Sabda Nabi dan Perjuangan Bani Abbasiyah Meraih Kekuasaan

Ma’had Aly – Seperti yang kita telah ketahui bersama, bahwa Islam sendiri mampu mencapai puncak kejayaannya pada saat panggung kekuasaan diambil alih oleh ahlu bait dari tangan pemegang kekuasaan sebelumnya, yakni Bani Umayyah. Sesuai dengan apa yang telah Nabi sabdakan kepada pamannya, Abbas bin Abdul Muthallib, bahwa pada saat masa carut marut dan fitnah di mana-mana, akan muncul seorang pemimpin dari kalangan keluarga Nabi. Bukan hanya menyampaikan hal itu terjadi akan tetapi Nabi juga memberikan ciri-ciri tentang siapakah ahlu bait yang beliau maksud. Dia berjuluk As-Saffah (si penumpah darah) dan dia juga suka memberikan harta dalam jumlah banyak. Namanya Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim. Dia adalah pendiri sekaligus khalifah pertama daulah Abbasiyah.

Imam Suyuti menyebutkan dalam Tarikh Khulafa’, As-Saffah adalah khalifah pertama dari Bani Abbasiyah. Dia dikenal dengan sebutan Abul Abbas. Dia dilahirkan pada tahun 108 H, ada pula yang mengatakan 104 H di Al-Humaimah sebuah tempat dekat Al-Balqa’. Dia dibesarkan dan berkembang di tempat itu, dan dibaiat sebagai khalifah di Kufah. Sedangkan ibunya bernama Raithah Al-Haritsiyyah.

As-Saffah menjabat sebagai khalifah kurang lebih hanya selama 4 tahun. Dimulai sejak pembaiatannya pada 3 Rabiul Awal 132 H sampai pada bulan Dzilhijjah 136 H. Pada tahun itu juga dia wafat karena mengidap penyakit cacar. Pada saat kabar pembaiatannya sebagai khalifah oleh para pengikutnya terdengar di telinga khalifah Marwan Al-Himar (Bani Umayyah). Dia bersama pasukanya langsung bergegas untuk memadamkan api pemberontakan tersebut. Namun dia kalah dalam pertempuran dan terbunuh. 

Setelah itu banyak dari kalangan Bani Umayyah dan para pengikutnya yang dikejar-kejar oleh Bani Abbasiyah dan dibunuh. Indra Gunawan dalam bukunya yang berjudul Legenda 4 Umara Besar menuturkan bahwa; tahun-tahun kekuasaannya (As-Saffah. penj) diisi dengan perburuan keturunan Umayyah. Siapa saja yang memiliki aliran darah dengan keluarga Umayyah, dan punya potensi memberontak, pasti dikejar dan dibunuh. Ratusan hingga ribuan jiwa klan Umayyah menjadi korban, sebagian lagi kabur dan menyembunyikan jati diri. Atas aktivitasnya inilah Abul Abbas dijuluki As-Saffah, sang penumpah darah.

Awal mula As-Saffah menjadi khalifah adalah saat para pengikutnya membaiatnya pada 3 Rabiul Awal 132 H. seperti yang telah kami sebutkan di atas. Jika dilihat dari bagaimana bisa As-Saffah menjadi khalifah Bani Abbasiyah, hal ini tidak lepas dari perjuangan para pendahulunya yang telah mengatur siasat besar untuk melakukan propoganda dan mengambil alih kekuasaan dari tangan Bani Umayyah karena mereka merasa lebih berhak atas hal itu ketimbang Bani Umayyah.

Menurut Muhammad Nashir, dalam buku Sejarah Peradaban Islam Karangan Suyuthi Pulungan menyatakan bahwa; pembetukan kekhalifahan Bani Abbasiyah melalui proses yang cukup panjang dan menggunakan strategi revolusi yang andal.

 Pertama, melalui kekuatan bawah tanah oleh Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas. Yang pada saat itu juga sudah banyak orang yang menyeru kepadanya agar Bani Abbas menjadi pemimpin. Dukungan itu datang dari Alawiyin, orang-orang Syiah, dan penduduk non-Arab yang dinomorduakan.

Kedua, melalui upaya propaganda yang terus-menerus dan rahasia tentang hak kekhalifahan yang seharusnya berada di tangan Bani Hasyim, bukan Bani Umayyah. Dalam Kitab Tarikh Khulafa’ karangan Imam Suyuti menjelaskan bahwa; Risydin bin Kuraib menceritakan bahwa Abu Hasyim Abdullah bin Muhammad bin Al-Hanafiyah pergi menuju Syam. Dia bertemu dengan Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas (Ayah As-Saffah penj). Dia berkata, “Wahai pamanku, sesungguhnya saya memiliki satu ilmu yang ingin saya katakan kepadamu, dan saya harap anda memberitahukan hal ini kepada siapa saja. Sesungguhnya perkara yang diperebutkan manusia (khilafah) akan berada di tangan kalian (Bani Abbas).”

Muhammad berkata, “Saya telah mengetahui hal itu. Maka saya harap kalian tidak memberitahukan  kepada siapapun juga.”

Ketiga, pemanfaatan kaum muslimin non-Arab yang sejak lama dianggap kelas dua. 

Keempat, propaganda terang-terangan yang dipimpin oleh Abu Muslim Al-kurasani. Yang sebelumnya dia telah dikirimi surat oleh Muhammad untuk bergabung denganya dalam melakukan propaganda untuk memenangkan Bani Abbas dalam menduduki kursi kekhalifahan. Tak lama setelah itu Muhammad meninggal  dan mewasiatkan agar anaknya, Ibrahim menggantikanya. Pertistiwa ini sampai ke telinga Marwan yang akibatnya dia dipenjarakan lalu dibunuh. Saat tau dia akan dibunuh dia telah menyerahkan masalah ini kepada saudaranya, Abdullah As-Saffah. Orang-orang mendukungnya dan dia dibaiat menjadi khalifah.

Sebelum itu, perlu anda ketahui bahwa; ada tiga tempat yang menurut Samsul Munir Amin dalam Bukunya, Sejarah Peradaban Islam sebagai pusat kegiatan Bani Abbasiyah, yaitu Humaimah, Kufah, dan kurasan. Humaimah merupakan tempat yang tentram, bermukim di kota itu keluarga Bani Hasyim, baik dari kalangan pendukung Ali maupun pendukung keluarga Abbas. Kufah merupakan tempat yang penduduknya menganut aliran Syiah, pendukung Ali bin Abi Tahlib, yang selalu bergolak dan ditindas oleh Bani Umayyah. Khurasan memiliki warga yang pemberani, kuat fisik, teguh pendirian, tidak mudah terpengaruh nafsu dan tidak mudah bingung terhadap kepercayaan yang menyimpang, di sanalah diharapkan dakwah kaum Abbasiyah mendapat dukungan.

Sebelum Ibrahim bin Muhammad wafat. Seperti yang telah kita sebutkan di atas dia mewasiatkan kepada adiknya, Abu Al-Abbas As-Saffah untuk meneruskan perjuanganya dan pergi ke Kufah. Sedangkan pemimpin propaganda dibebankan kepada Abu Salamah. Segeralah Abul Abbas pindah dari Humaimah ke Kufah diiringi oleh para pembesar Abbasiyah yang lain seperti Abu Ja’far, Isa bin Musa, dan Abdullah bin Ali.

Dalam Buku Sejarah Kebudayaan Islam III disebutkan bahwa penguasa Umayyah di Kufah, Yazid bin Umar bin Hubairah ditaklukan oleh Abbasiyah dan diusir ke Wasit. Abu Salamah selanjutnya berkemah di Kufah yang telah ditaklukan pada tahun 132 H. Abdullah bin Ali, salah seorang paman Abbul Abbas diperintahkan untuk mengejar khalifah Umayyah terakhir, Marwan bin Muhammad bersama pasukanya yang melarikan diri, di mana akhirnya dapat dipukul di dataran rendah sungai Zab. Pengejaran dilanjutkan ke Mausul, Harran dan menyebrangi sungai Eufrat sampai ke Damaskus. Khalifah itu melarikan diri hingga ke Fustat di Mesir, dan akhirnya terbunuh di Busir, wilayah Al-fayyum, tahun 132 H/750 M di bawah pimpinan Salih bin Ali, seorang paman Al-abbas yang lain. Dengan demikian, maka tumbanglah kekuasaan Bani Umayyah, dan berdirilah Bani Abbasiyah yang dipimpin oleh khalifah pertamanya, yaitu Abbul Abbas As-saffah dengan pusat kekuasaan awalnya di Kufah.

Ash-Shuli meriwayatkan dari Muhammad bin Shalih dia berkata, “Tatkala Marwan  Al-himar terbunuh, kepalanya dipotong dan dibawa kepada Abdullah bin Ali. Dia kemudian melihat potongan kepala tersebut dan dia lalai. Tiba-tiba datang seekor kucing dan menggigit lidah Marwan dari mulutnya lalu dia telan ke dalam perutnya. Abdullah bin Ali berkata, “Andaikata dunia tidak memperlihatkan keajaiban kepada kita semua kecuali adanya lidah Marwan didalam perut kucing, maka itu sudah kita anggap sebagai keajaiban yang sangat besar.” Kisah Ini Tertulis dalam kitab Tarikh Khulafa.

Pada akhirnya As-Saffah menduduki kursi kekuasaan kekhalifahan dan Bani Abbasiyah tampil sebagai pemegang kendali kekuasaan tertinggi sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam keterangan di atas tentang apa yang telah Nabi saw. sabdakan.

 

Referensi

Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: AMZAH, 2018. 

Indra Gunawan, Legenda 4 Umara Besar, Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2014. 

  1. Suyuthi Pulungan, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: AMZAH, 2018. 

Imam Suyuti, Tarikh Khulafa’. Kota: Penerbit, 2018. 

Ahmad Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam II, Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1992. 

Oleh : Zidan Auva Billah, Semester V

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *