Sejarah

As-Saffah, Sang Pengalir Darah

Ma’had Aly – Dinasti Abbasiyah merupakan periode kedua setelah runtuhnya kekuasaan Dinasti Umayyah. Khalifah pertamanya yaitu Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthallib bin Hisyam, atau biasa dipanggil Abul Abbas as-Saffah. Ia menjadi khalifah pertama Daulah Abbasiyah saat masih berusia 27 tahun. Abul Abbas dilahirkan pada tahun 108 H, di Al-Humaimah sebuah tempat di dekat Al-Balqa’. Ia dibesarkan ditempat tersebut dan dibaiat sebagai khalifah di Kuffah. Ia adalah seorang pemuda yang tampan, memiliki kewibawaan, berkulit putih, tinggi dan sangat sopan. Gelar as-Saffah (Pengalir Darah) ditujukan kepadanya kerena ia mengancam dan akan mengalirkan darah bagi orang-orang yang mengancamnya.

Pada tahun 132 H/750 M Dinasti Abbasiyah berhasil melakukan pertumpahan darah secara tragis sehingga mampu menumbangkan Dinasti Umayyah. Sehingga, Pada 24 Rabiul Awwal 132 H bertepatan dengan 24 Agustus 749 M, Abul Abbas as-Saffah diangkat dan dibaiat menjadi khalifah pertama. Khalifah Abul Abbas as-Shaffah mengerahkan pasukannya dibawah komando Abdullah bin Ali (paman Abul Abbas) mengejar pasukan Khalifah Marwan II. Pasukan Abdullah bin Ali dapat merebut wilayah Syiria dan Palestina dari tangan pasukan khalifah Marwan II. Kemudian, Abdullah bin Ali diangkat oleh khalifah Abul Abbas sebagai gubernur untuk wilayah Syiria dan Palestina yang berkedudukan di Damaskus.

Kekalahan pasukan Marwan bukanlah akhir penderitaan bagi Daulah Abbasiyah, karena di antara mereka masih terdapat banyak komandan militer yang mendukung Bani Umayyah yang masih memiliki kekuatan dan masih memiliki ambisi untuk mengembalikan Daulah Umayyah. Mereka bisa sewaktu-waktu melakukan pemberontakan. Sehingga, Abul Abbas as-Saffah semasa hidupnya banyak menumpas pemberontakan-pemberontakan terutama di bagian Syam dan Al-Jazirah.

Daulah Abbasiyah memindahkan ibu kota negara dari Damaskus ke Baghdad. Jika Daulah Umayyah memakai bendera-bendera negara berwarna merah, maka Daulah Abbasiyah menggunakan bendera berwarna hitam. Sejak sebelum Islam, Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah ini, yang masih satu keturunan dari nenek moyang yang sama, yaitu Abdi Manaf sudah terlibat dalam perseteruan, pertikaian, dan konflik. Di zaman Nabi Muhammad saw. konflik antara dua Dinasti ini mereda dan dapat diredam. Pada masa khalifah Utsman bin Affan, konflik keduanya mulai tersulut lagi.

Menurut H. Faisal Ismail dalam bukunya Sejarah & Kebudayaan Islam (Periode Klasik Abad VII-XIII M), Pada pemerintahan Daulah Abbasiyah ada 37 Khalifah yang berlangsung dari 132-656 H/7750-1258 M, yaitu selama 524 tahun menurut hitungan kalender hijriyah atau 508 tahun menurut hitungan kalender masehi. Di antara banyaknya khalifah tersebut, ada beberapa khalifah yang mempunyai prestasi baik selama memerintah yaitu Abu Ja’far al-Mansur, Harun ar-Rasyid, dan al-Makmun.

As-Saffah dibaiat sebagai khalifah pada tanggal 3 Rabi’ul Awwal tahun 132 H. Tatkala kabar pembaiatan as-Saffah terdengar ke telinga Marwan, maka ia segera berangkat dengan pasukannya untuk memadamkan pemberontakan. Namun, dia kalah dalam pertempuran tersebut. Ia sendiri terbunuh saat as- Saffah dibaiat sebagai khalifah, banyak khalifah dari kalangan Bani Umayyah dan tentaranya yang terbunuh dalam jumlah yang tak terhitung. Pada saat itulah kerajaan-kerajaan bersatu di bawah kekuasaan Bani Abbasiyah hingga mencapai Maghrib.

Menurut Imam as-Suyuthi dalam kitabnya Tarikh Khulafa menyatakan bahwa adz-Dzahabi berkata “Dengan munculnya Daulah Abbasiyah ini, maka terpecahlah jama’ah kaum muslimin dan banyak yang melakukan pemberontakan. Pemberontakan itu terbentang dari Tahar (kini menjadi wilayah Afganistan). Thibnah, Sudan, dan semua kerajaan kecil di Andalus (Spanyol). Negeri-negeri itu kemudian memisahkan diri dari kekhalifahan.”

Menurut Syaikh Muhammad al-Khudhari dalam bukunya Bangkit dan Runtuhnya Daulah Abbasiyah menjelaskan bahwa, as-Saffah meninggal dunia akibat penyakit cacar, pada bulan Dzulhijjah tahun 136 H ketika menetap di Anbar. Kemudian ia mengangkat adiknya Abu Ja’far untuk menggantikan dirinya setelah kematiannya. Pada tahun 134 H, ia pindah ke Ambar yang ia jadikan sebagai pusat pemerintahannya.

Mereka berkata, “As-Saffah adalah sosok yang demikian gampang menumpahkan darah. Perilaku ini banyak diikuti oleh pejabatnya di barat dan timur. Walaupun begitu, dia sangat terkenal dengan kemurahan hatinya.”

Beberapa tokoh penting yang meninggal di zamannya yaitu Zaid bin Aslam, Abdullah bin Abu Bakar bin Hazam, Rabi’ah ar-Ra’yi salah seorang tokoh fikih Madinah, Abdullah bin Umar, Yahya bin Abi Ishaq al-Hadhrami, Abdul Hamid seorang penulis yang sangat terkenal dia terbunuh di Bushair bersama Marwan, Mansur bin al-Mu’tamir serta Hammam bin Munabbih.

 

Referensi
1. Ismail, Faisal. Sejarah & Kebudayaan Islam (periode klasik abad VII-XIII M). (Yogyakarta: IRCiSoD)
2. As-Suyuthi, Imam. Tarikh Khulaf: Sejarah Para penguasa Islam. Terj (Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 2018)
3. Al-Khudhari, Syaikh Muhammad. Bangkit dan Runtuhnya Daulah Abbasiyah. (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2016)
4. http://scientific-journals.net/Journal/EKBIS/EKSISBANK_2018_2_eka.pdf. Diakses pada Senin, 08 April 2019, Pukul 11.15 WIB.

Oleh : Milasari, Semester IV

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *