Pendidikan Menumbuhkan Toleransi di Era Milenial

Ma’had Aly – Allah swt menciptakan berbagai macam makhluk di muka bumi, makhluk Allah yang paling mulia hanyalah manusia. Sebab manusia diciptakan disertai akal dan pikiran. Dalam sebuah perjalanan hidup seseorang, yang paling penting bukan seberapa tinggi derajatnya di hadapan masyarakat, akan tetapi baiknya akhlak yang kita miliki. Negara memberikan kebebasan pada warganya, juga dengan kewajiban dan hak untuk beragama sebagai bentuk keyakinan seseorang kepada Tuhan yang Maha Esa juga sebagai pedoman hidup. Kita sebagai makhluk sosial juga memiliki hak untuk berpendapat dan berargumen tentang suatu hal menurut tata aturan dan ketentuan yang berlaku. Dengan ini, dalam menjalankan kehidupan harus mempunyai sikap toleransi terhadap sesama makhluk agar menciptakan kesatuan dan perdamaian dalam lingkungan masyarakat. Secara etimologi, toleransi berasal dari bahasa latin tolerantia yang mempunyai arti suatu kelembutan hati, kesabaran, dan memberi kebebasan kepada orang lain. Adapun secara terminologi, para ahli menjelaskan apa yang dimaksud dengan toleransi:

  1. Michael Walzer berpendapat toleransi adalah suatu keniscayaan dalam ruang individu dan ruang konflik, karena salah satu tujuannya adalah membangun hidup damai (peaceful coexistence) di antara berbagai kelompok masyarakat dari perbedaan latar belakang, sejarah, kebudayaan, dan identitas.
  2. Umar Hasyim berkata toleransi adalah pemberian kebebasan kepada sesama manusia atau masyarakat untuk menjalankan keyakinan dan aturan hidupnya masing-masing, selama pelaksanaannya tidak melanggar atau bertentangan dengan syarat-syarat asas terciptanya ketertiban dan kedamaian masyarakat.
  3. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata toleransi berasal dari kata toleran yang diartikan sebagai sifat menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.

Sikap toleransi adalah sikap menghormati sesama manusia dengan kasih sayang, bertujuan untuk menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan serta menjaga perdamaian dalam bermasyarakat.

Rasulullah saw merupakan makhluk Allah swt yang paling mulia, beliau selalu menolong masyarakat yang sedang kesusahan tanpa melihat fisik dan pangkat yang mereka miliki. Beliau juga menghargai masyarakat yang memeluk agama lain dan beliau tidak pernah memaksa kehendak masyarakat untuk memeluk agama yang dibawa oleh beliau.

Negara Indonesia merupakan negara yang memiliki berbagai kebudayaan, tradisi, ras, adat, suku, bahasa, dan agama. Individu harus mampu menyikapi perbedaan antar makhluk sosial dalam suatu tatanan masyarakat, dengan sikap toleransi dan rasa kasih sayang sebagai bentuk wujud kita menjunjung tinggi persatuan dan kedamaian seperti halnya Bhineka Tunggal Ika, meskipun berbeda-beda kita tetap satu jua. Menanamkan sikap toleransi terhadap generasi millenial mampu menumbuhkan jiwa kasih sayang yang berpengaruh kepada kehidupannya, mengingat minimnya rasa saling menghargai orang lain. Dengan ini pendidikan di Indonesia harus lebih disiplin dan menerapkan pembelajaran yang mengarah pada keagamaan dan lebih meningkatkan akhlak yang baik. 

Pada masyarakat sekarang ini faktor yang memicu terjadinya tawuran antar sesama dan banyak konflik adalah segolongan yang mengatasnamakan keagamaan maupun adanya perbedaan pendapat. Hal ini karena kurangnya pendidikan yang mengarah pada nilai-nilai keagamaan. Pendidikan adalah proses yang dilakukan seseorang untuk merubah karakteristik seseorang untuk menjadi yang lebih baik. Suatu pendidikan berfungsi sebagai sarana untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak yang beradab agar menjadi manusia yang berakhlak mulia, bertakwa, beriman, berilmu, dan bertanggung jawab. 

Pendidikan menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan membutuhkan upaya dalam menumbuhkan sikap toleransi demi terciptanya generasi yang berakhlak baik dan bisa mewujudkan perdamaian dalam suatu negara. Adanya pendidikan yang berkarakter mampu merubah karakter atau watak baik di era milenial ini, dimana anak zaman sekarang lebih mudah emosi dalam menanggapi masalah dan bertindak semaunya sendiri dalam berbuat keadilan.

Suatu pendidikan harus dilandasi dengan kerukunan guru terhadap muridnya dan mencontohkan bagaimana cara kita berlaku toleransi kepada sesama. Pendidikan yang berwawasan kebangsaan juga mempengaruhi anak untuk berlaku toleran terhadap sesama. Dengan ini kita bisa mengamalkan nilai-nilai pancasila untuk menumbuhkan sikap toleransi dengan tujuan menjaga hubungan kekeluargaan tanpa memandang agama, suku, dan ras. Sikap toleransi harus diiringi dengan saling tolong menolong.  

Macam sikap toleransi antara lain: saling menghormati antar agama, memberi kesempatan orang lain untuk berpendapat, saling membantu, saling menyayangi sesama manusia, tetap menjaga hubungan keluarga, kerabat, dan masyarakat. 

Cara untuk mewujudkan sikap toleransi dalam pendidikan antara lain: Memahami kepribadian orang lain, mengenal dan menelusuri kebudayaan masyarakat lain, dan menumbuhkan sikap empati terhadap sesama. Sikap empati adalah munculnya suatu sikap kesadaran untuk lebih mementingkan orang lain tanpa harus mengorbankan diri kita sendiri. 

Sikap toleransi mempunyai manfaat untuk kehidupan bermasyarakat, di antaranya:

  1. Menumbuhkan suasana harmonis dalam kekeluargaan
  2. Munculnya rasa peduli dalam diri terhadap manusia
  3. Terhindar dari sikap egois 
  4. Semakin erat tali persaudaraan antar keluarga, kerabat dan masyarakat, semakin eratnya persatuan dan perdamaian 
  5. Meminimalisir terjadinya konflik antar sesama

Perbedaan agama dalam lingkup sosial mampu menjadikan kita untuk lebih meningkatkan sikap toleran terhadap sesama. Dengan ini kita terhindar dari sikap intoleransi yang dapat merusak kesatuan dan perdamaian yang sudah ada. Sikap intoleransi adalah suatu sikap yang mencerminkan kurangnya rasa hormat kita terhadap orang lain.

Dengan adanya pendidikan yang didasari keagamaan diharapkan dapat ikut serta melestarikan sikap toleransi terhadap masyarakat dan bergotong royong tanpa melihat status sosial, serta berbuat baik dengan rasa kasih sayang terhadap keluarga dan masyarakat. Negara memiliki tujuan yang sama dalam menjunjung tinggi nama baik indonesia, dengan ini masyarakat harus mampu bersatu dalam perbedaan, maka dengan ini sikap toleransi menjadi hal yang wajib untuk dimiliki tiap individu. 

Referensi

Muawanah. Pentingnya pendidikan. Vol 5 No.1 2018 Jurnal Vijjacariya.

Sumartono. 2014. Komunikasi Kasih Sayang. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.

Oemar Bakry.1993. Akhlak Muslim. Bandung: Angsana.

Ali Ghozi. 2010. Akhlak Pergaulan Remaja. Jakarta: Rizky Grafis.

Said Agil Husin. 2013. Fiqih Hubungan Antar Agama. Jakarta: Ciputat Press.

Bedjo Sujanto. 2007. Pemahaman Kembali Makna Bhineka Tunggal Ika Persaudaraan Dalam Kemajemukan. Jakarta: CV Sagung Seto.

Oleh : Ika Safitri, Semester IV

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *