Memahami Sejarah Lahirnya Golongan dan Pemahaman Ideologi Syiah

Ma’had Aly – Berbicara tentang Syiah dan Sunni bukanlah bahasan yang masih hangat, perbedaan pendapat serta konflik-konflik tentang agama dari masa Rasulullah saw pun telah ada, sampai puncaknya pada masa sahabat Ali ra. yang mana Islam terpecah menjadi beberapa golongan dengan pandangan yang berbeda dalam menafsirkan agama, baik dari ajaran teologi hingga masuk kepada ranah politik dengan lahirnya Syiah, yang masih ada hingga saat ini tidak dapat berjalan harmonis dengan paham-paham lain.

Sejarah Singkat Lahirnya Syi’ah

Dalam kitab al-Milal wa an-Nihal, Syi’ah diartikan sebagai golongan yang mengikuti Ali secara khusus, baik dalam perkara imamah, kepemimpinan, wasiat serta kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh Ali ra. Pada mulanya, Syi’ah merupakan golongan yang lahir dari politik, mereka memiliki pemahaman bahwa Ali ra adalah sahabat yang berhak menggantikan Rasulullah saw sebagai khalifah setelah beliau wafat, namun mereka tidak dapat menyuarakan apa yang menjadi paham mereka hingga pada kekhilafahan Utsman ra. Tokoh yang menggaungkan paham ini serta banyak mendoktrin pengikutnya adalah Abdullah Ibn Saba’. Mereka beranggapan bahwa Rasulullah saw dan keluarganya adalah raja, maka ketika Rasulullah saja ma’sum (terjaga dari dosa) maka yang berhak menggantikan Rasulullah menjadi khalifah adalah orang yang ma’sum juga dan merupakan keluarga dekat beliau sendiri. Maka disini mereka memilih Ali karena merupakan menantu beliau, maka keturunannya pula yang berhak mewarisi khilafah yang selanjutnya menjadi imam bagi umat Islam. Syiah ini berkembang di Irak dan menjadikan kota Kufah sebagai pusat pergerakannya.

Gerakan ini menjadi semakin kuat akibat propaganda yang banyak dikemukakan Abdullah Ibn Saba’. Ia juga menggunakan hadits Ghadir Khum sebagai wasiat dari Rasul yang mengatakan Ali dan Nabi saw bagaikan kedudukan Harun dengan Musa, 

عن سعيد بن وهب وعن زيد بن يثيع قالا نشد على الناس في الرحبة من سمع رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول يوم غدير خم الا قام قال فقام من قبل سعيد ستة ومن قبل زيد ستة فشهدوا انهم سمعوا رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول لعلي رضي الله عنه يوم غدير خم أليس الله أولى بالمؤمنين قالوا بلى قال اللهم من كنت مولاه فعلي مولاه اللهم وال من والاه وعاد من عاداه

Dari Sa’id bin Wahb dan Zaid bin Yutsai’ keduanya berkata “Ali pernah meminta kesaksian orang-orang di tanah lapang “Siapa yang telah mendengar Rasulullah saw bersabda pada hari Ghadir Khum maka berdirilah. Enam orang dari arah Sa’id pun berdiri dan enam orang lainnya dari arah Za’id juga berdiri. Mereka bersaksi bahwa sesungguhnya mereka pernah mendengar Rasulullah saw bersabda kepada Ali di Ghadir Khum “Bukankah Allah lebih berhak terhadap kaum mukminin”. Mereka menjawab “benar”. Beliau bersabda “Ya Allah barang siapa yang aku menjadi pemimpinnya maka Ali pun menjadi pemimpinnya, dukunglah orang yang mendukung Ali dan musuhilah orang yang memusuhinya”. [Musnad Ahmad 1/118 no 950]

Doktrin lain yang ia kemukakan adalah teori al-Raj’ah yaitu kembalinya Muhammad saw. Dari teori ini lahir madzhab tanasuk arwah yang berpemahaman bahwa arwah dapat keluar dari satu jasad dan masuk ke jasad yang lain. Dalam hal ini adalah arwah Rasulullah yang berpindah ke dalam jasad para imam Syi’ah. Kemudian terdapat istilah yang disebut prinsip taqiyah yaitu menyembunyikan pemahaman dan keyakinan yang mereka yakini dan mereka anggap taqiyah ini termasuk perkara ibadah. Dari banyaknya propaganda ini, Syi’ah terpecah menjadi beberapa kelompok:

  • Syi’ah pada masa Ali ra.
  1. Syi’ah Ali, yaitu mereka yang membela Ali ra dalam menumpas Khawarij (golongan yang keluar dari pihak Ali), ikut bertempur pada perang Jamal dan perang Shiffin, mereka yang mengakui dan mengikuti khalifah sebelum Ali ra.
  2. Syi’ah Tafadhuliah adalah mereka yang lebih mengunggulkan sahabat Ali daripada sahabat-sahabat yang lain karena kedekatan hubungan keluarga dengan Rasulullah, dan Ali sendiri dari bani Hasyim, namun kelompok ini tidak sampai melaknat apalagi mengkafirkan para sahabat.
  3. Syiah Saba’iyat Tabarruiyat, golongan inilah yang kemudian membenci, melaknat hingga mengkafirkan para sahabat.
  • Syi’ah setelah wafatnya Ali ra.
  1. Syiah Ghulat, adalah golongan Syi’ah ekstrem (sesat) yang menganggap Ali sebagai Tuhan, golongan ini terpecah menjadi 24 golongan, dan ini merupakan golongan yang paling sesat.
  2. Syiah Imamiyah Itsna‘ Asyariyah Ja’fariyah, yang mengikuti 12 imam, diantaranya, Syiah (Imamiyah) meyakini bahwa Allah telah menetapkan garis imamah sesudah Nabi Muhammad saw pada orang-orang suci dari dzuriyat-nya atau keturunannya, yang berjumlah 12 orang yaitu: 1) Ali ibn Abu Thalib,  2) Hasan ibn Ali Al Mujtaba, 3) Husain ibn Ali, 4) Ali ibn Husain, 5) Muhammad al-Baqir, 6) Ja’far ibn Muhammad Ash-Shadiq, 7) Musa ibn Ja’far, 8) Ali ibn Musa ar-Ridha, 9) Mohammad ibn Ali al-Taqi al-Jawad, 10) Ali ibn Mohammad an-Naqi al-Hadi, 11) Hasan ibn Ali Al-Askari, terakhir adalah 12) Muhammad ibn Hasan al-Mahdi. Syi’ah juga meyakini bahwa Imam Muhammad Ibn Hasan al-Mahdi masih hidup hingga sekarang, dan akan muncul kembali pada akhir zaman.

Syi’ah Islamiyah, yaitu golongan yang mendewakan Ismail Ibn Ja’far al-Shodiq. Syi’ah ini berpusat di India dan keturunan yang sekarang mereka puja adalah Abdul Karim Khan, yang tiap tahunnya mendapat emas atau perak dari para pengikutnya seukuran berat badannya.

Penolakan terhadap Pemikiran dan Kepercayaan Syi’ah

Ada tiga dasar prinsip ajaran Syi’ah, yaitu akidah, akhlak dan syariat, akidah melahirkan tiga pokok utama yaitu tauhid, nubuwah dan percaya pada hari kebangkitan. Akhlak melahirkan prinsip imamah, dan syariat melahirkan hukum-hukum amaliyah yang mereka amalkan. Adapun gambaran tentang ajaran Syi’ah ini dapat dilihat dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia Provinsi Jawa Timur, Sabtu 21 Januari 2012, tentang kesesatan ajaran Syi’ah, menurut fatwa tersebut Syiah tidak hanya berbeda di dalam masalah furu’ (syariat) tapi juga berbeda dalam masalah ushul (akidah), diantaranya:

  1. Menurut Syi’ah, hadits adalah perkataan, perbuatan dan ketetapan yang disandarkan tidak hanya kepada Nabi namun juga kepada para imam Syi’ah.
  2. Syi’ah meyakini bahwa para imam terbebas dari dosa seperti para Nabi.
  3. Paham Syi’ah meyakini bahwa imamah termasuk masalah akidah dalam agama.
  4. Paham Syi’ah mengingkari keotentikan al-Qur’an dengan mempercayai adanya perubahan (tahrif) dalam al-Qur’an
  5. Paham Syi’ah membolehkan nikah mut’ah (kawin kontrak) dengan syarat-syarat yang mereka sepakati.
  6. Syi’ah melecehkan kepemimpinan sahabat Abu Bakar, Umar, dan Utsman.
  7. Syi’ah menghalalkan darah Ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah

Dalam “Buku Putih Madzhab Syi’ah” tidak membenarkan adanya tahrif al-Qur’an. Mereka berpendapat bahwa memang al-Qur’an tidak ada perubahan baik penambahan atau pengurangan dari masa Rasul hingga kini, tidak membenarkan pelecehan terhadap para sahabat karena memang ada golongan Syi’ah yang meyakini dan mengikuti tiga khulafa sebelum Ali ra, dan tidak membenarkan penghalalan darah kelompok Ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah.

Terkait masalah imamah, Syi’ah mempercayai prinsip imamah bahwa kebijakan Tuhan menuntut perlunya ada pengganti (pemimpin) setelah nabi supaya dapat terus membimbing umat dan memelihara kemurnian ajaran agama yang menyimpang untuk mendapatkan kemaslahatan dalam beragama yang pada waktu itu sulit dicapai tanpa adanya pengganti.

Pengaruh Paham Syiah di Indonesia

Indonesia dikatakan sebagai negara yang mudah menerima golongan serta paham dari luar, hal ini signifikan jika dilihat dari beberapa faktor, diantaranya:

  1. Jumlah pengikutnya yang semakin meningkat, di Indonesia sendiri pada tahun 2011 pengikutnya tercatat sebanyak satu juta lebih yang banyak tersebar di Jakarta, Bandung dan Makassar. Hal ini terjadi akibat adanya revolusi Iran dan Indonesia, kemudian dari sana banyak para pelajar Indonesia yang melanjutkan studi agamanya ke Iran hingga terpengaruh dengan ajaran dan paham Syi’ah.
  2. Pengembangan pendidikan agama, setelah semakin banyak jumlah pengikutnya kemudian Syi’ah banyak bergerak di bidang pendidikan, membangun yayasan, mereka juga menyesuaikan diri dengan budaya lokal dengan cara membangun pesantren-pesantren di beberapa daerah di Indonesia, sampai melakukan kaderisasi pelajar Indonesia untuk disekolahkan ke luar negeri dengan tawaran beasiswa.
  3. Masuknya kader Syi’ah dalam perpolitikan Indonesia, ini dilihat dari masuknya Jalaluddin Rahmat yang merupakan guru Syi’ah Indonesia kepada partai politik, tentu ini akan membuka angin segar bagi para pengikut Syi’ah untuk menduduki jabatan-jabatan di sekte pemerintahan dengan mudah.

Dari beberapa penjelasan singkat mengenai sejarah golongan ini, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Syi’ah bukan hanya lahir dari perkara politik kekhilafahan namun sampai menyangkut masalah akidah yang kontroversial dalam pandangan umum ulama dunia termasuk di Indonesia. Paham-paham yang dianggap sesat dan tidak mendapat dukungan dari masyarakat lokal, ini tentu menjadi tugas kita untuk membentengi masyarakat awam dari banyaknya perselisihan paham tentang ideologi agama yang tidak semuanya dapat dicerna mentah-mentah tanpa mengetahui sejarah dan latar belakang aliran tersebut.

 

Referensi

Abu al-Fath Muhammad Bin Abdu al-Karim, 2015, al-Milal wa al-Nihal, Mesir: al-Maktabah al-Taufiqiyah

Abdul Jamil Wahab. 2014, Manajemen Konflik Keagamaan (Analisis Latar Belakang Keagamaan Aktual). Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.

Tim Ahlul Bait Indonesia (ABI). 2012. Buku Putih Madzhab Syiah (Menurut Para Ulamanya yang Mukhtabar). Jakarta Selatan: Dewan Pengurus Pusat Ahlul Bait Indonesia.

Munir Subarman, 2015. Sejarah Kelahiran, Perkembangan dan Masa Keemasan Peradaban Islam. Yogyakarta: Deepublish.

Kholili Hasib. Tanpa tahun terbit. Sunni dan Syiah: Mustahil Bersatu. Bandung: Perpustakaan Katalog Dalam Terbitan (KDT).

Gondra Yumitro, Pengaruh Pemikiran dan Gerakan Politik Syiah  Iran di Indoonesia. Vol. 2, No. 2, Juli 2017

Oleh : Muhammad Iqbal, Semester IV

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *