Nabi Muhammad SAW, Kabar Bahagia Seluruh Alam

Ma’had Aly – Sejarah memang bukan sekadar kisah, di baliknya pasti terdapat banyak hikmah. Kehidupan mulia yang ditempuh sang penghimpun dakwah, pemegang amanah, yang kelak menjadi penyelamat umat dari fitnah dunia yang penuh kerusakan, yakni Nabi Muhammad saw.

Seperti telah banyak kita ketahui, bahwasanya Islam hingga saat ini masih berdiri kokoh karena ajaran yang fleksibel, meski globalisasi dunia dan perkembangan teknologi yang tidak bisa dihentikan, juga pemikiran yang terkadang menyesatkan, namun Islam mampu memberikan aroma harum yang mendunia.

Ajaran ini bukan tidak memiliki jati diri, namun memberikan pilihan yang tidak memberatkan, sesuai syariat yang telah ditentukan. Allah Azza wa Jalla berfirman:

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ 

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pengajaran yang baik. Dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu, Dia-lah yang lebih Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih Mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-nahl: 125).

Agama yang paripurna ini dapat semerbak wanginya, karena Rasulullah saw menebarkannya dengan kebaikan tanpa kekerasan atau paksaan. Bahkan jauh sebelum beliau diutuspun, kabar kebaikan sudah banyak tersebar di kalangan ahli kitab penganut agama nabi Ibrahim yang murni.

Jurjis Sang Rahib

Kisah yang tak asing di telinga pembaca Sirah Nabawiyah, ketika nabi Muhammad  berusia dua belas tahun, diajak oleh pamannya Abu Thalib untuk berdagang ke negeri Syam. Sampai di Bushra, kafilah dagang singgah dan beristirahat di kediaman seorang rahib yang bernama Jurjis namun lebih dikenal dengan nama Bahira. Sang rahib jarang keluar dari kediamannya kecuali untuk menyambut tamu kehormatan saja, ketika mengenali sifat-sifat nabi, sambil memegang tangannya sang rahib berkata “Orang ini adalah pemimpin semesta alam, orang ini akan di utus Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam.” Lalu sang rahib pun memohon kepada Abu Thalib untuk kembali ke kota Makkah karena dikhawatirkan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Rasulallah bersabda: “Tidaklah diriku berhasrat pada sesuatu dari kebiasaan jahiliyyah kecuali dua kali, lalu Allah menghalanginya dari diriku. Sesudah itu aku tidak pernah lagi terlintas ingin melakukannya, sampai Allah memuliakan aku dengan risalahnya.

Waraqah bin Naufal

Pengangkatan menjadi rasul umumnya terjadi pada saat usia 40 tahun, karena pada usia inilah tercapai kematangan emosional yang seimbang. Tiga tahun sebelum turunnya risalah, beliau gemar melakukan ‘uzlah merenungi keadaan kota Makkah yang penuh dengan kekeliruan cara berfikir dan merosot nilai akhlaknya.

Akhirnya wahyu pertama diturunkan kepada beliau, lalu beliau menceritakan semua yang dialami kepada istrinya, Khadijah. Lalu Khadijah pun bertanya perihal tersebut kepada anak pamannya, yakni Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza. “Quddus, Quddus! Demi zat yang jiwa Waraqah dalam genggaman-Nya, sungguh telah datang an-Namus yang agung, dahulu ia datang kepada Musa, sungguh dia (Muhammad) adalah Nabi umat ini. Perteguhlah hatimu karena sungguh tidak seorangpun yang pernah membawa seperti yang engkau bawa melainkan akan dimusuhi, seandainya aku mendapati masa itu, niscaya aku akan menolongmu dengan segenap jiwa ragaku,” sahut Waraqah.

Kabar Bahagia Diterima Oleh Nabi Isa as.

Selain kabar bahagia yang telah disebutkan pada masa hidupnya Rasulullah saw., jauh sebelum lahirnya beliau pun telah dikabarkan bahwa akan diutusnya Nabi akhir zaman. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّراً بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءهُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ

Dan (ingatlah) ketika ‘Isa putra Maryam berkata, Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang nama-nya Ahmad (Muhammad).  Namun ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, ‘ni adalah sihir yang nyata’.” (QS.As-shaf: 6)

Dikisahkan dalam kitab Qashas al Anbiya karangan Ibnu Katsir, bahwa Allah Azza wa Jalla mewahyukan kepada Nabi Isa as., “Wahai Isa! Kuatlah dalam (menyampaikan) urusan-Ku (agama-Ku) dan jangan lemah. Percayalah seorang nabi buta huruf dari Arab, pemilik unta, surban, baju perang, matanya lebar dan bagus, dahinya kuat, rambutnya ikal, jenggotnya tebal, kedua alisnya menyatu, hidungnya mancung, giginya renggang, ia memiliki bulu-bulu dari dada hingga pusar laksana pedang, saat menoleh ia menoleh dengan keseluruhan badannya, keringat di wajahnya seakan mutiara, aroma kasturi menyeruak dari tubuhnya, belum pernah terlihat seorang pun sepertinya, baik sesudah maupun sebelumnya. Wahai Isa! Rawatlah dia di akhir zaman, seperti Zakariya merawat ibumu. Ia memiliki dua cucu syahid di sisi-Ku, ia memiliki kedudukan yang tidak dimiliki seorang manusia pun, perkataannya Al-Qur’an, agamanya Islam dan kesejahteraan datang menghampirinya.” 

Rabi’ah bin Nashr

Dikisahkan bahwa, seorang penguasa negeri Yaman yang bernama Rabi’ah bin Nashr mengalami mimpi yang sangat membekas pada hatinya dan tidak membuat berhenti untuk memikirkannya. Ia pun ingin merasa tenang dengan memanggil dukun, penyihir, hingga ahli nujum. Namun sayangnya mereka tidak bisa mentakwilkan mimpi sang raja sebelum raja tersebut menceritakan mimpinya. Akhirnya mereka merekomendasikan agar sang raja memanggil Satih dan Syiq.

Setelah mereka sampai di hadapan sang raja, raja pun memerintahkan Satih untuk mentakwilkan mimpinya, sebelum raja bercerita ia sudah bisa menceritakan apa yang dialami sang raja dalam mimpinya: “Engkau bermimpi melihat benda hitam keluar dari tempat yang gelap, kemudian benda tersebut jatuh ke tanah datar, kemudian semua makhluk hidup memakannya.” Sontak sang raja kagum akan kemampuan Satih, “Maka takwilkanlah untukku” ucap sang raja. Satih berkata, “Aku bersumpah dengan malam dan siang, bahwa orang-orang Habasyi akan menginjakan kakinya di negeri kalian dan pasti menguasainya antara Abyan hingga Juras.” Sang raja berkata, “Sesungguhnya hal ini menyakitkan hati kami semua, kapan itu terjadi, pada zamanku atau zaman setelahku?” Satih berkata, “Tidak pada zamanmu, namun enam puluh atau tujuh puluh tahun yang akan datang.” Sang raja bertany, “Apakah daerah tersebut terus-menerus berada dalam kekuasaan mereka?” Satih menjawab, “Tidak selama-lamanya, hanya sekitar tujuh puluh tahun lebih, karena setelah itu mereka dibunuh dan keluar dari Yaman dengan lari terbirit-birit.” Sang raja bertanya, “Siapakah yang mampu membunuh dan mengusir mereka?” Satih menjawab, “Orang tersebut adalah Iram bin Dzi Yazan ia tidak menyisakan seorang pun di antara mereka di Yaman.” Raja bertanya kembali, “Apakah dia berkuasa terus-menerus di negeri Yaman? Kalau tidak, siapakah yang dapat menghentikan pasukannya?“ Satih menjawab, “Ia tidak akan berkuasa selamanya, pasukannya dapat dihentikan oleh seorang nabi suci yang mendapat wahyu dari Dzat yang Maha tinggi.” Sang raja bertanya dengan heran, “Nabi tersebut berasal dari mana?” Satih menjawab, “ Ia berasal dari bani Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr, kekuasaannya akan langgeng dalam genggaman kaumnya hingga akhir zaman,” raja makin penasaran, “Apakah zaman ada akhirnya?” Satih menjawab, “ Ya, pada hari manusia generasi pertama hingga generasi terakhir dikumpulkan di dalamnya, pada hari itu orang-orang yang berbuat baik akan mendapatkan kebahagiaan, dan orang-orang jahat akan mendapatkan kecelakaan.

Setelah itu Syiq datang kehadapan raja dan mengatakan hal yang sama dengan apa yang dikatakan Satih. Khawatir akan kekuasaannya serta terhadap keturunannya, sang raja segera pergi untuk berhijrah ke negeri Irak.

Antara Tubba’ dengan Penduduk Madinah

Pada saat itu, salah seorang dari bani Adi bin An-Najjar (penduduk Madinah), bernama Ahmar membunuh seseorang dari Tubba’ kabilah Himyar di wilayah Madinah. Peristiwa tersebut membuat Hasan (salah satu Penguasa Tubba) geram terhadap kota Madinah, lalu ia menyeru seluruh pasukannya untuk membunuh mereka semua. Pasukannya terkenal banyak dan kuat, ketika Tubba’ sedang memerangi Madinah tiba-tiba datanglah dua orang rahib dari bani Quraizhah memberi nasihat kepadanya karena mengetahui rencana Tubba’ untuk membumihanguskan Madinah, keduanya berkata kepada Tubba’, “Wahai raja jangan teruskan rencanamu itu, jika engkau terus memaksakan diri akan kehendakmu, maka hubunganmu dengan Madinah akan terputus dan kami khawatir sesuatu yang buruk akan menimpamu beserta seluruh pasukanmu.” Tubba’ bertanya, “Mengapa bisa demikian?” Sang rahib menjawab, “Karena kota Madinah kelak menjadi tempat hijrahnya seorang nabi yang mulia, berasal dari tanah suci Makkah dari kalangan Quraisy. Pada akhir zaman kelak Madinah akan menjadi negeri dan tempat tinggal nabi tersebut.” Mendengar penjelasan sang rahib, akhirnya Tubba’ membatalkan rencananya.

Sekilas tentang Pribadi Rasulullah saw.

Rasulullah tidak pernah membalas perbuatan keji seseorang dengan kekejian lain, melainkan dengan memanjatkan do’a mengharap Allah swt. memberikan hidayah kepadanya. Husain, cucu Rasulullah bertanya kepada ayahnya Sayyidina Ali karamallahu wajhah, tentang perilaku Nabi, “Rasulullah adalah orang yang bermuka manis, lembut budi pekertinya, tawadhu, tidak bengis, tidak bersuara keras, tidak berlaku dan berkata keji, tidak suka mencela dan tidak pula kikir. Beliau membiarkan (tidak mencela) apa yang tidak disenanginya, beliau tidak menjadikan orang yang mengharapkan (pertolongannya) menjadi putus asa. Beliau menghindari: perbantahan, menyombongkan diri, mencela seseorang, mempermalukan seseorang, tidak pula mecari aib-aib seseorang. Beliau tidak berbicara melainkan pada sesuatu yang diharapkan ada kebaikannya.”

 

 

Referensi

Abu Fida Ismail bin Katsir, (Umar Mujtahid), 2013, Kisah Para Nabi, Jakarta: Ummul Qura.

Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam, (Fadhil Bahri), 2018, Siroh Nabawiyah, Bekasi: Darul Falah, Jilid 1.

Al-Mubarakfuri Shafiyurrahman, (Suyuti Suchail), 2017, Sirah Nabawiyah, Jakarta: Gema Insani.

At-Tirmidzi, (Tarsyi Hawi), 2014, Pribadi dan Budi Pekerti Rasulallah SAW, Bandung: Diponegoro.

Depag. 2016.  Al-Qur’an Nulkarim. Bandung: Cordoba

Oleh : Ali Rizqy Muttawahis Al-Qarni

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *