Suka Duka Rasulullah dalam Menyebarkan Dakwah Islam

Ma’had Aly – Rasulullah saw. diutus Allah sebagai suri tauladan yang baik bagi umat manusia. Telah kita ketahui bahwa Rasulullah memiliki sifat-sifat yang baik, salah satunya adalah tabligh yang berarti menyampaikan. Dalam menyampaikan dakwah, Rasulullah mengalami lika-liku perjuangan yang dihadapinya. Dakwah sendiri ialah suatu sistem kegiatan dari seseorang, sekelompok, segolongan umat Islam sebagai aktualisasi imaniyah yang memanifestasikannya kepada seseorang, sekelompok massa dan masyarakat supaya dapat mempengaruhi tingkah lakunya untuk mencapai tujuan tersebut.

Dakwah Islamiyah Nabi saw. setelah menjadi Nabi hingga wafatnya itu sendiri terbagi menjadi dua tahap, yaitu:

Tahapan pertama: dakwah secara rahasia  atau sembunyi-sembunyi, yang berjalan selama tiga tahun.

Tahapan kedua: dakwah secara terang-terangan di tengah penduduk Makkah, yang dimulai dari tahun ke-10 dari Nubuwah hingga akhir tahun ke-10.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapat perintah dalam firman Allah,

“Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lau berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah, Dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.” (Al-Muddatstsir: 1-7)

Diturunkannya wahyu di atas bertujuan untuk pemberi peringatan, agar siapa pun yang menyalahi keridhaan Allah di dunia ini diberi peringatan tentang akibatnya yang pedih dikemudian hari, dan yang pasti akan mendatangkan kegelisahan dan ketakutan di dalam hatinya. Tujuan kedua yaitu untuk mengagungkan Rabb, agar siapapun yang menyombongkan diri di dunia tidak dibiarkan begitu saja, sehingga tidak ada kebesaran yang tersisa di dunia selain kebesaran Allah. Dalam ayat terakhir terdapat isyarat tentang gangguan, siksaan, ejekan, dan olok-olok yang bakal dilancarkan orang-orang yang menentang, bahkan mereka berusaha membunuh nabi dan membunuh para sahabat serta menekan setiap orang yang beriman di sekitar beliau. Sehingga Allah memerintahkan agar beliau bersabar dalam menghadapi semua itu, dengan modal kekuatan dan ketabahan hati, bukan dengan tujuan untuk kepentingan pribadi, tetapi karena keridhaan Allah semata.

Sebagaimana yang telah kita ketahui, Makkah merupakan sentral agama bangsa Arab. Di sana ada peribadatan terhadap Ka’bah dan penyembahan terhadap berhala dan patung-patung yang disucikan seluruh bangsa Arab.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai menyambut perintah Allah dengan mengajak manusia untuk menyembah Allah semata dan meninggalkan berhala. Akan tetapi, dakwah Nabi ini dilakukannya secara rahasia, tujuannya tak lain ialah untuk menghindari tindakan buruk orang-orang Quraisy yang fanatik terhadap kemusyrikan. Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam tidak menampakkan dakwahnya di beberapa majelis umum orang-orang Quraisy dan tidak melakukan dakwah kecuali kepada orang yang memiliki hubungan kerabat atau kenal baik sebelumnya.

Nabi menyeru mereka kepada Islam, juga menyeru kepada siapapun yang dirasa memiliki kebaikan, yang sudah beliau kenal secara baik dan mereka pun mengenal beliau secara baik, yaitu mereka yang memang diketahui mencintai kebaikan dan kebenaran, mengenal kejujuran dan kelurusan beliau. Maka mereka yang diseru ini langsung memenuhi seruan beliau, karena mereka sama sekali tidak menyangsikan keagungan diri beliau dan kejujuran pengabaran yang beliau sampaikan.

Dalam Tarikh Islam, mereka dikenal dengan sebutan as-Sabiqun al-Awwalun (yang terdahulu dan yang pertama-tama masuk Islam). Mereka adalah istri beliau, Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid pembantu beliau, Zaid bin Haritsah bin Syurahbil al-Kalby, anak paman beliau, Ali bin Abu Thalib, yang saat itu Ali masih anak-anak dan hidup dalam asuhan beliau dan sahabat karib beliau, Abu Bakar ash-Shiddiq. Mereka masuk Islam pada hari pertama dimulainya dakwah.

Selama tiga tahun, dakwah masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan perorangan. Selama jangka waktu ini telah terbentuk sekelompok orang-orang Mukmin yang senantiasa menguatkan hubungan persaudaraan dan saling bahu-membahu. Penyampain dakwah terus dilakukan, hingga turun wahyu yang mengharuskan Rasulullah menampakkan dakwah kepada kaumnya, menjelaskan kebatilan mereka dan menyerang berhala-berhala sesembahan mereka.

Wahyu pertama yang turun dalam masalah ini adalah firman Allah,

وانذر عشيرتك آلأقربين

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat.” (Asy-Syu’ara’: 214)

Langkah pertama yang dilakukan Rasulullah setelah turunnya ayat di atas ialah mengundang Bani Hasyim. Mereka memenuhi undangan ini, yaitu beberapa orang dari Bani al-Muththalib bin Abdi Manaf, yang jumlahnya ada 45 orang. Sebelum beliau berbicara, Abu Lahab sudah mendahului angkat bicara, mengenai apabila Rasulullah tetap menjalankan urusannya dalam menyebarkan agama Islam, maka sesungguhnya orang-orang Quraisy lebih mudah menerkam beliau. Dan Abu Lahab pun mengatakan bahwa ia tidak pernah melihat seorang pun dari bani bapaknya yang pernah berbuat macam-macam seperti yang nabi perbuat saat ini.

Rasulullah hanya diam dan sama sekali tidak berbicara dalam pertemuan saat itu. Kemudian Rasulullah megundang kerabatnya untuk yang kedua kalinya, dan dalam pertemuan itu beliau mengajak kerabat beliau yang hadir untuk mengimani dan bertawakal kepada Allah. Kemudian beliau juga menyampaikan bahwa tidak ada pemandu yang mendustakan keluarganya, beliau juga mengajak kerabatnya tersebut untuk mengimani beliau sebagai utusan Allah yang diutus secara khusus untuk mereka dan diutus secara umum untuk manusia. Beliau menjanjikan kepada mereka apabila beriman, mereka akan mati layaknya orang yang sedang tidur nyenyak, dan akan dibangkitkan lagi layaknya bangun tidur. Mereka benar-benar akan dihisab atas apa yang telah mereka perbuat, dan adanya surga dan neraka yang abadi.

Pada saat pertemuan itu hanyalah Abu Thalib yang mendukung beliau, dan memercayai perkataan beliau. Akan tetapi Abu Thalib sendiri tidak dapat meninggalkan agama Bani Abdul Muththalib, namun ia berjanji akan senantiasa menjaga dan melindungi Nabi selagi beliau masih hidup.

Setelah Nabi saw. merasa yakin akan janji Abu Thalib untuk melindungi beliau dalam menyampaikan wahyu dari Allah, maka beliau terus menyeru akan ketauhidan. Seruan beliau terus bergema di seluruh Makkah, hingga pada akhirnya turun ayat,

Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (Al-Hijr: 94)

Setelah turunnya ayat tersebut, Rasulullah langsung bangkit menyerang berbagai khufarat dan kebohongan syirik, menyebutkan kedudukan berhala dan hakikatnya yang sama sekali tidak memiliki nilai. Ketidakberdayaan berhala-berhala itu beliau gambarkan dengan berbagai contoh perumpamaan, disertai penjelasan-penjelasan bahwa siapa yang menyembah berhala dan menjadikannya sebagai wasilah antara dirinya dan Allah, berada dalam kesesatan yang nyata.

Akan tetapi setelah berbagai macam cara dakwah Rasul tersebut, tidak menjadikan sebagian orang-orang kafir Quraisy mengimaninya. Sebagian besar dari mereka tidak percaya akan risalah yang disampaikan oleh Rasulullah saw., bahkan para pemuka Quraisy pernah datang ke rumah Abu Thalib, mereka meminta agar Abu Thalib memerintah Rasulullah menghentikan dakwahnya tersebut. Akan tetapi Rasulullah tetap teguh akan risalah yang beliau bawa.

Kaum Quraisy mendatangi Abu Thalib untuk yang kedua kalinya tatkala kaum Quraisy melihat Rasulullah saw. tetap menjalankan aktivitasnya dan mereka tahu bahwa Abu Thalib tidak mau menelantarkan beliau, dan Abu Thalib juga sudah menyatakan kesanggupannya untuk berpisah dengan mereka dan bahkan memusuhi mereka.

Setelah orang-orang Quraisy mengalami kegagalan untuk memengaruhi Abu Thalib, mereka semakin bersikap keras dan bengis, bahkan lebih keras dari sebelumnya. Suatu ketika muncul ide untuk menghabisi Rasulullah. Akan tetapi pada saat-saat seperti itu, Allah mengokohkan Islam dengan masuk Islamnya kedua pahlawan Makkah, yaitu Hamzah bin Abdul Muththalib dan Umar bin al-Khaththab.

Setelah dua pahlawan yang gagah berani ini masuk Islam, maka mendung serasa menggelantung dan orang-orang musyrik kerepotan mencari bentuk penyiksaan dan tekanan terhadap orang-orang muslim. Mereka berusaha mengajukan berbagai penawaran kepada Rasulullah saw. yang memungkinkan bisa diajukan, dengan satu tujuan, menghentikan dakwah. Mereka tidak sadar, apapun yang sudah mendapat siraman sinar matahari, tak kan lagi ada artinya sehelai sayap nyamuk di hadapan dakwah beliau. Tidak heran jika kemudian mereka gagal mencapai mencapai apa yang mereka harapkan.

 

Referensi:

Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah. terjemahan Kathur Surahdi, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1997.

Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy, Sirah Nabawiyah: Analisis Ilmiyah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah saw., terjemahan Ainur Rafiq Shaleh Tamhid, Jakarta: Robbani Press, 1999.

Patmawati, “Sejarah Dakwah Rasulullah saw di Mekah dan Madinah, https://jurnaliainpontianak.or.id/index.php/alhikmah/article/download/75/69

Oleh : Sri Nursukma Dewi, Semester V

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *