Mahakarya Ulama Nusantara Penyokong Perdamaian

Ma’had Aly – Suatu negara dengan keragaman suku, budaya, dan agama sangat rentan terhadap konflik. Baik konflik antar suku karena adanya sikap fanatik, konflik antar budaya karena adanya adat istiadat yang bertolak belakang, bahkan konflik antar agama karena kepercayaan yang berbeda. Dibutuhkan keahlian serta keterampilan khusus untuk menangani polemik keberagaman semacam ini.[1] Maka dengan ini setiap negara pasti mendambakan perdamaian, tanpa terkecuali negara Indonesia. Di mana seluruh komponen merasa aman, tentram dan damai. Sayangnya, negara Indonesia masih dirundung konflik semacam ini. Berbicara tentang perdamaian, merupakan hal yang sangat urgen. Pasalnya, keanekaragaman memiliki peluang besar akan terjadinya kerusuhan, kesenjangan sosial, perang antar suku dan lain sebagainya. Hal ini dilatarbelakangi oleh sikap fanatik yang tertanam dalam diri mereka.

Jika ditelisik lebih lanjut, masyarakat Indonesia perlu dibekali ilmu pengetahuan baik kenegaraan, sosial  maupun agama. Melalui pendidikan, masyarakat dapat berkembang, berpikir lebih luas dan berfikir sebelum bertindak, ini merupakan perantara tercapainya sebuah kedamaian.

Logikanya, perdamaian tidak dapat dirasakan kecuali diiringi dengan amal saleh.[2] Dalam bersosial misalnya, masyarakat akan merasa segan dengan seorang yang murah senyum, penolong, menyayangi antar sesama, dan senang mengajak dalam hal kebaikan. Sebagaimana yang telah diajarkan agama Islam melalui karya-karya ulama Nusantara.

Menampilkan agama dengan berbagai wajah yang moderat dan sejuk merupakan tugas utama bagi kaum agamawan di zaman millenial seperti sekarang. Adanya pergulatan sosial menjadikan salah satu penyebab seseorang harus beranjak dari zonanya. Terlebih zaman sekarang di mana media sosial dijadikan sebagai tumpuan utama dalam berbagai hal, maka tidak heran jika dari pola yang demikian muncul berbagai macam tindak kekerasan. Lalu bagaimana menyikapi masalah tersebut?

Ranah pendidikan adalah salah satu solusi yang dinilai ampuh dalam menangani masalah ini. Nyatanya, banyak kerusuhan terjadi di kalangan tunaaksara atau mereka yang minim akan pendidikan. Peranan agamawan atau yang dikenal dengan ulama atau kiai misalnya, berbagai pendidikan yang mereka terapakan untuk mengajarkan serta mengarahkan santrinya. Mulai dari pendidikan dengan metode ceramah, kesenian, pengabdian bahkan kesustraan. Seperti banyaknya kajian-kajian dan ilmu pengetahuan yang harus ditelaah oleh para santri membuat para ustaz dan lembaga pondok pesantren melakukan trobosan agar pembelajaran berjalan dengan efektif serta mudah dipahami oleh santri. Maka diterapkan metode kesusastraan di dalamnya, yaitu dengan nyanyian.[3]

Dengan demikian santri dapat mempelajari dengan mudah serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat khususnya dengan pembelajaran melalui kesusastraan yang masif hingga dewasa ini. Lebih dari itu, metode kesusastraan  merupakan upaya ulama Nusantara dalam menjaga budaya Indonesia. Karenanya banyak diantara para wali terdahulu memanfaatkan hal ini dalam dakwah demi tersebarnya Islam rahmatan lil alāmin.

Hal ini sejurus dengan KH. Bisri Mustofa dalam menyiapkan generasi brilian yang mampu menjaga perdamaian, ia mengarang kitab yang berjudul “Ngudi Susilo” di dalamnya berisi syair-syair tentang budi pekerti. Yang mana jika kita terapkan nilai-nilai yang terkandung dalam syair Ngudi Susilo, maka akan tercipta pribadi yang cakap dengan didasari bekal yang jelas akarnya. Sehingga terciptalah sebuah perdamain, seperti yang dikatakan oleh Thomas Marton dalam Mysticism In The Nuclear[4], sebagaimana telah dijelaskan di atas. Sebelum mempelajari lebih jauh mengenai karya sastranya, penulis akan menjelaskan biografi KH. Bisri Mustofa terlebih dahulu.

Bisri mustofa merupakan satu dari banyak sastrawan besar yang lahir dari rahim pesantren. Selain itu, ia juga dikenal sebagai orator atau ahli pidato pada masanya. Predikat ulama disandang salah satunya dengan mengayomi masyarakat dengan ramah. Ia lahir di Gang Palen, Pesawahan, Rembang, Jawa Tengah pada 31 Desember 1915.[5] Orang tuanya, KH. Zainal Mustofa dan Hj. Khatijah memberi nama Masyhadi, adapun nama Bisri ia pilih setelah pulang dari haji.

Penting diketahui bahwa KH. Bisri Mustofa juga merupakan salah satu ulama Indonesia yang aktif dalam menyusun dan mengarang berbagai jenis kitab. Berkat kreatifitas dan inisiatifnya, banyak karya yang ia hasilkan untuk kalangan santri sebagai bahan pelajaran di pesantren yang dipimpinnya. Selain santri, karya-karya KH. Bisri Mustofa juga dapat dipelajari oleh masyarakat luas. Jumlah karyanya kurang lebih terdapat 54 buah judul, meliputi banyak bidang ilmu yakni tafsir, hadis, aqidah, fiqh, sejarah nabi, balaghah, nahwu dan lain-lainnya.

Bisri Mustofa dalam syairnya, Ngudi Susilo memiliki kepedulian terhadap penentuan arah kemajuan masyarakat untuk menuju keberadaban. Secara masif, syair Ngudi Susilo memberikan teori sekaligus metode penerapan yang tepat dan mudah dimengerti. Dapat dilihat pada awal bait syair Ngudi Susilo yang berbunyi:

“Bocah iku wiwit umur pitung tahun # Kudu ajar toto keben ora getun”

“Kudu kudu tresno reng ibu kang ngrumati # Kawit cilik narang bapak kang gemati”

“Ibu bapak rewangono lamon repot # Ojo koyo wong gemagus ingkang wangkot”

“Lamun ibu bapak perintah enggal tandang # Ojo bantah ojo sengul ojo mampang”

“Andapasor ing wong tuo najan liyo # Tetepono ojo koyo rojo koyo”

“Yen wong tuwo lenggah ngisor siro ojo # Pisan lungguh koyo jomo jujo”

Artinya:

Semenjak anak berumur tujuh tahun # Harus diajari aturan yang santun

Harus menyayangi ibunya yang merawatnya # Sejak kecil pada bapak yang menyayanginya

Pada ibu dan bapak selalu rajin membantu # Janganlah berlaku kasar dan kaku

Kalau ibu dan bapak perintah  segera lakukan # Jangan bantah dan jangan enggan

Rendah hati terhadap orang yang lebih tua # Senantiasa tidak berbuat semena-mena

Bicara halus jelas dan sopan # Tidak berlagak sperti juragan

Kalau orang tua sedang duduk dibawah # Jangan sekali kali duduk diatas apalagi pongah (sombong)

Hakikatnya semua problematika kelas kakap bermula dari hal-hal yang sepele. Seperti sikap intoleran yang berkelanjutan dapat mengakibatkan kerusuhan, kesenjangan sosial, bahkan peperangan. Kutipan di atas dapat menjadi jawaban atas problematika yang terjadi di dalam tatanan masyarakat. Seperti membekali diri dengan sikap toleran, sopan, rendah hati, dan lebih moderat.

Idealnya, apabila pesan-pesan moral yang terkandung di dalamnya diamalkan secara maksimal maka akan tercipta perdamaian yang selama ini didambakan oleh seluruh negara. Bahwasannya perdamaian dapat dicapai dengan cara sederhana diantaranya adalah mampu menjadi seorang pemimpin yang  berbudi dan berilmu atau pun suatu wilayah yang dipimpin oleh cendekia yang beradab.

 

 

Referensi

[1]Ufi Ulfiah, Taswirul Afkar Prakarsa dari Pesantren: Sistem Pendidikan Lama yang Banyak Direproduksi(Jakarta Selatan: PP Lakpesdam. 2013), hal. 83.

[2] Muhammad Tholhah Hasan, dkk, Agama Moderat, Pesantren dan Terorisme (Lista Fariska Putra), hal. 28.

[3] Ufi Ulfiah. Op. Cit., hal. 84-85.

[4] Muhammad Tholhah Hasan, Op. Cit., hal. 28.

[5] Faiz Karim Fatkhullah, “Pengalaman Spiritual K.H. Bisri Mustofa dalam Naskah Manasik Haji : Tinjauan Sosiologi Sastra”, Metasastra, Vol. 6, No. 2 Desember 2013, hal. 65

Oleh : Baqiyatus Solikhah, Semester VI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *