Diponegoro Perjuangan atau Pemberontakan?

Diponegoro Perjuangan atau Pemberontakan?

MAHADALYJAKARTA.COM – Pengakuan sebagai Pahlawan Nasional diperoleh Diponegoro pada tanggal 6 November 1973 tak hanya itu, Penghargaan tertinggi justru diberikan oleh Dunia pada 21 Juni 2013. UNESCO menetapkan Babad Diponegoro sebagai Memory of the World (Warisan Ingatan Dunia). Babad Diponegoro merupakan naskah klasik yang dibuat sendiri oleh Pangeran Diponegoro pada masa pengasingannya di Manado, Sulawesi Utara pada tahun 1832-1833 M. Di dalam babad Diponegoro tersebut menceritakan tentang masa kecil, perlawanan dan perjuangan Diponegoro secara umum. 

Pangeran Diponegoro lahir di Yogyakarta dengan nama Bendoro Raden Mas Antawirya pada tanggal 11 November 1785 M dari ibu yang merupakan seorang selir (garwa ampeyan) bernama R.A. Mangkarawati dan ayahnya Gusti Raden Mas Suraja, yang di kemudian hari bergelar Hamengkubuwono III. Dalam Tarikh Jawa kelahiran Diponegoro dianggap sangat bertuah karena jatuh pada bulan pertama tahun Jawa, yaitu bulan Jawa Sura. Dimana masyarakat percaya bahwa orang yang lahir pada saat itu kelak menjadi seseorang yang sangat fasih dan berpengaruh kata-katanya, bermurah hati dan berwatak pandita, tapi akan menghadapi banyak halangan dan kesulitan dalam hidup karena pembawaannya yang terus terang. Bendoro Raden Mas Antawirya diwisuda sebagai pangeran dengan nama Bendoro Pangeran Harya Diponegoro setelah ayahnya naik tahta.

Kenyataan bahwa Diponegoro dibesarkan di luar lingkungan kesultanan, di bawah asuhan kaum perempuan yaitu ibunda dan nenek buyutnya Ratu Ageng hingga usianya delapan belas tahun, telah banyak menyumbang pada perkembangan segi-segi feminim wataknya, kepekaan dan intuisinya terlihat dari kemampuannya membaca watak orang dengan mengamati raut muka yang disebut oleh orang jawa ngelamu firasat. Jika dilihat dari sudut pandang Keraton Yogya saat itu, Diponegoro mungkin saja dianggap sebagai orang kampung karena dibesarkan di luar lingkungan kesultanan. Tetapi bagi masyarakat, kebersahajaan suasana lingkungan masa kanak-kanaknya di Desa Tegalrejo mengajarkan kepada Pangeran untuk bergaul akrab dan menjalani hidup dengan santai tanpa merasa diri lebih tinggi dengan semua lapisan masyarakat Jawa.

Cara penataan Ratu Ageng yang cermat dan kerelaannya berniaga mungkin juga telah memberi kesan mendalam pada diri sang Pangeran. Dapat kita ketahui dari keterangan Belanda kemudian bahwa Diponegoro tidak ada bandingannya dengan para pangeran Yogya pada masa itu perihal penghasilan, yang sumbernya berasal dari tahan pertaniannya sendiri, sebab ia tidak melakukan pemerasan. Kekayaan pribadinya tersebut kemudian digunakan untuk membantu pembiayaan tahap-tahap awal Perang Jawa.

Ketika dewasa, Pangeran Diponegoro menolak keinginan sang ayah untuk menjadikannya sebagai raja dengan alasan bahwa posisi sang ibu yang bukan merupakan Permaisuri membuat dirinya merasa tidak layak untuk menduduki jabatan tersebut. Pangeran Diponegoro dikenal sebagai seorang yang cerdas, banyak membaca, dan ahli dalam bidang hukum islam-Jawa. Beliau juga lebih tertarik pada masalah-masalah keagamaan ketimbang masalah pemerintahan di keraton. 

Selain dari Babad Diponegoro, untuk mengidentifikasi riwayat kehidupan dari Pangeran Diponegoro dapat kita temukan di naskah-naskah keraton lainnya. Menurut Historical Dictionary of Indonesia, Diponegoro Pangeran adalah Pangeran Jawa, anak dari Sultan Hamengkubuwono III Yogyakarta. Setelah melewati suksesi ayahnya Diponegoro memilih untuk mengumpulkan militan berdasarkan reputasinya sebagai pimpinan spiritual yang pada akhirnya memimpin Jawa pada tahun 1825-1830 M melawan Belanda.

Diawali ketika wafatnya pendiri Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat, Sultan Hamengkubuwono I pada 24 Maret 1792, membuka peluang kepada bangsa Penjajah menancapkan pengaruhnya di lingkungan Keraton. Pengaruh Belanda semakin kuat di saat istana sedang labil lantaran Sultan Hamengkubuwono V masih kecil saat itu. Pemerintahan keraton yang sehari-harinya dikendalikan oleh Patih Danurejo dan Residen Belanda yang suka mabuk-mabukan membuat Pangeran Diponegoro tidak setuju dengan sistem perwalian seperti itu.

Campur tangan bangsa asing menyebabkan terjadi nya konflik di internal Keraton Yogyakarta. Dimulai dari pemasangan patok-patok di atas lahan milik Pangeran untuk pembuatan rel kereta api melewati makam para leluhurnya, yang dilakukan oleh Patih Danurejo atas perintah Belanda membuat Pangeran kecewa. Tindakan tersebut ditambah beberapa tingkah laku Belanda yang tidak menghargai adat istiadat daerah setempat, juga eksploitasi berlebihan terhadap rakyat dengan pajak yang amat tinggi. Kemudian membuat Pangeran membulatkan tekad untuk melakukan perlawanan dengan membatalkan pajak Puwasa dan menyatakan sikap perang.

Perang Diponegoro merupakan perang besar, sehingga perang tersebut lebih dikenal bukan Perang Diponegoro, melainkan Perang Jawa karena terjadi di tanah Jawa. Di beberapa literatur yang ditulis oleh Hindia-Belanda, menurut mantan Menteri Pendidikan dan kebudayaan Profesor Wardiman Djojonegoro terdapat pembelokan sejarah, bahwa penyebab perlawanan Pangeran Diponegoro disebabkan karena sakit hati terhadap pemerintahan keraton yang menolaknya menjadi raja. Padahal perlawanan yang dilakukan disebabkan sang pangeran ingin melepaskan penderitaan rakyat miskin akibat penyalahgunaan penyewaan tanah oleh Belanda, dan membebaskan istana dari madat.

Bagi Pangeran dan pengikutnya, perang ini merupakan perang jihad melawan Belanda dan orang Jawa yang murtad. Sebagai seorang muslim yang shaleh, Pangeran Diponegoro merasa tidak senang terhadap nilai religius yang mulai kendur di Istana Yogyakarta akibat pengaruh masuknya Belanda. Di samping kebijakan-kebijakan pro-Belanda yang dikeluarkan istana, infiltrasi pihak Belanda di istana dalam pandangan Pangeran telah membuat keraton Yogyakarta seperti rumah bordil.

Perang Jawa tak dapat dihindari. Pada 20 Juli 1825 Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya memulai dengan menerapkan strategi gerilya untuk menghadapi Belanda yang jelas lebih unggul dalam jumlah prajurit dan persenjataan. Kubu Pangeran Diponegoro bermarkas di Goa Selarong suatu kawasan pengunungan di wilayah Bantul yang terletak sekitar 26 km dari Keraton. 

Beberapa tokoh yang memiliki andil besar membantu Pangeran di antaranya Kiayi Mojo dan Alibasah Sentot Prawiridirjo, sedangkan pasukan belanda dipimpin oleh Jendral Hendrik Merkus de Kock. Pasukan Diponegoro selalu bergerak masuk keluar hutan, naik turun gunung dan menjelajahi banyak wilayah Yogja, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Strategi seperti ini sangat merepotkan Belanda dan terpaksa mengeluarkan banyak biaya dan mendatangkan pasukan bantuan. Belanda terpaksa menarik pasukan yang sedang menghadapi pertempuran di Sumatera Barat untuk membatu mengahadapi Perang jawa.

Kekuatan Belanda yang semakin bertambah membuat kubu Pangeraan Diponegoro mulai terdesak. Belanda melakukan penyerangan dengan sistem benteng, yang mengakibatkan satu demi satu pimpinan pasukan Diponegoro tertangkap termasuk Kiayi Mojo dan Alibasah. Belanda di bawah pimpinan jendral Hendrik Merkus de Kock berhasil menjepit pasukan Diponegoro di Magelang.

Pada 28 maret 1830 diadakan perundingan dengan De Kock, Pangeran Diponegoro menyatakan bersedia menghadiri  perundingan dengan syarat keluarga dan para pengikutnya di bebaskan. Perundingan tersebut ternyata taktik licik, Pangeran Diponegoro yang tidak bersenjata justru ditangkap dan ditahan. Ia diasingkan ke Benteng Fort Nieuw Amsterdam di Manado kemudian di pindahkan ke Benteng Rotterdam di Makassar. 

Akhir perang ini menegaskan penguasaan Belanda atas Pulau Jawa. Sejarah mencatat perang Diponegoro atau Perang Jawa sebagai perang yang menelan korban terbanyak dan kerugian materi mencapai 25 juta gulden. Akibat perang ini penduduk Jawa yang menjadi korban mencapai 200.000 jiwa, sementara korban tewas pihak Belanda sebanyak 8.000 tentara dan 7.000 serdadu pribumi.

Perang Diponogoro yang dikenal juga dengan De Java Oorlog merupakan perang besar yang berlangsung selama lima tahun (1825-1830). Perang ini merupakan salah satu pertempuran terbesar yang pernah dialami Belanda selama masa kependudukannya di Nusantara. Selama 21 tahun Diponegoro menghabiskan sisa hidupnya di Benteng Rotterdam di Makassar. Kemudian pada tanggal 8 Januari pukul 06.30 pagi Pangeran Diponegoro menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 69 tahun.(//) 

Referensi:

Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah Jilid I, (Bandung: Suryadinasti, 2014).

Robert Cribb dan Audrey Kahim, Historical dictionary of Indonesia, (Marland: Scarecrow Press, 2004).

Ny. Dra. Ambaristi Lasman Marduwiyota, Babad Dipanegara ing Nagari Ngayogyakarta Adiningrat I, (Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, 1983).

Peter Carey, Sisi Lain Diponegoro: Babad Kedung Kebo dan Historigrafi Perang jawa, (Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia, 2017).

Peter carey, Kuasa Ramalan Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa 1785-1855 Jilid I (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2011).

Kontributor: Nurul Zakinah Hairuddin, Semester II

Leave a Reply