Perang Khandaq: Pertempuran Konfederasi dan Pengepungan Kota Madinah

Ma’had Aly – Saat pamor kaum muslimin dan kekuasaannya semakin mantap dan keuntungan pun selalu dibawa oleh kaum muslimin, kaum Yahudi merasa terbakar kemarahan dan merasa terhina akibat kejahatan yang dilakukan mereka sendiri dengan berkhianat dan berkonspirasi.

Kaum Yahudi berusaha melakukan konspirasi baru untuk mengumpulkan pasukan guna menyerang kaum muslimin. Mereka memilih 20 pemuka Yahudi untuk mendatangi orang-orang Quraisy di Mekkah dan Bani Ghathafan supaya menyerang dan memerangi Rasulullah. Ajakan ini disambut baik oleh kedua belah pihak, mereka tidak menyerang kaum muslimin secara langsung dan terang-terangan, oleh sebabnya mereka merancang dan melaksanakan langkah ini secara sembunyi sembunyi. Dengan berhasilnya kaum Yahudi mengumpulkan orang-orang kafir untuk menyerang Rasulullah, mereka pikir ini awal langkah yang bagus untuk menghentikan dakwah Rasulullah. 

Sungguh sangat disayangkan, banyak kabilah yang ingin menyerang Rasulullah dan melumpuhkan kaum muslimin baik dari arah timur maupun selatan. Pasukan arah selatan yaitu pasukan Quraisy, Kinanah, dan sekutu mereka dari penduduk Timamah dibawah komando Abu Sufyan. Jumlah keseluruhan mereka ada 4000 prajurit, sedangkan dari arah timur ada kabilah Ghathafan yang terdiri dari Bani Murrah dipimpin Al Harits bin Auf, dan Bani Asyja’ yang dipimpin Mis’ar bin Rukhailah.

Seluruh pasukan kaum musyrikin yang ingin menyerang Rasulullah serentak bergerak ke arah Madinah seperti yang telah mereka sepakati bersama. Namun sebelum pasukan musuh beranjak dari tempatnya, informasi mengenai rencana mereka sudah tercium di Madinah tanpa diketahui kaum musyrikin bahwa model kepemimpinan di Madinah tidak pernah terpejam, pergerakan mereka tak luput dari pantauan kaum muslimin. Ketika Rasulullah mendengar ini, beliau mengadakan rapat dengan majelis permusyawaratan tinggi untuk mendapat ide dan siasat yang bagus agar mampu mempertahankan Madinah. Dari sekian banyak usulan, mereka menyetujui usulan Salman al-Farisi, yang mana ia mengusulkan taktik ini merupakan langkah yang bijaksana dan belum dikenal bangsa Arab. Beliau berkata “Wahai Rasulullah, dulu jika kami orang-orang Persi sedang dikepung musuh, maka kami membuat parit di sekitar kami,” 

Ketika Salman al-Farisi mengusulkan membuat parit untuk menghalang-halangi kaum musyrikin menyerang Madinah, maka dalam peristiwa yang akan terjadi ini disebut dengan perang Khandaq sebab mereka menggali parit sebagai taktik perang. Selain Khandaq, dikenal juga perang Ahzab sebab kaum musyrikin bekerjasama untuk menghancurkan Islam.

Perang Khandaq terjadi pada tahun 5 H/627 M, bermula pada bulan Syawal dan berakhir pada bulan Dzulqa’dah. Dalam perang Khandaq ini, kaum muslimin berjumlah 3000 sedangkan kaum musyrikin berjumlah 10.000, tentunya jumlah tersebut tiga kali lipat lebih besar dibanding kaum muslimin. Secara umum, peperangan ini tidak dihiasi dengan pertumpahan darah, pembunuhan, atau penyerangan dengan senjata, hanya saja kaum muslimin dikepung kaum musyrikin sehingga kaum muslimin menyiasatinya dengan penggalian parit supaya kaum musyrikin tidak dapat masuk di kota Madinah, ini merupakan salah satu pertahanan kaum Muslim dalam perang Khandaq (strategi defensif). Kaum musyrikin berusaha menembus parit tersebut, namun usahanya dihalang-halangi kaum muslimin, sebab parit itu selalu dijaga oleh kaum muslimin, sehingga beberapa dari mereka dipanah oleh kaum muslimin. Terhitung dalam pertempuran ini ada 6 sahabat yang gugur sebagai syahid, dan 8 orang kaum musyrikin mati. 

Parit digali di bagian Utara sebab Madinah dikelilingi gunung, tanah-tanah kasar yang bebatuan dan kebun-kebun kurma di segala sudut kecuali pada area ini. Rasulullah merupakan pemegang pucuk pemerintahan militer yang tahu benar bahwa pasukan musuh akan menyerbu Madinah dari arah Utara. Tanpa pikir panjang, Rasulullah segera melaksanakan rencana ini dengan para sahabat dan mereka pun mendapat bagian masing-masing, yang mana tiap 10 orang berkewajiban menggali parit sepanjang 40 hasta.

Rasulullah pun ikut andil dalam pembuatan parit, beliau berbeda dari pemimpin lain yang memilih pergi ke istana sendiri dan mengawasi mereka dari jauh. Rasulullah sungguh berbeda, beliau turun langsung untuk menggali parit hingga badan dan pakaiannya kotor penuh debu dan tanah seperti para sahabat lainnya. Rasulullah bersenandung untuk menumbuhkan semangat para sahabatnya, semua merasa letih dan lapar namun Rasulullah yang paling letih dan lapar. Itulah hakikat persamaan antara penguasa dan rakyat, orang kaya dan orang miskin bahkan amir dan rakyat jelata yang ditegakkan oleh syari’at Islam. Syariat Islam tidak pernah membedakan antar satu golongan dengan golongan yang lain atau memberikan hak istimewa terhadap suatu golongan tertentu karena semua terhapuskan oleh sifat ‘ubudiyah (kehambaan kepada Allah swt) karena semuanya sama dihadapan Allah, hanya iman dan ketakwaan yang membedakannya.

al-Barra berkata bahwa saat penggalian parit di beberapa tempat, mereka terhalang oleh tanah yang sangat keras. Mereka melaporkan hal ini kepada Rasulullah, beliau datang mengambil alat dan bersabda: “Bismillah…” kemudian menghantam tanah yang keras itu dengan satu kali hantaman. Beliau bersabda, ‘’Allah Maha Besar, aku diberi tanah Persi. Demi Allah, saat ini pun aku bisa melihat Istana Mada’in yang bercat putih’’, Kemudian beliau menghantam untuk ketiga kalinya, dan bersabda: “Allah Maha Besar. Aku diberi kunci-kunci Yaman. Demi Allah, dari tempatku ini aku bisa melihat pintu-pintu gerbang Shan’a’’. Orang-orang muslim terus menggali parit tanpa henti sepanjang siang dan baru pulang ke rumah sore hari menemui keluarganya hingga penggalian parit selesai.

Ketika penggalian parit, mereka didera rasa lapar yang berkepanjangan lalu Abu Thalhah pun berkata, “Kami mengadukan rasa lapar kepada Rasulullah lalu kami mengganjal perut kami dengan batu. Beliau juga mengganjal perut dengan dua buah batu.’’ Dan selama masa penggalian parit ada beberapa tanda nubuwah yang berkaitan dengan rasa lapar yang mendera mereka. Sahabat Jabir izin kepada Rasulullah untuk pulang ke rumahnya dan meminta istrinya memasak gandum satu sha’ dan menyembelih satu ekor kambing. Setelah matang, Jabir berbisik kepada Rasulullah untuk singgah ke rumahnya memakan masakan yang telah dimasak oleh istrinya. Jabir berkata kepada beliau agar membawa beberapa sahabat saja, namun beliau menyerukan kepada para sahabat untuk makan di rumah Jabir. Jabir tercengang dengan apa yang dilakukan beliau yang mengajak seluruh sahabat untuk makan di rumahnya, sementara ia hanya memasak sedikit makanan. Ketika mereka memakan dengan lahap hingga kenyang, daging dan adonan roti masih utuh seperti yang dimasak oleh istri Jabir.  Inilah salah satu tanda kenabian yang dimiliki Rasulullah saw.

Ketika kaum musyrikin hendak menyerang kaum muslimin di Madinah, mereka dihadang oleh parit  yang merupakan siasat perang yang tidak dikenal oleh masyarakat Arab, akhirnya mereka membuat keputusan untuk mengepung umat Muslim di Madinah. Pada masa pengepungan, mereka gencar mencari titik lemah kaum muslimin namun mereka selalu mengawasi pergerakan orang-orang musyrik. Karena terlalu sibuk melakukan serangan balik terhadap kaum musyrikin yang berusaha menyeberang parit, akhirnya sahabat Umar bin Khattab mengingatkan bahwa ada satu shalat yang tak sempat dikerjakan Rasulullah dan kaum muslimin, beliau bergegas berwudhu lalu mengerjakan shalat ashar setelah matahari tenggelam kemudian disusul dengan shalat maghrib. 

Kaum musyrikin semakin gencar melakukan perlawanan terhadap Rasulullah dari arah depan dan tanpa disangka-sangka Bani Quraizhah mengkhianati mereka, ini merupakan posisi yang berbahaya bagi mereka namun Rasulullah yakin bahwa pertolongan dari Allah swt pasti ada. Seketika Allah menghinakan musuh, mengacaukan semua barisan mereka serta menceraiberaikan persatuan mereka, yang mana awalnya seseorang bernama Nu’aim bin Mas’ud bin Amir al-Asyja’i mendatangi Rasulullah dan berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah masuk Islam, sementara kaumku tidak mengetahui keislamanku ini. Maka perintahkanlah kepadaku apapun yang engkau kehendaki. Beliau pun bersabda: Berilah pertolongan kepada kami menurut kesanggupanmu karena peperangan ini adalah tipu muslihat. Seketika itu Nu’aim mengadu domba antara Bani Quraizhah, Ghathafan, dan Quraisy, hingga akhirnya pasukan mereka tercerai-berai dan mereka diperdayai lalu Allah mengirimkan angin taufan yang semakin memorakporandakan perkemahan mereka sehingga tak lama mereka pun meninggalkan Madinah.

Dalam catatan sejarah Islam, perang ini merupakan peperangan yang menegangkan dan memberi kesan bahwa sebesar apapun kekuatan kaum musyrikin tidak akan mengalahkan kaum muslimin walau kenyataannya kekuatan kaum muslimin lebih kecil. Oleh karenanya, Rasulullah bersabda: “Sekarang kitalah yang akan menyerang mereka dan mereka tidak akan menyerang kita. Kitalah yang akan mendatangi mereka.’’

Sarana yang digunakan Rasulullah dalam peperangan ini yaitu sarana mendekatkan diri kepada Allah swt serta memperbanyak doa dan istighatsah kepada-Nya, sehingga sarana inilah yang selalu digunakan oleh Rasulullah ketika menghadapi musuh di medan jihad dan hasilnya pun selalu diberikan kemenangan oleh Allah swt.

 Referensi

Muhammad, Sa’id Ramadhan Al-Buthi. 1977. Siroh Nabawiyah Analisis Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rosululloh SAW. Diterjemahkan oleh: Aunur Rofiq Shaleh Tahmid. Jakarta: Robbani Press.

Syafiyurrahman, Al-Mubarakfuri. 1997. Siroh Nabawiyah. Diterjemahkan oleh: kathur Surhadi. Jakarta: Pustaka Al Kautsar.

Abu, Muhammad Abdul Malik. 2017 As-Shahih An Nabawiyah li Ibnu Hisyam. Diterjemahkan oleh: Fadhli Bahri. Bekasi: Darul Falah.

Syamsul, Bakhri. 2011. Peta sejarah peradaban Islam. Yogyakarta: Fajar Media Press.

Badri,  Rosyidi. 1987. Sejarah Peradaban Islam . Bandung: Armico.

Oleh : Siti Mila Azka Maimunah, Semester IV

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *