Perjalanan Syekh Yusuf Sang Tuanta Salamaka, dari Gowa hingga Afrika Selatan

Ma’had Aly – Syekh Yusuf Al-Makasari memiliki nama asli Muhammad Yusuf. Ia lahir di Moncong Loe, Gowa, Sulawesi Selatan pada 3 Juli 1626 M/8 Syawal 1036 H. Ia lahir 21 setelah  Islam diterima sebagai agama resmi di Kerajaan Gowa (1605 M). Menurut Da Costa dan Davis dalam bukunya, orang tua Syekh Yusuf termasuk kaum bangsawan. Ibunya adalah puteri Gallarang Moncongloe dan masih memiliki hubungan darah dengan raja-raja Gowa. Sedangkan ayahnya, masih kerabat Sultan Alauddin, salah satu penguasa di Sulawesi Selatan. Namun dalam buku lain, dijelaskan bahwa ayahnya berasal dari kaum biasa, sedang ibunya masih berasal dari kaum bangsawan, sahabat karib Sultan Alauddin. Wallahua’lam, banyak versi cerita dari berbagai tokoh sejarawan. Ia terkenal dengan gelar Al-Syekh Al-Hajj Yusuf Abu Mahasin Hadiyatullah Taj Al-Khalwati Al-Makassari Al-Bantani. Gelar ini disematkan karena, Syekh Yusuf adalah tokoh tasawwuf dari Makassar yang berpengaruh da  berperan dalam pengembangan dakwah Islam. Sedang, di kota kelahirannya ia dikenal dengan Tuanta Salamaka yang memiliki arti Tuan kita yang selamat dan mendapat berkah.

Semenjak kecil, Syekh Yusuf sudah menampakkan kecintaannya pada ilmu pengetahuan Islam. Di dalam istana ia belajar bersama putri dari pemaisuri Sultan Alauddin. Ia belajar mengaji kepada guru kerajaan yaitu Daeng Ri Tasammang. Dengan waktu yang singkat, ia mampu mengkhatamkan Alquran 30 Juz. Lalu ia melanjutkan untuk belajar Ilmu Bahasa Arab, Ilmu Nahwu, Shorof, Ilmu Fikih, juga Ilmu Mantik. Dalam waktu yang sebentar, karena kecerdasannya ia mampu menamatkan kajian kitab-kitab tauhid, Fikih dan Tasawwuf. Berbicara tentang Ilmu Tasawwuf, berhubungan dengan kedatangan Islam yang masuk ke Sulawesi Selatan pada masa itu, telah bercorak mistik di samping bercorak fikih dengan orientasi madzhab. Syekh Yusuf justru memiliki ketertarikan pada bidang Tasawwuf. 

Ia sangat cinta pada ilmu, hingga ia melakukan penjelajahan ke manapun ilmu itu berada. Pertama, ia bertujuan ke Mekkah untuk menuntut ilmu sekaligus menunaikan haji di sana. Syekh Yusuf meninggalkan kampung halamannya pada 22 september 1645 M dengan menumpang kapal dagang Portugis. Saat perjalanan, ia melewati Banten dan sempat singgah di sana. Tanpa disengaja di sana ia bertemu Sultan Ageng Tirtayasa dan berkenalan serta berteman. Lanjut perjalanan, ia singgah ke Aceh. Di sana ia tak hanya sekedar singgah, namun juga menuntut ilmu pada salah satu tokoh ulama di sana, yaitu Syekh Nuruddin ar-Raniri. Syekh Nuruddin adalah pengarang Kitab Bustan al-Salatin (Taman raja-raja). Di sana Syekh Yusuf Tidak hanya mendapat ilmu saja, tetapi Syekh Yusuf juga mendapat ijazah tarekat Qadiriyah.

Setelah di Aceh, kemudian Syekh Yusuf melanjutkan perjalanannya ke Yaman. Setelah sampai di sana, ia langsung menemui Syekh Abdullah Muhammad bin Abd al-Baqi dan Syekh Sayyid Ali. Dari Syekh Abdullah, Syekh Yusuf mendapat ijazah Tarekat Naqsyabandiyah dan dari Sayyid Ali mendapat Tarekat al-Sa’adat al-Ba’lawiyyah. Saat tiba musim haji, ia pergi ke Makkah. Lalu lanjut ke Madinah untuk berziarah ke makam nabi dan menimba ilmu. Di Madinah, Syekh Yusuf belajar Tarekat Syatariyah dari Syekh Burhan al-Din al-Millah bin Syekh Ibrahim bin Husein bin Syihabuddin al-Kurdi al-Madani. Dilanjutkan perjalanannya ke Damaskus, di sana ia mempelajari tarekat Khalwatiyyah dari Syekh Abu al-Barakat Ayyub bin Ahmad al-Khalawati al-Quraisy. Ulama inilah yang memberi gelar Syekh Yusuf al-Khalwati Hidayatullah. Setelah mengembara sekian jauhnya, dan sudah banyaknya tarekat yang ia dapatkan, akhirnya Syekh Yusuf berniat kembali ke tanah air. 

Setelah lama merantau di negeri orang, akhirnya Syekh Yusuf pulang ke Gowa. Sesampainya di sana, ternyata daerahnya sudah sangat berubah. Di sana sudah penuh dengan kemaksiatan, seperti adu ayam, minum tuak, dan judi. Syekh Yusuf berusaha menasehati raja Gowa pada masa itu, namun nasehatnya tidak diindahkan. Akhirnya, Syekh yusuf memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya ini.

Untuk kedua kalinya Syekh Yusuf berniat merantau kembali ke Banten. Namun ia tidak pergi tanpa meniggalkan apapun. Sebelum pergi, ia memanggil beberapa muridnya untuk mengamanatkan agar mereka tetap mempelajari ilmu agama. Di samping itu, Syekh Yusuf juga mengajarkan tarekat kepada mereka. Salah satu muridnya adalah Syekh Nur al-Din Abd al-Fatah Abd al-Basyir al-Darir (orang buta), al-Rafani, dan Abd al-Kadir Karaeng Jeno’. Setelah mengajar mereka, barulah Syekh Yusuf bisa tenang untuk meninggalkan kampung halamannya. 

Syekh Yusuf mengunjungi Banten untuk kedua kalinya. Ia takjub akan perubahan Banten pada saat itu. Sudah banyak perubahan yang terjadi, Banten sudah menjadi wilayah yang lebih  maju daripada dahulu. Sudah banyak pembangunan yang terjadi, seperti pembangunan Keraton Tirtayasa, pembangunan saluran air serta perbaikan jembatan-jembatan di Banten. Kemajuan lainnya adalah ketika pada masa Sultan Ageng Tirtayasa ini, keagamaan berkembang pesat. Banyak para ulama dari timur tengah yang diterima baik oleh Sultan Ageng. Bahkan saat para ulama membuat pengajian, sangat diizinkan oleh sultan.

Berhubungan dengan perkenalan Syekh Yusuf dan Sultan Ageng beberapa tahun silam, saat Syekh Yusuf datang kedua kalinya ke sana, Syekh Yusuf mendapatkan kehormatan yang luar biasa. Ia diangkat menjadi mufti dan menjadi pengajar putra putri sultan. Terutama putra sultan yang tertua, yaitu Pangeran Gusti,  atau yang lebih dikenal dengan Sultan Haji. Bahkan Syekh Yusuf dinikahkan dengan putri sultan yang bernama Siti Syarifah.

Aktivitas keagamaan berjalan dengan baik, sesuai cita-cita Sultan Ageng untuk menjadikan Banten sebagai kubu pertahanan Islam di Nusantara. Guna membendung dan menentang keinginan kompeni Belanda untuk menjajah tanah air. Yang saat itu, sedang gencar-gencarnya serangan kompeni terhadap tanah Banten. Untuk memperkuat jiwa menghadapi jihad melawan musuh, Syekh Yusuf membangun kerja sama dengan para ulama asal Aceh. Hubungan politik dan diplomatik dengan penguasa muslim, terutama para syarif di Makkah, Kerajaan Mongol India, dan Kerajaan Turki Istanbul terus dikembangkan.

Pada Maret 1676, terjadi perselisihan  antara Sultan Ageng dengan anaknya, Sultan Haji. Dikarenakan, keinginan Sultan Haji yang ingin cepat-cepat menaiki tahta, menggantikan ayahnya. Hal tersebut juga didukung dengan kedekatan Sultan Haji dengan Kompeni. Dengan suasana seperti ini, tentu sangat dimanfaatkan oleh kompeni untuk semakin menghasut Sultan Haji dalam memberontak. Sikapnya ini sangat bertolak belakang dengan Syekh Yusuf, yang berusaha menanamkan semangat perlawanan fi sabilillah untuk meempertahankan kemandirian orang-orang Banten terhadap orang-orang Belanda. 

Selain sebagai mufti, Syekh Yusuf juga diangkat menjadi panglima perang. Akhirnya terjadilah pertempuran, selama dua tahun lamanya yaitu tahun 1682-1683. Syekh Yusuf berjuang bersama Sultan Ageng serta anaknya, yaitu Pangeran Purbaya. Pertahanan mereka tidak cukup kuat, hingga mengakibatkan Sultn Ageng tertangkap, karena tipu daya anaknya sendiri. Sultan Ageng dipenjara dan meninggal sebagai tawanan Belanda.

Saat sultan tertangkap, Syekh Yussuf bersama Pangerang Purbaya dan Pangeran kidul (anaknya yang lain), melaukan gerakan gerilya. Syekh Yusuf juga dibantu ulama lainnya, yaitu temannya saat berada di Makkah yang bernama Syekh Abd al-Muhyi. Saat sedang bergerilya, mereka dikejar tentara Belanda. Lalu mereka ditawarkan untuk singgah di kediaman Abd al-Muhyi. Namun lain cerita, Syekh Yusuf justru dibujuk oleh perwira Belanda, yang dijanjikan kebebasan. Namun, itu hanya tipu muslihat semata. Alhasil, Syekh Yusuf ditangkap dan dibuang  ke Sailon (Sri Lanka) bersama istrinya pada 12 September 1684 M.

Di Sailon, Syekh Yusuf menjalani kehidupannya dengan tenang. Di sana ia kembali pada jiwa asalnya yang sangat mencintai tasawwuf. Di sana ia bertemu ulama-ulama besar dari berbagai negeri Islam, ia bertemu dengan sahabat dari Hindustan seperti Syekh Ibrahim Ibn Mi’an. Keilmuan Syekh Yusuf memang sudah diakui oleh ulama manapun, buktinya Syekh Ibrahim ini meminta dikarangkan sebuah kitab tasawwuf. Judul kitab tersebut adalah Kayfiyyat al-Tasawwuf. Di tengah-tengah masyarakat Budha ini, Syekh Yusuf mengajar ilmu syari’at dan tasawwuf kepada para pengikutnya yang berasal dari India dan dari Sri Lanka sendiri. Namanya dikenal di penjuru Sri Lanka. Di tempat pengasingannya ini, ia  habiskan untuk mengajar dan menulis. Selama berada di Sailon, Syekh Yusuf berhubungan dengan jamaah haji yang pulang dan pergi ke tanah suci singgah di Sailon. Melalui jamaah haji itulah, ia bisa mengirimkan hasil karangannya ke murid-muridnya di tanah air. Karangan-karangan itu disimpan baik, disalin, dan dipelajari, bahkan dikeramatkan. Selain hubungan dengan murid-muridnya, ia juga bisa menjalin hubungan dengan para ulama di tanah air. Hal inilah yang membuat Belanda merasa terancam.

Beberapa karya Syekh Yusuf antara lain, Bidayatul Mubtadi yang menjelaskan prinsip-prinsip kepercayaan (keimanan) dalam Islam, Al-Barakat al-Sailaniyyah Minal Futuhat al-Rabbaniyyah yang berisi ajaran-ajaran etika dalam berdzikir kepada Allah, Matalib Salikin yang berisi tiga hal penting, yaitu tauhid, makrifat, dan ibadah. Dan masih banyak lagi kitab-kitab karangan Syekh Yusuf.

Atas pertimbangan yang matang, akhirnya pihak Belanda memutuskan untuk mengasingkannya lebih jauh, yaitu ke Afrika Selatan. Pada 1693, Syekh Yusuf dengan 49 pengikutnya dibuang ke Tanjung Harapan. Mereka ditempatkan di daerah Zandvliet dekat pantai, yang saat ini dinamakan Macassar. Kedatangan Syekh Yusuf sebagai tahanan di Afrika Selatan disambut dengan keramahan oleh Gubernur Willem Adrian. Sejak di sana, ia sudah tidak bisa menjumpai jamaah haji dari Nusantara lagi. Namun ia tetap menjadi pusat perhatian dan kehidupan masyarakat Islam di sana yang semakin kuat dan banyak.

Pada 23 Mei 1699 enam tahun lamanya ia menginjakkan kaki di Tanah Afrika, Syekh Yusuf wafat dan dimakamkan di daerah pertanian Zandvliet, di distrik Stellenbosch. Lalu Belanda menyampaikan berita duka kematian Syekh Yusuf kepada Sultan Banten dan Raja Gowa. Kedua pemimpin ini meminta agar jenazahnya dipulangkan ke tanah air, namun pihak Belanda tidak menghiraukannya. Baru setelah kepemimpinan Raja Abdul al-Jalil, bertepatan dengan 1704 M, pihak Belanda baru setuju untuk memulangkannya ke tanah air. Pada 5 April 1705 kerandanya tiba di Gowa lalu kemudian dimakamkan di Lakiung. Selanjutnya, kedua lokasi makam ini, yaitu di Afrika Selatan dan di Lakiung dikeramatkan oleh masyarakat setempat.

 

 

 

Referensi

Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Bandung: Mizan, 2004. 

Abu Hamid, Syekh Yusuf Makasar: Seorang Ulama, Sufi, dan Pejuang, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1994. 

Mustari Mustafa, Agama dan Bayang-Bayang Etis Syaikh Yusuf Al-Makassari, Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2011. 

Khamami Zada, dkk, Intelektualisme Pesantren, Jakarta: Diva Pustaka, 2003.

Nabilah Lubis, Syekh Yusuf Al-Taj Al-Makassari: Menyingkap Intisari Segala Rahasia, Bandung: Mizan, 1996.

Oleh : Qurotul ‘Aini, Semester V

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *