KH. Abdus Syakur dan Syiarnya dengan Tarekat Shalawat Wahidiyah

KH. Abdus Syakur dan Syiarnya dengan Tarekat Shalawat Wahidiyah

Beliau adalah seorang kiai terpandang di kalangan masyarakat, khususnya di Desa Banasare, kecamatan Rubaru, tepatnya 7 kilometer dari arah barat kabupaten kota Sumenep.

Beliau lahir di desa Banasare dari seorang ayah yang bernama Kiai Nuyu, dan Nyai Nuyu. Beliau merupakan salah satu sesepuh dan figur yang sangat di kagumi keilmuannya di  masyarakat desa Banasare timur khususnya.

Abdus Syakur memiliki seorang istri yang bernama Nyai Suti` dan memiliki anak yang bernama KH. Ihsan Syakur dan Nyai HJ. Hafidhah.

Semenjak kecil beliau sudah menampakkan suri keteladanan dan kepribadian yang luar biasa terutama dalam hal disiplin ilmu dan hal lainnya. Tata krama yang beliau dapat dari seorang ayah terus beliau utamakan dalam bersikap dan bertingkah laku kepada orang yang lebih muda ataupun kepada orang yang lebih tua dan kepada masyarakat umumnya. Sifat ini semua adalah sifat dari seorang ayah yang turun kepada karakter pribadi KH. Abdus Syakur.

Beliau mengalami masa ketika penjajah Belanda menjajah negeri Hindia Belanda. Menurut tutur cerita di desa Banasare (Nyai suti`, Hj. Kholifah, dan Abdullah),  Hindia Belanda merupakan sebutan nama tempat yang dijajah atau dikuasai oleh kolonial Belanda tepatnya negara Indonesia. Kala itu kolonial Belanda menjadi pemimpin atau penguasa suatu wilayah di berbagai wilayah  jajahan mereka di Indonesia.

Semasa kecil beliau sempat menyaksikan bagaimana keadaan rakyat pra-kemerdekaan diperlakukan oleh kolonial Belanda di mana hasil pertanian mereka di ambil secara paksa, walaupun tidak secara keseluruhan dari masyarakat. Bahkan pada saat beliau masih muda sempat bergabung dengan ayahnya serta masyarakat lainnya untuk memberikan perlawanan kepada kolonial Belanda. Masyarakat Sumenep melakukan pergerakan secara serentak untuk memberikan perlawanan kepada kolonial Belanda dengan tujuan ingin memperjuangkan hak-hak mereka dan ingin merasakan kebebasan dalam kehidupan yang mereka jalani. Berbagai upaya mereka lakukan, menyuarakan hak asasi masyarakat dan melawan kekerasan dengan alat perang yang sangat tradisional.

Seiring berjalannya waktu, kemudian beliau menuntut ilmu di kota Sumenep. Sesuai tradisi masyarakat Sumenep yang ada, anak-anak yang masih kecil sudah diajarkan untuk mengaji ke langgar. Disana terdapat seorang Kaji (priyayi/kiai) yang sudah alim mengetahui ajaran agama Islam. Jika sudah selesai atau tamat ngaji di langgar tersebut, maka dilanjutkan untuk menuntut ilmu di pesantren. Tradisi ini berlaku sampai saat ini, dengan tujuan agar anak-anak paham dalam urusan agama dan membentuk karakter seorang anak yang shalih.

Begitu juga KH. Abdus Syakur, beliau mengaji di langgar lalu meneruskan pendidikannya belajar ilmu agama di pondok pesantren Al-Usmuni yang didirikan oleh KH. Usmuni dan berada di sebelah barat kota Sumenep, tepatnya di daerah Pandian Sumenep.

Dalam perjalanan pendidikannya, beliau tetap mengutamakan tata krama yang sudah tertanam dalam dirinya. Beliau mematuhi segala aturan yang berlaku di pesantren, taat dan patuh kepada kiai. Dalam kesehariannya di pesantren, beliau sering menyapu semua halaman pesantren. Setiap pagi ketika pengajian kitab berlangsung, beliau tidak ikut dalam majlis tersebut melainkan memilih menyapu semua halaman pesantren. Piket kebersihan yang belum terbentuk dan tiadanya kesadaran diri dari hati para santri untuk membersihkan halaman tersebut membuat KH. Abdus Syakur bergerak untuk memilih membersihkan halaman pesantren dari pada mengikuti pengajian kitab.

 Hari demi hari sang kiai terus memperhatikan para muridnya saat pengajian kitab berlangsung. Dari sini seorang kiai sadar bahwa ada salah satu muridnya yang tidak hadir dalam pengajiannya. Kiai pun terus mencari tahu keberadaan murid itu. Sang kiai pun menyusuri halaman pondok dan tak lama sang kiai mendapatinya sedang menyapu di halaman pesantren. Melihat hal itu sang kiai pun memanggilnya dan menanyakan maksud pekerjaan yang dilakukan si santri. Santri itu pun menjawab dengan halus dan tetap mengutamakan tata krama kepada sang kiai. Mendengar jawaban dari si santri, sang kiai pun merasa kagum dengan kesadaran hati nurani santri tersebut.

Dari kejadian tersebut, sang kiai pun memahami dan memaklumi tiadanya Abdus Syakur ketika pengajian berlangsung di setiap pagi, bahwa ia selalu membersihkan halaman pesantren. Sang kiai tetap mendoakan para santrinya dan berharap semua santrinya mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

Kebiasaan yang dilakukan KH. Abdus Syakur di pesantren bukan karena ingin bermalas-malasan, melainkan ingin mengabdi dan berharap dengan itu mendapatkan ilmu dan berkah dari Allah swt.

Sekian lama di pesantren KH. Abdus Syakur ingin pamit kepada sang kiai untuk mukim dan terjun di masyarakat, sang Kiai pun mengizinkannya untuk meneruskan perjuangannya di masyarakat

Dalam masyarakat, sikap ramah beliau terhadap santri sangat layak diapresiasi. Maka tak heran jika semua masyarakat segan dan menaruh rasa hormat kepada beliau. Ilmu yang beliau dapat dari pesantren langsung beliau terapkan di lingkungan masyarakat. Di samping itu beliau juga membuat langgar, yaitu tempat anak-anak mengaji pada malam hari dan mendirikan madrasah dengan nama MI Hidayatul Muttaqin. Sistem pembelajaran agama yang sampai sekarang ini terus di lestarikan dalam madrasah ini seperti nadzaman, syi’ir keagamaan serta tembang sifat-sifat Allah beserta Rasul, 10 Malaikat, 25 Nabi dan lain sebagainya. Semua ini dalam tradisi masyarakat Banasareh disebut ningdiningan  yang artinya dzikir atau berdzikir. Dan satu ajaran tarekat yang sangat khas di kalangan masyarakat Banasareh yaitu Shalawat Wahidiyah.

Perjalanan beliau berkiprah di masyarakat cukup lama. Usia beliau yang sudah senja dan kesehatan sudah menurun, mengharuskan dirinya untuk beristirahat dan mewasiatkan anak-anaknya untuk mengurusi madrasahnya. Beliau juga berwasiat, kelak jika beliau wafat agar anak-anaknya menjadi penerus berjuang untuk masyarakat.

Sakit yang beliau alami terus berkepanjangan membuat hati masyarakat sedih karena sosok yang sangat dikagumi kini sudah tidak mampu memberikan pengajaran langsung di langgar dan di pengajian umum lainnya.

Pada hari Rabu tahun 2011 tepatnya setelah waktu dzuhur, beliau kembali ke haribaan-Nya. Suasana ini menjadikan masyarakat merasa sangat terpukul karena mereka kehilangan sosok yang sangat ramah nan berakhlak mulia. Kemuliaan yang beliau milliki adalah sebab ketaatan beliau dan sikap rendah hati beliau kepada seorang guru dan kepada masyarakat.

Perjuangan beliau pun diteruskan oleh anak-anaknya, yang kini dalam kepemimpinan Kiai Ikhsan Syakur dan menantunya KH. Fathurrahman. Perjuangan yang diamanatkan berupa memperbesar lingkup wilayah madrasah dan mempermudah masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya di madrasah tersebut sesuai dengan petuah dari KH. Abdus Syakur. Nama beliau pun dikenang dan diabadikan dalam yayasan Banasareh dengan nama Yayasan As-Syakur.

Kisah singkat  ini diperoleh dari istri beliau, Nyai Suti’. Dahulu saat penulis masih berusia dini dan ngaji di yayasan As-Syakur. Dengan ingatan yang tersimpan dengan baik, penulis tuangkan ke dalam bentuk tulisan agar dapat dibaca oleh masyarakat.

 

Makam KH. Abdus Syakur

Sumber:

  • Nyai Suti`
  • Hj. Kholifah

Oleh: Moh. Ali Imron.

Leave a Reply