Mau Sampai Kapan Anda Sakit Hati?

Ma’had Aly – Ketahuilah, bahwa sesuatu yang termulia pada diri manusia adalah hatinya. Hatilah yang bisa mengetahui Allah. Pendorong terjadinya tindakan dan usaha, serta yang mengungkap apa yang ada di sisi-Nya. Anggota tubuh hanya mengikuti dan melayaninya. Laksana pelayan terhadap rajanya.

Hati berasal dari kata bahasa Arab yaitu qalbun. Hati menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah organ dalam badan yang berwarna kemerah-merahan di dalam perut di bagian sebelah kanan yang berfungsi mengeluarkan empedu, mengawal kandungan gula dalam darah, menyembuhkan kesan keracunan nitrogen, menghasilkan urea dan menyimpan glikogen. Hati juga adalah jantung. Di Macmillan English Dictionary, hati bermaksud jantung yaitu organ yang berada di dalam badan yang mengepam darah yang terletak di kawasan dada.

Sedangkan hati menurut Imam al-Ghazali dalam karyanya Ihya’ Ulumuddin, terdapat dua definisi. Pertama, definisi hati sebagai hati fisikal yaitu daging yang berbentuk seperti buah shanaubar (bentuk bundar memanjang) yang terletak di bahagian kiri dada yang mana di dalamnya terdapat rongga-rongga yang menyalurkan darah hitam dan berperanan sebagai sumber nyawa manusia. Definsi hati yang pertama ini wujud pada hayawan dan juga pada manusia yang telah mati. Kedua, hati sebagai hati spiritual yaitu sesuatu yang bersifat halus (lathifah) dan bersifat ketuhanan (rabbaniyyah). Hati dalam definisi kedua ini menggambarkan hakikat diri manusia yang mana hati berfungsi untuk merasai, mengenali dan mengetahui sesuatu perkara atau ilmu. 

Menurut Imam al-Ghazali juga, hati fisikal sangat terkait rapat dengan hati spiritual. Namun, beliau tidak mengulas panjang berkenaan hubungan hati fisikal dengan hati spiritual karena itu termasuk di bawah ilmu mukasyafah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa definisi hati menurut Imam al-Ghazali adalah suatu elemen yang bersifat halus dan bersifat ketuhanan yang tidak nampak dengan mata kasar dan amat berperanan penting di dalam menganalisis sesuatu perkara atau ilmu yang diperoleh. 

Barang siapa yang mengetahui hatinya, maka ia mengetahui Rabbnya. Pada umumnya manusia tidak mengetahui hati dan jiwanya sendiri. Dan, Allah membimbing antara diri seseorang dengan hatinya, dengan menghalanginya untuk bisa mengetahui dan mengawasinya. Maka, mengetahui hati dan sifat-sifatnya merupakan dasar agama dan pondasi orang-orang yang meniti jalan kepada Allah.

Apabila segumpal darah itu sehat maka seluruh anggota tubuhnya juga akan sehat. Sebaliknya, apabila segumpal darah itu rusak maka sekujur tubuhnya juga akan rusak (sakit). Ia adalah qalb (hati).

Fitrahnya hati adalah menerima hidayah, menerima nafsu dan syahwat. Kedua kecenderungan ini bergumul di dalam hati secara kontinyu (terus menerus), laksana dua tentara yang saling bertikai: tentara malaikat dan tentara syaitan, hingga akhirnya hati menerima salah satu di antara keduanya, yang satu bersemayam dan yang satunya lagi menyingkir karena kalah. Inilah yang digambarkan Allah dalam firman-Nya:

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ

Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi.” (QS. An-Nas: 4)

Sebagian ahli hakikat mengatakan, qalb adalah cahaya yang memiliki dua cabang: 

Pertama, cahaya yang dapat menghubungkan qalb ke alam malakut atau alam spiritual. Disebut alam malakut, karena diambil dari kata malaikat. Dengan cahaya ini, seorang hamba akan selamat di akhirat kelak. 

Kedua, cahaya yang dapat menghubungkan qalb dengan alam dunia atau alam fasad. Disebut alam fasad, karena diambil dari sifat kehidupan bumi, dimana banyak terjadi kerusakan. Dengan cahaya jni, seorang hamba dapat selamat dalam kehidupannya di dunia.

Oleh sebab itu, tatkala seorang hamba dapat mengetahui pintu-pintu pertolongan Allah yang dapat mempertemukannya dengan Allah dengan cara merasakan nikmatnya kesalehan, maka cahaya malakut akan melampaui cahaya fasad, sehingga ia akan melihat kefanaan (ketiadaan atau okultasi) alam nyata, dan akan merasakan keabadian di alam  qudsi. Dengan demikian, ia akan menjadi seorang yang terbuka mata batinnya, sehingga mampu menyaksikan keajaiban dan keanehan di alam supranatural. Hal tersebut bisa terjadi pada siapa saja yang dikehendski Allah, tentunya atas kuass dan kehendak-Nya.

Dalam kitab Ighâtsah al-Lahfân (15-20), Imam Ibnu Qayyim, berkata: 

Karena hati disifati dengan kehidupan dan lawannya (kematian), maka berdasarkan hal itu ia terbagi ke dalam tiga macam:

Pertama, hati yang sehat (qalb salîm), yaitu yang tidak akan selamat pada hari kiamat kecuali orang yang datang dengannya, sebagaimana firman Allah swt.,

“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat/sehat/bersih.” (QS: Asy-Syu’râ’ [26]: 88-89).

Qalb sâlîm adalah hati yang selamat dari keikutsertaan selain Allah di dalamnya dalam bentuk apa pun. Penghambaannya murni untuk Allah, dalam bentuk kehendak, cinta, tawakal, taubat, ketundukan, dan ketakutan. Dia memurnikannya untuk Allah. Jika dia mencintai, maka dia mencintai demi Allah. Jika membenci, maka dia membenci demi Allah. Jika memberi, maka dia memberi karena Allah. Jika menolak, maka dia menolak demi Allah. Dan ini saja tidak cukup baginya sampai dia selamat dari kepatuhan dan tahkim kepada selain Rasul-Nya saw.

“Adapun, hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucaokan, ‘Salam.” (al-Furqaan: 63)

Kedua, lawan dari yang pertama, yaitu hati yang mati, tidak ada kehidupan padanya. Dia tidak mengenal Tuhannya. Dan dia tidak menyembah-Nya sesuai dengan perintah-Nya, sesuai dengan apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Tetapi dia berkutat bersama kesenangan-kesenangan dan kenikmatan-kenikmatannya, meskipun di dalamnya terdapat kemurkaan dan kemarahan Tuhannya. Selama dapat meraih kesenangan-kesenangannya, dia tak peduli apakah Tuhannya ridha atau murka. Dia menghamba kepada selain Allah dalam cinta, ketakutan, harapan, kerelaan, kemarahan, pengagungan, dan perendahan diri.

Ketiga, hati yang padanya terdapat kehidupan dan penyakit. Jadi, dia memiliki dua materi. Kadang diisi yang pertama dan kadang diisi yang kedua. Dan ia akan dimiliki oleh mana di antara keduanya yang mendominasi. Di dalamnya terdapat cinta, iman, keikhlasan, dan ketawakalan kepada Allah swt. Ini adalah materi kehidupannya. Dan di dalamnya juga terdapat cinta terhadap syahwat, pengutamaannya, ketamakan untuk meraihnya, kedengkian, kesombongan, ujub dan kegemaran melakukan kedzaliman dan kerusakan di muka bumi dengan menggunakan kekuasaan.  Ini adalah materi kebinasaan dan kehancurannya. Ia diuji di antara dua penyeru: (1) penyeru yang menyerunya kepada Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat; (2) penyeru yang menyerunya kepada dunia. Ia akan memenuhi panggilan mana di antara keduanya yang lebih dekat pintunya dan lebih erat hubungannya dengannya.

Hati yang sehat dan bersih, tidak akan menghalanginya untuk menerima kebenaran, mencintainya, dan mengutamakannya. Dia hanya perlu menemukannya. Pemahamannya terhadap kebenaran shahih. Ketundukan dan penerimaannya terhadap kebenaran sempurna.

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” (ar-Ra’d: 28)

Hati yang mati dan keras tidak menerima kebenaran dan tidak tunduk kepadanya. Sementara hati yang sakit, jika penyakitnya mendominasinya, maka ia akan bergabung dengan hati yang mati dan keras. Dan jika kesehatannya mendominasinya, maka ia akan bergabung dengan hati yang sehat.

Tujuan Penciptaan Hati

Sesungguhnya hati adalah elemen kejiwaan yang dianugerahkan Allah kepada manusia dan hati adalah antara elemen paling penting di antara elemen-elemen lain seperti yang telah disebutkan awal tadi. Oleh karena itu, Allah menciptakan hati kepada manusia bukanlah untuk disia-siakan tetapi untuk digunakan sebaik mungkin supaya hati itu mendekati Allah swt. Seperti mana kuda diciptakan Allah bertujuan untuk memudahkan kerja mengangkat beban yang berat dan pantas berlari di medan perang, begitu juga hati manusia diciptakan Allah dengan tujuan. Tujuan utama penciptaan hati adalah untuk menerima dan memahami ilmu dan kebijaksanaan.

 

Referensi

Ibnu Qudamah al-Maqdisy, Penerjemah Irfanudin Rafi’uddin, Lc., MINHAJUL QASHIDIN (Menggapai Kebahagiaan Hidup Dunia dan Akhirat), Jakarta; Pustaka as-Sunnah, 2008.

Ibnu Basyar, Menjadi Bijak & Bijaksana, Jakarta; Gema Insani, 2016.

Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi, Mau Sampai Kapan Sakit Hati? Obat Syar’i Penawar Hati, Depok; Keira Publishing, 2015

Syamsuddin ar-Razi, Menyelami Spiritual Islam, penerjemah Rifqi Maula, Jakarta; Alifia Books, 2019.

J. Wilkinson, A Malay-english Dictionary, London, MacMillan & Co Ltd., 1959. Jilid 2

Muhammad hilmi Jalil, Zakaria Stapa, Raudhah Abu Samah, Konsep Hati Menurut Al-Ghazali, Institut Islam Hadhari, Universiti Kebangsaan Malaysia, 43600 UKM Bangi, Selangor, Malaysia.

Vol. 11, No 11, Januari 2016 M

http://ejournal.idia.ac.id/index.php/reflektika/article/viewFile/37/33, diakses pada 22 November 2019, 23:53 WIB

 

Oleh: Sri Nursukma Dewi, Semester VI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *