Metode Dakwah Para Wali Nusantara

Ma’had Aly – Seperti yang kita ketahui, Indonesia adalah negeri yang luas akan daratan dan lautan, maka tak dapat dipungkiri adanya keberagaman suku, adat, dan budaya saling memberikan corak tersendiri bagi Indonesia. Karena Islam tidak anti dengan budaya, bahkan sebaliknya Islam mengakomodasinya dengan berbagai al-Quran dan Hadits yang dalam redaksinya dimuat tradisi atau budaya; dan beberapa budaya yang mendapat legalitas dari Islam. Selain itu dakwah Islam di Nusantara bisa dilakukan dengan berbagai pendekatan.

Maka, di antara metode dakwah yang diajarkan para wali Allah swt kepada kita agar segala bentuk budaya yang selama ini dipertahankan oleh nenek moyang bisa dilestarikan. Adapun  proses dakwah Islam itu agar tepat sasaran maka ada beberapa cara yang perlu dilakukan: 

  1. Meyakini bahwa pluralitas agama itu sama, karena semua manusia yang menganut agama apapun pasti menganggap agamanya paling benar, maka dalam ajaran Islam itu sendiri kita tidak diajarkan untuk menghina keyakinan atau agama orang lain.
  2. Ketika ingin melakukan pendekatan dakwah kepada kerabat, keluarga, atau teman, maka harus dilakukan secara bertahap. Oleh karenanya, Imam Fakhruddin ar-Razi berkomentar: Barangsiapa yang melihat runtutan dalam QS an-Nahl :126-128, Allah swt menyampaikan firmannya dalam 4 tahapan : sindiran, terus terang, ketegasan, dan ancaman maka ia pasti tahu bahwa amar ma’ruf nahi munkar itu wajib dilakukan dengan lemah lembut dan belas kasih setahap demi setahap.
  3. Penuh keadilan dan profesional, sebagaimana firman Allah swt dalam QS. al-An’am:152 ‘’Dan apabila kalian berkata maka berlakulah dengan adil (kendatipun) lawan bicara kalian itu adalah kerabat kalian.’’
  4. Diimbangi dengan introspeksi diri, sebagaimana firman Allah swt dalam QS. al-Baqarah: 44Kalian menyuruh kepada kebaikan tetapi kalian melupakan diri kalian sendiri sedangkan kalian memegang kitab apakah kalian tidak mengerti.’’

Perjalanan dakwah yang dilakukan oleh para auliya’ Allah swt di tanah nusantara khususnya Jawa tidaklah mudah segala rintangan dan tantangan yang harus mereka hadapi, apalagi di akhir zaman ini banyak orang-orang yang sudah melupakan sejarah ulama, bahkan mahasiswa pun seiring berjalannya waktu mereka melupakan perjuangan ulama Nusantara. 

Bahkan ada yang mengatakan kedatangan para wali Allah sekaligus habib ke Nusantara seperti siraman salju yang membasahi tubuh mereka dan menyejukkan suasana kehidupan mereka dari rasa panas. Tidak dapat dipungkiri, mengapa para wali itu berbeda metode dakwahnya? Di antara penyebabnya adalah, mereka berbeda-beda jalur masuknya ke Nusantara, beberapa dari pelabuhan Banten atau pelabuhan Sunda Kelapa, karena keduanya merupakan pintu masuk Nusantara.

PERJUANGAN  DAKWAH PARA AULIYA’

Perjuangan dakwah para wali Allah swt terus dilanjutkan, sedikit demi sedikit masyarakat sudah mulai meninggalkan kebiasaan lamanya seperti meninggalkan sesembahan yang membawa kesyirikan dan sebagainya. Melihat keadaan Indonesia yang luas daratannya 2.000.000 km2 dan lautannya 3.200.000km2, maka jumlah luasnya Indonesia keseluruhan menjadi 5.200.000 km2 karena perjuangan para walilah, umat Islam menjadi umat mayoritas di negeri Indonesia.

Maka di tengah wilayah yang luas inilah para wali mampu membangkitkan kesadaran sekaligus patriotisme dan nasionalisme tumbuh di hati. Pengajaran-pengajaran  yang mereka bawa sangat sederhana dan membuat hati para muridnya senang dan semangat dalam menyambung tali estafet dakwah gurunya.

Sehingga orang Arab banyak yang berlomba-lomba untuk merasakan keindahan negeri ini. Tak lain karena hasil jerih payah ulama terdahulu, mendakwahkan ajaran agama dengan mengajak bukan merompak, mencintai bukan mencaci, merangkul bukan memukul. Dari sinilah proses masuknya Islam dengan jalan damai dan sejahtera, karena Islam agama yang menyebarkan rahmat (kasih sayang).

Oleh karenanya, ulama Indonesia mampu menghadapi masyarakat yang begitu kental dengan adatnya, tanpa harus mengangkat senjata agar musuhnya tunduk dan mau mengikuti ikut risalah yang dibawanya. Sebagaimana orang Jawa mengatakan, Indonesia itu negeri yang gemah ripah loh jinawi, subur aman dan tenteram layaknya surga. Beberapa datang untuk menikmati keindahan alam Nusantara, sampai yang datang untuk menjajah Indonesia. Maka seiring dengannya para waliyullah yang Allah tugaskan untuk memperbaiki bumi Nusantara banyak berdatangan dari daerah hadramaut (Yaman), guna menyebarkan ajaran Islam, berdakwah dengan metode yang beragam cara, damai tanpa paksaan juga angkat senjata.

Pertanyaannya adalah siapa tokoh penyebar dakwah Islam di bumi Nusantara? Apakah mereka hanya seorang waliyullah, apa hanya seorang pedagang yang sedikit pengetahuan Islamnya, atau seorang sufi yang meninggalkan kemewahan dunia dan lebih mementingkan orang lain dari pada diri sendiri ? Dalam masalah ini timbul beberapa pendapat, diantaranya ada dosen yang mengatakan masuknya syariat Islam di tanah Jawa itu bukan melalui pedang. 

Dalam artikel ini, penulis berpendapat bahwa mereka datang ke Nusantara bukan sekedar berdagang, namun ada persiapan khusus dan matang baik dari segi fisik lahir maupun batin.

Contohnya dengan adanya pesantren di seluruh daerah di Indonesia menjadikan bukti akan kuatnya asas-asas penyebaran dan ajaran dakwah para waliyullah terdahulu. Ada pasti di setiap pesantren mempelajari ilmu tasawuf bagaimana cara memperbaiki diri, agar rohani bersih, dan kabar gembiranya sampai zaman sekarang dunia pesantren terus ada, dan menjadi bagian penting “jejaring Islam agraris”.

BELIAU SYEIKH NAWAWI AL-BANTANI

Syeikh Nawawi al-Bantani merupakan salah satu ulama yang berpengaruh dalam islamisasi di Indonesia. Beliau adalah ulama intelektual dan produktif menulis, karyanya sekitar 115 kitab. Banyak kitab karangan beliau yang hingga kini dipelajari di pesantren-pesantren. Di antara karangan beliau yang sangat populer ialah syarah safinatunnajah yang bernama kasyifat as-saja’ beliau juga digelari “bapak kitab kuning Indonesia’’ disebabkan kontribusi beliau dalam mendidik sebagian besar anak muridnya yang mendirikan pesantren dengan bahan ajar dari kitab kuning.

Layaknya seseorang memanjat pohon semakin tinggi dipanjat, maka semakin kuat angin menerpa. Begitulah perjuangan dakwah ulama, beliau di masa mudanya banyak menyimpan kekaguman pada teman maupun gurunya sembari berusaha mengikutinya. Beliau hanya memanen buah dari hasil jerih payahnya ketika muda, tapi apa boleh buat takdir berkata lain. Ketika beliau pulang ke Indonesia dengan tujuan menyebarkan dakwah Islam, semangatnya pupus melihat perlakuan kolonial penjajah.

Perjuangan beliau tercatat dalam tinta emas dan akan selalu menjadi motivasi bagi generasi yang datang setelahnya, juga karya beliau akan menjadi pegangan oleh penimba ilmu setelahnya.

KIPRAH KIAI AGUNG MUHAMMAD BESARI DALAM PERJUANGAN DAKWAH

Ia adalah seorang tokoh ulama besar, bernama Kiai Agung Muhammad Besari yang berasal dari Caruban, Madiun. Beliau juga seorang tokoh perancang pondok pesantren di Tegalsari yang juga pernah menyendiri di kaki Gunung Wilis tersebut. Sepulang dari sana beliau makan seadanya, dan hanya mengabdikan dirinya hanya untuk Allah swt semata, mengajari penduduk membaca Al-Qur’an dan ajaran agama, sehingga lambat laun tempat pertapaan itu mulai ramai dan menjadi desa yang diberi nama Tegalsari.

Demikianlah di antara proses penyebaran dakwah para wali di bumi Nusantara, mereka dikenal bukan hanya sebagai seorang pendiri dan pengasuh pondok pesantren, namun mereka ialah pejuang yang gigih sekaligus penggerak dan pemikir yang visioner. Pandangan dan pemikiran mereka tidak terbatas dalam ruang lingkup pesantren yang diasuhnya saja, namun juga ke berbagai bidang kehidupan seperti sosial, politik, ekonomi, budaya, dan lain-lain.

Tidak mengherankan jika semasa hidup mereka sangat dihormati berbagai pihak, bukan karena cita-cita saja, melainkan karena keberhasilannya mengaktualisasikan cita-cita dalam kehidupan, meskipun dengan susah payah dan mengalami rintangan, tantangan, bahkan ancaman tersebut terkadang datang dari umat Islam itu sendiri. Menariknya, para kiai (waliyullah) tersebut tidak menyerah dan mempunyai keyakinan yang kuat akan kemaslahatan agama dan umat meski hal tersebut teramat sulit. Namun inilah prinsip yang sering dipegang oleh para kiai dan waliyullah terdahulu.

Dapat kita simpulkan bahwa, perjuangan ulama kita terdahulu tidaklah mudah, banyak rintangan yang menghadapi mereka, maka sebaik-baik pengabdian dan penghormatan kita terhadap perjuangan dakwah mereka adalah, selalu mengingat dan mempelajari metode dakwah dan tatacara kehidupan mereka walaupun tidak seluruhnya agar bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Referensi

Amin Ma’ruf, Islam Nusantara, Jawa Timur : PW LTN NU Jawa Timur bekerja sama dengan PW LBM NU Jawa Timur, 2018.

Mauladdawilah Abdul Qodir Umar, Tiga Serangkai Ulama Betawi Malang:  Pustaka Basma, 2009.

Surya Negara Mansur Ahmad, Api Sejarah, Bandung: Surya Dinasti, 2015. 

Carool, Kersten, Mengislamkan Indonesia, Tanggrang: PT Bentara Aksara Cahaya, 2017.

Maftuhin Adhi, Sanad Ulama Nusantara, Bogor: CV Arya Duta, 2018.

Masyhuri Aziz A, 99 Kiayi Kharismatik Indonesia, Bogor:  CV Arya Duta, 2017.

Oleh : Alpian, Semester III

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *