Makna dan Filosofi dari Legalitas Lambang Nahdlatul Ulama

Ma’had Aly – Nahdlatul Ulama (NU) merupakan salah satu organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. NU adalah jam’iyyah diniyyah yang berpaham Ahlussunnah wal Jama’ah yang diterapkan sesuai kondisi masyarakat Indonesia. Adapun dasar-dasar paham NU adalah al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Dalam penafsiran dasar-dasar tersebut dipergunakanlah jalan pendekatan atau madzhab.

Dalam akidah, NU mengikuti paham yang dipelopori oleh Imam Asy’ari dan Imam Maturidi, dalam fikih mengikuti salah satu madzhab empat, dan dalam akhlak atau tasawuf mengikuti Imam Junaidi al-Baghdadi, Imam Ghazali dan sebagainya. Organisasi NU terkenal dengan sikapnya yang bermanhaj tawasuth (moderat), i’tidal (adil), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang) dan amar ma’ruf nahi munkar yang tentunya dengan jalan yang ramah tanpa sikap amarah.

Organisasi ini didirikan oleh Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari pada tanggal 21 Januari 1926 M, bertepatan dengan 16 Rajab 1344 H yang bertempat di kota Surabaya. NU didirikan atas kesadaran terhadap perlunya masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dengan persatuan dan saling membantu. Pasca NU didirikan, ia dihadapkan pada kebingungan akan lambang NU, para ulama masih kebingungan bagaimana membuat lambang NU yang tentunya harus memiliki nilai dan makna yang berbobot dan orisinil tidak meniru lambang-lambang yang sudah ada.

Simbol atau lambang dalam sebuah organisasi merupakan suatu keharusan sebagai sebuah identitas. Hal ini juga menunjukkan eksistensi organisasi yang memiliki landasan yang kuat. Adapun yang membuat gambar atau lambang NU ialah salah satu santri dari KH. Kholil Bangkalan yaitu KH. Ridwan Abdullah dari Surabaya atas perintah dari KH. Wahab Hasbullah. Sebelum membuat lambang NU, tentunya KH. Ridwan Abdullah melakukan tirakat terlebih dahulu dari mulai puasa, shalat istikharah dan berdoa kepada Allah swt. Oleh karena itu, keberadaan lambang NU tidak sekadar lambang, tetapi sebuah bentuk dari riyadlah para ulama, khususnya KH. Ridwan Abdullah. Setelah berjalannya waktu akhirnya muncullah ilham lambang NU dengan pola gambar bola dunia, tali yang melingkar, sembilan bintang, dan warna lambang NU yang tentunya semua lambang tersebut itu mempunyai filosofi dan sarat makna.

Adapun makna dari keempat simbol tersebut ialah:

  • Gambar Bumi

Gambar bumi dalam lambang NU menjelaskan tempat manusia berasal dan tinggal. Maksudnya adalah manusia diciptakan dari bumi, dan akan kembali ke bumi ketika meninggal. Pada waktu hari kiamat manusia akan dibangunkan dari bumi juga. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an surat Thaha ayat 55 yang artinya:

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” QS.Thaha (20): 55.

Lambang bumi ini sering menjadi bahan perbincangan, hinaan dan lainnya khususnya oleh organisasi di luar NU. Diantara mereka ada yang bergurau dengan menyatakan bahwa keberadaan bumi senantiasa berada di bawah. Karena itu, organisasi ini tidak bisa berkembang dengan pesat, baik dalam manajeman organisasi maupun sumber daya manusianya. Perlu kiranya dipahami bahwa dalam pembuatan lambang yang menggambarkan bumi tidak berorientasi pada nilai-nilai duniawi, tetapi lebih pada filosofi kehidupan dan kematian manusia yang berasal dari tanah. Filosofi inilah yang menjadikan bumi dijadikan sebagai simbol dalam lambang NU.

  • Bintang Sembilan

Gambar bintang di dalam lambang NU memiliki makna dan landasan yang kuat. Bintang besar paling atas melambangkan Nabi Muhammad saw, sedangkan bintang yang kecil berada di atas garis khattul istiwa’ (khatulistiwa) berjumlah empat (4). Baik yang berada di sebelah kanan maupun sebelah kiri merupakan lambang Khulafaur Rasyidin, empat khalifah pengganti Rasulullah Muhammad saw, yaitu sahabat Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar ibn Khatab, Usman ibn Affan, dan Ali ibn Abi Thalib.

Bintang yang berjumlah empat berada sebelah kiri dan kanan di bawah garis khatulistiwa melambangkan empat madzhab yang menjadi pedoman NU, yaitu Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali. Sedangkan, jumlah keseluruhan gambar bintang yang menjadi simbol NU adalah lambang dari Walisongo.

  • Tampar atau Tali

Tampar atau tali yang melingkari bumi memiliki makna persatuan. Filosofi kehidupan yang kuat untuk saling menyayangi, mencintai, dan bersatu dalam ikatan Hablumminallah. Persatuan dan kesatuan yang didasarkan kepada Allah swt menjadi perekat yang kuat dalam setiap hubungan antarhamba Allah swt. Hal ini dipertegas dalam Al-Qur’an:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu. Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. Q.S. Ali Imran (3): 103

Gambar simpul tali yang berada di bawah gambar bumi, menunjukkan NU memiliki pemahaman yang berbeda dalam memaknai kehinaan, kenistaan, dan kekafiran. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an:

“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata, “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Karena itu, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Musa as berkata, “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”. Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah swt dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas”. Q.S. Al-Baqarah (2): 61.

Filosofi lain dari lilitan tali yang berjumlah sembilan puluh sembilan (99) adalah menunjukkan jumlah dan makna asmaul husna.

  • Warna Lambang NU

Warna lambang NU yang berwarna dasar putih memiliki arti kesucian dan warna hijau melambangkan kesuburan. Warna bintang kuning emas yang berada pada lembu menjadi nama surat Al-Baqarah. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an:

“Mereka berkata, ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar dia menerangkan kepada kami apa warnanya’. Musa menjawab, ‘Sesungguhnya Allah swt berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.’ Q.S. Al-Baqarah (2): 69.

 

Referensi

Muzadi, Abdul Muchith. 2006. NU dalam Perpspektif Sejarah dan Ajaran. Surabaya: Khalista

Haidar, M. Ali.1993. Nahdatul Ulama dan Islam di Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Muchtar, Masyhudi (Ed). 2017. Aswaja An-Nahdliyah. Ajaran Ahlussunnah Wa al-Jama’ah yang Berlaku di Lingkungan Nahdlatul Ulama. Surabaya: Khalista

Rifki, M. Firdaus. Sejarah Terciptanya Lambang NU. https://www.islampos.com/sejarah-terciptanya-lambang-nu-10789/ diakses pada 05 November 2019 Pukul 00:35 WIB

Fealy, Greg. 2003. Ulama and Politics in Indonesia a History of Nahdlatul Ulama 1952-1967. Terj. Farid Wajidi dan Mulni Adelina Bachtar. Yogyakarta: PT LKS Printing Cemerlang.

 

Oleh : Mohamad Anwar, Semester IV

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *