Santri yang Memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia

Ma’had Aly – Kemerdekaan Indonesia tidak luput dari peran para ulama dan santri yang berjuang sebagai pahlawan di Indonesia. Kekuatan terbesar kala itu dinilai oleh para penjajah ialah agama Islam. Maka tidak mengherankan jika para penjajah juga berupaya melumpuhkan para ulama dan santri. 

Ada berbagai peristiwa sejarah kemerdekaan Indonesia yang berhubungan dengan para ulama dan santri. Namun yang sangat disayangkan hal tersebut hilang dalam lukisan sejarah. Sejarah tersebut tetap ada, namun dalam konteks yang berbeda. 

Dalam sejarah, setiap gerakan perlawanan terhadap imperialisme, disebut sebagai gerakan nasionalisme. Ulama dan santri sebagai pelopor perlawanan terhadap imperialism seharusnya ditulis dalam sejarah Indonesia sebagai pembangkit kesadaran nasional di Indonesia. Namun  nyatanya dalam penulisan sejarah masih sangat sedikit ditemukannya perjuangan para ulama dan santri.

Salah satu usaha ulama yaitu mendirikan sebuah lembaga pesantren agar mempermudah dalam penyampaian ajaran kiai kepada santrinya. Di pesantren mereka melakukan telaah agama, selain itu di pesantren mereka juga mendapatkan berbagai macam pendidikan rohani dan mental. Oleh karena itu, tidak heran jika para santri dalam memperjuangkan negara juga sangat antusias karena dari masing-masing santri secara fisik dan batin, mental mereka sudah terlatih.

Secara historis, pesantren sebagai lembaga pendidikan tempat pengajaran tekstual, baru muncul pada akhir abad ke-18 M. Namun, terdapat cerita bahwa pesantren sudah berdiri pada masa awal Islam tersebar di Indonesia. Tidak mengherankan jika pesantren menjadi pusat penyebaran agama Islam yang efektif di Indonesia. Jelas bahwa kesuksesan ini erat kaitannya dengan peran para kiai atau ulama di masyarakat. Pesantren dinilai sebagai lembaga pendidikan yang benar-benar mencerdaskan dan menanamkan jiwa patriotisme, meskipun pada masa penjajahan pesantren tidak dapat bekerja secara sistematis karena berbagai halangan dari pihak penjajah.

Prof. Dr. Sartono Kartodirjo menjelasan bahwa kemasyhuran dan daya tarik nasional yang melekat pada sebuah pesantren, sangat bergantung kepada reputasi gurunya. Ajaran perjuangan pesantren melahirkan kekuatan Islam yang integratif. Ajaran pesantren juga telah meniadakan rasa etnoregional dan menjadikan Islam sebagai simbol gerakan nasional dengan kata lain hal tersebut menjelaskan bahwa pengaruh ajaran ulama adalah mengubah sukuisme dan rasisme menjadi nasionalisme.

Fakta sejarah yang dipaparkan oleh Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo tersebut memberikan sebuah gambaran bahwa peran para ulama sebagai pembina pesantren yang tidak hanya memfungsikan pesantren sebagai lembaga pendidikan agama tetapi juga berperan dalam membangun character and national building (membangun karakter dan rasa nasionalisme). Hal tersebut juga membangkitkan kesadaran kerajaan protestan Belanda pada masa itu bahwa para ulama dan santri memiliki keuletan dalam menjawab berbagai penindasan yang telah mereka lakukan. Mereka juga menyadari bahwa ulama dan santri sebagai kelompok intelektual di zamannya tetap mampu memberikan bimbingan dan pimpinan bagi masyarakat yang tertindas.

Masa itu, guna melawan para penjajah, ulama dan santri tidak melancarkan perlawanan bersenjata. Hal ini dikarenakan penjajah Barat menggunakan tanah jajahannya sebagai pasar dan sebagai sumber bahan mentah bagi industrinya. Dengan demikian ulama memberikan reaksinya rapid response (memberikan jawaban dengan cepat), yaitu dengan menjadikan pasar sebagai arena memasarkan ide kebangkitan nasional.

Pernyataan Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hadjar Dewantara dalam Het Javaansche Nationalisme in de Indische Beweging, bahwa faktor eksternal tersebut sebenarnya tidak dapat menumbuhkan kesadaran nasional bila kondisi internal umat Islam Indonesia tidak memiliki kesadaran dalam kesamaan sejarah, yakni sama-sama merasakan tertindas oleh penjajah Barat. Penjajahan dan penindasan yang terjadi tersebut justru melahirkan pemahaman bagi rakyat Indonesia bahwa Islam identik dengan kebangsaan atau nasionalisme.

Demikian juga menurut teori filsafat sejarah Arnold J. Toyn bee dalam A Study Of History, bahwa setiap penindasan selalu melahirkan adanya kelompok kecil dari kalangan minoritas yang kreatif. Kelompok kecil tersebut tampil menjadi pemimpin kelompok mayoritas suatu bangsa dan memotivasi terbentuknya integritas suatu bangsa. Apabila kelompok ini tidak terdapat dalam suatu kelompok mayoritas, akan terjadilah disintegrasi bangsa. Apabila teori tersebut diterapkan di Indonesia, kelompok kecil yang aktif membangkitkan kesadaran berbangsa, bernegara dan beragama di Indonesia dari mayoritas rakyat adalah ulama. 

Maka tidak mengherankan jika para penjajah berusaha keras melakukan berbagai upaya untuk mematahkan kekuatan ulama dan santri. Ahmad Mansyur Suryanegara menjelaskan dalam karyanya Api Sejarah bahwa upaya mematahkan kekuatan ulama dan santri masa itu yaitu dengan tanam paksa, 1245 – 1337 H atau 1830 – 1919 M dalam penulisan sejarah, pada umumnya memang hanya dituliskan sebagai upaya gubernur jendral Van Den Boch untuk memperoleh pajak. Padahal dari bentuk tinjauan kepentingan pertahanan militer sangat berbeda. Bahwa tujuan sebenarnya adalah sebagai penuntasan oprasi militer yang juga bertujuan melumpuhkan ulama dan santri, yang sudah jelas juga berpengaruh besar bagi kalangan petani di daerah pedalaman.

Menurut Ahmad Mansyur Suryanegara tujuan tanam paksa dari politik penjajahan, jika dilihat dari teori Carl Clausewitz dalam On War adalah the destruction of the enemy’s forces yaitu menghancurkan segenap kekuatan lawan. Bagi imperialisme protestan Belanda di pulau Jawa sasarannya adalah ulama dan santri serta massa pendukungnya di daerah pedalaman sebagai lawannya. Secara tidak langsung, pemerintah kolonial Belanda menciptakan kondisi pola pikir kalangan pribumi untuk selalu siap menjadi punggawa atau pegawai dari pemerintah jajahan. Mereka juga berupaya melumpuhkan para ulama melalui politik etis. Meskipun ada juga sebuah pernyataan bahwa politik etis yang telah membangkitkan kesadaran nasional pada abad ke-20 M, namun hal tersebut sudah jelas tidak demikian kebenarannya.

Lain halnya dengan faktor eksternal pembangkit gerakan nasional Timur Tengah, seperti dalam penjelasan Rafiq Zakariya dalam The Struggle Within Islam yaitu tentang seorang tokoh Jamaluddin Al-Afghany (w. 1314 H/1897 M) yang berusaha keras membangkitkan solidaritas antar umat. Karena dengan solidaritas, umat Islam disadarkan akan bahayanya imperialisme Barat sebagai lawan umat Islam. Adapun kolaborasi dengan imperialisme Barat merupakan amal atau perbuatan yang berdosa. Jamaluddin Al-Afghany melihat sebagian pemimpin umat Islam kagum terhadap ilmu dari Barat dan menanggalkan Islam. 

Pandangan Jamaluddin tersebut adalah jawaban atas pemikiran Sir Ahmad Khan yaitu seorang pemimpin Islam India yang sangat ketakutan terhadap imperialis Inggris dan bekerja sama dengan imperialis Inggris. Sir Ahmad Khan juga mengadakan kerja sama antara Islam dengan kristen, serta berlindung kepada penjajah Inggris. Kemudian keduanya bekerja sama melawan Hindu. Kerja sama tersebut, sebagai produk pembelokan sasaran lawan. Semestinya Sir Ahmad Khan melawan imperialis Inggris, tetapi justru membantu Inggris juga Kristen untuk melawan Hindu. Maka terjadilah perpecahan antara umat Islam dan Hindu yang sebenarnya sama-sama terjajah oleh kerajaan protestan Inggris. Gagasan Sir Ahmad Khan yang demikian itu ditolak oleh Jamaluddin Al-Afghany. Menurutnya boleh saja umat Islam memanfaatkan ilmu Barat, asal digunakan untuk mengusir Imperialis Barat.

Demikian, jelas terbaca betapa besarnya peran para kepemimpinan ulama dan santri dalam perjuangan menegakan kedaulatan bangsa dan negara dan juga perjuangan para ulama dan santri dalam mempertahankan serta membangun negara kesatuan Indonesia. Maka dari itu, tepatlah sebuah kesimpulan dari E.F.E. Douwes Dekker Danoedirdjo Setiaboedhi dari Indische Partij yang mengatakan bahwa “Jika tidak karena sikap dan perjuangan para ulama, sudah lama patriotisme di kalangan bangsa kita mengalami kemusnahan.”

Referensi

Aceng Abdul Aziz DY. DKK, 2016. Islam Ahlusunnah Wal jama’ah, Jakarta: Lembaga Pendidikan Ma’arif NU pusat

Ahmad Mansur Suryanegara, 2009. Api Sejarah, Bandung: Salamadani

Oleh : Aulal M. Semester V

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *