Mengenal Lebih Dekat Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari

Ma’had Aly – Syekh Muhammad Arsyad merupakan seorang ulama besar yang sangat berpengaruh dan memegang peranan penting dalam sejarah dan perkembangan Islam, khususnya di Kalimantan. Beliau sangat gigih dalam mempertahankan dan mengembangkan paham Ahlussunnah Walajama’ah dengan teologi Asy’ariyah dan fikih madzhab Syafi’i. Beliau juga seorang  mufti Kesultanan Banjar dan penulis kitab-kitab agama yang cukup produktif.

Syekh Muhammad Arsyad berasal dari Martapura, Banjar, Kalimantan Selatan. Beliau dilahirkan pada 17 Maret 1710 di Lok Gabang, dan meninggal pada 3 Oktober 1812 di Dalam Pagar, Kalimantan Selatan. Beliau merupakan putra tertua dari lima bersaudara, yaitu putra dari Abdullah bin Abu Bakar bin Abdurrasyid bin Abdullah dan Siti Aminah. Beliau juga dikenal dengan sebutan “Datuk Kalampayan”, karena makamnya terletak di Desa Kalampayan. Syekh Muhammad Arsyad merupakan keturunan Alawiyyin melalui jalur Sultan Abdurrasyid Mindanao. Sebagaimana yang dituliskan oleh mufti Kerajaan Indragiri yang bernama Abdurrahman Siddiq yang pernah menulis biografi tentang Syekh Muhammad Arsyad.

Perjalanan intelektual Syekh Muhammad Arsyad hampir sama dengan ulama-ulama besar lainnya, yakni menimba ilmu hingga ke Makkah. Namun, sebelum melakukan perjalanan intelektual ke Tanah Suci tersebut, sejak kecil hingga umur 30 tahun dihabiskannya di tempat kelahirannya, Lok Gabang. Beliau tergolong anak yang cerdas dibandingkan dengan teman-temannya yang lain. Tidak hanya itu, beliau juga memiliki budi pekerti luhur dan sangat menyukai keindahan. Salah satu keahliannya adalah seni melukis dan tulis.

Berkat kepandaiannya dalam melukis, Sultan Tahlilullah yang melihat langsung hasil karya Syekh Muhammad Arsyad saat berkunjung ke kampung Lok Gabang, langsung terkagum. Waktu itu Syekh Muhammad Arsyad masih berusia 7 tahun. Kemudian Sultan Tahlilullah meminta kepada orang tua Syekh Muhammad Arsyad agar mereka bersedia menyerahkannya untuk dididik di istana sekaligus diangkat sebagai anak angkat Sultan. Meskipun agak berat, Abdullah dan Aminah tidak dapat menolak maksud baik Sultan untuk meyerahkan anaknya diperbolehkan tinggal di istana, belajar bersama dengan anak-anak bangsawan dan cucu Sultan.

Di istana, Syekh Muhammad Arsyad tumbuh menjadi anak yang cerdas dan memiliki akhlak mulia. Beliau sangat ramah, penurut dan selalu menghormati yang lebih tua. Karena sifat-sifat mulianya itu, semua orang yang berada di istana pun menyayanginya. Sang Sultan pun sangat menyayangi dan selalu memperhatikan pendidikannya. Beliau memperoleh pendidikan dari guru-guru yang didatangkan Sultan ke istana. Sang Sultan berharap Syekh Muhammad Arsyad kelak menjadi seorang pemimpin yang alim.

Syekh Muhammad Arsyad tinggal dan belajar di istana sampai umur 30 tahun. Setelah itu beliau dinikahkan dengan seorang perempuan shalihah yang bernama Tuan Bajut. Meskipun sudah menikah, tetapi hal ini tidak membuat keinginannya untuk melanjutkan perjalanan intelektualnya kandas. Beliau kemudian berniat untuk melakukan perjalanan intelektualnya ke negeri Mekkah. Hal itu dilakukan oleh Syekh Muhammad Arsyad ketika istrinya sedang hamil muda.

Setelah mendapatkan restu dari sang istri dan sultan, maka Syekh Muhammad Arsyad pun berangkat ke Mekkah untuk mewujudkan keinginan beliau menuntut ilmu di sana. Di Mekkah beliau mendapat kesempatan memperdalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, bukan hanya ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan umum, seperti geografi, biologi, matematika, geometri dan astronomi. Hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk belajar. 

Syekh Muhammad Asyad juga berkesempatan belajar dan mengaji kepada para ulama dan syekh besar di Mekkah dalam berbagai bidang disiplin ilmu,  salah seorang gurunya yang terkenal ialah Syekh Atha’illah. Dengan izin gurunya ini, beliau diberi kepercayaan untuk mengajar dan memberi fatwa di Masjidil Haram. Kemudian beliau melanjutkan di Madinah dengan Imam Haramain, Syekh al-Islam Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi dan Syekh Abdul Karim as-Samani al-Madani, selama sekitar 5 tahun.

Selama menuntut ilmu di Mekkah, Syekh Muhammad Arsyad banyak memiliki sahabat yang juga berasal dari Nusantara. Mereka antara lain yaitu, Syekh Abdush-Shamad Palembang, Syekh Abdurrahman Masri Banten, Syekh Abdul Wahab Sadegreng Bunga Wardiyah Bugis, yang terkenal dengan Syekh Abdul Wahab Bugis. Selain menjadi sahabat, beliau juga menjadi salah seorang menantu Syekh Muhammad Arsyad. Keempat sahabat ini dikenal dengan sebutan ‘’Empat Serangkai dari Jawa’’.

Syekh Muhammad Arsyad menuntut ilmu di Mekkah dan Madinah selama kurang lebih 35 tahun. Namun, waktu yang lama itu tidak cukup memuaskan untuk berguru. Beliau masih ingin  melanjutkan tur intelektualnya ke Mesir bersama tiga ulama Nusantara lainnya. Namun Syekh Al-Islam Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi memerintahkan agar mereka pulang ke Jawi (Nusantara) untuk berdakwah di negerinya masing-masing.

Maka atas perintah sang guru inilah, Syekh Muhammad Arsyad dengan tiga ulama lainnya kembali ke Nusantara. Tetapi sebelum kembali ke Kalimantan, al-Banjari bersama dengan Syekh Abdul Wahab Bugis tinggal di Jakarta tepatnya di tempat sahabatnya yaitu Syekh Abdurrahman Masri selama beberapa bulan. Saat berada di Jakarta, Syekh Arsyad membenarkan arah kiblat di beberapa masjid yang menurut pengetahuan dan keyakinannya tidak tepat. Masjid tersebut antara lain Masjid Jembatan Lima, Masjid Luar Batang dan Masjid Pekojan. Di mihrab Masjid Jembatan Lima terdapat catatan berbahasa Arab bahwa arah kiblat masjid itu di putar ke kanan sekitar 25 derajat oleh Syekh Arsyad pada tanggal 4 Safar 1186 (sekitar 7 Mei 1772).

Syekh Arsyad tiba di Martapura pada bulan Ramadhan 1186 (Desember 1772). Sejak itu sampai wafatnya, beliau mengabdikan dirinya membina masyarakat dan mengembangkan Islam. Dalam kegiatan pembinaan masyarzkat ini, beliau dibantu oleh Syekh Abdul Wahab Bugis yang ketika itu sudah menjadi menantunya. Syekh Abdul Wahab Bugis dinikahkan oleh Syekh Arsyad dengan putrinya yang bernama Syarifah. Saat Syekh Arsyad di Makkah, tidak lama beliau menerima surat dari Sultan Banjar bahwa istrinya, Bajut, melahirkan seorang anak dan sudah dewasa.

Langkah pertama yang dilakukan Syekh Arsyad setibanya di Martapura, beliau membina kader-kader ulama, khususnya di lingkungan keluarganya sendiri. Beliau tidak tinggal di istana seperti sebelum berangkat ke tanah suci. Beliau meminta kepada sultan agar diberikan sebidang tanah yang akan beliau gunakan sebagai tempat tinggal, tempat pendidikan dan pusat pengembagan Islam. Sultan Tahmidullah yang berkuasa saat itu mengabulkan permintaannya. Tanah tersebut kemudian dibuat perkampungan dengan dibangun rumah-rumah, ruang pengajian, perpustakaan dan asrama untuk para santri.

Sejak itu mulailah kampung baru ini didatangi santri dari berbagai pelosok daerah. Kampung ini hingga sekarang dikenal dengan nama ‘’Dalam Pagar’’. Dinamakan Dalam Pagar karena para santri yang belajar dalam ruangan tertentu di kampung ini tidak boleh meninggalkan lingkungan tanpa izin, jika keluar mereka disebut Keluar Pagar. Tidak hanya diberi pelajaran agama, para santri juga diberi perjalanan keterampilan bertani agar bisa hidup mandiri.

Syekh Arsyad aktif menulis sampai usia senjanya. Hasil karya beliau yang terbesar adalah kitab Sabil al-Muhtadin (Jalan Orang-Orang Yang Mendapat Petunjuk), sebuah kitab fiqih Madzhab Syafi’i yang dijadikan buku pegangan dan bahan pelajaran di beberapa daerah di Indonesia, Malaysia dan Thailand pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Sebenarnya, di samping mendapat permintaan langsung dari sultan, alasan utama penulisan kitab ini oleh Syekh Arsyad adalah karena adanya kesulitan umat Islam Banjar dalam memahami kitab-kitab fikih yang ditulis dalam bahasa Arab. Sehingga Syekh Arsyad menulis kitab ini dalam bahasa Melayu (Jawi) tulisan Arab.

Karya lainnya di bidang fikih yaitu, Luqtah al ‘Ajlan, Kitab an-Nikah (Buku Nikah), Kitab al-Fara’id (Buku Pembagian Harta Warisan) dan Khasyiyah Fath al-Jawad (Komentar terhadap Buku Pembukaan Kemurahan Hati). Di bidang tauhid, karyanya antara lain Ushul ad-Din (Dasar-Dasar Agama), Tuhfah ar-Raghibin fi Bayan Haqiqah Iman al-Mu’minin wa ma Yufsiduhu min Riddah al-Murtaddin (Hadiah bagi Para Pecinta dalam Menjelaskan Hakikat Iman Para Mukmin dan Apa yang Merusaknya dari Kemurtadan Orang-Orang Murtad), al-Qaul al-Mukhtasar fi ‘Alamah al-Mahd al-Muntazar (Pembicaraan Singkat tentang Imam Mahdi yang Ditunggu) dan Tarjamah Fath ar-Rahman (Terjemah Buku Fath ar-Rahman). Di bidang tasawuf, karyanya yang ditemukan hanya satu, yaitu Kanzal-Ma’rifah (Gudang Pengetahuan).

Di samping itu masih ada karya tulis berupa mushaf Al-Qur’an tulisan tangan Syekh Arsyad dalam ukuran yang besar yang ditulis dengan khat yang indah. Mushaf tersebut sampai sekarang masih dipajang dekat makamnya.

 

 

Referensi 

Dewan Redaksi Ensiklopedia. 2001. Ensiklopedia Islam. Jakarta: PT Ikrar Mandiriabadi.

Djaelani, Anwar. 2016. 50 Pendakwah Pengubah Sejarah. Yogyakarta: Pro-U Media.

Aizid, Rizem. 2016. Biografi Ulama Nusantara. Yogyakarta: DIVA Press.

Syuhada, Harjan. 2011. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

Abdullah, Abdulrahman. 2016. Biografi Agung Syekh Arsyad Al-Banjari. Malaysia: Inspirasi Media.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *