Sunan Kudus, Inspirasi Kerukunan Beragama

Ma’had Aly – Semua ajaran agama pada dasarnya baik dan mengajak kepada kebaikan. Namun nyatanya tidak semua yang dianggap baik itu bisa bertemu dan sejalan. Saat ini banyak terjadi perpecahan dan peperangan sesama umat islam maupun dengan agama lain. Perpecahan dan saling hujat di antara mereka karena ada yang merasa berdosa jika orang lain tidak sepaham dan tidak mau mengikuti pendapat mereka. Perang Salib (1096-1271) antara umat Kristen Eropa dan Islam, pembantaian umat Islam di Granada oleh Ratu Isabella ketika mengusir Dinasti Islam terakhir di Spanyol, adalah konflik antara Islam dan Kristen yang terbesar sepanjang sejarah. Perang antara Israel yang Yahudi dengan Palestina yang Muslim adalah contoh lain dari konflik antar umat beragama yang masih belum selesai hingga hari ini. Pembantaian umat Yahudi oleh Nazi yang notabene adalah adalah konflik terbesar antara pemeluk agama Yahudi dan Nasrani. Mereka ingin agar orang lain sama dan sependapat dengan mereka. Dengan mengatasnamakan islam dan kebenaran, mereka menghakimi dan memaksakan pendapatnya kepada orang lain. Mereka tidak segan-segan untuk membunuh atau menyerang orang lain yang tidak sepaham dengan mereka. Mereka merasa sebagai polisi dan tentara Tuhan, yang berjihad untuk membela Allah. Padahal al-Qur’an tidak menganjurkan tindakan yang seperti itu

Konflik yang terjadi antar umat beragama karena perbedaan konsepsi di antara agama-agama yang ada adalah sebuah realitas, yang tidak dapat dipungkiri oleh siapa pun. Perbedaan bahkan benturan konsepsi itu terjadi pada hampir semua aspek agama, baik di bidang konsepsi tentang Tuhan maupun konsepsi pengaturan kehidupan. Hal ini dalam prakteknya, cukup sering memicu konflik fisik antara umat berbeda agama.

Walisongo merupakan pelopor dan pemimpin dakwah Islam di Nusantara atau khususnya di Jawa. Perintis pertama adalah Syaikh Maulana Malik Ibrahim. Walisongo terdiri dari Sembilan Wali yaitu Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Drajad, Sunan Muria, Sunan Gunung Jati, dan Sunan Kalijaga. Secara garis besar dalam menjalankan dakwahnya Walisongo melalui jalan damai dengan strategi rekonsiliasi dengan nilai, kebiasaan dan budaya lokal.

Islam masuk ke Nusantara melalui fase yang panjang dan melelahkan. Walisongo adalah satu di antara fase panjang masuknya islam. Mereka membawa islam dengan santun, damai dan penuh hikmah. Saking santunnya, para wali bahkan tidak malu dan sungkan untuk membaur dengan tradisi dan ajaran masyarakat setempat. Salah satunya adalah ihwal tradisi menyembelih hewan kurban selain sapi oleh Sunan Kudus. Ja’far Sodiq, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus, adalah putera dari pasangan Raden Usman Haji yang bergelar dengan sebutan Sunan Ngudung di Jipang Panolan (letaknya disebelah utara kota Blora, Jawa Tengah) dengan Syarifah Dewi Rahil binti Sunan Bonang.  Lahir pada 9 September 1400M/808 H. Sunan Ngudung adalah putra Sultan di Palestina yang bernama Sayyid Fadhal Ali Murtazha (Raja Pandita/Raden Santri) yang berhijrah fi sabilillah hingga ke Jawa dan sampailah di Kekhilafahan Islam Demak dan diangkat menjadi Panglima Perang.

Sunan Kudus menyiarkan agama islam seperti para wali yang lain yaitu dengan kebijaksanaan, tidak memakai kekerasan atau paksaan. Dintaranya caranya dapat disebutkan misalnya; melarang untuk memotong binatang yang dianggap suci bagi agama Hindu, menggunakan elemen-elemnen bangunan candi Hindu untuk bangunan masjid makam, menciptakan gending Maskumambang dan Mijil. Dengan cara demikian Sunan Kudus mengajarkan agama Islam kepada mereka dan lambat laun dengan kemauanya sendiri para penganut agama Hindu ini kemudian masuk islam. Hal tersebut menunjukkan betapa tolerannya Islam Nusantara yang mampu menyebarkan Islam dengan damai tanpa kekerasan.

Strategi Penyebaran Islam Damai ala Sunan Kudus

Dalam menyebarkan agama Islam di wilayah Kudus, Sunan Kudus memiliki beberapa strategi yang dapat menjadi referensi penyebaran agama Islam di dunia, di antaranya:

  1. Pendekatan Struktural
  2. Pendekatan Kultural

Pendekatan Struktural-Kultural Dakwah Sunan Kudus

Strategi dakwah Sunan Kudus yang menggunakan pendekatan struktural yaitu dengan cara mengislamkan penguasa atau ikut terlibat dalam pendirian kekuasan baru, seperti kesultanan Demak dan Cirebon. Sunan Kudus turut terlibat sebagai senopati di Kasultanan Demak.

Enam abad lalu, sunan Kudus memulai dakwahnya melalui jalur pendekatan kultural. Beberapa model dakwah Sunan Kudus yang mengedepankan pendekatan kultural akan dijelaskan sebagai berikut;

Menciptakan Ruang Budaya

Langkah pertama aksi dakwah yang dilakukan oleh Sunan Kudus ketika memulai gerakannya adalah membangun masjid. Meskipun pada awalnya dalam bentuk yang sederhana, dalam perspektif budaya Sunan Kudus sebenarnya sudah sadar akan pentingnya ruang budaya dalam melakukan transformasi sosial. Masjid dalam hal ini menjadi nilai simbolik babak baru dalam melakukan transmisi nilai, meski dari segi struktur bentuk masjid masih tetap memperhatikan budaya lokal yang mirip bangunan Pure, tempat ibadah bagi umat Hindu.

Keberadaan Masjid al-Aqsha dan menara Kudus yang kokoh, tegak dan menjulang tinggi tersebut sebagai penanda yang jelas menyiratkan adanya penanda bahwa bangunan kepercayaan lama segera ditinggalkan, beralih kepada kepercayaan baru. Namun nilai-nilai lama yang tidak bertentangan dengan Islam yang dimiliki oleh Hindu tidak serta merta dihilangkan secara total. Oleh karena itu dalam konstruksi bangunan masjid dan menara tersebut Sunan Kudus tetap memperhatikan dan menghargai pola dan bentuk bangunan yang sebelumnya sudah ada.

Akulturasi

Pola akulturasi sangat kental dalam strategi dakwah Sunan Kudus, beliau mencoba membawa unsur-unsur budaya baru yang sarat dengan muatan islami, namun tetap mempertahankan unsur-unsur budaya lama yang melekat dalam masyarakat Kudus saat itu.

Jauh sebelum kehadiran Islam yang dibawa oleh Sunan Kudus kebanyakan masyarakat memiliki kepercayaan yang cenderung bertentangan dengan tauhid. Struktur masyarakat dibangun dengan sistem kasta atau perbedaan golongan kelas, sehingga kehidupan masyarakat cenderung diskriminatis, tidak adil pada saat itu. Manifestasi yang suci diwujudkan dalam bentuk arca dan juga binatang-binatang tertentu yang dianggap memiliki nilai sakral. Yang menonjol adalah mempercayai adanya banyak tuhan (politeisme).

Ketika Sunan Kudus membawa ajaran baru dengan agama Islam yang menekankan aspek tauhid (monoteisme), jelas sangat bertolak belakang dengan ajaran masayarakat setempat. Ini merupakan tantangan berat bagi sunan kudus. Dengan penuh bijaksana sunan kudus tidak secara frontal menyampaikan ajaran Islam tersebut kepada mereka. Akulturasi Islam dan budaya lokal adalah salah satu strategi yang ditawarkan oleh sunan kudus.

Sunan Kudus merupakan contoh mubaligh atau penyiar agama Islam yang penuh toleransi dan simpati. Cara dakwah atau tabligh Sunan Kudus yang penuh simpati dan toleransi dapat dilihat antara lain dalam menarik pemeluk agama Hindu, Sang Sunan mengumumkan larangan kepada masyarakat Kudus agar tidak menyembelih lembu. Menurut cerita rakyat, alasan lain mengapa masyarakat di kota Kudus tidak pernah menyembelih sapi karena dahulu Sunan Kudus pernah merasa dahaga, kemudian ditolong oleh seorang pendeta Hindu dengan diberi air susu sapi. Sebagai ungkapan terima kasih dari Sunan Kudus, maka masyarakat Kudus dilarang menyembelih sapi.

Tindakan yang dilakukan oleh Sunan Kudus membuat hubungan antara Sunan Kudus dan masyarakat yang beragama Hindu sangat baik. Bahkan sampai saat ini toleransi beragama yang dahulu diajarkan oleh Sunan Kudus masih di emban kuat oleh masyarakat kota Kudus. Terbukti dengan adanya tempat ibadah umat Islam yakni Masjid al-Aqsa yang terletak satu kompleks dengan Klenteng yang merupakan tempat ibadah orang Hindu. Dalam melaksanakan aktivitasnya, antara umat Islam dan umat Hindu hidup berdampingan dan mengesampingkan perbedaan akidah yang dianut. Sehingga tidak pernah ada bentrok ataupun serangan-serangan terhadap tempat ibadah.

Indahnya persaudaraan di Kota Kudus dapat menjadi referensi umat Islam di Indonesia maupun umat Islam di dunia untuk menjaga hubungan antar umat beragama. Istilah ‘Islam nusantara’ merupakan sebuah nama baru di Indonesia, akan tetapi memiliki arti yang begitu luas. Islam Nusantara hadir tidak dalam waktu singkat, tapi melalui fase yang panjang. Konsep Islam Nusantara merupakan cara pandang Islam yang memahami multikulturalisme yang ada pada masyarakat serta memiliki rasa toleransi dan dekrasi yang tinggi. Karena kita harus menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang mudah dan penuh toleransi. Hukum-hukum Islam dibangun di atas kemudahan dan tidak menyulitkan. Maka dari itu sangat perlu usaha manusia untuk mewujudkan hubungan yang harmonis antar umat manusia. Salah satu caranya yaitu mengembangkan sikap toleransi dan etika pergaulan.

 

 

REFERENSI

Ardiantoro Juri (Ed), 2016, Islam Nusantara Inspirasi Peradaban Dunia, Jakarta: LTN PBNU

Agus Daniel, 2009, Masjid Agung Demak, Bandung: Pustaka Oasis

Budi Bambang, 2011, Atlas Sejarah Indonesia Masa Islam, Jakarta: Direktorat Geografi Sejarah

Bachtiar Effendy, 2001, Masyarakat Agama dan Pluralisme Keagamaan, Yogyakarta: Galang Press 

Adian Husaini , 2007. Tinjauan Historis konflik yahudi Kristen Islam. Jakarta: Gema Insani

Nur Said, 2010, Jejak Perjuangan Sunan Kudus dalam Membangun Karakter Bangsa, Bandung: Brilian Media Utama

Oleh : Abdul Azis, Semester VI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *