Meraih Pahala Haji dari Rumah: 5 Amalan Setara Haji dan Umrah

Meraih Pahala Haji dari Rumah: 5 Amalan Setara Haji dan Umrah

MAHADALYJAKARTA.COM- Bagi umat Islam yang belum bisa berhaji karena terkendala masalah kesehatan atau ekonomi, ada lima amalan yang pahalanya setara dengan pahala haji atau umrah. Namun demikian, perlu ditegaskan bahwa amalan-amalan ini tidak kemudian menggugurkan kewajiban seorang muslim dalam menunaikan ibadah haji yang merupakan rukun Islam kelima, terlebih bagi seseorang yang sudah masuk kategori mampu atau istitha‘ah.

1. Konsisten Salat Jemaah Lima Waktu Di Masjid dan Salat Dhuha

Salat berjemaah lebih utama dibanding salat sendirian. Selain mendapatkan pahala dua puluh tujuh kali lipat, salat berjemaah di masjid juga dilimpahkan pahala ibadah haji bila dilakukan terus-menerus. Sementara orang yang mengerjakan salat dhuha di masjid dihadiahi pahala ibadah umrah. Penjelasan ini didasarkan pada hadits riwayat Abu Umamah bahwa Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ، وَمَنْ خَرَجَ إِلَى تَسْبِيحِ الضُّحَى لَا يَنْصِبُهُ إِلَّا إِيَّاهُ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْمُعْتَمِرِ

Artinya: “Siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan suci untuk menunaikan salat fardhu akan diberikan pahala ibadah haji. Sementara orang yang keluar rumah untuk mengerjakan salat dhuha dan tidak ada tujuan lain selain itu, maka akan diberikan pahala umrah.” (HR Abu Daud)

2. Zikir Setelah Salat Shubuh Berjemaah Sampai Terbit Matahari, Lalu Salat Dua Rakat

Selain salat lima waktu, orang yang berzikir setelah salat shubuh juga diberikan pahala ibadah haji dan umrah. Syaratnya, dia harus tetap berzikir di masjid sampai terbit matahari, kemudian mengerjakan salat sunnah dua rakaat. Hal ini berdasarkan riwayat dari Anas bahwa Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ

 Artinya: “Siapa yang mengerjakan salat subuh berjemaah, kemudian dia tetap duduk sambil dzikir sampai terbit matahari dan setelah itu mengerjakan salat dua rakaat, maka akan diberikan pahala haji dan umrah.” (HR At-Tirmidzi)

Baca juga:

Ibadah Haji: Kewajiban Agung dan Manifestasi Penghambaan kepada Allah Swt

3. Pergi ke Masjid untuk Menuntut Ilmu atau Mencari Kebaikan

Tidak hanya ibadah salat yang mendapatkan pahala haji dan umrah, menuntut ilmu dan mengajar di masjid pun diberikan pahala ibadah haji. Sebagaimana penjelasan dari riwayat Abu Umamah bahwa Rasululullah Saw bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُرِيدُ إِلَّا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامَّةِ حَجَّتِهِ

Artinya: “Siapa yang berangkat ke masjid hanya untuk belajar kebaikan atau mengajarkannya, diberikan pahala seperti pahala ibadah haji yang sempurna hajinya.” (HR At-Thabarani)

4. Berbakti pada Orang Tua

Seorang anak berkewajiban taat kepada orang tua setelah penghambaan kepada Allah Swt. Taat dan berbakti kepada mereka pun pahalanya sangat luar biasa. Pahala haji dan umrah akan dianugerahkan kepada seorang anak yang rela meninggalkan segala keinginannya demi berbakti kepada orang tua. Abu Ya’la al-Maushuli meriwayatkan hadis:

 عَنْ أَنَسٍ قَالَ : أَتَى رَجُلٌ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : إِنِّى أَشْتَهِى الْجِهَادَ وَلَا أَقْدِرُ عَلَيْهِ. قَالَ : هَلْ بَقِيَ مِنْ وَالِدَيْكَ أَحَدٌ؟ قَالَ : أُمِّي. قَالَ : فَأَبْلِ اللهَ فِى بِرِّهَا. فَإِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ فَأَنْتَ حَاجٌّ وَمُعْتَمِرٌ وَمُجَاهِدٌ. فَإِذَا رَضِيَتْ عَنْكَ أُمُّكَ فَاتَّقِ اللهَ وَبِرَّهَا

Artinya: “Dari Anas, ia berkata: ada seorang laki-laki mendatangi Rasulullah SAW kemudian berkata: Sesungguhnya aku ingin berjihad namun aku tidak mampu. Rasulullah bersabda: Apakah salah satu dari kedua orang tuamu masih ada? Laki-laki itu menjawab: Ibuku. Rasulullah bersabda: Perbaikilah hubunganmu dengan Allah Swt dengan berbakti kepada ibumu. Ketika kamu telah melakukannya maka kamu adalah orang yang berhaji, umrah dan jihad. Ketika ibumu ridla kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan berbaktilah kepada ibumu.” (Abu Ya’la Al-Maushuli, Musnad Abu Ya’la Al-Maushuli, [Damaskus: Dar al-Ma’mun Lit Turats, 1989], Jilid V, halaman 150).

Baca juga:

Mempersiapkan Diri Menuju Puncak Ibadah Haji

5. Membantu Orang Lain

Berawal dari perintah untuk saling membantu sesama muslim dalam kebaikan dan ketakwaan, Allah Swt menjanjikan pahala besar dan akan menganugerahkan pahala haji dan umrah kepada hamba-Nya yang rela membantu memenuhi kebutuhan sesama muslim. Tentunya, kebutuhan ini bukanlah hal yang mengundang dosa dan permusuhan. Imam al-Baihaqi meriwayatkan hadis:

  وَعِنْ عَلِيِّ بْنِ حَسَنٍ قَالَ : خَرَجَ الْحَسَنُ يَطُوْفُ بِالْكَعْبَةِ فَقَامَ اِلَيْهِ رَجُلٌ فَقَالَ : يَا أَبَا مُحَمَّدٍ اِذْهَبْ مَعِيْ فِى حَاجَتِيْ اِلَى فُلَانٍ. فَتَرَكَ الطَّوَافَ وَذَهَبَ مَعَهُ، فَلَمَّا ذَهَبَ قَامَ اِلَيْهِ رَجُلٌ حَاسِدٌ لِلرَّجُلِ الَّذِيْ ذَهَبَ مَعَهُ، فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ تَرَكْتَ الطَّوَافَ وَذَهَبْتَ مَعَ فُلَانٍ اِلَى حَاجَتِهِ؟ فَقَالَ لَهُ حَسَنٌ : وَكَيْفَ لَا أَذْهَبُ مَعَهُ وَرَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ ذَهَبَ فِى حَاجَةِ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ فَقُضِيَتْ حَاجَتُهُ كُتِبَتْ لَهُ حَجَّةٌ وَعُمْرَةٌ، فَإِنْ لَمْ تُقْضَ لَهُ كُتِبَتْ لَهُ عُمْرَةٌ. فَقَدِ اكْتَسَبْتُ حَجَّةً وَعُمْرَةً وَرَجَعْتُ اِلَى طَوَافِىْ.

Artinya: “Dan dari Ali bin Hasan, dia berkata: suatu hari al-Hasan keluar untuk bertawaf di Ka’bah. Kemudian ada seorang laki-laki datang menghampirinya seraya berkata: Wahai Abu Muhammad! Pergilah bersamaku untuk memenuhi kebutuhan seseoarang. Kemudian al-Hasan meninggalkan tawafnya dan pergi bersamanya. Ketika dia pergi, kemudian ada seorang laki-laki yang hasud kepada laki-laki yang mengajaknya pergi. Dia datang menghampiri dan berkata: Wahai Abu Muhammad! Mengapa kamu tinggalkan tawaf dan pergi bersama seseorang untuk memenuhi kebutuhan orang lain? Kemudian Hasan menjawab: Bagaimana aku tidak pergi bersamanya, sedangkan Rasulullah SAW pernah bersabda: Siapapun yang pergi dalam memenuhi hajat saudara sesama muslim kemudian hajatnya terpenuhi, maka baginya akan dicatatkan pahala haji dan umrah. Seanadainya hajat tersebut tidak dipenuhi, maka akan dicatatkan baginya pahala umrah. Aku benar-benar telah mendapatkan pahala haji dan umrah kemudian aku kembali pada tawafku.” (Ahmad bin Husain al-Baihaqi, Al-Jami’ li Syu’abil Iman, [Riyadh: Maktabah al-Rusyd, 2003], Jilid X, halaman 111).

 

Disadur dari nuonline.com, nuonline.com

Editor: Siti Yayu Magtufah

Leave a Reply