Sejarah Wahabi dan Nahdlatul Ulama

Ma’had Aly – Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragam Islam, telah menjadi rumah besar bagi berlangsungnya kehidupan umat muslim di Indonesia dan Islam itu sendiri. Banyak sekali model sistem pendidikan yang ada di Indonesia guna menjadikan hal itu tetap terjaga, salah satunya adalah pesantren. Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan yang dibangun oleh para Kiai (sebutan untuk ulama Nusantara) dengan mengedepankan pendidikan agama secara ketat. Para santri (sebutan untuk murid yang belajar di pesantren) dituntut untuk memiliki budi pekerti yang baik, berpengetahuan dalam terhadap ilmu-ilmu keagamaan, serta berwawasan luas agar kelak para santri mampu menjadi seorang ulama yang mampu betul membawa kemana umat Islam apakah menuju jalan yang benar atau jalan yang menurut mereka benar? Yang pasti harus ke jalan yang benar.

Sampai sekarang hal itulah yang menjadi perjuangan keras para Kiai khususnya di kalangan NU dalam memperjuangkan dan menjaga Islam, apalagi di masa sekarang banyak sekali bermunculan kelompok-kelompok takfiri yang merasa paling benar sedangkan yang tidak sejalan dengan mereka dianggap salah bahkan kafir. Coba anda bayangkan dahulu di zaman Rasulullah dengan sebab dua kalimat syahadat orang yang kafir bisa masuk Islam dan dosa-dosanya selama kafir diampuni, tapi sekarang sebab dua kalimat syahadat (orang-orang yang tahlilan) orang yang sudah Islam bisa jadi kafir (menurut kaum takfiri) kan aneh bos. Penulis hanya bisa bilang, sak karepmu wok brewok! Biasanya orang-orang yang seperti itu identik dengan sebutan wahabi. Karena salah satu ajaran mereka adalah anti tradisi.

Selain dengan pendidikan dalam mempertahan keutuhan Islam, beberapa ulama Indonesia juga  mendirikan kelompok atau organisasi untuk meningkatkan kualitas umat Islam dalam segi ekonomi, sosial dan keagamaan. Ada NU, Muhammadiyah, Persis, Si dll, namun penulis tidak akan membahas semuanya kita akan lebih fokus pada NU karena menurut penulis apa yang melatar belakangi berdirinya NU adalah sesuatu yang sangat menarik untuk dibahas sebagai pengingat untuk kita apa tujuan dan alasan didirikanya organisasi tersebut.

NU berdiri secara resmi pada 31 januari 1926 diprakarsai oleh para Kiai tradisionalis dengan tujuan untuk memepertahankan mazhab dan tradisi keislaman di Indonesia yang terancam karena pada saat itu di timur tengah terjadi gejolak yang luar biasa pada masa kekuasaan Raja Ibnu Saud (Raja Saud generasi ketiga) yang bernama Abdul Aziz bin Abdurrahman As-saud yang beraliran wahabi memberlakuakan peraturan yang menyimpang dari ajaran Islam ahlu sunnah waljamaah dan menyudutkan kelompok Islam tradisionalis seperti yang ada di Indonesia.

Mereka memberlakukan satu mazhab keagamaan yaitu mazhab Hambali yang memang dianut oleh pendiri Wahabi, padahal ulama-ulama di seluruh dunia mengikuti mazhab yang berbeda-beda, mereka juga hendak membongkar dan memusnahkan makam para sahabat bahkan makam Rasulullah. Ini terjadi karena dalam aliran wahabi makam leluhur dipandang sebagai sumber kemusyrikan dan kemurtadan sehingga harus dihancurkan. Padahal kalau tidak ada peninggalan yang kita jaga lalu apa bukti yang bisa kita tunjukan untuk generasi yang akan datang bahwa Nabi Muhammad itu benar-benar ada. Wong makamnya saja dihancurkan. Hal itulah yang mengundang kegelisahan terhadap ulama seluruh dunia khususnya di Indonesia.

Perlu kita ketahui bahwa, Wahabi adalah gerakan dakwah yang dirintis oleh Muhammad bin Abdul Wahab dan diikuti oleh para murid-muridnya. Pada awalnya gerakan dakwah semacam ini berpusat di Najd, lalu menyebar keseluruh Saudi, menyebar ke jazirah Arab, bahkan kemudian keseluruh dunia, termasuk ke negeri kita tercinta Indonesia. Oleh karenanya kita harus lebih berhati-hati dalam belajar agama, pastikan gurumu itu adalah Kiai NU.

 Muhammad bin Suud (nenek moyang keluarga saudiyah/suudiyah) dan Muhammad bin Abdul Wahab (pendiri aliran wahabi) pada abad ke 18 M. keduanya mendeklarasikan persekutuan yang diberi nama al-Mamlakah al-Arabiyah as-Suudiyah (selanjutnya disebut kerajaan Arab Saudi) bukan al-Mamlakah al-Islamiyah al-Muhammadiyah. Dengan kolaborasi ini maka, wahabi sampai sekarang dijadikan sebagai mazhab resmi Negara. Nenek moyang Saudiyah yaitu Muhammad bin Suud pada saat itu baru mendirikan kerajaan di atas wilayah yang sangat kecil yang kelak menjadi Arab modern dengan ibu kota Riyadh.

Setelah melalui beberapa waktu ajaran wahabi ini menyebar ke jazirah Arab kecuali Yaman, Oman dan beberapa kerajaan kecil lainya. Kerajaan Arab Saudi sudah mulai terbentuk pada tahun 1891 pada saat jazirah Arab masih dibawah kekuasaan Turki Ottoman. Namun, dengan kecerdikanya ibnu Saud (raja saud generasi ketiga) melakukan manuver antara Inggris dan Turki menjelang perang dunia 1. Dua tahun kemudian dia menandatangani perjanjian dengan Inggris bahwa Inggris akan melindunginya jika ada serangan dari luar dan Inggris juga memberikan senjata kepadanya (1915-1916) untuk mengalahkan Husein bin Ali, Syarif Makkah. Padahal Husein bin Ali adalah orang yang membantu Inggris untuk mengalahkan Turki. Sampai pada tahun 1921 Riyadh dikuasai oleh Ibnu Saud. Pada tahun 1924 Syarif Husein bin  Ali mengkalim dirinya sebagai khalifah resmi keturunan Bani Hasyim mengasingkan diri dari dunia Islam. Runtuhnya kehalifahan ini menimbulkan gejolak, orang-orang Mesir yang diprakarsai oleh ulama al-Azhar, dan disponsori oleh Raja Fuad mengadakan kongres untuk membahas isu khalifah itu namun, di waktu yang sama Ibnu Saud yang sudah menguasai Mekah dan Madinah juga melakukan kongres yang sama yaitu membahas tentang isu khalifah. Dari kongres itu Singkat cerita Ibnu Saud mampu mendapatkan kedudukan di mata umat Islam dunia dan menguasai seluruh seluruh Arab Saudi. Sedangkan di Mesir menunda untuk mengadakan kongres.

Dari undangan kongres yang didapat oleh ulama Indonesia kemudian mereka membahas undangan tersebut dan membentuk komite Hijaz pada Januari 1926 yang pada 31 Januari namanya berubah menjadi  Nahdlatul Ulama, untuk menyampaikan himbauan melaului surat kepada Ibnu Saud agar tetap bisa beribadah menurut tradisi termasuk juga bermadzhab-madzhab dan tidak menghancurkan makam Rasulullah dan para sahabat dan beberepa hal lain. Karena  utusan dari NU tidak hadir pada kongres di Hijaz dan suratnya juga tidak ada respon dari Ibnu Saud, NU terang-terangan menolak hasil kongres yang ada.

Dua tahun kemudian pada 1928 utusan NU menuju Mekah menjumpai Ibnu Saud untuk mengulangi himbauan mereka. Beberapa waktu kemudian Ibnu Saud member tanggapan positif, yang pada prinsipnya menyatakan bahwa kaum muslim bebas menjalankan praktik Agama dan keyakinan mereka asal tidak diharamkan oleh al-Quran dan Sunnah Nabi. Dengan adanya jawaban itu NU bisa mempertahankan pemeliharaan tradisi Islami yang sudah menyatu dengan kehidupan dan budaya masyarakat.

Kesimpulannya kemenangan Ibnu Saud di atas tanah Hijaz merupakan faktor pemercepat lahirnya NU, yang sejak semula memang bermaksud mempertahankan paham Ahlusunnah wal Jamaah dari serangan Wahabi. Kita sudah tahu tujuan dari sesepuh kita kenapa mendirikan NU. Oleh karena itu, kita sebagai generasi muda NU kita harus bisa menjaga warisan dan meneruskan perjuangan Kiyai-kiyai kita. Apalagi di zaman yang serba canggih ini kalau kita tidak bisa memanfaatkan apa yang ada maka kita hanya akan menjadi korban buruk globalisasi.

Referensi

Aritonang, Jan S. 2004. Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia. Jakarta: PT BPK GUNUNG MULIA

Halim, Abdul. 2013. Relasi Islam, Politik dan Kekuasaan. Yogyakarta: LKIS YOGYAKARTA

Munif, Achmad. 2007. 50 Tokoh Politik Legendaris Dunia. Jakarta: NARASI

Waskito, Am. 2011. Bersikap Adil Kepada Wahabi. Jakarta: PUSTAKA Al-KAUTSAR

Baso, Ahmad. 2006. NU Studies. Jakarta: ERLANGGA

Oleh : Zidan Aufa Billah, Semester VI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *