Santri sebagai Agen Penerus Filologi

Ma’had Aly – Filologi merupakan salah satu ilmu tentang tata bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan-bahan tulis. Ilmu ini akrab berhubungannya dengan manuskrip yaitu salah satu sumber sejarah tertulis yang mampu menguak khazanah keilmuan pada ulama terdahulu, sayangnya ilmu ini masih minim peminatnya.

Melalui Webinar Filologi yang berjudul “Meneroka Dunia Lewat Manuskrip” di Ma’had Aly Sa’iidusshiddiqiyah Jakarta, Muhammad Nida Fadlan menyebutkan persentase peminat ilmu filologi sangat rendah, namun lambat laun meningkat secara signifikan setelah mengetahui kemanfaatan dan kontribusi ilmu filologi dalam berbagai bidang.

Di antara kemanfaatannya adalah dapat meneliti kebenaran suatu informasi sederhanya menghindarkan dari hoaks, karena sifat kritis dan mampu menyelaraskan fakta dan realita yang harus dimiliki oleh seorang filolog. Hal ini telah dibuktikan oleh Nida dalam penelitiannya terhadap kebenaran ajaran kiai Hasan Maolani yang dulunya dianggap menyimpang.

Banyaknya manuskrip Nusantara tersebar di berbagai negara yang belum diteliti serta banyaknya orientalis yang menyalahgunakan manuskrip, menjadi alasan kuat bagi Nida untuk mengajak santri menjadi filolog masa depan demi menjaga kekayaan keilmuan Nusantara.

Ia menegaskan bahwa “Santri merupakan salah satu agen yang tepat untuk mendalami ilmu filologi, karena di dalamnya diajarkan modal untuk melakukan penelitian pada manuskrip.” Pernyataan ini diperkuat dengan kualitas santri yang mampu menguasai berbagai bahasa dan aksara pegon yang sangat dibutuhkan dalam penelitian manuskrip sehingga dapat menguak khazanah Islam yang masih terpendam.

Fathurrahman Karyadi selaku moderator dalam acara tersebut menambahkan bahwa, santri harus memiliki kecintaan terhadap ulama, bangsa dan tuhannya. Ia juga menyampaikn sebuah hadis:

من عرف نفسه عرف ربه

“Barangsiapa yang tahu akan dirinya maka akan mengetahui tuhannya.” maka jika dipandang dari sudut pandang filologi dapat diartikan sebagai “Barangsiapa yang mengetahui akan sejarah bangsanya sendiri maka akan tahu siapa penciptanya.”

Muhammad Nida juga menambahkan motivasi dalam sesi penutupannya dengan mereview perjalanan beliau mendalami ilmu filologi hingga timbul kecintaan terhadapnya serta berpesan supaya selalu giat dalam mempelajari literatur kitab kuning sebagai bekal menjadi santri filolog.

Oleh: Robiihul Imam F, Semester IV

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *