Menguak Kisah Ali bin Abi Thalib

Ma’had Aly – Pasca peristiwa terbunuhnya Sayyidina Utsman bin Affan, kota Madinah dilanda kekacauan. Hal ini disebabkan oleh kekosongan kekuasaan karena sayyidina Utsman wafat, belum ada seseorang yang menggantikan posisi beliau sebagai pemimpin. Karena hal tersebut membuat kekacauan di Madinah semakin parah. Padahal, negara dan masyarakat membutuhkan seorang pemimpin yang mampu membangkitkan kembali umat Islam setelah kemerosotan dan kekacauan yang terjadi. Masyarakat Madinah tidak hanya membutuhkan seorang pemimpin yang hanya memiliki kekuatan, namun pemimpin yang mampu mengayomi masyarakat, mengatasi krisis dan memperbaiki kehancuran yang terjadi di masyarakat saat itu.

Pilihan kaum muslimin tertuju kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib, hanya beliau yang mampu menyelamatkan umat Islam, karena tak ada satu orang pun yang berani mencalonkan dirinya sebagai pengganti khalifah Utsman bin Affan setelah kekacauan yang terjadi. Kriteria sosok seorang pemimpin yang diinginkan masyarakat pada saat itu seperti Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Siapa yang tak kenal dengan sosok Ali bin Abi Thalib, seorang tokoh yang sangat terkenal dan berkontribusi besar terhadap Islam. Ali bin Abi Thalib merupakan orang pertama yang masuk Islam dari kalangan anak-anak sekaligus orang kedua yang menerima dakwah Islam setelah istri Rasulullah saw, Khadijah binti Khuwailid. Beliau juga termasuk dari sepuluh orang yang mendapat jaminan masuk surga oleh Rasulullah saw. Beliau lahir di Hijaz, Mekkah, Jazirah Arab, pada 13 Rajab.  Ayah beliau bernama Abi Thalib bin Abdul Muthalib dan ibunya bernama Fatimah bin As’ad bin Hasyim bin Abd Manaf. Saat Ali bin Abi Thalib lahir nama beliau adalah Haidar yang kemudian diganti dengan nama Ali bin Abi Thalib oleh ayahnya. Bahkan, dari segi nasab Ali bin Abi Thalib juga dekat dengan Rasulullah Muhammad saw. Karena beliau merupakan sepupu sekaligus menantu Rasulullah saw. sebab pernikahannya dengan putri Rasulullah, Fatimah Az-Zahra.

Sejak usia belia, Ali bin Abi Thalib sudah tinggal bersama Rasulullah saw. Karena sejak usia 6 tahun beliau sudah diangkat menjadi anak asuh Rasulullah saw. sebagai anak angkat Rasulullah saw. Beliau banyak menimba ilmu mengenai rahasia ketuhanan maupun segala persoalan keagamaan. Ketika nabi Muhammad saw. diangkat menjadi Rasul, Ali bin Abi Thalib memasuki usia 8 tahun. Beliau dapat dikatakan orang yang dekat dengan Rasulullah saw. taat kepada perintah Allah swt. dan Rasulullah saw. 

Ali bin Abi Thalib adalah seorang yang memiliki banyak kelebihan, pandai memainkan pedang dan pena, serta memiliki kecerdasan menguasai berbagai masalah keagamaan dan kata-katanya didengar oleh para sahabatnya. Hal ini tergambar dari sabda Nabi Muhammad saw., “Aku kota ilmu pengetahuan sedangkan Ali gerbangnya.” Selain itu, beliau merupakan pahlawan yang gagah berani dan penasihat yang bijaksana. Sehingga dengan kebijaksanaannya itu beliau dipercaya menjadi penasehat pada zaman khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan. Ali bin Abi Thalib juga dikenal dengan seseorang yang sederhana dan rendah hati. Beliau tidak menampakkan perbedaaan dalam rumah tangganya baik sebelum beliau diangkat menjadi khalifah maupun setelahnya. Kesederhanaan beliau juga ditularkan kepada putra putrinya. 

Sayyidina Ali bin Abi Thalib diangkat sebagai khalifah setelah terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan. Pada saat itu masyarakat Madinah resah karena pemimpin mereka telah wafat dan berharap segera ada pengganti dari Utsman bin Affan. Seluruh kaum muslimin berbondong-bondong datang kepada Ali bin Abi Thalib, mereka meminta kepada Ali agar bersedia menggantikan kekhalifahan Utsman bin Affan. Mereka berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib yang pantas menggantikan posisi Utsman bin Affan sebagai khalifah. Meskipun banyak yang meminta Ali bin Abi Thalib untuk menjadi menggantikan posisi Utsman, ada juga beberapa sahabat yang tidak setuju dengan keputusan tersebut. Meskipun demikian, Ali bin Abi Thalib tetap dibaiat sebagai khalifah menggantikan Utsman bin Affan oleh mayoritas sahabat yang ada di Madinah, seperti Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam. Pembaiatan ini dilaksanakan pada hari Jum’at, 13 Dzulhijjah 35 H/23 Juni 656 M di Masjid Nabawi. 

Sebenarnya, Sayyidina Ali bin Abi Thalib tidak berambisi untuk menjadi khalifah. Bahkan, Ali menolak permintaan para sahabat yang menginginkan dirinya dijadikan sebagai khalifah. Ali berpendapat bahwa menjadi seorang khalifah merupakan sesuatu yang sangat penting, membutuhkan kesepakatan dan dukungan dari para sahabat yang dahulu pernah berjuang bersama dengan nabi Muhammad saw. Ali menyatakan, “Mana pahlawan Badar, seperti Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah dan Sa’ad?”

Orang-orang yang telah disebutkan tersebut merupakan anggota dewan pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, mereka merupakan orang yang harus hadir dan ikut serta membaiat Ali bin Abi Thalib, karena mereka lebih mengetahui perkembangan dan patut mengemukakan pandangannya. Mendengar hal itu, para kaum muslimin segera menemui ketiga orang tersebut dan meminta agar mereka bersedia ikut serta membaiat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Mereka setuju terhadap pembaiatan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah umat Islam. Pada Akhirnya, Ali bin Abi Thalib menerima jabatan sebagai khalifah atas dukungan dari para sahabat dan kaum muslimin.

Setelah Ali bin Abi Thalib dibaiat sebagai seorang pemimpin, maka semakin besar beban yang harus ditanggungnya. Ali harus menjalankan roda kepemimpinan dengan baik dan tentunya akan menghadapi beberapa permasalahan. Sebagaimana kita ketahui, Ali bin Abi Thalib diangkat menjadi khalifah di tengah situasi yang kacau dan penuh konflik. Bahkan, beliau dikritik oleh putranya karena bersedia dibaiat sebagai khalifah. Namun, hal itu tidak membuat Ali mundur dan menyerah begitu saja karena itu merupakan panggilan dari hati Ali bin Abi Thalib untuk tetap memperjuangkan syiar Islam.

Sistem kepemimpinan yang digunakan khalifah Ali bin Abi Thalib berbeda dengan sistem kepemimpinan yang digunakan oleh khalifah Utsman bin Affan. Sistem yang Ali bin Abi Thalib gunakan lebih mirip dengan sistem yang digunakan oleh khalifah Umar bin Khattab, yaitu keras, disiplin dan berani dalam menjalankan kebijakan perekonomian, seperti pemungutan zakat dan pajak-pajak. Sedangkan sistem yang digunakan oleh khalifah Utsman bin Affan dalam menjalankan kebijakan perekonomian lebih lunak, sehingga banyak golongan yang membenci Ali bin Abi Thalib karena dianggap mengancam kesenangan dan kenikmatan hidup.

Pada masa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib, sering terjadi pemberontakan dan sangat sedikitnya kestabilan.  Pada saat itu, Ali memecat gubernur yang diangkat pada masa kepemimpinan Utsman bin Affan, karena Ali menganggap bahwa pemberontakan yang terjadi disebabkan oleh keteledoran mereka. Kemudian, Ali menarik kembali tanah yang telah diberikan Utsman kepada masyarakat dengan menyerahkan hasil pendapatan kepada negara dan menggunakan kembali distribusi pajak tahunan, seperti yang diterapkan pada masa khalifah Umar bin Khattab. 

Akibat dari kebijakan-kebijakan tersebut, pemerintah diguncang dengan pemberontakan-pemberontakan. Salah satu pemberontakan yang terjadi pada masa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib yaitu terjadinya perang Jamal yang disebabkan oleh rasa tidak puas para sahabat oleh kepemimpinan Ali yang menunda pengusutan terhadap pembunuh Utsman bin Affan. Selain perang Jamal, terjadi pula perang Siffin terjadi pada tahun 37 H (656 M). Perang antara Ali bin Abi Thalib dengan gubernur Syiria, Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Perang ini terjadi karena Mu’awiyah membalas dendam atas kematian khalifah Utsman bin Affan.

Meskipun dalam pemerintahan Ali bin Abi Thalib terjadi banyak pemberontakan namun dalam pemerintahan Ali bin Abi Thalib juga memperoleh beberapa keberhasilan dalam usaha memajukan perkembangan Islam. Di antaranya sebagai berikut:

  1. Perkembangan dalam bidang pemerintahan. Ali bin Abi Thalib mengganti gubernur yang diangkat pada masa kepemimpinan Utsman bin Affan dan menarik kembali tanah milik negara yang telah diberikan Utsman kepada masyarakat.
  2. Perkembangan di bidang politik dan militer, Ali bin Abi Thalib berhasil mengorganisasi polisi serta menetapkan tugas-tugas mereka. Dalam bidang ini, umat Islam berhasil meluaskan wilayah kekuasaan Islam.
  3. Perkembangan di bidang ilmu bahasa, pada pemerintahan khalifah Ali berhasil mengembangkan seni kaligrafi dan meneruskan teknik penulisan al-Qur’an yang telah berkembang pada masa kepemimpinan Utsman bin Affan.
  4. Perkembangan dalam bidang pembangunan, salah satu keberhasilan khalifah Ali bin Abi Thalib dalam masalah tata kota. Kufah di Irak adalah bukti keberhasilan Ali dalam memperbaiki tata kota.
  5. Dalam bidang ekonomi, Ali hanya melanjutkan beberapa kebijakan yang telah dibuat oleh Umar, mengelola tanah yang diambil dari Bani Umayyah dan para penduduk lain untuk menambah pendapatan negara serta mengelola dan melestarikan kembali Baitul Mal.
  6. Perkembangan di bidang pendidikan, pada masa ini Ali membangun beberapa madrasah sebagai tempat memberikan pembelajaran dan mengembangkan hukum Islam.

Kepemimpinan Ali bin Abi Thalib berakhir saat beliau  wafat pada 20 Ramadhan 40 H atau 24 Januari 661 M. Pada saat itu beliau berusia 63 tahun, yang gugur sebagai syahid setelah memerintah selama hampir 6 tahun. 

Referensi

Abdul Syukur al-Azizi, Sejarah Terlengkap Peradaban Islam, Yogyakarta: Noktah, 2017.

Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: CV Pustaka, 2008. 

Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, Cet. 4, Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve, 2007. 

Imam As-Suyuthi. Tarikh Khulafa’, Terj. Samson Rahman, Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 2000. 

Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: AMZAH, 2009

Oleh : Mia Dwi Afitri, Semester III

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *