, Syaqiq al-Balkhy, Abu Yazid al-Busthamy, Abu Sulaiman al-Darany, Ma’ruf al-Karkhy, Hatim al-Asham, Ahmad Ibn Abi al-Hawary, Ahmad Ibn Hadhrawiyah, Yahya Ibn Mu’adz al-Razy, Abu Hafsh al-Naisabury, Hamdun al-Qashshar, Manshur Ibn Ammar, Ahmad  Ibn Ashim al-Anthaky, Abdullah Ibn Khubaiq al-Anthaky, dan Abu Turab al-Nakhsyaby.

Generasi kedua:

Abul Qasim al-Junaid, Abu al-Husain al-Nury, Abu Utsman al-Hiry al-Naisabury, Abu Abdullah Ibn al-Jalla’, Ruwaim Ibn Ahmad al-Baghdady, Yusuf Ibn al-Husain al-Razy, Syah al-Kirmany, Samnun Ibn Hamzah al-Muhib, Amr Ibn Utsman al-Makky, Sahl Ibn Abdullah al-Tustary, Muhammad Ibn Fadhl al-Balkhy, Muhammad Ibn ‘Ali al-Turmudzy, Abu Bakr al-Warraq, Abu Sa’id al-Kharraz, ‘Ali Ibn Sahl al-Asbahany, Abu al-Abbas Ibn Masruq al-Thusy, Abu Abdullah al-Maghriby, Abu ‘Ali al-Juzajany, Muhammad dan Ahmad, keduanya putra Abu al-Ward, Abu Abdullah al-Sijzy.

Generasi ketiga:

Abu Muhammad al-Jurairy, Abu al-Abbas Ibn Atha’ al-Adamy, Mahfud  Ibn Mahmud al-Naisabury, Thahir al-Muqaddasy, Abu Amr al-Dimasyqy, Abu Bakr Ibn Hamid al-Turmudzy, Abu Ishaq Ibrahim al-Khawash, Abdullah Ibn Muhammad al-Kharraz al-Razy, Bunan Ibn Muhammad al-Jamal, Abu  Hamzah  al-Baghdady al-Bazzaz, Abu al-Husain al-Warraq al-Naisabury, Abu Bakr al-Wasithy, Al-Husain Ibn Mashur al-Hallaj, Abu al-Husain Ibn al-Shaigh al-Dainury,  Mumsyadz al-Dinawary, Ibrahim al-Qashshar, Khair al-Nasaj, Abu Hamzah al-Khurasany, Abu Abdullah al-Shubaihy, Abu Ja’far Ibn Sinan.

Generasi keempat:

Abu Bakr al-Syibly, Abu Muhammad al-Murtaisy, Abu ‘Ali al-Rudzbary, Abu ‘Ali al-Tsaqafy, Abdullah Ibn Muhammad Ibn Manazil, Abu al-Khair al-Aqtha’ al-Tinaty, Abu Bakr al-Kattany, Abu Ya’qub al-Nahrajury, Abu al-Hasan al-Muzayyin, Abu ‘Ali Ibn al-Katib, Abu al-Husain Ibn Banan, Abu Bakr Ibn Thohir al-Abhury, Mudzaffar al-Qurmisainy, Abu Bakr Ibn Yazdaniyar, Abu Ishaq Ibrahim Ibn al-Maulid, Abu Abdullah Ibn  Salim al-Bashry, Muhammad Ibn Alyan an-Nasawy, Abu Bakr Ibn Abi Sa’dan.

Generasi kelima:

Abu Sa’id Ibn A’raby, Abu Amr al-Zujajy, Ja’far Ibn Muhammad al-Khuldy, Abu al-Abbas al-Qasim al-Sayyary, Abu Bakr Muhammad Ibn Dawud al-Duqqy, Abu Muhammad Abdullah Ibn Muhammad al-Sya’any, Abu Amr Ismail Ibn Nujaid, Abu al-Hasan ‘Ali Ibn Ahmad al-Busyanjy, Abu Abdullah Muhammad Ibn Khafif, Bundar Ibn Husain al-Syirazy, Abu Bakr al-Thimistany, Abu al-Abbas Ahmad Ibn Muhammad al-Dainury, Abu Utsman Said Ibn Salam al-Maghriby, Abu al-Qasim Ibrahim Ibn Muhammad al-Nashruabadzy, Abu al-Hasan ‘Ali Ibn Ibrahim al-Hushry, Abu Abdullah al-Targhundy, Abu Abdullah al-Rudzbary, Abu al-Hasan ‘Ali Ibn Bundar al-Shairafy, Abu Bakr Muhammad Ibn Ahmad al-Syabahy, Abu Bakr Muhammad Ibn Ahmad al-Farra’, Abu Abdullah Muhammad Ibn Ahmad al-Muqry’ dan Abu al-Qasim Ja’far Ibn Ahmad al-Muqri’, Abu Muhammad Abdullah Ibn Muhammad al-Rasy, Abu Abdullah Muhammad Ibn Abd al-Khaliq al-Dinawary.

Setelah periode Al-Sulamy, muncul beberapa Sufi seperti Abu al-Qasim al-Qusyairy, disusul prestasi puncak pada Abu Hamid al-Ghazali yang bergelar Hujjah al-Islam, kemudian Syeikh Abd al-Qadir al-Jilany, Ibn al-Arabi, dan Sultan al-Auliya Syekh Abu al-Hasan al-Syadzily.

Dari seluruh tokoh sufi di atas, melahirkan banyak mazhab tasawuf yang kelak muncul dalam ordo-ordo thariqah.  Semula arti thariqah itu sendiri adalah metode atau sistem.  Thariqah merupakan ”Jalan menuju Allah Swt. dengan cara dan metode yang khusus.”

  1. Tasawuf dan Penyebaran Islam

Tersebarnya Islam di berbagai belahan dunia tak luput dari peran para sufi dalam berdakwah dengan cara yang santun, akhlak luhur, dan kekeramatan cemerlang. Tidak hanya sampai di sana, mereka juga dalam penyebaran Islam rela meninggalkan rumah dan kampung halaman, dari keikhlasan tersebut banyak yang masuk Islam secara suka rela. Negara-negara yang mendapat cahaya keislaman melalui guru sufi tarekat sufisme, seperti Benua Asia dan Benua Afrika. Louis Masignon menerangkan bahwa tersebarnya Islam di India bukanlah melalui peperangan, melainkan berkat jasa-jasa kaum sufi dan tarekat-tarekat besar seperti Jasytiyah, Kubrawiyah, Syathariyah, Naqsabandiyah, dan Qadiriyah.

Salah satu tokoh sufi yang diakui memiliki kontribusi besar dalam penyebaran Islam adalah Syekh Abd al-Qadir al-Jilani, yang nantinya para pengikut dari tarekat Qadiriyah ini menyebar ke daerah-daerah pelosok yang belum terjamah oleh penyebar Islam secara ekspansi, melalui mereka Islam tersebar luas sampai Afrika, Cina, India, dan Indonesia. Pengakuan ini berdasarkan perkataan Amir Syakib Arsalan bahwasanya para pengikut thariqah Qadiriyah merupakan penyebar Islam yang paling bersemangat, mereka menyebarkan Islam dengan cara damai melalui perdagangan dan pendidikan, mereka mengajarkan agama dan menyebarkan murid-murid cerdasnya ke sekolah-sekolah dan universitas besar. Walhasil, corak dari negara-negara yang mendapati cahaya tarekat Qadiriyah ini menjadi pengikut Ahl al-sunnah wa al-Jama’ah. Syekh Shabri ‘Abidin mengatakan bahwa para missionaris Kristen setiap kali mendatangi daerah-daerah primitif yang jauh dari peradaban dan kemajuan, di Afrika maupun di ujung Asia, mereka menemukan para sufi telah mendahului dan mengalahkan mereka dalam menyebarkan agama. Begitu juga dengan para misionaris Swedia yang mengambil posisi di sepanjang Etiopia, Sudan, dan Eriteria, mereka menemukan pondok-pondok yang didirikan oleh kaum sufi, dan ternyata para sufi ini telah berhasil menghancurkan usaha para misionaris Swedia yang telah berupaya selama 40 tahun lamanya.

Di Indonesia sendiri, berkembangnya tarekat tidak terlepas dari proses masuknya Islam di wilayah ini. Islam mulanya masuk di Indonesia dengan corak tasawuf, hal ini dibuktikan dengan beberapa data yang ditunjukkan para sejarawan. Dalam hal ini teori Hill menyebutkan bahwa dalam Hikayat Raja-raja Pasai yang disusun abad ke-14 mengatakan Islam yang datang di Nusantara beraliran tasawuf. Kemudian data ini didukung oleh Sejarah Melayu yang sumbernya juga dari Hikayat Raja-raja Pasai. Teori Bech menyatakan dalam teks Sejarah Melayu dijelaskan tentang kesenangan Sultan Malaka kepada ilmu tasawuf di mana pada suatu waktu seorang ulama, yaitu Maulana Abu Ishaq datang memberi hadiah kepada sultan berupa kitab yang berjudul Durr al-Mandhum (mutiara yang tersusun). Sultan Malaka pun beberapa kali mengutus utusan agar menemui Sultan Aceh untuk sekedar berkonsultasi masalah ilmu tasawuf. Para sufi pertama yang mengajarkan tasawuf dan thariqah di Indonesia ialah Hamzah Fansuri (w. 1590), Syamsuddin al-Samatrani (w. 1630), Nuruddin al-Raniri (w. 1658), Abd al-Rauf al-Singkili (1615-1693) dan Syekh Yusuf al-Makassar (1626-1699). Tokoh-tokoh sufi inilah yang memiliki kontribusi besar dalam penyiaran dan perkembangan Islam di Indonesia.

Referensi:

Ahmad, Abdul Fattah Sayyid, Tasawuf antara al-Ghazali dengan Ibnu Taimiyah. Penerjemah Ahmad Muchon Anasy (Khalifa, tt)

Rakhmat, Jalaludin dkk, Kuliah-Kuliah Tasawuf, (Bandung : Pustaka Hidayah, 2000)

Al-Mardiny, Muhammad Hadi Al-Samarkhy, Syarh Ayyuhal Walad Li Al-Ghazali, (Birut: Dar Al-Kutub Al-Imiyah 2012)

A. Ghafar, Nurkhalis, Tasawuf dan Penyebaran Islam di Indonesia, (Jurnal Rihlah Vol. III No. 1 Oktober 2015)

Tasawuf dalam Lintas Sejarah, (tanpa keterangan penulis, penerbit, dan tahun terbit)

Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Khazanah Aswaja : Memahami, Mengamalkan, dan Mendakwahkan Ahlusunnah wa al-Jama’ah. (Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur 2016)

Kontributor : Muhammad Iqbal, VII

Leave a Reply