Webinar Ilmiah, Upaya Ma’had Aly Jakarta Hindari Kekeliruan Pemahaman Sejarah Islam di Nusantara

Ma’had Aly – Webinar Ilmiah bertajuk “Jejak Islam di Nusantara untuk Masa Depan Indonesia” sukses terlaksana, pada Sabtu pagi (29/08). Seminar ilmiah ini dilaksanakan secara virtual by zoom meeting dengan narasumber utama, Dr. Ali Akbar dari Departemen Arkeologi FIB UI dan Filolog, Kyai Ahmad Baso serta dimoderatori oleh dosen Ilmu Sejarah Ma’had Aly Jakarta, Sufyan Syafi’i. Seminar berlangsung asyik penuh antusiasme partisipan. Sebuah kehormatan khusus bahwa seminar ini langsung disimak via virtual oleh Prof Joko Marihandono, Kepala Departemen Sejarah Universitas Indonesia.

Dr. Ali Akbar dalam pemaparannya, membenarkan bahwa banyak pendistorsian pada peristiwa sejarah. Oleh karenanya, para pelajar sejarah khususnya untuk terus mengkaji, menggali dan meluruskan sejarah yang tidak sesuai bukti yang ada, agar dari peristiwa sejarah masa lalu itulah dapat diambil sebagai pelajaran di masa kini dan nanti.

Secara umum, proses Islamisasi di Indonesia dilakukan oleh para ulama (guru sufi dan auliya), bukan panglima. Seorang guru sufi yang bukan dimainkan oleh politik yang menjadikan Islam bercorak politis dan militeristik, namun guru sufi yang pandai memainkan peta politik. Ini menggambarkan bahwa benar Islam di Indonesia memang Islam yang berorientasi pada tasawuf dan ilmu pengetahuan, sehingga sedikit banyak cukup membuktikan bahwa Islam telah menjadi rahmatan lil alamin. Hal ini diaminkan Kyai Ahmad Baso seraya menjelaskan tentang hubungan Islam yang datang dan berkembang melalui peta Rute Dinasti Tang-Khilafah Abbasiyah.

“Masa depan Islam di Indonesia tergantung bagaimana kita menggerakkan ghirah semangat para wali, bagaimana agar Islam benar menjadi Rahmatan lil Alamin (Rahmat bagi seluruh alam)”, tegasnya.

Webinar diakhiri dengan pengumuman pemenang lomba menulis esai nasional yang diadakan Ma’had Aly Jakarta, mulai 15-25 agustus 2020. Dari 420 naskah yang sudah disortir kemudian dinilai oleh Kyai Ahmad Baso dan Dr. Nasrullah Jasam sebagai tim penilai, dihasilkan tiga juara umum dan satu juara khusus yaitu: Juara I, Ali Nugraha (Sekolah Tinggi Filsafat Islam Sadra) dengan judul “Dialektika Kontinuitas dan Perubahan ala KH. Wahid Hasyim: Sebuah Warisan Indonesia Maju”; Juara II, A. Faiqil Faqih (Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo) dengan “Simbolisasi Masjid Agung Demak: Refleksi Nilai Nasionalisme); Juara III, M. Iqbal Arrosyid (Ma’had Aly Maslakul Huda Pati) dengan “Tradisi Tulis Menulis Menjadi Penggerak” serta Putri Latifah (MAN 1 Muara Enim Sumsel) dengan “Islam dan Kebangsaan: Dua Sumber Persatuan Bangsa dalam Perspektif Gus Dur). (Lyda)

Antusiasme terlihat dari banyaknya peserta menulis essai nasional dan mahasantri Ma’had Aly Jakarta, menghujani narasumber dengan berbagai pertanyaan seputar kesejarahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *