Tentara Bergajah Versus Burung Ababil

Ma’had Aly – Ada banyak kisah peperangan dan penaklukan yang terjadi pada masa sebelum maupun sesudah diutusnya Nabi Muhammad saw. sebagai Nabi yang terakhir diutus oleh Allah swt. Dalam hidup beliau selama  memperjuangkan agama Allah swt, Nabi mampu menundukkan kota kecil hingga negara dan kerajaan yang digdaya di zamannya untuk tunduk pada Islam. Lalu kejadian lain yang menggemparkan pra-kelahiran Nabi, berupa kisah batalion pasukan bergajah yang dianggap pasukan paling kuat di zamannya, tepat sebelum Rasulullah saw. dilahirkan.

  • Konflik Antara Dua Penguasa

Sejarah mencatat bahwa, pemimpin pasukan gajah yang digdaya ini adalah seorang penguasa Yaman bernama Abrahah. Orang yang pertama kali berhasil menaklukan Yaman pada tahun 525 M adalah Aryath yang berasal dari negeri yang sama dengan Abrahah, yaitu Habasyah (Ethiopia). Aryath diangkat menjadi penguasa Yaman oleh raja Habasyah pada tahun 525 M atas pencapaiannya menaklukkan Yaman. Namun Abrahah yang pada saat itu masih menjadi seorang komandan dalam pasukan Aryath akhirnya membelot bersama beberapa orang yang menjadi pengikutnya. Lalu terjadilah konflik antara mereka berdua hingga akhirnya keduanya dipertemukan dalam sebuah pertarungan duel satu lawan satu yang dimenangkan oleh Abrahah meskipun dengan cara yang licik. Dan Abrahah pun diangkat menjadi penguasa Yaman setelah direstui oleh raja Habasyah pada tahun 549 M.

Abrahah adalah seorang berkebangsaan Habasyah, memiliki postur tubuh yang besar dan memiliki bekas luka di wajahnya yang merobek alis, hidung, matanya, dan kedua bibirnya. Karena itulah ia dinamakan Abrahah al-Arsyam (robek). Ada beberapa penyebab yang melatarbelakangi Abrahah berniat menghancurkan Ka’bah, dari sisi politik maupun sisi subjektif. Ia membangun sebuah tempat ibadah yang bernama al-Qullais, bangunan megah yang tujuannya menandingi kesucian Ka’bah. Hal itu juga agar orang-orang yang berhaji setiap tahun ke Ka’bah akan berpindah ke al-Qullais yang dibangunnya itu. Hasil dari usaha Abrahah itu sia-sia dan orang yang berhaji tetaplah menuju ke Baitullah Ka’bah setiap tahunnya. Karena itulah ia merasa sangat geram dan geramnya semakin bertambah sebab ada seorang Arab yang berani membuang hajat di bangunan megah tersebut. 

Maka berangkatlah ia mempersiapkan pasukan terkuat, yaitu pasukan gajah untuk menyerang dan menghancurkan Ka’bah yang didatangkan langsung dari Ethiopia. Padahal tujuan awalnya agar orang yang berhaji berpindah haluan serta meningkatkan perekonomian di Yaman. Ini terbukti saat utusan pertama Abrahah yaitu Al-Aswad bin Maqsud diutus untuk mengambil kekayaan penduduk Mekkah secara keseluruhan, termasuk 200 unta milik Abdul Muthalib, kakek Rasulullah saw., yang saat itu menjadi pemimpin di kota Nabi.

  • Berangkat Menuju Mekkah

Abrahah berangkat menuju Mekkah untuk menghancurkan Ka’bah dan hal itu tidaklah berjalan mulus. Ia mendapat hadangan dari tokoh-tokoh Yaman yang ingin membela Ka’bah, meskipun pasukan tersebut dapat dikalahkan dengan mudahnya karena Abrahah membawa pasukan terkuat, pasukan gajah. Diantara tokoh-tokoh yang menghadang Abrahah saat perjalanan adalah Dzu Nafr, Nufail bin Habib al-Khats’ami, dan Mas’ud bin Mu’atthib. 

Sesampainya di Mekkah, Abrahah melakukan pertemuan dengan Abdul Muthalib selaku pemimpin Mekkah pada waktu itu. Sebagaimana ucapan Ibnu Ishaq, dalam pertemuan itu Abrahah menjelaskan kepada Abdul Muthalib bahwa tujuan dia datang tidak untuk menghancurkan kota Mekkah melainkan hanya untuk menghancurkan Ka’bah. Lalu kakek Rasulullah ini menjawab dengan tenangnya, “Keperluanku ialah hendaknya raja Abrahah mengembalikan 200 ekor unta yang telah dirampasnya dariku. Sesungguhnya aku adalah pemilik unta dan rumah (Ka’bah) tersebut juga mempunyai pemilik yang akan melindunginya.” Abdul Muthalib sama sekali tidak menyinggung tujuan Abrahah untuk menyerang Ka’bah yang telah ribuan tahun menjadi monumen agama nenek moyangnya. Mendengar jawaban dari Abdul Muthallib ini,sontak Abrahah tersinggung dan segera menyudahi pertemuan tersebut dan langsung mempersiapkan penyerangan Ka’bah.

Setelah melakukan pertemuan dengan Abrahah, Abdul Muthallib kembali ke Mekkah dan mengungsikan seluruh penduduk Mekkah dan berlindung di puncak gunung dan syi’b (jalan di antara dua gunung), agar tidak terkena dampak dari serangan pasukan Abrahah. Setelah itu Abdul Muthalib memegang rantai pintu Ka’bah sembari berdo’a memohon pertolongan-Nya atas Abrahah dan pasukannya.

  • Pesawat Tempur di atas Ka’bah

Pertemuan Abrahah dan Abdul Muthalib tidak merubah apapun atas rencana Abrahah untuk tetap menghancurkan Ka’bah. Maka Abrahah bersama pasukan gajahnya mengguncang siapa pun yang berdiri di atas tanah, dan segera mempersiapkan segala sesuatu guna melancarkan serangan keesokan harinya. Namun usahanya itu digagalkan hanya oleh segerombolan burung.

Allah swt. berfirman yang artinya:

“Dan Kami kirim kepada mereka burung ababil. Melontari mereka dengan batu kecil panas. Yang menjadikan tubuh mereka berlubang-lubang seperti daun dimakan ulat.” (Q.S. Al Fiil [105]: 3-5)

Peristiwa ganjil ini benar-benar terjadi karena telah jelas dalam ayat Al Qur’an yang menceritakan kejadian tersebut. Selain itu, bukti bahwa kejadian itu benar adanya adalah tidak ada orang yang membantah saat diturunkannya surat al-Fiil ini di Makkah, bahkan orang musyrik pun membenarkan kejadian ini, hingga ada beberapa diantara mereka yang membuat syair tentang kejadian tersebut. Dalam at-Tafsirul Kabir karya Fahru Razy dijelaskan secara detail bahwa gajah yang ikut dalam penyerangan Ka’bah saat itu adalah berjumlah 9 atau 12 ekor gajah beserta prajurit dan persenjataan lengkap, dan gajah yang terbesar adalah milik sang raja yang diberi nama Mahmud.

Sesampainya seluruh pasukan gajah ini di pintu masuk Ka’bah, terjadi keanehan pada gajah-gajah tersebut termasuk gajah terbesar milik Abrahah. Gajah-gajah ini enggan melewati pintu masuk Mekkah, justru mereka duduk saat  para tentara hendak menyeretnya masuk ke dalam kota Makkah. Namun ketika gajah ini dihadapkan ke arah Yaman dan Syam, mereka langsung berdiri dan lari menjauhi kota Mekkah. Kemudian Allah swt mengirim untuk Abrahah dan pasukannya burung-burung seperti burung layang-layang dan burung balsan (sejenis burung tiung) dari arah laut. Setiap burung membawa tiga batu; satu batu di paruhnya dan dua batu di kedua kakinya. Jika batu-batu tersebut mengenai pasukan Abrahah, ia  pasti tewas, namun tidak semuanya dari mereka terkena batu tersebut. Mereka lari kocar-kacir mencari jalan keluar dan tempat untuk berlindung. Dan raja Abrahah sendiri mendapat luka di tubuhnya, kemudian ia dilarikan menjauh dari Mekkah oleh anak buahnya. Namun anggota tubuh Abrahah terus berjatuhan satu demi satu dan ia pun meninggal dunia saat tiba di San’a dengan kondisi dada dan hatinya terpisah. Ini pendapat Ibnu Ishaq dan sebagian besar orang, namun ada juga riwayat lain yang mengatakan Abrahah meninggal seketika di tempat saat terkena batu dari burung ababil.

Terdapat berbagai macam pendapat mengenai burung ababil ini, salah satunya adalah Ibnu Hisyam yang menafsirkan arti ababil disini bukan hanya satu macam jenis burung, melainkan adalah berkelompok. Sehingga saking banyaknya burung ini hampir menutupi langit seperti awan-awan. Ada juga yang berpendapat bahwa maksud pasukan ababil disini berupa wabah penyakit menular yang mempunyai masa inkubasi relatif pendek dengan daya tular cepat karena dapat menular melalui  udara. Namun pendapat ini langsung dibantah oleh Dr. Said Ramadhan Al-Buthy dalam kitabnya La Ya’tihil Bathil dengan alasan bahwa penyakit separah apapun yang menyerang pasukan ini tidak akan dapat menghalangi mereka untuk menghancurkan Ka’bah, karena saat itu Ka’bah benar-benar telah didatangi pasukan bergajah ini. Berbagai macam  ikhtilaf dan kontradiksi antara para ulama tentang gambaran burung ababil, bahkan ada pendapat yang menggunakan teori lompatan waktu yang mengatakan burung ababil ini merupakan pesawat tempur yang dikirim dari masa depan untuk meluluhlantahkan pasukan bergajah. Semua perbedaan pendapat ini adalah hal wajar, namun yang pasti dan harus kita imani adalah ababil ini merupakan pertolongan dari Allah swt. untuk melindungi Ka’bah yang merupakan kiblat  semua muslim di dunia. Wallahu  a’lam.

 

 

Referensi

Hisyam, Ibnu. 2018. Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1. Terj. Fadhli Bahri. Jakarta: PT Darul Falah

Al Mubarakfuri, Syafiyyurrahman. 2001. Sirah Nabawiyah Perjalanan Hidup Rasul yang agung Muhammad saw. Dari Kelahiran Hingga Detik-Detik Terakhir. Terj. Hanif Yahya. Jakarta: Darul Haq

Sastrahidayat, Ika Rochjatun. 2013. Cahaya Ilahi yang Hilang, Cetakan Pertama. Jakarta: UB Press

Al-buthy, Said Ramadhan. 2008. La Ya’tihil Bathil. Terj. Misbah. Jakarta: PT Mizan Publika

Pranggono, Bambang. 2008. Mukjizat Sains Dalam Al Qur an. Bandung: Ide Islami

Oleh : Muhammad Gustoni, Semester IV

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *