Wahyu Pertama yang Penuh Pelajaran

“Turunnya wahyu pertama kali di gua Hira merupakan peristiwa bersejarah yang memiliki banyak pelajaran penting untuk kita pahami dan kita renungi. Ketika Rasulullah memilih mengasingkan diri dari keramaian. Ketika Jibril datang tiba-tiba dan mendekap membuat Nabi gemetar. Ketika Khadijah mampu membuat Nabi nyaman sepulang bertemu an-Namus. Semua itu memiliki hikmah dan pelajaran penting untuk bersama kita renungi.”

Usia Nabi Muhammad SAW mendekati 40 tahun dan perenungannya terdahulu telah memperluas jurang pemikiran antara dirinya dan kaumnya, Nabi Muhammad SAW memilih untuk lebih sering mengasingkan diri. Dengan bekal roti gandum dan air secukupnya, beliau pergi ke gua Hira yang terletak di Jabal Nur, jarak tempuh 2 mil dari Mekah. Gua Hira adalah gua yang sejuk dengan panjang 4 hasta dan lebar 1,75 hasta dengan ukuran dzira’ alhadid (hasta ukuran besi).

Kebiasaan beliau ini dilakukan saat bulan Ramadhan. Di sana beliau juga memberi makan setiap menjumpai orang miskin yang mengunjunginya. Menghabiskan waktu untuk beribadah dan lebih banyak berpikir serta merenung akan keadaan alam sekitarnya dan kekuasaan Sang Pencipta di baliknya. Kondisi umat yang masih dalam riuh belengguh kesyirikan, membuat Nabi ingin menenangkan diri sejenak di gua itu, juga sebagai jeda atas segala dinamika kehidupan dunia yang sedikit menjemukan.

Ini sudah skenario Allah SWT Uzlah yang Nabi lakukan itu terjadi menjelang tiga tahun sebelum beliau diangkat menjadi rasul. Uzlah sebagai usaha menenangkan jiwa dan juga untuk mempersiapkan diri menuju pengembanan amanah kerasulan yang begitu agung.

Jibril Turun Membawa Wahyu

Genap sudah usia beliau menjadi 40 tahun. Masa pengasingan diri (uzlah) sudah berlangsung selama 3 tahun. Turunlah Jibril dengan membawa beberapa ayat Alquran. Peristiwa ini terjadi pada hari Hari Senin, tanggal 21 Ramadhan, di malam hari, bertepatan dengan tanggal 10 Agustus tahun 610 M. Lebih tepatnya, usia beliau saat itu adalah 40 tahun, 6 bulan, 12 hari berdasarkan kalender Hijriyah dan sekitar 39 tahun, 3 bulan, 20 hari berdasarkan kalender Masehi.

Secara detail, peristiwa ini dijelaskan dalam hadis riwayat ‘Aisyah berikut:

أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ وَهُوَ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ اقْرَأْ قَالَ مَا أَنَا بِقَارِئٍ قَالَ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ قُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ 

Awal turunnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dimulai dengan ar ru’ya ash shadiqah (mimpi yang benar dalam tidur). Dan tidaklah Beliau bermimpi kecuali datang seperti cahaya subuh. Kemudian Beliau dianugerahi rasa ingin untuk menyendiri. Nabi pun memilih gua Hira dan ber-tahannuts. Yaitu ibadah di malam hari dalam beberapa waktu. Kemudian beliau kembali kepada keluarganya untuk mempersiapkan bekal untuk ber-tahannuts kembali. Kemudian Beliau menemui Khadijah mempersiapkan bekal. Sampai akhirnya datang Al Haq saat Beliau di gua Hira. Malaikat Jibril datang dan berkata: “Bacalah!” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan: Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!”. Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Malaikat itu memegangku kembali dan memelukku untuk ketiga kalinya dengan sangat kuat lalu melepaskanku, dan berkata lagi: (Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah)” (HR. Bukhari no. 6982, Muslim no. 160).

Hikmah dan Pelajaran

  1. Permulaan Wahyu Berupa Mimpi

Hadis di atas menjelaskan bahwa wahyu pertama yang Rasulullah alami dalam berupa ar-ru’ya ash-shalihah (mimpi yang benar). Maksud di sini adalah mimpi baik yang melapangkan hati dan membersihkan jiwa. Hikmah cara penerimaan wahyu pertama dalam bentuk mimpi adalah, supaya Nabi bisa menangkap wahyu itu dengan baik. Andai saja wahyu pertama itu beliau terima dalam keadaan terjaga, bukan mimpi, bisa jadi Nabi sangat terkejut dan nabi tidak fokus sehingga tidak bisa menangkap apapun. Dengan kata lain, mimpi ini merupakan langkah awal dan pembiasaan sebelum wahyu berikutnya yang diterima dalam keadaan terjaga, sehingga Nabi lebih siap. (Syarah Sahih Muslim, [2/374]) al-Mufham [1/374)

Dalam hadis sahih dijelaskan bahwa ‘mimpi yang benar’ ini merupakan satu dari bagian 46 kenabian (nubuwwah). Para ulama mengatkan bahwa masa ‘mimpi yang benar’ ini selama enam bulan, sebagaimana dituturkan oleh al-Baihaqi. Mengenai ayat Alquran, tidak ada yang diturunkan melalui mimpi, semua diturunkan dalam keadaan Nabi terjaga. (Dr. Ali Muhammad as-Shallabi , as-Sirah an-Nabawiyah ‘Ardlu Waqa’i wa Tahlil Ahdats, Cetakan Dar al-Fikr, Beirut, hlm. 73)

  1. Kebiasaan Menyendiri Nabi

Sebelum Nabi menerima wahyu, beliau lebih suka menyendiri. Apa faedah di balik semua ini?

Nabi melakukan hal ini sebagai upaya untuk mengosongkan hati, pikiran dan jiwa. Beliau gunakan untuk beribadah dalam gua Hira. Dengan begitu beliau telah berusaha untuk mengistirahatkan diri sejenak dari kesibukan-kesibuan duniawi dan lebih bisa mendekatkan diri Nabi kepada Allah SWT. Ibadah yang beliau lakukan saat itu adalah berupa perenungan mendalam perihal semesta dengan segala keindahan kekuasaan-Nya. Merenungi kebesaran Sang Pencipta dan kebijaksanaan-Nya dalam mengatur semesta dan agung penciptaan-Nya. 

Aktifitas penyendirian semacam ini biasa dilakukan oleh hamba-hamba Allah yang sedang menuju ke jalan-Nya. Mereka gunakan untuk merenung, berdzikir dan beribadah dalam proses perjalanannya itu agar hati menjadi terang, dijauhkan dari kelalaian, terhindar dari bujuk rayu hawa nafsu. Oleh karena itu, di antara sunah Nabi adalah memperbanyak i’tikaf pada bulan Ramadhan. (Dr. Ali Muhammad as-Shallabi , as-Sirah an-Nabawiyah ‘Ardlu Waqa’i wa Tahlil Ahdats, Cetakan Dar al-Fikr, Beirut, hlm. 73)

  1. Kasih Sayang Nabi

Dalam hadis ‘Aisyah di atas dijelaskan bahwa, Nabi Muhammad SAW beribadah pada malam hari untuk ‘beberapa’ waktu. Syekh Muhammad Abdullah Darraz menjelaskan bahwa, (kata beberapa waktu), menunukan arti durasi waktu yang tidak terlalu sedikit, juga tidak terlampau banyak. Ini merupakan sikap tidak berlebihan dalam beramal yang biasa Nabi lakukan sejak sebelum diutus. Ini juga sebagai bukti eksistensi agama Islam yang ramah, penuh kasih dan tidak memberatkan. Bukankah Allah mengutus Nabi Muhammad sebagai kasih (rahmat) bagi semesta alam? (al-Mukhtar Min Kunuz as-Sunnah an-Nabawiyah, hlm. 19)

  1. Ilmu adalah Kemuliaan Manusia

Peristiwa di gua Hira saat turunnya wahyu pertama berupa turunnya ayat Alquran surat al-‘Alaq ayat 1-5. Ayat Alquran tersebut menjelaskan tentang awal penciptaan manusia dari segumpal darah (‘alaqah) dan juga tentang ilmu yang merupakan keistimewaan dan anugerah dari Allah untuk Nabi Adam. Dengan ilmu, Adam lebih mulia daripada malaikat. Sebagai ayat di fase awal kenabian, ini menjadi nilai keagungan yang luar biasa.

  1. Kemuliaan Agama Islam

Dalam peristiwa di gua Hira itu, berkali-kali malaikat Jibril mendekap erat Nabi Muhammad SAW sampai Nabi merasa begitu letih dan payah. Ini bukan tanpa makna. Ada isyarat di balik semua ini. Hikmah di balik semua ini adalah sebagai bukti, bahwa agama Islam adalah agama yang sangat agung. Agama ini diperoleh setelah Nabi merakan kepayahan yang sangat saat menerima wahyu pertama.

  1. Istri Salehah Menjadi Salah Satu Faktor Keberhasilan Dakwah

Saat Nabi Muhammad SAW gemetar setelah menerima wahyu pertama di gua Hira. Khadijah lah yang berusaha menenangkan beliau saat itu. “Demi Allah! Dia tidak akan menghinakanmu selamanya! Engkau adalah penyambung tali kerabat, pemikul beban orang lain yang dalam kesusahan, pemberi bagi orang yang tidak mampu, penjamu tamu serta pendukung setiap upaya penegakan kebenaran,” tutur Khadijaah berusaha menenangkan Nabi saat itu.

Khadijah sebagai istri pertama Nabi merupakan wanita salehah yang memiliki kecerdasan, kehormatan di tengah-tengah kaumnya, dan memiliki peran penting dalam menyukseskan misi dakwah Nabi. Keutamaan dan keunggulan Khadijah banyak diabadikan para ulama dalam kitab-kitab mereka. Bahkan, tidak sedikit pula kitab yang spesial menuliskan biografinya secara detail dan lengkap.

  1. Ajaran Luhur Ayat Pertama

Sebanarnya ada dua pendapat mengenai ayat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW. Pendapat pertama mengatakan bahwa surat al-Iqra yang pertama kali turun sebagaimana penulis cantumkan hadis riwayat ‘Aisyah di atas. Sementara pendapat kedua mengatakan bahwa surat yang pertama kali turun dalam al-Muddatsir (1-4). Hanya saja Imam Nawawi dalam Syarah Muslim (2/382) memilih surat al-Iqra sebagimana haids riwayat  ‘Aisyah.

Berpijak pada pendapat kedua, pendapat yang menagatakan bahwa surat al-Muddatsir (1-5) merupakan ayat yang pertama kali turun. Pada surat tersebut terdapat empat nilai luhur dalam Islam. Allah berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُدَّثِّرُ قُمۡ فَأَنذِرۡ وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ  

“Hai orang yang berkemul (berselimut). bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah! dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah.” (QS. Muddatsir[74]: 1-5)

Imam Nawawi menjelaskan, ayat يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُدَّثِّرُ memiliki arti ancaman siksa bagi orang yang beriman. Ayat وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ menjelaskan keagungan Allah dan terhindar dari hal-hal tidak pantas bagi-Nya. Ayat وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ ada yang mengatakan maknanya adalah mensucikan najis. Ada yang memaknai memotong yang terneka najis. Diakatan bahwa yang dimaksud pakaian (tsiyab) itu  adalah jiwa yang suci dari dosa dan segala bentuk kekurangan. Dan kata وَٱلرُّجۡزَ adalah menyekutukan Allah (syirik), ada yang mengatakan artinya dosa, ada pula yang mengatakan artinya kezdaliman. (Syarah Muslim, juz 2, hlm. 383)

Referensi

al-Mukhtar min Kunuz as-Sunnah an-Nabawiyah karya Dr. Muhammad Abdullah Darraz

Syarah Sahih Muslim karya Imam Nawawi

as-Sirah an-Nabawiyah ‘Ardlu Waqa’i wa Tahlil Ahdats karya Dr. Ali Muhammad as-Shallabi

Rahiq al-Makhtum karya Safyurrahman al-Mubarakfuri

As-Sirah An-Nawabiyah Durus wa ‘Ibar karya Musthafa as-Siba’i

Kontributor: M. Abror, Semester VI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *