Problematika Bersejarah di Masa Khalifah Ali bin Abi Thalib

Ma’had Aly – Nabi Muhammad SAW adalah seorang pemimpin sebaik-baiknya pemimpin yang pernah memimpin umat Islam dari masa kegelapan menuju ke masa yang terang benderang, paham ini telah disepakati oleh seluruh umat Islam yang bermanhaj Ahlussunah Wal Jamaah. Nabi yang di penghujung usianya masih memikirkan umatnya seraya berkata, “Umati, umati, umati,” sebanyak tiga kali beliau ucapkan. Ini salah satu bukti bahwa beliau adalah seorang pemimpin yang benar-benar memikirkan umatnya meski dalam keadaan beliau sedang di penghujung usianya sekalipun.

Pasca beliau wafat, tampuk kepemimpinan Amirul Mukminin diteruskan oleh keempat sahabatnya yaitu Abu Bakar ash Shidik, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Masa kepemimpinan empat sahabat ini biasa disebut Khulafaur Rasyidin, gelar yang dinisbatkan khalifah kepada empat sahabat ini disepakati oleh kebanyakan ulama dalam kitab-kitab Tarikh.

Setelah ketiga khalifah ini berlangsung, maka Ali merupakan khalifah keempat setelah Utsman. Ali merupakan seorang sahabat yang termasuk dari salah satu pemuda pertama yang masuk Islam dan orang yang dekat dengan Nabi SAW, sehingga Nabi sangat menyayangi Ali karena sifatnya yang mulia. Lain daripada itu, Ali juga terkenal akan kealimannya sehingga dikenal sebagai gudang ilmu pengetahuan.

Ali bin Abi Thalib dipanggil juga dengan sebutan Syaibah al Hamdi bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qusai bin Khilab bin Lu’ai bin Ghalib bin Pihir bin Malik bin Nadhir bin Ma’ad bin Adnan. Setiap kepemimpinan keempat sahabat ini mempuanyai problem masing-masing yang dihadapinya, akan tetapi karena kepemimpinan Ali ini terbilang kepemimpinan terakhir, maka nampak banyak sekali problematika yang terjadi, dari mulai pelantikannya sebagai Amirul Mukminin sudah terjadi masalah besar yang mana sebagian umat Islam pada saat itu tidak menyetujuinya.

Pelantikan Ali untuk menjadi seorang khalifah bagi kaum Muslimin dirasa sangat penting, karena pada saat itu umat Islam sangat memerlukan seorang khalifah sebagai stabilitas kepemimpinan, akan tetapi pemilihanya ternyata tidak semulus pengukuhan tiga orang khalifah sebelumnya. Ali dibaiat di tengah-tengah suasana yang tidak stabil karena peristiwa meninggalnya Utsman di Madinah, walaupun pada awalnya Ali menolak permintaanya untuk menjadi pemimpin, karena menurutnya orang-orang yang berhak menentukan seorang Khalifah adalah pasukan utama yang mengikuti perang Badar.

Pertentangan dan kekacauan pun terjadi di antara dua kelompok sahabat yang pada saat itu sedang terpisah, di antaranya kaum muslimin Madinah, Anshor, Muhajirin yang menyetujuinya, dan umat muslim di  Makah (yang diklaim sebagai pemberontak dan satu di antaranya adalah pembunuh Utsman). Sedangkan, dari kalangan Aisyah dan Muawiyyah yang tidak menyetujui pelantikan Ali sampai mereka menemukan pembunuh Utsman, terlebih dahulu dan dijatuhi hukuman oleh Ali selaku Khalifah yang mereka angkat.

Kaum pemberontak Makkah pada akhirnya membaiat Ali untuk menjadi khalifah. Adapun Thalhan dan Zubair memilih Ali menjadi seorang khalifah dengan terpaksa karena desakan kaum muslimin lainya. Muawiyah bin Abi Sufyan yang berada di Syam tetap tidak mengikuti baiat tersebut.

Dari permasalahan perbedaan pendapat inilah, yang nantinya akan menyebabkan umat muslim terbagi menjadi beberapa kelompok, dengan konflik perpecahan yang berlandaskan faktor politik maupun teologi, sehingga umat yang tadinya bersatu dan menerima satu komando dari sang khalifah mulai saat itupun terpisah dan menerima komando dari masing-masing Amirnya.

Perpecahan yang Disebabkan Faktor Politik 

Pada masa pemerintahan Ali, umat muslim mengalami perseteruan yang belum pernah terjadi di masa-masa pemerintahan sebelumnya. Hal tersebut terjadi karena memang pada masa pemerintahannya terjadi banyak sekali fitnah, mulai dari peristiwa pembunuhan Utsman bin Affan, pemangku Khalifah ke-3, yang menyebabkan pengikutnya geram dan ingin mencari keadilan dan kepastian siapa yang melakukan hal sekeji itu. 

Saat mendengar kabar bahwa Utsman terbunuh, seketika itupun Ali mendatangi rumahnya dan menanyakan seperti apa kronologisnya. Ia melihat kedua putranya yaitu Hasan dan Husain di depan pintu dan menanyakan atas kewaafatan sahabat dekatnya. Kenapa bisa terjadi padahal putra-putranya berada di situ? Dalam kitab Tarikh Khulafah dikatakan bahwa, “Sayidina Ali menampar keduanya karena membiarkan hal itu terjadi.”

Kemudian Ali menemui istri Utsman, meminta penjelasan apa yang terjadi saat detik-detik pembunuhannya dan menanyakan secara spesifik siapa pelakunya, karena memang istrinya hadir dan melihat langsung pembunuhan itu. Ada yang mengatakan bahwa istrinya juga terkena tebasan pedang ketika hendak mendekap dan berusaha menyelamatkan suamninya.

Terdapat kabar bahwa saat terjadi kericuhan, Muhammad bin Abu Bakar berhasil masuk ke kamar sang khalifah beserta dua orang penduduk Madinah yang tergolong kedalam barisan pemberontak. Setelah kabar ini ditanyakan kepada istri Ustman ternyata benar, maka Ali langsung memanggil Muhammad bin Abu Bakar dan menanyakan apakah benar ia yang membunuhnya, akan tetapi Muhammad membantahnya dia tidak mengakuinya dan bersumpah atas jawabannya. Ali menanyakannya kepada istri Umar dan ia menjawab memang benar bukan Muhammad bin Abu Bakar, tetapi orang yang bersamanya.

Perang Jamal 

Perang Jamal sangat memiliki kesan penting dalam sejarah umat Islam. Karena umat Islam, yang berada di Syam di bawah pemerintahan Muawiyah bin abi Sufyan menolak Ali sebagai Khalifah dan tetap meminta pertanggung jawaban kepada Ali untuk mencari pembunuh sayidina Utsman dan meneyelesaikan kasus tersebut secara tuntas. Sedangkan Aisyah (istri Nabi SAW), Zuber dan Thalhah menuju Basrah dan berhasil menguasainya, kemudian Ali yang tadinya menuju Syam langsung mengubah haluan dan menyusulnya menuju Basrah, setelah mendengar kabar bahwa Sayidah Aisyah telah menguasai Basrah.

Setelah keduanya bertemu di Basrah. Terjadi kesalah pahaman yang mengakibatkan mereka saling mengangkat senjata, sebagai upaya pembelaan diri, hal ini terjadi sebab pasukan sayidah Aisyah dan beberapa pengikutnya mengira bahwa kedatangan Ali menuju Basrah tidak lain yaitu untuk membebaskan Basrah darinya, sangkaan ini tentu bukan seutuhnya berasal dari Aisyah, melainkan ada embel-embel dari sebagian kaum Munafik yang hadir di tengah itu. Sehingga dalam perang ini banyak pasukan yang gugur, termasuk dari pihak Aisyah. Di antaranya, Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awam.

Mereka hampir saja melakukan perdamaian, yang kemudian di gagalkan oleh kelompok munafik, mereka memprovokasinya sehingga terjadi peperangan yang di namai perang “Jamal” yang bermakna Unta, perang ini dianami perang Jamal karena perang terjadi didepan tandu unta Aisyah, peperangan ini merupakan peristiwa pertama terjadinya bentrokan antar sesama umat Islam yang menewaskan banyak kaum Muslimin termasuk Zubair dan Thalhah.

Perang Shiffin dan peristiwa Tahkim

Setelah menyelesaikan urusannya di Basrah kemudian Aisyah dikembalikan ke Makkah dan  Ali melanjutkan tujuan awalnya yaitu menuju Basrah dan mengirimkan Delegasi terlebih dahulu untuk mengajak Muawiyah kembali dalam satu komando sang Khalifah, Delegasi yang diutus antara Ali dan Muawiyah semuanya tidak menghasilkan apapun. sehingga pada akhirnya keduanya turun menuju kota tua yang bernama Shiffin, maka dalam sejarah Islam, peristiwa ini dinamai “Perang Shiffin” karena terjadinya perang di tempat bernama Shiffin yang berada dekat sungai Eufrat, berlangsunglah perang yang terjadi pada tahun 37 H. Dalam peristiwa ini Ali mengerahkan 50.000. Jumlah pasukan yang begitu banyak sehingga membuat pasukan Muawiyah sudah terdesak kalah, dengan kurang lebih 7.000 pasukan terbunuh.

Dalam perang ini hampir saja Ali memenangkan peperangan, karena jumlah pasukan Muawiyah yang tidak sepadan, akan tetapi Pada saat situasi tersebut. pasukan Syam mengangkat mushaf dan meminta agar melakukan perdamaian antara kedua belah pihak, kemudian disebutlah dengan istilah Tahkim (kesepakatan dengan kitab Allah). Siasat ini awalnya di lakukan oleh ‘Amr bin Ash yang merupakan panglima pasukan dari Syam, Muawiyah menerimanya untuk menghentikan perang. Kemudian dari keduanya berunding dan masing-masing mewakilkan seseorang untuk melakukan kesepakan tersebut, Ali mengutus Abu Musa al Asy`ari. Sedangkan Muawiyah mewakilkan Amr bin As selaku panglima, diantara kesepakan yang terjadi yaitu genjatan senjata dan Gubernur memiliki kesetaraan dengan Khalifah, Setelah itu kedua pasukan kembali ke negeri masing-masing.

Munculnya Khawarij

Golongan ini tadinya merupakan pengikut Ali dan termasuk umat Islam yang membaiat Ali sebagai Khalifah, akan tetapi pada peristiwa perang Shiffin khususnya pada saat peristiwa Tahkim ada beberapa orang dari pengikut Ali yang tidak menyetujuinya dan memisahkan diri dari sang Khalifah yang mereka baiat, bahkan mereka mengeluarkan argument bahwa: “bagi siapapun yang menyetujui Tahkim,maka mereka termasuk orang kafir”. oarng-orang ini kemudian menjadi golongan Khawarij dengan jumlah kurang lebih 12.000 orang.

Mereka kemudian meninggalkan umat Islam yang lainnya dan tidak mengikuti Ali lagi, Kaum muslimin kemudian kembali ke Kuffah karena pusat kepemerintahan telah dipindahkan sebelumnya, Khawarij  juga tidak mengikuti Muawiyah dan pengikutnya yang bertempat di Kuffah. Dan mulai menentukan jalannya sendiri lalu pergi ke Nahrawan.

Munculnya Syi`ah

Pada akhirnya umat Islam terpecah menjadi tiga golongan yaitu Syi`ah, Khawarij, dan pengikut Muawiyah. Setelah Ali kembali ke wilayah kekuasaanya, kelompok yang mengikuti Ali semakin fanatik terhadapnya  dan tidak menyukai golongan yang menentang mereka. Kecintaan mereka terus berlanjut dan semakin fanatik, di sisi lain Khawarij tidak tinggal diam mereka berkompromi dan merencakan pembunuhan terhadap Ali

Suatu ketika saat Ali hendak pergi menuju Mesjid Abdurahman salah seorang pengikut Khawarij memukulnya sehingga Ali sang Khalifaah wafat. Kemudian Muawiyah mereka mencoba mengambil alih kekuasaan Makkah dalam keadaan pengikut Ali sedang melemah, sehingga pada akhirnya mereka menguasai Makkah.

Referensi

Safiyurrahman al-Mubarakfuri, Rahikul al-Makhtum, Riyadh, Muntada al-Tsaqafah, 2013

Jalaludin As-Suyuthi, Tarikh khulafa, Dar As-Salam, 2018

Ibnu Hisyam, Sirah Ibnu Hisyam, Darul As-Sahabah, Mesir,1990

Mustafa As-Siba`I, As-Sirah A-Nabawiyah, Kairo: Dar As-Salam, 2018

Muhammad Husain Mahasnah, Sejarah Peradaban Islam, Pustaka al Kautsar, Jakarta, 2016

Kontributor: Atep Hermawan, Semester VI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *