Tapak Tilas Al-Mu’tashim Billah Memimpin Bani Abbasiyah

Ma’had Aly – Abu Ishak bin Muhammad ar-Rasyid atau yang lebih sering di sebut dengan al-Mu’tashim Billah  adalah seorang Khalifah ke-8 dari Bani Abbas, beliau adalah putra dari Khalifah Harun ar-Rasyid dan dari seorang ibu yang bernama Maridah (ibu selir) ibunya adalah salah seorang budak yang dimmiliki oleh harun ar-Rasyid. Meskipun maridah adalah seorang Budak (selir) tetapi ia adalah salah satu wanita yang sangat disayangi oleh Harun ar-Rasyid.

Abu Ishak bin Muhammad ar-rasyid lahir pada tahun 180 H. Namun sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa ia dilahirkan pada pada tahun 178 H. dari kedua pendapat tersebut lebih dikuatkan kepada pendapat kedua sebab, itu sesuai dengan gear yang bersanding di namanya. al-Mu’tashim Billah memiliki saudara sebapak namun beda ibu, ia adalah Abdullah Abu al-Abbas ar-Rasyid atau yang biasa dikenal dengan julukan Khalifah al-Makmun yang telah lebih dahulu memegang tampuh kepemimpinan kahalifah. Dan al-Mu’tashim wafat pada tanggal 19 Rabiul Awal tahun 227 H.

Al-Mu’tashim Billah ialah seorang sosok yang secara fisik sangat kuat namun lemah dalam ilmu pengetahuan beliau juga sangat pemberani, berkemauan keras. Perawakan sedang, warna kulit putih, jenggotnya yang panjang dan matanya yang amat indah. Ia juga mempunyai ciri-ciri berbicara yang jelas, syairnya cukup jelas tetapi jika ia marah ia tidak mempedulikan siapapun yang berada di hadapanya, dan gayanya yang seperti raja- raja.

Al Mu’tashim adalah saudara dari al-Makmun yang usianya lebih muda 8 tahun. Meskipun al-Mutashim bersaudara dengan Al-Ma’mun akan tetapi kepandaiannya tidak sepadan dengan al-Ma’mun, karena al-mu’tashim Billah hanya belajar membaca kepada seorang pelayan, sedang setelah pelayan tersebut wafat al-Mu’tashim lebih terfokus  untuk belajar kemiliteran yang lebih diminatinya ketimbang dirinya harus belajar tentang ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu ash-Shuli menilainya sebagai orang yang lemah dalam membaca dan menulis.

Sejak kecil ia sudah dilatih kemiliteran yang akhirnya membentuk karakternya yang sangat pemberani. Selain dirinya adalah seorang putra dari seorang selir karena kegemaranyya terhadap ilmu kemiliterannya inilah yang mengakibatkan dirinya tidak dinobatkan sebagai putra mahkota oleh ayahnya Harun ar-rasyid meskipun ada penyebab lain yang menjadikannya tidak dinobatkan sebagai putra mahkota.

Namun justru kegemarannya tersebut, karirnya dibidang kemiliteran sangat menonjol sejak masa kekhalifahan  saudaranya al- Ma’mun. ia di percaya sebagi tangan kanan Khalifah al-makmun. Hingga pada akhirnya ia diangkat menjadi gubernur di Syam dan di mesir. Ketika ia bertugas di Mesir-lah ia mendaptakan gelar al-Mutashim Billah ia dapatkan yang mempunyai arti “yang berlindung kepada allah”. Ia juga mendapatkan gelar al-Mutsammin yang artinya serba delapan atau yang selalu kedelapan. Gelar ini ia dapatkan karena ia selalu mendapatkan urutan ataupun selalu menemui angka delapan dalam semasa hidupnya. Berikut faktornya:

“Menerima kepemimpinan khalifah Abasiyah ke delapan, keturunan yang ke delapan dari al-Abbas, anak kedelapan dari Harus Ar-Rasyid dan menduduki tahta kerajaan pada tahun ke delapan belas, memerintah selama delapan tahun, mengikuti peperangan sebanyak delapan kali, membunuh musuh sebanyak delapan orang, mempunyai keturunan delapan anak, dan meninggal dunia pada hari yang ke-delapan pada bulan rabiul akhir”.

Al-Mutashim diangkat menjadi seorang Khalifah setelah wafatanya al-Makmun. atau tepatnya pada tahun 218 H. Al-Mu’tashih Billah dibaiat oleh saudaranya al-Makmun sebagai khalifah untuk mengantikan al-Makmun karena melihat kedisiplinanya yang sudah bisa di terapkan di usia muda. Dan karena ia sangat mahir dalam kemiliteran yang menjadi sebab dibaiatnya ia sebagai Khalifah.

Setelah ia di angkat menjadi khlifah al-Mamun memberika suatu wasiat kepada saudaranya yaitu:

  1. Agar terus melaksanakan mihnah
  2. Melawan kaum zot 
  3. Menghancurkan kaum khurami
  4. Meneruskan peperangan dengan romawi 

Di samping wasiat wasiat yang di berikan al-Mamun kepada saudara, adapun wasiat untuk memajukan Abasiyah 

  1. Membangun kota samarra
  2. Mengakat orang-orang turki di dalam pemerintahanya

Jika dibulatkan, dia mempunyai enam rencana kerja yang harus direalisasikan. Akan tetapi, sebelum dia melaksanakan rencana kerja tersebut, muncullah tantangan-tantangan kecil yang pada saat itu pula dapat diatasinya sebagai berikut:

Adapun pemberontakan ketika ia di angkat menjadi khalifah yaitu pemberontakan militer yang tidak mau tunduk padanya dan tidak mau mengakui ia sebagai khalifah. Tetapi yang merka mau adalah Abbas yang menjadi khalifah.

  1. Setelah diangkat menjadi khalifah, muncul pemberontakan yang dilakukan oleh sekelompok militer yang tidak mau tunduk kepadanya serta tidak mau mengakui al-Mu’tashim sebagai khalifah. Mereka menghendaki agar yang diangkat sebagai khalifah adalah Abbas ibnul- Ma’mun. Namun, pada saat itupula Abbas mau berba’iat kepada ayahnya dan akhirnya sekelompok militer itu pun mau mengikuti jejak Abbas.
  2. Pada tahun  219 H/ 834 M. Adapula pemberontakan yang diketuai oleh keturunan Ali, yaitu Muhammad ibnu Qosim bin Ali bin Umar bin Ali. Pemberontakan ini pertama kali muncul di Khufah dan di Khurasan yang kemudian menjalar di kota-kota lain. Dan akhirnya pemberontakan ini mampu ditaklukan. Karena kerja keras Abdullah bin tahir. Sedangkan pemimpin pemberontakan tersebut ditangkap dan dibawa ke hadapan al-Mutashim lalu dipenjarakan di Samarra dan nasibnya tidak diketahui sama sekali oleh siapapun.

 

Referensi

Suyuthi, Imam. 2013. Terjemah Tarikh Khulaf. cet.II. Jakarta Pustaka al-Kautsar

Suyuthi, Mundzirin. 2012. Khalifah al-Mutashim.  vol. 13 No. 1. Jinni

Yatim, Badri. 2014. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. Jakarta. PT RajaGrafindo Persada

Amin, Samsul Munir. 2016. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta.  AMZAH

Rasyidi, Badri. 119. Sejarah Peradaban Islam. Bandung. CV AMRICO

Oleh : M. Khoirur Rozikin, Semester VI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *