Sunan Kalijaga, Sang Seniman Penakluk Hati

Ma’had Aly – Sebelum kita mengenal lebih jauh betapa kreatifnya Sunan Kalijaga dalam berdakwah menyebarkan Islam, sehingga dengan cepat meluluhkan hati masyarakat, namun terlebih dahulu kita harus mengenal sosok sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga merupakan salah satu tokoh Wali Songo, yang sering disapa dengan panggilan Raden Syahid. Beliau bergelar raden sebab masih keturunan bangsawan yakni dari pasangan Arya Wilatikta dengan Dewi Nawangrum. Ayahnya ini berstatus sebagai Adipati Tuban.

Ketika Raden Syahid dilahirkan, kerajaan Majapahit mengalami kemerosotan sehingga semua rakyat menjadi korban, sebab orang kerajaan memungut pajak atau upeti yang melampaui batas, sehingga rakyat menjadi khawatir. Dengan keadaan yang seperti ini, Raden Syahid pun turut khawatir meski beliau tak merasakan kesengsaraan rakyat. Dari sini Raden Syahid mulai bergerak dan bertindak untuk menolong rakyat dari penindasan orang-orang kerajaan, karena tidak kuatnya dengan penderitaan rakyat, namun sebelumnya beliau mengadu kepada ayahnya dengan keadaan para rakyat, akan tetapi ayahnya tidak bisa berbuat apa-apa karena ayahnya dibawah pimpinan kerajaan Majapahit. Raden Syahid mengambil tindakan sendiri untuk menolong para rakyat yakni dengan cara merampas bahan makanan yang ada di dalam kadipaten, beliau melakukan hal itu setiap malam yang biasanya beliau manfaatkan untuk melantunkan ayat suci al-Qur’an, sehingga orang kerajaan merasa curiga karena bahan makanan yang disimpan di gudang kadipaten semakin berkurang, hasil dari rampasan tersebut beliau bagikan kepada rakyat yang membutuhkan.

Sebab bahan makanan yang ada di gudang kadipaten semakin berkurang, penjaga keamanan kadipaten berinisiatif untuk mengintai siapa pelaku di balik kejadian ini, akhirnya raden Syahid tertangkap basah atas kelakuannya selama ini. Dan Raden Syahid pun diusir, tanpa arah tujuan ia lanjutkan perjalanan dan bertemu dengan seorang kakek tua yang tak lain adalah Sunan Bonang. Beliau pun memohon untuk bisa menjadi murid dari kakek tersebut dan diterima. Beliau digembleng ilmu agama oleh Sunan Bonang, Raden Syahid pun bisa menangkap semua yang diajarkan oleh Sunan Bonang. Walau digembleng ilmu agama oleh Sunan Bonang tetapi beliau merasa belum puas dan mencari guru lain diantaranya Sunan Ampel dan sunan Giri.

KEKREATIFAN SUNAN KALIJAGA DI DALAM BERDAKWAH

  • Wayang kulit

Setelah menempa ilmu yang cukup, dari sini terlihat kecerdasan dan kekreatifannya dalam menyebarkan Islam, salah satunya dengan kesenian wayang kulit. Awalnya wayang tersebut mirip dengan muka manusia, namun dengan kecerdasan dan kekreatifan yang dimilikinya, beliau mengubah bentuk wayang tersebut dan bahannya yang asli diganti dengan kulit, tangannya lebih panjang, kakinya  lebih pendek dan hidungnya lebih mancung. Sunan Kalijaga merubah bentuk wayang tersebut supaya tidak menyerupai manusia, dan berubah menjadi kreasi baru yang lebih mirip karikatur/pitruk. Lewat kesenian yang digunakan Sunan Kalijaga, beliau dapat merangkul dan meluluhkan hati para masyarakat. Dakwahnya juga tidak menggunakan kekerasan, akan tetapi menggunakan sikap ramah dengan akhlak. Sebab sebelum menyebarkan Islam, beliau telah mengambil hati masyarakat yakni dengan cara menolong mereka dari penindasan orang-orang kadipaten.

Suna Kalijaga berdakwah dengan cara berkeliliing dari satu tempat ke tempat lain, karena dengan cara ini Sunan Kalijaga lebih mudah ketika menyebarkan agama Islam. Ketika beliau mementaskan wayang kulit, Sunan Kalijaga menyuruh masyarakat untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, setelahnya beliau mulai mementaskan wayang kulit tersebut. Ketika pementasan berlangsung, masyarakat tak sadar bahwa mereka telah masuk kepada ajaran yang dibawa Sunan Kalijaga karena saking khusyuknya menyaksikan pementasan wayang kulit tersebut.

  • Bedug/ jidor

Bedug yang sekarang sering kita saksikan di semua masjid-masjid itu merupakan karya Sunan Kalijaga. Konon beliau menyuruh muridnya yang bernama kiyai Bayat untuk membuat bedug, karena beliau telah berinisiatif bedug itu digunakan untuk memanggil masyarakat dalam memenuhi kewajiban yakni berupa shalat lima waktu terlebih pada hari Jum’at.

  • Baju takwa

Pasti semua orang ketika melihat baju takwa yang sering dipakai Sunan Kalijaga sudah tidak asing, hanya sunan Kalijaga yang berpenampilan beda dari wali songo yang lainnya.

Walaupun Raden Syahid sudah menjadi wali, akan tetapi beliau tidak mau melepas kebiasaannya dengan menggunakan pakaian khas Jawa. Alasan Raden Syahid tetap memakai baju tersebut sebab sudah mendarah daging pada diri beliau, seperti dari adat dan kebiasaan yang dilakukan di tanah Jawa. Sebab beliau keturunan orang Jawa tulen dari ayah maupun ibunya. Baju takwa yang selalu melekat pada diri beliau ini, langsung dirancang sendiri sesuai dengan keadaan cuaca dan iklim, juga baju tersebut diserasikan dengan blangkon sebagai tutup kepala.

  • Lir-ilir

Tembang ini merupakan ciptaan sunan Kalijaga, tembang ini sering dilantunkan kalangan anak-anak yang dijadikan sebagai hiburan untuk menghilangkan rasa jenuh terlebih ketika bulan purnama muncul. Tetapi ketika Sunan Kalijaga melihat tembang tersebut tidak bermanfaat dan tidak ada motivasi, ia mengubahnya dan bermakna dalam bagi pendengar lantunannya.

Tembangnya berbunyi:

Lir-ilir ilir tandure wis sumilir.

Tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar.

Cah angon cah angon penekno belimbing kuwi.

Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro.

Dodotiro-dodotiro kumitir bedah ing pinggir

Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore.

Mumpung pdhang rembulanne mumpung jembar kalangane.

Yo surako…… surak hiyo….

Makna lir-ilir ketika digubah oleh Sunan Kalijaga dalam makna agama:

‘’Ayo bangkit, Islam telah lahir. Hijau sebagai simbol agama Islam, kemunculannya begitu menarik ibarat pengantin baru pemimpin yang menggembala rakyat. Kenallah Islam sebagai agamamu. Ia ibarat belimbing dengan lima sisi sebagai lima rukun Islam. Meskipun sulit dan banyak rintangan, sebarkanlah ke masyarakat dan anutlah. Guna untuk mensucikan diri dari segala dosa dan mensucikan akidah. Terpakan Islam secara kaffah sampai ke rakyat kecil (pinggiran). Perbaikilah apa yang telah menyimpang dari agama Islam untuk dirimu dan orang lain guna menjadi bekal kelak di akhirat. Mumpung masih hidup selagi masih diberikan kesempatan untuk bertobat. Dan berbahagialah semoga selalu diberikan rahmat oleh Allah.’’

WILAYAH PENYEBARAN  ISLAM SUNAN KALIJAGA.

  • Cirebon

Dalam babad Cirebon diceritakan, Sunan Kalijaga dari Palembang menuju ke Cirebon dengan alasan untuk menemui sang guru tercintanya yakni Sunan Bonang, karena Sunan Bonang hendak berangkat ke Mekkah. Menetapnya Sunan Kalijaga di Cirebon sambil berdakwah menyebarkan agama Islam dan sempat bertemu dengan Sunan Gunung Jati, dan beliau melihat wawasan yang luas dan keilmuannya yang tinggi beserta kekreatifan Sunan Kalijaga dalam menyebarkan Islam sehingga sangat berpengaruh besar di kalangan masyarakat. Oleh sebab itu sunan Gunung Jati menjodohkan Zaenab adiknya sendiri dengan sunan Kalijaga.

  • Yogyakarta

Sunan Kalijaga melanjutkan dakwahnya di Sendang Kasihan, Bantul (Yoyakarta). Ada keunikan yang terdapat pada desa ini, yakni sumber air yang tidak pernah kering walaupun pada musim kemarau, asal-usul dari mata air tersebut yakni ketika tiba musim kemarau Sunan Kalijaga kesulitan untuk mendapatkan sumber mata air, oleh karena itu beliau menancapkan tongkatnya lalu dicabut seketika itu, dari bekas tongkat tersebut muncul sumber mata air yang langsung mengumpul sehingga membentuk sebuah lingkaran.

  • Demak

Sunan Kalijaga menyebarkan Islam tidak hanya di Yogyakarta, tetapi beliau melanjutkan misinya di daerah Kadilangu (Demak). Di antara beberapa tempat penyebaran Islam Sunan Kaljaga, yang paling lama yakni di daerah Kadilangu Demak, karena beliau berada di sana sampai akhir hayatnya. Di sana terdapat peninggalan sejarah dari sunan Kalijaga berupa masjid Sunan Kalijaga. Pada masjid ini beliau berdakwah lewat keseniannya dan kecerdasan pada dirinya serta wawasan yang luas sehingga para masyarakat cepat menerima ajaran yang disampaikan beliau.

 

REFERENSI

Chodim Achmad. 2018.  Mistik dan Ma’rifat Sunan Kalijaga. Tangerang Selatan: BACA.

Anwar Rusydie. 2015. Kesaktian dan Tarekat Sunan Kaljaga. Yogyakarta: Araska. 

Saputra Jhony Hady. 2010. Mengungkap Perjalanan Sunan Kalijaga. Jakarta: pustaka media.

Hadi Parada. Selendang Pemikat Nyi Benggawan Tantri. Jawa timur: Uwais Inspirasi Indonesia.

Suryani Lilis. 2019. Seri Jejak Para Wali Sunan Kaljaga. Jawa Tengah:  Griya Pena Wartawan.

Oleh: Firman Hidayat, Semester IV

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *