Tidak Ada Rahmat Tanpa Nabi Muhammad

Qs. Al Qashah wa Qs. Al Anbiya Naz’u al Tatharruf fi Tafsir al Qur’an

(Kitab Tafsir Ibn Katsir)

Narasumber: Dr. Ali Mufroh, M. Pd. I

Kilau intan berbinar karena cahayanya langsung dari Allah swt., sinarnya berkilau ke tiap penjuru dunia. Ia mampu menguak tabir kegelapan, kekufuran dan kesesatan hingga dapat mengubah jalan kehidupan dan meluruskan garis sejarah. Tak heran setiap pendengar merasa terpukau mendengar lantunannya. Lantunan ayat suci al-Qur’an yang merupakan kalam Allah swt. diamanahkan kepada insan kesayangan-Nya, yaitu Nabi Muhammad saw.

Allah swt. menurunkan Al-Qur’an melalui Nabi Muhammad saw sebagai rahmat bagi seluruh alam. H. M. Quraish Shihab dalam Tafsirnya, al-Mishbah, menafsirkan ayat tersebut dengan mengatakan bahwa Rasul adalah rahmat, bukan saja kedatangan beliau membawa ajaran, tetapi juga sosok dan kepribadian beliau adalah rahmat yang dianugerahkan Allah Swt kepada beliau. Ayat ini tidak menyatakan bahwa Kami tidak mengurus engkau untuk membawa rahmat, tetapi sebagai rahmat atau agar engkau menjadi rahmat bagi seluruh alam. Banyak dalil yang menjelaskan hal tersebut, seperti dalam surat Al-Anbiya ayat 107 dan surat Al-Qashash ayat 86.

QS. Al-Anbiya (21) ayat  107:

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ 

Artinya: Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.

QS. Al Qasas (28) ayat 86:

وَمَا كُنْتَ تَرْجُوْٓا اَنْ يُّلْقٰٓى اِلَيْكَ الْكِتٰبُ اِلَّا رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَ  فَلَا تَكُوْنَنَّ ظَهِيْرًا لِّلْكٰفِرِيْنَ ۖ 

Artinya: Dan engkau (Muhammad) tidak pernah mengharap agar Kitab (Al-Qur’an) itu diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) sebagai rahmat dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali engkau menjadi penolong bagi orang-orang kafir.

Dilihat dari dalil Al-Qur’an di atas, bisa dikatakan bahwa, jika Nabi Muhammad saw tidak ada, maka rahmatpun tidak akan turun kepada umat manusia sampai saat ini. Rahmat merupakan gabungan dari kata rahman dan rahim. Di dalamnya berisi kandungan bahwa sebenarnya Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin atau membawa kasih sayang untuk seluruh alam, tidak memandang ras, suku ataupun agama. Maka esensi yang ada dalam Islam rahmatan lil alamin setidaknya mencakup 4 sifat utama yaitu:

  1. Pluralisme, bersedia dan menerima keberagaman. Artinya, hidup secara toleran dan saling menghormati pada tatanan masyarakat yang berbeda suku, agama, adat, golongan hingga pandangan hidup.
  2. Humanis, mendambakan dan memperjuangkan terwujudnya pergaulan hidup yang lebih baik, berdasarkan asas perikemanusiaan, menganggap bahwa manusia adalah objek terpenting.
  3. Dialogis, dialogis ini bersifat terbuka dan komunikatif (berhubungan) atau komunikasi. Maka, komunikasi dialogis adalah proses penyampaian dan penjelasan pesan antarpersonal yang menunjukkan adanya interaksi.
  4. Toleransi, sikap saling menghormati dan menghargai antarkelompok atau individu yang dapat menghindari terjadinya diskriminasi.

Berdasarkan keempat sifat tersebut, maka sudah selayaknya Al-Qur’an dijadikan landasan dalam mengatur dialektika masyarakat terutama dalam perbuatan radikalisme.

Radikalisme adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Menurut teori sosiologi, “Pengetahuan yang kita dapat akan sangat mempengaruhi sebagian besar tindakan kita”. Maka, jika yang diinstal adalah teologi dan metodologi yang radikal, maka sikap dan pemikirannya akan terbawa oleh arus radikal tersebut disadari atau tidak disadari.

Ada beberapa ayat Al-Qur’an serta redaksi hadis yang berpotensi menjadi justifikasi timbulnya tindakan kekerasan atau radikal oleh aliran-aliran atau golongan-golongan tertentu karena keliru dalam memahami dan menafsirkannya. Beberapa penyebab lahirnya sifat radikalisme adalah sebagai berikut:

1. Problem Idiologi secara tertutup dan sistematis

2. Problem metodologi

  • Pemahaman yang tidak utuh.
  • Memahami al-qur’an dan hadits dengan kontekstual.
  • Hanya memandang legal dan formal.

Dari beberapa penyebab ini sering kali ada oknum yang melakukan tindakan radikalisme dengan mengatas namakan agama dan karena diiming-imingi balasan jihad. Contoh ayat Al-Qur’an yang sering salah dimaknai dan dijadikan landasan para oknum aliran islam yang melakukan tindakan terorisme adalah pada surah Al-Anfal ayat 60:

وَاَعِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ وَّمِنْ رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُوْنَ بِهٖ عَدُوَّ اللّٰهِ وَعَدُوَّكُمْ وَاٰخَرِيْنَ مِنْ دُوْنِهِمْۚ  لَا تَعْلَمُوْنَهُمْۚ  اَللّٰهُ يَعْلَمُهُمْۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يُوَفَّ اِلَيْكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تُظْلَمُوْنَ 

Artinya: Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; tetapi Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan).

Padahal jika dipelajari dan dipahami secara utuh, konteks ayat ini hanya sebagai persiapan militer untuk menjaga keamanan suatu negara. Paradigma dalam beragama terutama dalam agama Islam adalah لا اكراه في الدين  “tidak ada paksaan dalam agama.” Maka ayat ini mentakhsis semua ayat radikal yang disalah artikan oleh kelompok tertentu dengan mengatas namakan agama dan jihad. Islam tidak mengajarkan apalagi menganjurkan umatnya melakukan tindakan radikal, justru Islam adalah rahmatan lil’alamin, memberi kasih sayang untuk seluruh alam.

Kontributor: Dalimah N. H., Semester V

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *