Pengaruh Raja dan Kerajaan Islam dalam Islamisasi di Indonesia

Kerajaan Perlak dan Raja-Raja yang Berpengaruh

Ma’had Aly – Salah satu kerajaan Islam di Nusantara adalah kerajaan Perlak, Sumatera. Berdirinya kerajaan ini yaitu pada pertengahan abad IX, sementara raja pertamanya ialah Alauddin Syah. Kerajaan Perlak saat itu merupakan kota dagang yang maju dan menjadi penyedia lada terkenal sehingga menjadi tempat singgah strategis bagi kapal-kapal dagang dari luar seperti Arab dan Persia (Iran). Salah satu cara yang dilakukan oleh para pedagang Muslim untuk menyebarkan Islam di daerah ini adalah melalui jalur perkawinan; yaitu saudagar muslim menikahi wanita setempat. Syeikh Abdul Arif adalah salah satu tokoh Islam yang mempengaruhi lahirnya Islam di Sumatera, beliau adalah saudagar Arab yang menikah dengan orang pribumi. Setelah kedatangan Syeikh tersebut, maka berdirilah kerajaan Islam pertama di Aceh. Sultan Alauddin Syed Maulana Abdul Aziz Syah adalah sultan pertama kerajaan Perlak. Kerajaan Perlak berkuasa antara tahun 840 sampai 1292 M dan mengalami 18 kali pergantian Sultan. Sultan terakhir kerajaan ini (sultan ke 18) bernama Sultan Makdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat yang memerintah dari tahun 1267 sampai 1292 Masehi. Kerajaan Perlak kemudian bergabung dengan kerajaan Samudera Pasai. Dan gabungan dari kedua kerajaan ini tetap menggunakan nama Kerajaan Samudera Pasai dan menjadi kerajaan terbesar di Aceh. Kerajaan ini berpengaruh besar terhadap Islamisasi di Nusantara dan terus berjalan ke daerah lain di sekitarnya, karena melalui kerajaan pertama ini Sumatera mengenal Islam.

Kerajaan Samudera Pasai dan Raja-Raja yang Berpengaruh

Kerajaan Islam yang kedua ialah kerajaan Samudera Pasai. Letak kerajaan ini berada di pesisir timur dari laut Aceh kabupaten Lhokseumawe (Aceh Utara). Kehadirannya sebagai salah satu kerajaan Islam diperkirakan pada pertengahan abad 13 atau tepatnya 1267 M. Raja pertama yang berpengaruh dalam Islamisasi di daerah ini sekaligus pendiri kerajaan Samudera Pasai ialah Malik Al-Saleh. Inilah hasil dari Islamisasi yang dilakukan di daerah pantai. Daerah tersebut adalah daerah yang pernah disinggahi oleh para pedagang Muslim dari abad 7 atau 8 M dan seterusnya. Sementara wilayah yang masyarakatnya banyak memeluk agama Islam ialah Perlak. Sedangkan bukti tulisan yang menyatakan jika kerajaan Samudera Pasai berdiri di abad 13 M ialah nisan yang dibuat dari granit dari kerajaan Samudera Pasai. Tulisan pada nisan tersebut jika raja pertama dari Samudera Pasai sudah wafat di bulan Ramadhan tahun 696 H, tahun tersebut diperkirakan tahun 1297 M. Nisan tersebut juga diperoleh dari Gampong Samudera yang merupakan bekas dari kerajaan Samudera Pasai berdiri. Melalui kekuasaan Malik Al-Saleh pengaruh Islamisasi di Pasai cukup signifikan, dengan pengaruh inilah kemudian pesatnya Islam menjadi agama yang dianut oleh masyarakat Pasai dan berkembang ke daerah sekitarnya. Kerajaan Samudera Pasai pernah ditaklukan oleh Majapahit pada tahun 1345 dan 1350 M. Namun tidak selang berapa lama, Samudera Pasai berhasil bangkit. Kebangkitan ini terjadi pada tahun 1383 M. Saat itu Sultan yang berkuasa adalah Sultan Zainal Abidin Malik az-Zahir, yang memerintah tahun 1405. Sultan Zain al-Abidin Malik az Zahir berpengaruh besar dalam Islamisasi Samudera Pasai karena telah merebut kembali kekuasaan Islam yang pernah berkembang disana sehingga mengembalikan kejayaan Islam. Hingga kemudian Sultan Zain wafat. Selanjutnya, pemerintahan Kesultanan Pasai dilanjutkan oleh istrinya, Sultanah Nahrasyah (Nahrisyah). Kerajaan Samudera Pasai akhirnya runtuh akibat perang saudara. Kemudian pada tahun 1542 M, wilayah Pasai sudah menjadi bagian dari kedaulatan Kesultanan Aceh.

Kerajaan Aceh Darussalam dan Raja-Raja yang Berpengaruh

Kerajaan Islam selanjutnya di Indonesia ialah kerajaan Aceh Darussalam. Kerajaan ini berdiri pada 1514 M. Raja pertamanya ialah Sultan Ibrahim (Ali Mughayat Syah). Sementara kerajaan Samudera Pasai hanya berlangsung hingga 1524 M, karena pada 1521 M kerajaan tersebut ditaklukan Portugis dan selanjutnya mendudukinya 3 tahun lamanya. Samudera Pasai berada di bawah kekuasaan kesultanan Aceh selama masa empat abad (1514-1873 M) sangat maju dalam hal perdagangan, pemerintahan pun berjalan dengan teratur dan kebudayaan Islam terpelihara dengan baik, mayoritas masyarakat Aceh telah menganut agama Islam. Selain itu, kerajaan Aceh juga diakui oleh Inggris dan Belanda sebagai kerajaan yang maju dan dapat sejajar dengan kerajaan-kerajaan di Timur Tengah, seperti Kerajaan Turki Utsmani dan Kerajaan Islam Maroko. Bahkan Kerajaan ini melakukan ekspansi ke kawasan Selat Malaka, dan berhasil menguasai beberapa kerajaan kecil di Sumatera, seperti Daya, Pasai, Siak, dan Aru di pantai timur Sumatera. Kemudian juga melakukan ekspansi ke daerah lain di Sumatera dan berhasil menguasainya. Aceh meraih puncak kejayaannya melalui pengaruh Sultan Iskandar Muda yang memerintah tahun 1607-1636 M. Pada masa ini, perdagangan di Selat Malaka berkembang pesat, dan Aceh memiliki kekuasaan atas selat yang strategis tersebut.

Kerajaan Demak dan Raja-Raja yang Berpengaruh

Kerajaan Demak adalah kerajaan pertama di Jawa yang proses Islamisasi tersebut dimotori oleh Walisongo yakni sembilan wali penyebar agama Islam, juga tidak lepas dari dukungan kerajaan-kerajaan Islam. Kerajaan Demak didirikan pada tahun 1478 M oleh seorang raja putera dari Prabu Brawijaya V dengan Putri Champa dari Tiongkok yang bernama Raden Fatah. Raden Fatah mempunyai pengaruh besar dalam Islamisasi di Jawa, karena salah satu faktor pesatnya Islam maju di Jawa ialah didirikannya sebuah Pesantren di hutan Glagah Wangi atau Bintara, yang kemudian santrinya lambat laun semakin banyak, sehingga menjadikan Bintara berkembang sangat pesat. Oleh sebab itu, Raden Fatah dikukuhkan menjadi Adipati Demak oleh ayahnya, dengan mengganti Demak dengan nama Demak Bintara. Kesultanan Demak mencapai masa kejayaannya pada awal abad ke-16 M. Pada masa tersebut, Kesultanan Demak menjadi kerajaan yang kuat di pulau Jawa. Tidak satu pun kerajaan lain di Jawa yang mampu menandingi kekuatan kerajaan ini dengan memperluas kekuasaannya atau menundukkan beberapa kawasan pelabuhan dan pedalaman di Nusantara. Peran besar dalam pengaruh Islamisasi di Jawa adalah pada masa Sultan Trenggana yaitu sultan yang ketiga, pada masa ini Kesultanan Demak mulai menguasai daerah Jawa lainnya, seperti merebut Sunda Kelapa dari Padjajaran dan menghalau tentara Portugis yang akan mendarat disana (1527), Tuban (1527), Madiun (1529), Surabaya dan Pasuruan (1527), Malang (1545), dan Blambangan, kerajaan Hindu terakhir di ujung timur pulau Jawa (1527, 1546). Dengan direbutnya wilayah-wilayah tersebut, maka penyebaran Islam di tanah Jawa pun semakin masif dan pesat. Setelah runtuhnya Kesultanan Demak, tugas selanjutnya penegakan agama Islam di Jawa diteruskan oleh kerajaan-kerajaan Islam berikutnya, yakni Kerajaan Pajang, Kesultanan Mataram, dan kerajaan-kerajaan di berbagai wilayah di Jawa lainnya. Sumatera bagian tengah dan bagian selatan serta kerajaan-kerajaan di Semenanjung Malaka, seperti Perak dan Pahang, Kedah, dan juga kerajaan-kerajaan kecil seperti Deli yang ditaklukan pada tahun 1612, Bintan pada tahun 1614, Kampar, Pariaman, dan Minangkabau saat ini lokasi tersebut adalah kota Demak, Jawa Tengah.

Referensi

Fatoni Sulton. 2017. Prof. Dr. K.H Said Aqil Siroj, M.A: Buku Pintar Islam Nusantara, Jakarta: Pustaka

Iman Aizid Rizem. 2016. Sejarah Islam Nusantara, Jogjakarta:Diva Pes

Sudirman. 2009. Sejarah 2, Jakarta:Katalog Dalam Terbitan

Gara Putra. 2010. Samudera Pasai; Cinta dan Pengkhianatan. Hikmah

Supriatna Nana. 2006. Sejarah. Tangerang:Grafindo Media Pratama

Kontributor: Nasrudin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *