Bincang Keilmuan Virtual, Museum Bayt Al-Qur’an dan Ma’had Aly Jakarta Jalin Silaturahm

Ma’had Aly Sa’idusshiddiqiyah Jakarta melakukan kunjungan ke Museum Bayt Al-Qur’an secara virtual. Ma’had Aly Jakarta menjadi lembaga pertama mengikuti program yang baru rilis pada Kamis (19/03) kemarin ini. Hal itu disampaikan oleh pihak Museum Bayt Al-Qur’an, Saifuddin, saat membuka acara yang dilakukan secara online melalui Zoom Meeting (Senin, 22/03).

“Ini (Ma’had Aly) menjadi (lembaga) perdana kami setelah baru Kamis kemarin di-launching, ” terang Saifuddin.

Sebelumya diberitakan oleh laman resmi Kementerian Agama bahwa sejak pandemi COVID-19, Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal (BQMI) Taman Mini Indonesia Indah (TMII) tidak melayani kunjungan sejak 16 Maret 2020.

Seiring berjalannya New Normal, layanan kunjungan dibuka kembali sesuai dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Hingga akhirnya pada Kamis (19/03) di-launching layanan kunjungan virtual.

Dalam kunjungan virtual itu, mahasantri Ma’had Aly Sa’idusshiddiqiyah Jakarta dipandu mengelilingi isi museum dan dikenalkan koleksi-koleksi dan perjalanan sejarah di dalamnya.

Aneka koleksi mushaf al-Qur’an lintas zaman terdapat di dalam museum ini. Baik dari dalam maupun luar negeri. Termasuk mushaf Wonosobo yang merupakan mushaf terbesar sampai mushaf Istanbul sebagai mushaf dengan ukuran yang terkecil di dunia.

“Mushaf Wonosobo ini berukuran kurang lebih 2×3 m yang ditulis dalam kuran waktu 18 bulan. Sementara mushaf Istanbul 100 kali lebih kecil darinya,” ungkap pemandu tur virtual, Ridmawati.

Semakin masuk ke dalam, kami disuguhkan berbagai jenis model penulisan Al-Quran dari masa Nabi Muhammad saw sampai masa sekarang. Serta penjelasan berbagai periodisasi perubahan huruf dan harokat dalam naskah Al-Qur’an.

Ada mushaf bernama Mushaf Masyhad Husein yang belum memiliki tanda baca sama sekali. Mushaf ini juga menjadi mushaf yang cukup tertua. Masa berikutnya kemudian Al-Quran sudah mulai memiliki tanda baca, meski belum lengkap. Masih berupa tanda titik merah saja. Jika titik merahnya di atas berarti fathah, jika di bawah berarti kasrah, dan jika di samping berarti dhamah. Hingga mushaf yang sekarang sudah memiliki tanda baca lengkap dalam jenis khat Naskhi.

“Bisa kita bandingkan, mushaf masa awal-awal memiliki karakter tulisan lebih kaku, belum ada tanda baca sama sekali. Kalau mushaf yang sering kita baca sekarang, itu jenis khatnya naskhi dengan tanda baca yang lengkap,” papar Ridmawati.

Masterpiece museum Bayt al-Qur’an lainnya adalah Mushaf Istiqlal yang dikerjakan oleh pemerintah selama empat tahun. Ciri khasnya adalah memiliki iluminasi (hiasan pinggir) yang mewakili 27 provinsi di Indonesia. Hiasan pinggir itu disesuaikan dengan setiap corak khusus yang dimiliki oleh berbagai suku dan adat di Indonesia. Iluminasi ini tidak saja membuat naskah Al-Qur’an menarik, tetapi juga memiliki makna mendalam. Mushaf  ini masuk museum pada tahun 1997.

Museum juga menyimpan mushaf yang ditulis pada masa presiden RI pertama. Konon, saat peresmiannya, huruf ‘ba’ pada basmalah ditulis langsung oleh Presiden Pertama Soekarno dan huruf ‘sin’ setelahnya ditulis oleh wakil presiden Bung Hatta. Mushaf ini dinamakan juga Mushaf Pusaka.

Kegiatan ini ditutup dengan ramah tamah dan pemberian apresiasi dari pihak Museum Bayt Al-Quran dan dari pihak Ma’had Aly Jakarta.

Zindani, salah satu mahasantri semester 6 yang menjadi perwakilan dari Ma’had Aly menyampaikan rasa terima kasih atas pemaparan dan informasi naskah-naskah Al-Qur’an klasik yang dijelaskan oleh pihak Museum Bayt Al-Qur’an.

“Kami berterima kasih atas kesempatan yang diberikan oleh Museum Bayt Al-Qur’an, ilmu yang disampaikan menarik dan bermanfaat bagi kami. Karena kami dapat mengenal banyak corak dan sejarah naskah-naskah Al-Qur’an kuno. Semoga silaturahim dapat terus terjalin.” (Muhamad Abror)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *