Pesona Fatimah az-Zahra, Sang Putri Jelita Rasulullah saw

Ma’had Aly – Fatimah az-Zahra lahir pada Jumat 20 Jumadil Akhir tahun ke-5 sebelum kenabian, kelahirannya bertepatan dengan peristiwa peletakan hajar aswad setelah perenovasian Ka’bah yang diakibatkan banjir. Ia terlahir dari kedua orang tua yang berakhlak dan keimanan yang kuat. Ayahnya adalah Nabi Muhammad keturunan Bani Hasyim yang sangat dihormati oleh penduduk Quraisy, dijuluki Al-Amin sebab kejujurannya juga orang yang dapat dipercaya oleh seluruh penduduk Mekkah. Ibunya adalah Khadijah binti Khuwailid. Sejak kecil beliau tak pernah menyembah berhala, di saat wanita pada zaman dahulu direndahkan Khadijah dapat tumbuh sebagai wanita terhormat, menjadi saudagar kaya raya dan disegani laki-laki sehingga mendapat julukan at-Thahirah yakni wanita bersih dan suci. Ketika Fatimah masih dalam kandungan ibunya, malaikat jibril memberi kabar gembira kepada Nabi Muhammad saw bahwa janin yang dikandungnya adalah perempuan yang nantinya akan tumbuh menjadi wanita suci dan diberkahi Allah swt. Dari rahimnya pula akan lahir keturunan yang diberkahi yang akan menjadi pemimpin umat di seluruh belahan bumi setelah terputusnya wahyu Allah swt pada baginda Nabi Muhammad saw. Ketika Fatimah lahir bersinarlah cahaya darinya yang menyinari seluruh tempat di bumi.

Fatimah mendapat didikan langsung dari Khadijah, ia dilatih untuk bekerja dengan giat, dan tidak boleh sedikitpun membuang waktunya untuk keperluan yang tiada gunanya. Semasa kecilnya Fatimah ditemani oleh kakaknya Zainab, yang selalu menemani bermain dan menjaganya. Namun, sesudah ayahnya diutus menjadi seorang Nabi, keluarganya menjadi terkucilkan dan banyak makian dari penduduk Mekkah pada keluarganya terutama kepada ayahnya. Namun kejadian tersebut tidaklah membuat keteguhan dan keimanan keluarganya goyah maupun putus asa, melainkan semakin bertambahnya iman dan ketakwaan kepada Allah swt. Lambat laun Fatimah tak lagi mempedulikan kehidupan masa kanak-kanak yang seharusnya ia dapati. Karena ia mengetahui bahwa tanggung jawab yang ditanggung ayahnya setelah diutus menjadi Nabi merupakan tugas yang amat berat.

Fatimah tumbuh menjadi wanita cantik dan cerdas. Sejak kecil, Fatimah sudah menjadi saksi bagaimana perjuangan ayahnya dalam berdakwah menyebarkan ajaran agama Allah swt. Ia turut merasakan susahnya hidup, wabah kelaparan  dan kehausan yang menjadikan mereka terpaksa memakan dedaunan kering yang terjatuh dan tergeletak sebab pemboikotan yang dilakukan penduduk kafir Mekkah terhadap Bani Hasyim yang berlangsung selama 3 tahun. Namun hal ini tidaklah menggoyahkan keimanan Bani Hasyim, karena keyakinan mereka akan pertolongan Allah swt akan datang.

Setibanya pertolongan Allah swt datang kepada mereka dengan lenyapnya piagam perjanjian yang dimakan rayap dan hanya tulisan Allah yang tersisa, maka terbebaslas Bani Hasyim dari pemboikotan. Namun, beberapa hari kemudian Khadijah jatuh sakit, hal ini membuat Rasulullah saw dan anak-anaknya sedih. Fatimah dan saudaranya yang lain selalu mendoakan untuk kesembuhan ibunya. Namun takdir Allah swt berkata lain, Khadijah wafat pada 10 Ramadhan. Setelah Khadijah wafat, Fatimah yang menggantikannya, ia mulai membantu mempersiapkan kebutuhan keluarga sehingga ia mendapatkan julukan Ummu Abiha (ibu bagi ayahnya) karena ia tahu bahwa ayahnya telah kehilangan istri yang selalu mendukung dan menjaganya.

Fatimah turut menyaksikan penderitaan yang didapat ayahnya, terlebih setelah wafatnya dua orang yang sangat dicintai ayahnya yakni Abu Thalib dan Khadijah. Penderitaan yang didapat Rasulullah semakin berat. Rasullah saw bersabda, “Orang-orang kafir Quraisy tidak pernah menganiaya aku dengan sesuatu yang aku benci sampai Abu Thalib meninggal.”

Sampai suatu hari setelah Rasulullah selesai berdakwah dan mengajak Fatimah pergi ke Ka’bah. Ketika ayahnya hendak bersembah sujud kepada Allah swt sedangkan Fatimah menunggu Rasulullah tak jauh dari tempat bersujud, tiba–tiba Uqbah bin Abi Mu’aith dan orang Quraisy datang dengan membawa setumpuk kotoran ternak dan langsung melemparkannya kepada Rasulullah yang tengah bersujud. Melihat itu Fatimah segera menghampiri dan membersihkan kotoran yang ada di punggung ayahnya dengan kedua tangan mungilnya.

Fatimah sendiri tidak terlepas dari gangguan orang kafir Quraisy ketika hendak hijrah ke Madinah menyusul Rasulullah saw, dikarenakan penyiksaan terus menerus yang dilakukan orang kafir Mekkah kepada mereka. Saat itu Fatimah dan Ummi Kultsum hendak menuju Madinah, di dalam perjalanannya mereka dikejar oleh sekelompok musyrikin yang diketuai oleh Al-Huwairits bin Naqidz bin Abdul Qusyai. Ia adalah orang yang selalu menyakiti Rasulullah, ketika itu Al-Huwairits membuat unta yang sedang dikendarai oleh Fatimah dan Ummi Kultsum terkejut sehingga menjadikan mereka terjatuh dari punggung unta dan menyebabkan terkilirnya kaki Fatimah. Kejadian ini tidak dapat dilupakan oleh Nabi Muhammad saw karena Al-Huwairits telah menyakiti putri yang dicintainya, bahkan setelah Rasulullah saw dan kaum muslimin berhasil menaklukan kota Mekkah, Rasulullah segera  mencari Al-Huwairits untuk dieksekusi dan dibunuh.

Bukti kecintaan Rasulullah saw kepada Fatimah pernah diungkapkan ketika Rasulullah berada di atas mimbar, beliau bersabda “Sungguh Fatimah bagian dariku, siapa yang membuatnya marah berarti membuatku marah.” Dikatakan juga ketika Rasulullah hendak bepergian, beliau lebih dulu menemui Fatimah sebelum beliau menemui istrinya. Aisyah istri Rasulullah mengatakan “Aku tidak melihat seseorang yang perkataannya menyerupai Rasulullah selain Fatimah. Jika ia datang mengunjungi Rasulullah, Rasulullah berdiri lalu menciumnya dan menyambut dengan hangat, begitu juga sebaliknya yang dilakukan Fatimah bila Rasulullah datang mengunjunginya.”

Fatimah tumbuh menjadi sosok perempuan yang bijaksana dalam bersikap, sopan dalam berbicara, memiliki akhlak yang baik dan aktif terjun dalam membina kehidupan masyarakat yang baik. Ia merupakan anak Rasulullah yang mirip dengannya. Fatimah bersama wanita lainnya juga ikut berperan dalam peperangan kaum muslimin melawan kaum kafir. Di dalam Perang mereka menjadi tim khusus yang berperan menjadi pengawas dan merawat siapa saja yang terluka. Pernah suatu ketika  Rasulullah saw terluka dalam perang Uhud, dengan segera Fatimah mencari jerami padi, lalu membakar dan menempelkan abu padi pada luka Rasulullah saw. Tak jarang pula ia terjun langsung untuk menolong para korban perang. Kejadian lainnya dalam perang Khandaq ketika itu Fatimah bersama wanita muslim ikut serta dalam mengakomodasikan makanan untuk pasukan muslim yang sedang menggali parit.

Pada umur 18 tahun, Fatimah dinikahi oleh Ali bin Abi Thalib yang berumur 23 tahun. Saat itu mahar yang diberikan Ali pada Fatimah adalah baju besi seharga 400 dirham, setelah sebelumnya Abu Bakar As-Shiddiq dan Umar Bin Khattab juga pernah mencoba melamar Fatimah. Pernikahan Fatimah dan Ali merupakan peristiwa yang sangat membahagiakan bagi Rasulullah sehingga membuat wajahnya berseri-seri. Dari pernikahannya ini, ia memiliki 2 putra yaitu Hasan dan Husain dan 2 putri yaitu Zainab dan Ummu Kultsum. Di dalam kehidupan rumah tangganya ia tak pernah mengeluh dan menyalahkan suaminya mengenai kesulitan yang dihadapinya.

Dalam hidupnya Fatimah sangat rajin beribadah, ia juga sangat mencintai al-Quran, Fatimah berkata, ”Ada tiga hal yang aku cintai di dunia ini. Ketiga hal itu adalah membaca Al-Quran, memandang wajah Rasulullah saw dan berinfak di jalan Allah swt. Fatimah merupakan sosok wanita yang sangat berpengaruh dalam kehidupan muslimah pada saat itu, karena ia selalu memberikan bimbingan dan pengetahuan yang ia dapat dari ayahnya.

Fatimah wafat pada bulan Ramadhan 11 H dalam usia 28 tahun ada juga yang mengatakan umur 27 atau 29. Ketika Fatimah mengetahui bahwa kewafatannya sudah dekat, maka ia membersihkan diri dan memakai wewangian dan pakaian terbaiknya sambil dibantu oleh adik iparnya, Asma bin Abi Thalib, dan meninggalkan satu pesan” Hanya Ali-lah, suaminya yang boleh menyentuhnya dan memandikannya.” Sebelum wafat ayahnya, Fatimah telah diberitahu bahwa orang yang pertama kali menemui Rasulullah saw dari keluarganya di surga adalah Fatimah. Kepergian Fatimah membuat Ali bin Abi Thalib merasakan kesedihan yang sangat mendalam yang sebelumnya kesedihan itu telah ia rasakan sebab wafatnya Rasulullah saw.

  

Referensi

Laskar Lawang Songo. 2014. Mirror. Kediri: Lirboyo Press.

Rozikin, Badiatul. 2019. The Golden Story of Fatimah. Klaten :Semesta Hikmah Publishing.

Al-Mahami, Muhammad Kamil Hasan. 2008. Cantik islami sosok muslimah yang dinanti. Terj. Ali Nurdin. Jakarta: Al-Mahira.

Utami, Nunik. 2009. Azzahra sang putri Rasulullah. Bandung: Dar! Mizan.

Rosifah, Siti Nur. dkk. 2017. Pearl Of Muslimah. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.

 Oleh : Cindy Camelia, Semester IV

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *